Smells Like 90s – DRAMA MUSIM PANAS

Oleh Novita Kee Wee

Menit ke dua puluh dua babak perdelapan final Piala Dunia 1990 antara Jerman Barat melawan Belanda merubah pertandingan menjadi liar. Frank Rijkaard dan Rudi Voller terlibat kasus “ludah-ludahan” yang mengakibatkan kedua pemain itu diganjar kartu merah oleh wasit. Tim Oranye, tim yang sangat berbakat, sang juara Piala Eropa 1988 mungkin tidak harus pulang awal jika tidak ada peristiwa “peludahan” itu. Dan Jerman Barat – yang akhirnya merebut piala paling bergensi itu – melaju ke babak perempat final dengan skor 2 – 1.

Drama juga terjadi pada tanggal 3 Juli 1990 saat tuan rumah, Italia, menjamu juara dunia dua kali Argentina di babak semi final yang berakhir dengan adu pinalti. Country first, mungkin itulah yang dirasakan oleh si “Tangan Tuhan” Diego Maradona saat mengeksekusi tendangan pinalti ke gawang Walter Zenga di rumput yang telah diinjak selama enam tahun, Napoli – Italia. Ya, Maradona berhasil mengeksekusi dengan baik untuk negaranya yang gagal dimanfaatkan oleh Roberto Donadoni dan striker Aldo Serena. Spanduk raksasa “O Diego, kaulah dewa kami, tapi Italia adalah negara kami!” mengiringi kekalahan Italia.

Masih ingatkah kontroversi Roger Milla yang berada di Italia hanya karena permintaan presiden Kamerun Paul Biya? Juga pemain Kolombia Rene Higuita yang menonjol karena aksi dan blundernya? Serta momen di mana Chris Waddle gagal mengeksekusi pinalti dan gagal menyelamatkan tim Inggris ke grand final. Semua itu menjadi tontonan panas musim panas 1990.. saat orang melupakan sejenak drama yang hadir dalam kehidupan nyata setiap harinya. Dan mengabaikan kemunculan satu nama yang kemudian hari menjadi nama besar dalam blantika musik dunia: Mariah Carey.

(1) The Power – Snap (2) Cradle Of Love – Billy Idol (3) Hold On – En Vogue (4) Rub You The Right Way – Johnny Gil (5) She Ain’t Worth It – Glenn Medeiros feat. Bobby Brown (6) Vision Of Love – Mariah Carey (7) When I’m Back On My Feet Again – Michael Bolton (8) Girls Night Out – Tyler Collins (9) King Of Wishful Thinking – Go West (10) Hanky Panky – Madonna

Advertisements

10 Alasan Mengapa BACKSPACER Wajib Dicerna!

Oleh Hilman Taofani

01. ALBUM PERTAMA DALAM 3 TAHUN
Yang paling jelas, bagi semua yang suka Pearl Jam, 3 tahun adalah rentang yang cukup lama untuk dibiarkan tanpa rilisan baru. Mari kita hitung cepat! Rentang rilis Versus (1993) dari Ten (1991) hanyalah dua tahun. Sementara Vitalogy langsung rlis tak sampai setahun dari Versus (1994), disusul No Code dua tahun kemudian (1996) serta rentang yang sama untuk Yield (1998), Binaural (2000) dan Riot Act (2002). Avocado (Pearl Jam self/titled – 2006) sedikit keterlaluan karena membutuhkan empat tahun untuk rilis meski tak terasa karena fans disuguh dengan kompilasi Lost Dogs (2004) dan Rearviewmirror (2005). Maka kini giliran Backspacer sebagai album dengan rentang kedua terpanjang yang dirilis Pearl Jam. Ingat betapa segarnya menikmati apukat di album sebelumnya setelah dahaga lama?

02. FAKTOR BRENDAN O BRIEN
Mantan “the sixth member of Pearl Jam” kembali menukangi Stone Gossard dan kawan-kawan. Ini adalah Brendan yang membidani lahirnya Versus sampai Yield! Brendan pula yang bermain surf rock pada lagu “Gremmie Out of Control” (Music for Our MotherOceans 2). Brendan pula yang dianggap sebagai midas oleh banyak musisi, dari level pop sampai heavy metal. Namun dengan Pearl Jam, Brendan mempunyai pakta sendiri, buah dari hasil kerjasama dan hubungan mutual yang solid selama bertahun-tahun. Sempat disela Tchad Blake dan Adam Kasper, kini Brendan O Brien kembali. Nama Brendan adalah asosiasi positif untuk hasil rekaman Pearl Jam.

03. MATT CAMERON ODD SIGNATURE
Banyak yang mengeluhkan mengapa signature drum Matt Cameron kala bergabung bersama Soundgarden tak tampak di tiga album sebelumnya. Mungkin yang mengeluhkan hanya mendengarkan lagu Light Years dan I Am Mine saja. Padahal, bila disimak sejak Riot Act, sumbangsih Matt tak hanya di departemen perkusi, namun juga menulis lagu. Drum pattern-nya dapat dinikmati di beberapa lagu seperti Insignificance (Binaural) atau You Are (Riot Act). Oke, mungkin itu bukan “hits” yang gampang diakses di YouTube seperti halnya contoh sebelumnya. Namun di Backspacer ini, single perdana Pearl Jam, The Fixer ditulis oleh Matt Cameron dengan odd-signature-nya. Simak juga Got Some yang telah beredar mendahului Backspacer. Matt is as great as ever!

04. WICKED ARTWORK
Tom Tomorrow adalah nama pena dari seorang kartunis surat kabar. Menyusul resesi, beberapa jaringan surat kabar di Amerika tutup atau melakukan efisiensi halaman sehingga lahan kerja Tom – yang sohor dengan kartun strip “This Modern World” – menjadi menurun drastis. Vedder memberikan dukungan dengan mengirim surat awal tahun lalu kepada fans Pearl Jam. Namun langkah nyata diambil oleh Ed dan kawan-kawan dengan memberikan Tom pekerjaan prestisus yakni merancang artwork untuk Backspacer. Artwork album dan Pearl Jam adalah entitas tak terpisahkan. Dan Tom bekerja dengan sangat bagus menyajikan gambar-gambar kartun yang maknanya menjadi puzzle tersendiri untuk para fans.

05. PENUH DENGAN PESAN POSITIVISME
Era kegelapan dan depresi secara personal sudah pernah dijajal Pearl Jam dalam serial album di awal karir. Lalu kontemplasi transendental juga dicicip melalui No Code dan Yield. Materi politis dirambah pula pada 3 album sebelum Backspacer. Dan kini, di saat Amerika memiliki kepemimpinan baru yang kandidasinya mereka dukung, Pearl Jam menyebar positivisme. Pesan-pesan yang mereka tuangkan dalam beberapa lagu di Backspacer menggarisbawahi nilai-nilai positif dari humanisme seperti kerja keras, semangat saling membantu, menyambut harapan dan sebagainya. Di Amerika ini perlu karena di sana tengah dilanda resesi terburuk setelah depresi besar di tahun 1930an. Namun pesan ini tentu sangat penting juga untuk disampaikan ke seluruh dunia!


06. CONCISE, SHARP AND SHORT
Total clocking time: 36 menit! Ini adalah album Pearl Jam yang terpendek yang pernah mereka buat dari sisi waktu. Mereka kembali bermain dengan mematahkan stereotipikal dan persepsi klise mengenai kualitas lagu ditinjau dari sisi waktu. Lagu berdurasi banyak tak selalu berbanding lurus dengan kualitas. Mari kita ingat The Beatles, The Ramones dan bahkan Nirvana! Mereka bisa membuat album bagus dengan total waktu yang tak terlalu panjang. Backspacer layak dicoba, dan tak akan jenuh diputar berulang-ulang. Sambil menonton sepakbola, kita bisa 3 kali spin CD Backspacer yang tak akan membuat bosan!

07. EFEKTIVITAS MARKETING
Pearl Jam bergerak independen kali ini. Namun bukan berarti mereka tanpa effort dalam hal promosi dan pemasaran. Target, sebuah korporasi retail (semacam Matahari bila di Indonesia) digandeng sebagai partner untuk memasarkan album. Komersil? You guess! Mereka berpikir karena independen, album haruslah mudah diakses oleh seluruh kalangan. I called it brilliant! Buktinya, untuk worldwide release yang tak semua negara dijangkau Target, Pearl Jam tetap bekerjasama dengan distributor yang punya jaringan luas. Universal digaet, yang seharusnya membuat kita bersyukur karena Indonesia tetap bisa masuk dalam jaringan distribusi internasional. Masih juga berpikir komersial? How about this: Pearl Jam juga menyalurkan eksklusif konten yang berbeda untuk album Backspacer melalui jaringan toko musik independen. Mereka mendukung jejaring kecil dalam industri musik yang tentunya akan tergencet bila tetap bekerja dengan label besar. Dengan menentukan Target sebagai partner, Pearl Jam bisa tetap mengembangkan konsep pemasaran yang ideal menurut mereka, karena Target sebagai retailer barang umum tentu tak akan memandang toko-toko rekaman independen sebagai rival mereka.

08. PLATINUM!!!
Efektivitas marketing yang membuahkan hasil. Di banyak negara, termasuk Polandia, Portugal dan Australia album Backspacer membuahkan hasil platinum. Ini tentu kasus langka di era digital lantaran seperti halnya album lain, Backspacer telah bocor sekitar 15 hari sebelum tanggal rilis. Banyak yang menduga bahwa bocornya album ini sedikit diabaikan oleh Pearl Jam lantaran mereka beranggapan bahwa versi CD-nya tetap mempunyai nilai jual sendiri bagi fans musik sebenarnya. Anggapan yang makin didukung ketika gilanya mereka melepas streaming penuh album Backspacer dalam situs resmi mereka (www.pearljam.com) yang tentu bisa dengan mudah diunduh oleh banyak pihak. Dan sejauh ini, dengan raihan sales yang menggembirakan, artinya konsep Pearl Jam memang berjalan. Album fisik tetap diserbu penggemar dan mencatatkan diri dalam status penjualan bagus di seluruh dunia.

09. LEBIH BAIK DARI ALBUM LAINNYA
Ini adalah anggapan dari situs MetaCritic. MetaCritic adalah agregator kritik dari berbagai media terpandang untuk membuat suatu kesimpulan rating sebuah album. Backspacer yang rilis pada 20 September menghadapi kompetisi yang tak gampang karena harus digempur oleh band-band yang kurang lebih “sealiran”. Paramore, Black Crowes, Muse, Alice in Chains dan Phish merilis album mereka dalam bulan September, yang tentunya akan menjadi pesaing Backspacer dalam hal berebut pasar. Namun Backspacer, menurut MetaCritic, memperoleh rating yang lebih baik daripada album lain yang rilis bulan September. Backspacer meninggalkan Popular Songs (Yo La Tengo), Brand New Eyes (Paramore), Crash Love (AFI), The Boy Who Knew That Much (Mika), Before the Frost…Until the Freeze (Black Crowes), The Resistance (Muse), Black Gives Way to Blue (Alice in Chains), dan Joy (Phish) dengan review yang dikumpulkan dari media-media ternama seperti Rolling Stone, Spin, Q Magazine dan sebagainya.

10. NOMER 1 DI BILLBOARD CHART
Dan inilah bukti sahih, kulminasi dari butir-butir di atas, ketika pertama dalam 13 tahun terakhir (setelah No Code) album Pearl Jam bertengger di urutan pertama tangga lagu Billboard untuk SEMUA kategori! Mereka menggusur Jay-Z, yang notabene merupakan artis paling digemari di Amerika secara populis.

So, let’s have a Backspacing time!

Jalan Menuju Surga: The Album

Oleh Eko Prabowo

Periode akhir ‘90-an merupakan awal kehancuran grunge. Adalah anak haram hasil percampuran darah grunge dan hard rock, yang kemudian diberi nama post-grunge oleh industri musik, yang memporakporandakan kerajaan yang dibangun oleh empat dewa dari Seattle itu. Meskipun, tentu saja, hingga hari ini dua dewa masih tegak berdiri, satu dalam upaya merangkak kembali, dan mereka tetap bisa dengan sukses menghajar balik raksasa post-grunge samacam Nickleback, Staind, maupun Creed yang baru saja bangkit dari kubur.

Dan disitulah Respito berdiri. Mengangkangi jurang pengkotakan musik, dengan satu kaki berpijak pada lirik yang banyak mengandung gugatan dan amarah khas grunge, sementara kaki lainnya nyaman berdiri pada lagu yang durasinya tergolong panjang, lengkap dengan solo gitar yang berlama-lama dan cenderung terdengar manis, khas hard rock.

Seolah menyesuaikan dengan namanya, Respito, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti Surga, album penuh pertama mereka ini diberi judul Jalan Menuju Surga. Bahwa surga yang dimaksud adalah alam pikiran, bukan surga seperti yang didongengkan oleh banyak agama, tanyakan saja pada Pheps, yang menulis semua lirik lagu dalam album ini.

Delapan lagu, dengan satu lagu bonus sebagai tambahan, terdengar terlalu sedikit untuk menjadi album. Namun, mengingat durasi lagu-lagunya yang memang tergolong panjang, jumlah itu rasanya menjadi pas.

Angels Cry dan Membusuk di Neraka, dua lagu yang paling saya sukai dari album ini, juga tidak main-main durasinya. Yang pertama berdurasi 5:58 menit, sementara yang kedua 5:22 menit. Sangat tidak radio friendly, jika boleh dibilang demikian.

Satu lagu lagi, Angkuh, yang terdengar pop meski dengan distorsi yang cukup pekat, yang ternyata makin enak didengar setiap kali saya putar, dan sangat cocok menemani saya menyelesaikan buku silat karangan Seno Gumira Ajidarma yang setebal 800 halaman itu, lebih masuk akal durasinya. Cukup 4:19 menit saja.

Tapi itulah Respito, yang mengusung semangat perlawanan grunge dalam lirik, bentuk, maupun durasi lagu.

Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam – seandainya Anda belum tahu – pernah bilang, “Anda boleh tidak suka dengan musik kami, tapi dijamin Anda pasti suka dengan kaus kaki yang kami jual (di website).” Saya berkata, “Kecocokan musik Respito dengan selera kuping kita masing-masing memang terbuka untuk diperdebatkan, seperti juga halnya setiap karya seni musik lainnya, tapi satu hal yang pasti: art work albumnya ok punya!”

Jalan Menuju Surga menggunakan bahan sampul album yang ramah lingkungan, dalam arti tidak akan menjadi polusi jika kemudian kita cukup gila untuk membuangnya ke tempat sampah.

Dan yang sangat menarik, jika tidak boleh disebut mengagumkan, adalah lima gambar yang berasal dari goresan tangan Pheps dan Daff, sang gitaris. Meski, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya gambaran mengenai apa makna gambar-gambar tersebut. Namun, kehadirannya dalam sampul album ini tak terelakkan menambah nilai koleksinya. Menjadikan Jalan Menuju Surga tidak berhenti sebagai musik, tapi menjadi karya seni multi-dimensi yang layak dikoleksi.

Itulah dia, Respito, dengan albumnya Jalan Menuju Surga. Meretas masa depannya dengan bermodalkan karya seni sendiri. Terpengaruh, namun jelas bukan mencontek, apalagi mencuri. Menyongsong kedatangan tahun singa logam yang merupakan periode tercapainya kemakmuran bagi semua orang yang bekerja sangat keras.

Grunge: Does It Really Matter?

Ditulis oleh Eko Prabowo

Soleh Solihun, betapapun konyol dan kurang ajarnya dia punya celoteh, sesungguhnya mengungkapkan kebenaran.

Tidak ada orang yang peduli ketika grunge pertama kali lahir dari kota tukang kayu, Seattle. Tidak juga ada yang mau tahu ketika akhirnya grunge mati dan membusuk seiring kematian Kurt Cobain. Lalu kenapa kita, belakangan ini, demikian sibuk mengatakan bahwa grunge terlahir kembali?

Still stand and still strong!

Siapa kiranya yang hendak kita yakinkan? Apakah bukan diri kita sendiri, para pecinta grunge yang tidak percaya diri?

Jangan tanya definisi grunge pada saya. Sejujurnya, saya tidak mengerti.

Saya mencintai Pearl Jam. Sangat menikmati Alice in Chains. Memahami Nirvana dengan cukup baik. Dan sama sekali tidak keberatan dengan Soundgarden.

Bagi saya, di kotak manapun keempat dedengkot musik itu diletakkan, tidak menjadi masalah. Di tingkat manapun ketenaran mereka saat ini, bukanlah hal yang patut saya risaukan.

Kesenangan saya mendengarkan karya-karya mereka tidak berkurang hanya karena jatah penayangan mereka di tivi dan radio sudah nyaris punah. Kebanggaan saya sebagai penggemar tidak luntur lantaran wajah mereka tak lagi muncul di koran maupun majalah.

Mainkan grunge dari hati, dan saya akan melahapnya!

Bagi saya, pertunjukan di The Rock semalam meraih pencapaian tertingginya ketika Andy /Rif menyuarakan Rooster bersama Alien Sick, yang kali ini diperkuat Nito. Energi performer yang tulus mengalir mulus dan deras ke audiens. Ditangkap, dicerna, dan dikembalikan dengan tak kalah bertenaga.

Menyenangkan? Pasti! Memuaskan? Saya rasa tulang rongsokan saya masih mampu menanggung lima sampai sepuluh lagu, dengan energi pada level seperti itu, lagi.

Kejutan manis diberikan Konspirasi, yang akan meluncurkan album perdananya dalam waktu dekat, di sesi terakhir, ketika malam berganti dini hari. Black Gives Way to Blue dan Check My Brain. Dua lagu dari album terbaru Alice in Chains yang seolah mengokohkan pernyataan diatas, bahwa grunge memang masih tegar berdiri.

Namun bagi saya, setidaknya untuk BGWtB, itu adalah simbol ditanggalkannya semua kenangan sekaligus dimulainya sebuah babak baru. Kerelaan untuk melepaskan warna yang sudah melekat demikian lama. Periode baru dari grunge, yang dalam perjalanannya kedepan mungkin akan berganti nama, bentuk, dan tidak mustahil, filosofi.

Dan Anji Drive, betapapun dia sudah babak belur dihajar sepak pojok, tendangan bebas, dan bahkan tendangan pinalti dari Soleh Solihun sang MC, membuktikan bahwa kesungguhan hati bisa mengatasi banyak tantangan. Israel Son dan Tomorrow, yang dibawakannya bersama Stigmata di sesi pertama pertunjukan malam itu, sama sekali tidak mengecewakan.

Saya sungguh menikmati kehadiran sekian banyak punggawa musik yang lekat dengan nuansa grunge lokal. Yana Marvel, Anji Drive, Aryo The Dance Company, Andy /Rif, Anda Perdana, hingga Yuki Pas Band, semua menunjukkan warna diri sesungguhnya. Seberapapun jauhnya mereka telah berpaling, malam itu semua kembali pada akarnya. Sejenak menikmati lagi manisnya gairah memainkan musik karya sang idola.

Jikapun ada suatu kekurangan, kiranya pilihan lagu yang sangat beragam, baik dari pencipta, warna, maupun energinya, yang pada akhirnya membuat audiens bingung tak tentu rimba nuansa.

Dalam perjalanan pulang, sembari terkantuk-kantuk pada jam dua pagi, saya bertanya pada diri sendiri: apakah grunge yang membuat saya bahagia, ataukah performer yang memainkan musiknya sepenuh hati?

Jika kebenaran ternyata terletak pada pilihan kedua, apakah kemudian saya masih perlu repot-repot memikirkan grunge yang digadang-gadang sedang terlahir kembali?

How TEN Found Me…

Suatu malam di rumah Tania…yang kala itu adalah teman dekat Danie…

Gue lagi terbengong-bengong dengerin Nevermind. Buset, ni album sakit jiwa banget.
Trus, Danie pun nyeletuk, ada lagi lho band ‘aneh’ selain Nirvana, gue dong udah pernah liat videonya, ujarnya agak menyombongkan diri, ngeselin gitu deh :p

Saat itu, lagi zamannya MTV Headbanger’s Ball dan malam itu pas acara itu ada di TV.

Gak lama, sebelum basi ngeliatin orang naracap, muncul satu video hitam putih di TV. Lagunya dimulai dengan intro gitar yang cukup aneh buat masa itu, at least buat gue. Band beranggotakan lima orang yang vokalisnya sepintas di klip itu terlihat punya kebiasaan manjat rig panggung atau mutar-mutar kabel mic dan suara ‘aneh’ bariton, di era vokalis bersuara melengking tinggi.

Itulah Alive dari Pearl Jam.

Hatiku pun takluk dan langsung ke Duta Suara nyari CD-nya… :p

Mari mulai menabung buat beli re-release TEN versi Super Deluxe 😀

So 90’s, Seru!

Lagi nonton MTV, 100 Greatest Songs in the 90’s…

Kurang lebih lagu-lagu yang muncul, Cypress Hill sampe Billy Ray Cyrus, inget dong sama si rambut gobeldo (gondrong belakang doang) yang nyanyi Achy Breaky Heart itu?

Nggak nyadar, gue ikutan nyanyi lagu-lagu itu, termasuk lagu yang dulu sering gue dan temen-temen celain, Achy Breaky Heart.

Ada lagunya The Breeders yang judulnya Cannonball. Gue sih nggak pernah beli album mereka, tapi lagu itu nyantol sampe sekarang. Mungkin bakal keinget seumur idup gue, secara bass line-nya masih sering gue mainin kalo latian band. Sadar gak sadar. Pengaruhnya ternyata cukup kuat.

Trus ada The Cranberries dengan Linger-nya. Begitu intro, gue dari dapur udah tau itu lagu apaan. Dan, again ikutan nyanyi bareng Dolores.

Nah, lanjut lagi…nongol Gregg Alexander. Wek, ehh…sapa tuh? Mungkin kalo gue sebut New Radicals lebih banyak yang tau. Dia ini mastermind, vokalis, sekaligus yang ngebubarin New Radicals setelah rilis album pertama. Lagunya yang keinget sama banyak orang sampe sekarang pastinya Someday We’ll Know. Mungkin mp3 lagu ini ada di
iTunes/folder lagu-lagu lo, ya gak?

Ada juga Paula Cole…biduanita yang buat gue teknik nyanyinya flawless. Nggak mungkin kayaknya dia ini nyanyi out of tune atau maksa atau nggak enak kedengerannya. Pertama denger Where Have All The Cowboys Gone?, gue mikir, lagu gini doang, tapi kok jadi bikin beda sama lagu-lagu lain…

Lanjut ke Sarah Mclachlan. Gue berutang jasa kreatif pencarian nama anak dari dia. Again, selalu ada cerita di balik biduan dan biduanita era 90an ini.

Itu baru sampe di urutan 80, pastinya masih bakalan banyak cerita seiringan countdown berlanjut nanti. Gak tau kapan lanjutnya, mudah-mudahan sempet nonton.

Ada perasaan seneng, seru campur menerawang balik ke zaman dulu pas nonton acara itu. Udah 10 tahunan lalu, jo!

Era 90an, emang banyak cerita, secara kita (kita? Gue kali!) masih kuliah, masih nyari-nyari sesuatu yang gue sendiri nggak tau apaan. Gue dapet the bestest friends, best and sad moments in life, best lessons in life, etc. Makin berasa begitu denger musik 90s…

Jadi kepikiran, apa karena era itu musiknya top abis, even musik non-rocknya, jadi bisa terus keinget? Atau karena pas musik itu muncul, kebetulan pas sama suatu momen di idup yang otomatis bikin gue keinget? Atau karena dua-duanya?

Ada Apa dengan Italia?

Banyak banget jawabnya, dari tim-tim sepakbolanya, mafia, mode, cowok casanova, dan ekspresi. Yup, ngeliat orang Italia ngobrol pasti seru dengan segala bahasa tubuhnya yang ekspresif banget, termasuk suka diving dan pura-pura mati di lapangan bola kalo ke-tackle.

Mungkin karena keekspresifannya itu yang bikin Danny Clinch ngebet banget ngefilmin Pearl Jam pas tur di negeri pizza selama kurang lebih seminggu. Sampe akhirnya pun bikin Eddie bela-belain ngomong bahasa Italia mulu pas konser, meskipun sambil baca kebetan.

Ekspresi dan keindahan Italia bikin film Immagine In Cornice jadi begitu nikmat ditonton. Dan, tentu saja ngeliat gimana Eddie Vedder adalah orang biasa yang udah menikmati statusnya sebagai vokalis dan pemimpin band besar, sekaligus seorang ayah. Bisa diliat gimana dia masih sempet main dan ngobrol sama anaknya Olivia. Malah Olivia sempet nontonin sang ayah ngerusak tambourine, dari sisi panggung.

Di film ini gue ngerasa banget energi yang keluar dari Pearl Jam pas di atas panggung. Entah karena suasana penonton yang ekspresif itu tadi atau memang karena Eddie dkk selalu ngasih sesuatu yang maksimal di atas panggung. Eddie mulai manjat rig lagi, lari-larian di atas panggung. Jadi keinget Pink Pop pas Eddie lompat dari atas jimmy jib ke penonton. Emang sih gak sampe lompat lagi, tapi energinya kurang lebih sama. Jatoh-jatohnya karena kesandung pun kurang lebih mirip.

Lagu-lagu yang dibawain kebanyakan diambil dari album terakhir, tapi tetep ada lagu lama kayak State Of Love and Trust dan pastinya Porch. Nonton PJ maenin Porch lagi dengan Matt Cameron yang ngedrum, kok enak ya? Nikmat di mata dan telinga. Belom lagi ditambah Blood! Matt emang dewa dan teriakan Eddie masih bertenaga seperti kita denger di Vs.

Film ini emang begitu nikmat di mata dan telinga.

We spent a week in Italy. Next time, maybe it will be for a month. Maybe be for the rest of ourlives. – Eddie Vedder.