Arus Informasi Modern; Panah atau Bumerang bagi Intelijen?

Oleh: Arindra Karamoy, Mohamad Ridlwan, Sartika Adithama

Badan intelijen adalah badan yang termasuk dalam struktur pemerintahan. Membuatnya ia bekerja untuk melayani rezim yang berkuasa. Budaya birokrasi Indonesia yang masih berkesan ‘terserah atasan’, membuat teori dari Sherman Kent menjadi hampir tidak relevan untuk diterapkan di Indonesia. Independensi intelijen adalah hal yang sulit dicapai, meskipun masih mungkin dilakukan. Terlebih lagi di era informasi modern ini. Sikap the consumer as analyst bisa semakin nyata. Pasti tidak semua user memiliki sikap seperti itu. Mungkin akan ada user yang meski sudah banyak tahu tentang informasi dari luar intelijen tapi tetap mau mendengar atau membaca produk intelijen.

Kecanggihan open source information ini sebenarnya bukan hal yang menakutkan untuk dunia intelijen. Justru mungkin banyak membantu pekerjaan produksi intelijen. Indonesia saat ini memiliki banyak sumber daya ahli di bidang teknologi informasi. Terbukti dengan banyaknya start-ups yang bergerak di bidang teknologi informasi. Seorang programmer perangkat lunak sekarang sedang laku baik di dalam maupun luar negeri. Akan sangat bijaksana jika dunia intelijen Indonesia berinvestasi untuk menggunakan jasa mereka agar terus update dengan teknologi terkini. Bahkan mereka dapat membantu untuk menciptakan suatu program untuk memudahkan kerja intelijen. Bisa dalam bentuk aplikasi di ponsel untuk memudahkan kerja lapangan atau perangkat lunak untuk membantu mengoleksi data intelijen.

Selain itu, perlunya perubahan mindset dengan mengubah budaya ‘memuaskan atasan’ atau ‘atasan berkuasa’. Meskipun itu bukanlah hal mudah. Butuh kesamaan niat untuk mengubahnya. Niat untuk menjadikan intelijen sebuah lembaga yang lebih independen. Dibutuhkan perubahan mindset relasi antara intelijen user. Bukan lagi relasi yang bersifat ‘atasan-bawahan’ atau ‘pemesan-supplier’ tapi sudah menuju relasi yang sifatnya kolaboratif. Bekerja sama untuk tujuan yang sama, bekerja dalam satu tim kerja.

Tantangan bagi intelijen dalam kondisi ini adalah bagaimana ia bisa menghasilkan produk intelijen yang memiliki nilai tambah. Nilai yang tidak dimiliki oleh jutaan informasi di luar sana. Oleh karena itu dibutuhkan dana, teknologi, dan sumber daya manusia berkelas di dalam badan intelijen.

Kecanggihan informasi sudah semakin terbukti kemampuannya dalam menciptakan keterbukaan masalah. Sehingga ini membantu pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut dan juga memberi peringatan kepada masyarakat luas untuk berhati-hati.

Kasus yang paling hangat sekarang adalah masuknya pedofil dari negara tetangga, pemburu anak-anak, ke Indonesia di tahun 2014. Dilaporkan sekitar 200an pedofil masuk ke Indonesia dengan difasilitasi oleh orang Indonesia sebagai event organizer. Mereka dikabarkan masuk ke dalam daerah-daerah miskin di sekitar Bali, Sumatera, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Terungkapnya wisatawan-wisatawan pedofil ini masuk ke Indonesia karena PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) mendapat laporan oleh pihak intelijen negara tetangga bahwa terdapat aliran dana masuk ke Indonesia berasal dari orang-orang yang dicurigai pedofil ini.

Dilihat dari proses intelijen, kegagalan mengantisipasi ini bisa jadi terletak pada planning. Tidak adanya political will dari pemerintah untuk melakukan penyelidikan dan pencegahan di masa depan. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia sudah sejak dua tahun lalu diendus informasi tentang pedofil negara tetangga masuk ke Indonesia. Bahkan kalau mau ditarik lebih jauh lagi, Fahey, seorang pedofil yang juga mengajar di JIS (Jakarta International School), bersembunyi di Indonesia selama kurang lebih 10 tahun. Artinya, sudah sejak lama intelijen Indonesia tidak bisa mendeteksi kehadiran seorang pedofil yang datang bahkan tinggal dan bekerja di Jakarta.

Dengan informasi yang begitu mudah sekarang ini dan juga cara komunikasi antar negara makin terbuka sekarang, seharusnya pemerintah Indonesia sudah bisa mengantisipasi. Paling tidak begitu kasus Fahey di JIS terungkap, intelijen dan pemerintah Indonesia mulai melihat apa yang sedang dan mungkin terjadi.

Era informasi bisa dengan cepat memberi peringatan kepada para stakeholders tapi di sisi lain, ia juga dapat membuka mata tentang adanya kegagalan intelijen. Harusnya ini dapat menjadi penyadaran intelijen untuk berbenah.

Di era informasi terbuka sekarang ini, informasi yang overload bisa membantu tugas intelijen sekaligus juga mengganggu proses intelijen. Di dalam tiap tahap dari proses tersebut, overload information dapat membantu dan dapat juga menjadi ancaman bagi kegagalan intelijen.

Dengan kegagalan intelijen timbul pertanyaan, perlukah intelijen direformasi, terutama di Indonesia? Reformasi yang paling utama dibutuhkan adalah political will yang kuat, selain dana, perubahan mindset, teknologi dan sumber daya manusia, untuk membangun intelijen Indonesia yang kuat dan independen. Intelijen dengan produk bernilai tambah

Kemudian, perlu meletakkan kepentingan nasional di semua aspek di atas kepentingan politik. Perlunya mental kolaboratif yang tinggi dari user dan intelijen.

Dunia sudah tidak ada batasnya. Tahun 2015 yang tinggal dalam hitungan bulan ini akan diresmikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara baik dari luas, sumber daya alam dan jmanusianya, negara yang termasuk perekonomiannya sedang tumbuh, sudah saatnya intelijen Indonesia menjadi yang terdepan di kawasan ini. Karena dipastikan ancaman dari pihak-pihak di luar sana yang tertarik memanfaatkan sumber daya alam dan manusia Indonesia. Ancaman yang sudah terlalu lama dibiarkan.

@pronkiy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s