Jalan Menuju Surga: The Album

Oleh Eko Prabowo

Periode akhir ‘90-an merupakan awal kehancuran grunge. Adalah anak haram hasil percampuran darah grunge dan hard rock, yang kemudian diberi nama post-grunge oleh industri musik, yang memporakporandakan kerajaan yang dibangun oleh empat dewa dari Seattle itu. Meskipun, tentu saja, hingga hari ini dua dewa masih tegak berdiri, satu dalam upaya merangkak kembali, dan mereka tetap bisa dengan sukses menghajar balik raksasa post-grunge samacam Nickleback, Staind, maupun Creed yang baru saja bangkit dari kubur.

Dan disitulah Respito berdiri. Mengangkangi jurang pengkotakan musik, dengan satu kaki berpijak pada lirik yang banyak mengandung gugatan dan amarah khas grunge, sementara kaki lainnya nyaman berdiri pada lagu yang durasinya tergolong panjang, lengkap dengan solo gitar yang berlama-lama dan cenderung terdengar manis, khas hard rock.

Seolah menyesuaikan dengan namanya, Respito, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti Surga, album penuh pertama mereka ini diberi judul Jalan Menuju Surga. Bahwa surga yang dimaksud adalah alam pikiran, bukan surga seperti yang didongengkan oleh banyak agama, tanyakan saja pada Pheps, yang menulis semua lirik lagu dalam album ini.

Delapan lagu, dengan satu lagu bonus sebagai tambahan, terdengar terlalu sedikit untuk menjadi album. Namun, mengingat durasi lagu-lagunya yang memang tergolong panjang, jumlah itu rasanya menjadi pas.

Angels Cry dan Membusuk di Neraka, dua lagu yang paling saya sukai dari album ini, juga tidak main-main durasinya. Yang pertama berdurasi 5:58 menit, sementara yang kedua 5:22 menit. Sangat tidak radio friendly, jika boleh dibilang demikian.

Satu lagu lagi, Angkuh, yang terdengar pop meski dengan distorsi yang cukup pekat, yang ternyata makin enak didengar setiap kali saya putar, dan sangat cocok menemani saya menyelesaikan buku silat karangan Seno Gumira Ajidarma yang setebal 800 halaman itu, lebih masuk akal durasinya. Cukup 4:19 menit saja.

Tapi itulah Respito, yang mengusung semangat perlawanan grunge dalam lirik, bentuk, maupun durasi lagu.

Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam – seandainya Anda belum tahu – pernah bilang, “Anda boleh tidak suka dengan musik kami, tapi dijamin Anda pasti suka dengan kaus kaki yang kami jual (di website).” Saya berkata, “Kecocokan musik Respito dengan selera kuping kita masing-masing memang terbuka untuk diperdebatkan, seperti juga halnya setiap karya seni musik lainnya, tapi satu hal yang pasti: art work albumnya ok punya!”

Jalan Menuju Surga menggunakan bahan sampul album yang ramah lingkungan, dalam arti tidak akan menjadi polusi jika kemudian kita cukup gila untuk membuangnya ke tempat sampah.

Dan yang sangat menarik, jika tidak boleh disebut mengagumkan, adalah lima gambar yang berasal dari goresan tangan Pheps dan Daff, sang gitaris. Meski, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya gambaran mengenai apa makna gambar-gambar tersebut. Namun, kehadirannya dalam sampul album ini tak terelakkan menambah nilai koleksinya. Menjadikan Jalan Menuju Surga tidak berhenti sebagai musik, tapi menjadi karya seni multi-dimensi yang layak dikoleksi.

Itulah dia, Respito, dengan albumnya Jalan Menuju Surga. Meretas masa depannya dengan bermodalkan karya seni sendiri. Terpengaruh, namun jelas bukan mencontek, apalagi mencuri. Menyongsong kedatangan tahun singa logam yang merupakan periode tercapainya kemakmuran bagi semua orang yang bekerja sangat keras.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s