Seperti apa PSSI di tahun 2025?

l-Soccer-cat

oleh Arindra Karamoy & Andhika Prakasa

Bermain di Piala Dunia adalah mimpi semua pemain sepakbola. Menyaksikan tim nasional sepakbola negaranya adalah kebanggaan bagi setiap warga negara tersebut.

Bermain di Piala Dunia bukanlah hal yang mudah. Persaingan antar negara begitu ketat. Dibutuhkan suatu industri sepakbola yang sehat untuk menciptakan kompetisi berkualitas di segala kelompok umur. Kompetisi yang pada akhirnya melahirkan pemain-pemain berkelas. Tim nasional suatu negara pun akan terbantu jika kompetisi dalam negara itu berjalan dengan baik dan mempunyai pemain-pemain berkelas yang lahir dari kompetisi lokal. Tim nasional akan diisi oleh pemain-pemain berkualitas tinggi dan mampu bersaing.

Sepakbola di Indonesia adalah olahraga yang paling digandrungi oleh sebagian besar warga Indonesia. Potensi pemain – pemain berbakat sepakbola Indonesia juga sangat besar terbukti dengan Timnas Indonesia U-19 menjuarai Piala AFF U-19 yang digelar di Indonesia pada September 2013. Prestasi lainnya adalah Tim Nasional U-12 AQUADNC meraih posisi ke–7 pada kejuaraan yang diselenggarakan oleh Aqua di Brazil, diikuti timnas oleh 32 tim dari berbagai belahan dunia seperti Jepang, Brazil, Jerman dll. Dalam kejuaraan ini Tim Indonesia berhasil menyabet peringkat 7 setelah mengalahkan Meksiko dengan skor 1-0 berkat gol tunggal dari Saiful.1

Potensi yang besar selama ini tidak dikelola dengan baik oleh PSSI yang ada. Untuk gelar tim senior atau timnas U-23 indonesia terakhir kali mendapatkan posisi tertingginya pada kejuaraan se-ASEAN adalah hanya pada SEA Games 1991 yang sudah dihelat 23 tahun lalu. Publik rindu timnas Indonesia berjaya di kancah Internasional setidaknya pada kawasan Asia tenggara dulu, lalu bertahap ke tahap Asia kemudian Dunia.

Skenario terbaik

Skenario terbaik yang dapat terjadi pada PSSI pada tahun 2025, setahun sebelum Piala Dunia ke 23 berlangsung, jika melihat pada dua faktor, yaitu keterlibatan pemerintah yang maksimal dan keberanian PSSI sebagai organisasi untuk berinovasi.

Pada tahun 2025, PSSI dapat menjadi organisasi yang berbeda dibanding dengan sebelumnya. Revolusi yang terjadi di tubuh organisasi membawa perubahan besar. Masalah-masalah klasik yang sering terjadi di dalam sepakbola Indonesia makin berkurang.

Kompetisi berjalan secara berkelanjutan dari kompetisi junior hingga kompetisi profesional sehingga lahir pemain-pemain berkualitas yang menjadi tim nasional Indonesia disegani di Asia, terutama pada saat penyisihan Piala Dunia zona Asia Pasific. Di kompetisi Liga Indonesia, semakin banyak pemain-pemain bintang dari seluruh dunia, terutama dari negara-negara utama di Asia Pasifik. Dengan lancarnya kompetisi, semakin banyak sponsor yang berminat untuk ikut dalam industri sepakbola.

Meskipun FIFA terpaksa mencekal segala kegiatan timnas untuk berlaga di turnamen internasional akibat dari intervensi pemerintah, tapi itu justru membuat pemangku kepentingan PSSI fokus untuk melakukan revolusi dan inovasi. Pencekalan terjadi pada tahun 2016 hingga 2020.

Inovasi PSSI yang bermentalkan revolusi ini didukung penuh oleh pemerintah sehingga PSSI memiliki kekuatan hukum dan wewenang untuk melakukan apa saja demi memajukan persepakbolaan nasional. Perubahan di berbagai aspek organisasi dan pembangunan sepakbola yang akhirnya kini membawa menjadi suatu industri. Pemerintah melakukan banyak kebijakan terhadap revolusi PSSI ini.

Pertama-tama, pada tahun 2015, pemerintah menyiapkan tim independen yang akan bertindak sebagai pengawas sekaligus auditor dalam bidang keuangan, transparansi rekrutmen pelatih, wasit, keuangan klub-klub, baik klub dari divisi terendah hingga klub yang akan bermain di liga utama. Hasilnya, perombakan total di dalam tubuh PSSI, dari pengurus pusat hingga pengurus di daerah. Jelas banyak protes dari berbagai pihak yang berkepentingan. Banyak tuntutan dan ‘perang’ di media antara pemerintah dan rezim lama PSSI.

Setelah melakukan perombakan total di dalam tubuh PSSI, pemerintah mulai melakukan reformasi di dalam PSSI. Pemilihan orang-orang yang akan menjadi pengurus dilakukan secara akuntabel dan transparan berdasarkan kapabilitas inti. Pemilihan dilakukan oleh lembaga rekrutmen yang independen. Setelah berhasil menentukan pengurus, PSSI dan pemerintah duduk bareng untuk menentukan langkah-langkah strategis jangka panjang maupun taktis.

Prestasi di kawasan Asia Tenggara bukanlah mimpi lagi. Timnas Garuda sudah berhasil menjadi macan Asia Tenggara. Turnamen AFF ataupun SEA Games sudah menjadi langganan prestasi timnas. Tidak ada lagi negara ASEAN yang mampu menandingi timnas Garuda.

Pelatihan yang sudah canggih dengan mengadopsi sports science, termasuk ilmu psikologi dan manajemen, menghasilkan tim manajemen timnas dari tahun ke tahun mumpuni dan modern. Masalah cedera berkelanjutan dari seorang pemain ataupun masalah psikis dapat diselesaikan dengan baik.

Pada penyisihan PD 2026, Indonesia berhasil bersaing dengan ketat dalam grup. Persaingan paling ketat adalah dari negara-negara seperti Korsel, Iran serta Australia. China, yang mengalami resesi ekonomi di negaranya, membuat mereka tidak mampu berkompetisi karena fokus pada masalah dalam negerinya.

Prediksi seperti ilustrasi di atas tentu tidaklah mudah namun bukan berarti mustahil. Tekad dari semua pihak untuk memajukan sepakbola Indonesia begitu dibutuhkan. Terutama keterlibatan dan keseriusan PSSI dan juga pemerintah. Karena mati atau tidaknya persepakbolaan sangat tergantung dari kedua entitas tersebut.

Advertisements

4 thoughts on “Seperti apa PSSI di tahun 2025?”

  1. seperti nya sudah mulai dilakukan ya dengan pembentukan tim 9, namun apa ini sekedar tim untuk bagi-bagi posisi aja atau memang serius untuk membenahi PSSI, mengingat banyak nya uang yang berputar di dalam nya sehingga bukan tidak mungkin malah membuat goyah tim itu sendiri..

  2. Semua di negara ini mentoknya di political will-nya, rekan Poeger. Awalnya semangat, ujungnya gak jelas. Mudah-mudahan aja ini semua serius dikerjain Menpora dan tim.

  3. seperti apa yang dibilang sama ryant nugroho ya ” menteri-menteri yang ada itu lebih ke arah mikro bukan ke arah makro jadi yang terlintas di kepala nya langsung di eksekusi, mereka gak punya grand design”

    pertanyaannya sekarang, klo kemudian ada intervensi pemerintah yang akan berimbas pada “banned” yang di berikan oleh FIFA (karena selama ini kan masalah ini yang selalu jadi argumentasi PSSI ketika pemerintah akan turun tangan) apakah roda kompetisi akan tetap berjalan?bagaimana dengan pihak sponsor, apakah mereka akan tetap mau membiayai kompetisi?

    lalu menurut bung pronky, bagaimana dengan program naturalisasi?masih perlu dijalankan atau tidak ya? mengingat dewasa ini beberapa negara di kawasan asia tenggara tetap menjalankan program ini..

    1. Roda kompetisi menurut gue sih tetep dijalanin. Karena gak ada kompetisi FIFA, timnas or klub, malah pemain2 dan klub2 akan dituntut berkompetisi secara ketat untuk merebut gelar liga or piala Indonesia. Konsentrasi persepakbolaan bisa fokus pada pembinaan. Sponsor gak akan kurang, yakin.

      Naturalisasi bisa aja diterusin. Selama rekrutmen pemainnya juga berdasarkan skill dan kemampuan lain, yang paling penting, darahnya merah putih beneran. Tapi kan timnas dibanned? Apa mau mereka main tanpa pertandingan FIFA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s