Fungsi Intelijen Dalam Antisipasi Persaingan Tiongkok Vs AS

Persaingan Tiongkok dengan Amerika Serikat diperkirakan akan terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Persaingan di berbagai bidang dari politik, ekonomi, sosial budaya, dan juga pertahanan serta teknologi. Tiongkok adalah kekuatan baru yang semakin diperhitungkan. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia selama beberapa tahun, hingga penambahan kekuatan militernya secara nyata, Tiongkok mulai dipandang sebagai satu-satunya negara yang paling berpeluang menggusur Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia di masa mendatang. Analisis tersebut memang masih jauh dari realitas. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri lagi bahwa pengaruh Tiongkok terhadap masyarakat internasional memang menguat dari waktu ke waktu. Dalam sejarah peradaban modern, posisi Tiongkok dalam kancah internasional belum pernah sekuat pada beberapa tahun belakangan ini dan masih akan menguat lagi dalam masa lima tahun mendatang.[1]

Dilihat dari persaingan kedua negara raksasa tersebut alangkah bijaksana jika Indonesia mulai berbenah diri. Bersiap untuk mengantisipasi di segala bidangyang diprediksi dapat menjadi ajang pertempuran kedua negara tersebut. Bersiap bisa dalam arti menghindar dari keterlibatan keduanya atau bersiap untuk mengambil keuntungan dari persaingan itu.

Salah satu cara untuk memrediksi ancaman agar kita siap adalah dengan memaksimalkan kerja intelijen negara. Dalam esai ini, akan dibahas peran intelijen untuk mengantisipasi persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat di masa yang akan datang.

Fungsi intelijen menurut Undang-undang 17 tahun 2011 adalah menjalankan fungsi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan. Fungsi-fungsi ini akan dijabarkan satu per satu sesuai dengan perkiraan yang mungkin terjadi akibat dari persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Penyelidikan

Sesuai Undang-undang nomor 17 pasal 6ayat 2, Penyelidikan terdiri atas serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencari, menemukan, mengumpulkan, dan mengolah informasi menjadi Intelijen, serta menyajikannya sebagai bahan masukan untuk perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan. Pengumpulan dan pengolahan informasi terjadi disini. Artinya, intelijen akan bekerja mencari tahu apa yang sedang atau akan dilakukan oleh Tiongkok dan Amerika Serikat di berbagai bidang. Ini dilakukan untuk mengetahui dan mengantisipasi jika kebijakan dari kedua negara tersebut dapat merugikan kepentingan dan keamanan nasional Indonesia.

Misalnya saja dalam bidang teknologi pertahananyang dimiliki kedua negara adidaya tersebut dalam mencuri informasi dari negara lain. Militer Tiongkok yang menggunakan doktrin ‘Local War Under Informationized Conditions’ didasarkan pada arsitektur berjejaring lengkap untuk mengoordinasikan operasi di darat, udara, laut dan luar angkasa melalui spektrum elektromagnetik. Doktrin ini juga punya tujuan untuk mengendalikan jalur informasi musuh agar kekuatan Tiongkok tetap dominan pada saat perang.Caranya adalah dengan mengembangkan ‘eksploitasi jaringan komputer komprehensif’ agar terjadi blind spotsdijaringan sistem informasi lawan yang dapat dieksploitasi oleh Tiongkok.[2]

Sementara Amerika Serikat meski anggaran pertahanannya akan diturunkan, tapi secara teknologi pertahanan mereka masih yang terdepan. Pengembangan pesawat-pesawat nir awak atau drone yang semakin canggih. Tidak hanya dapat mencuri citra visual tapi juga dapat melakukan penyerangan dan pemboman. Bahkan sekarang tidak hanya pesawat nir awak, tapi AS sudah siap dengan kapal laut nir awak yang siap mengawal kapal besar.[3]

Penyelidikan tentang teknologi-teknologi seperti ini yang perlu diagendakan oleh intelijen Indonesia dalam melakukan penyelidikan. Apakah teknologi tersebut dapat mengancam keamanan nasional jika peralatan militer canggih itu dipakai di sekitar perbatasan atau bahkan sudah masuk ke dalam wilayah Indonesia? Bagaimanakah cara menghadapinya? Hal-hal demikian yang penting diketahui untuk mengantisipasi persaingan jika terjadi hal yang terburuk.

Pengamanan

Pengamanan sebagaimana dimaksud pada Undang-undang nomor 17, pasal 6 ayat 3 taun 2011 adalah terdiri atas serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencegah dan/atau melawan upaya, pekerjaan, kegiatan Intelijen, dan/atau Pihak Lawanyang merugikan kepentingan dan keamanan nasional. Artinya, pengamanan adalah tindakan bertahan dari serangan ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri.

Baru-baru ini AS mencabutembargo senjata ke Vietnam.[4]Pencabutan itu dilakukan untuk menyiapkan penjagaan di sekitar Laut Cina Selatan. Tiongkok sudah aktif unjuk gigi di laut utara Indonesia itu sejak beberapa tahun lalu. Mereka ingin mengklaim daerah lautan yang lebih luas untuk masuk ke dalam teritori negaranya.

Di pihak AS sendirijuga tidak hanya berdiam diri. “US pivot to Asia” diungkapkan oleh Presiden AS, Barack Obama, yang artinya AS tidak main-main dengan kepentingannya di Asia. Bantuan AS dalam rangka meningkatkan maritime domain awareness Indonesia lewat Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) dan juga latihan-latihan militer Indonesia-Amerika Serikat tentunya sangat diperhatikan oleh Tiongkok. Hal ini seolah-olah menjadi persaingan ketika Tiongkok dalam Komite Kerjasama Maritim menawarkan kerjasama pembangunan satelit keamanan laut Indonesia-Tiongkok, pertukaran informasi dalam keselamatan pelayaran, lingkungan laut dan keamanan maritim termasuk dalam pelatihan operator VTS (vessel traffic service).[5]

Baik AS dan Tiongkok sangat melihat pentingnya Indonesia untuk menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Hal ini terutama karena Indonesia memiliki SeaLanes of Communications (SLOC), Sea Lanes of Trade (SLOT), Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi lalu lintas impor energi dan gas Tiongkok dan AS. Kepentingan Tiongkok juga terdapat pada aspek perdagangan mereka yang merambah Afrika dan Timur Tengah. Jalur perdagangan itu pun melewati teritori maritimIndonesia.[6]

Peran intelijen dalam pengamanan teritori maritim ini menjadi sangat penting melihat fakta bahwa kedua negara ini sangat berkepentingan dalam memanfaatkan wilayah maritim Indonesia. Salah satu usulan misalnya adalah dengan menyusupkan aset intelijen di kedua negara tersebut khususnya di industri maritimnya. Tujuannya adalah untuk terus mengawasi perkembangan dari kegiatan maritim kedua negara tersebut. Jika terdapat indikasi yang dapat mengganggu kepentingan nasional, dapat segera ditangkal.

Tidak hanya penyusupan di industri maritim kedua negara, tapi juga yang lebih penting adalah penyusupan intelijen ke dalam lembaga-lembaga negara ataupun swasta lokal yang berhubungan erat dengan kemajuan industri maritim Indonesia. Pengamanan terhadap mafia-mafia yang ‘bermain’ di industri maritim juga dapat membahayakan negara. Baik yang ‘bermain mata’ dengan AS ataupun Tiongkok.

Penggalangan

Persaingan kedua negara besar itu, yang justru wajib bekerjasama dengan kita, malah dapat dimanfaatkan. Intelijen dapat lebih aktif lagi untuk menggalang kerjasama dengan intelijen kedua negara adidaya tersebut untuk membantu mengawasi dan mengamankan ancaman-ancaman nir-militer di sekitar regional AsiaTenggara-Pasifik. Ancaman nir-militer seperti pencurian sumber daya laut, human trafficking, narkoba, terorisme yang sering terjadi di kawasan ini butuh bantuan kedua negara tersebut, terutama dalam hal teknologi.

Aksi intelijen untuk memengaruhi pihak lawan, dalam hal ini AS danTiongkok, untuk ikut membantu pengamanan maritim Indonesia termasuk dalam aksi penggalangan. Penggalangan sebagaimana dimaksud terdiri atas serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dantindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk memengaruhi Sasaran agar menguntungkan kepentingan dan keamanan nasional.[7]Jadi, dibutuhkan kecerdikan pihak intelijen untuk dapat memengaruhi kedua pihak ini agar dapat menguntungkan pihak Indonesia, hubungan yang simbiosis mutualisme.

Penutup

Indonesia terletak dalam posisi geografis dan geopolitik yang sangat strategis bagi Tiongkok dan Amerika Serikat. Membuat kedua negara itu akan berusaha untuk menjaga hubungan dengan Indonesia.

Sementara, dalam banyak hal seperti politik luar negeri, ekonomi dan pertahanan, Indonesia pun berkepentingan untuk merangkul kedua negara besar tersebut untuk selalu menjadi ‘kawan’.

Salah satu cara untuk menjaga hubungan dengan kedua negara itu adalah dengan memaksimalkan kerja intelijen. Gunanya agar supaya kita dapat mengantisipasi situasi politik, ekonomi dan kepentingan lainnya di masa datang jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Kita sudah siap jika ada keadaan yang mengancam kepentingan nasional yang ditimbulkan dari persaingan AS dan Tiongkok. Intelijen yang profesional dan berdedikasi untuk kepentingan nasional lah yang dibutuhkan.

[1] Badan Intelijen Negara (BIN);Menyongsong 2014-2019Memperkuat Indonesia dalam Dunia yang Berubah (editor:Muhammad AS Hikam, Rumah Buku, Jakarta, 2014) hal. 8

[2]Badan Intelijen Negara (BIN); Menyongsong2014-2019Memperkuat Indonesia dalam Dunia yang Berubah (editor: Muhammad ASHikam, Rumah Buku, Jakarta, 2014) hal. 36

[7] Undang-undang 17, tentang Intelijen pasal 6 ayat 4, tahun 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s