Skenario Pasca Santoso

charles-barsotti-o-k-let-s-try-this-scenario-cartoon

Pic: condenaststore.com

Santoso alias Abu Wardah, si komandan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), orang yang paling dicari dalam urusan aksi teror di Nusantara ini sudah berhasil dilumpuhkan. Dia tewas di tanah ‘perjuangannya’ di Poso, di tangan aparat yang tergabung dalam satgas Tinombala beberapa hari lalu. Pengejaran yang sudah lama dan banyak memakan korban dan juga biaya akhirnya berhasil melumpuhkannya. Lalu, dengan tewasnya Santoso, apa yang akan dilakukan sisa dari kelompok Santoso pasca tewasnya sang komandan? Kabarnya, masih ada belasan anggota kelompok ini yang berhasil melarikan diri dan bersembunyi.

Jika melihat dari situasi saat ini, ada beberapa skenario dapat terjadi. Perlu ditentukan dulu faktor-faktor pendorong apa saja yang berpotensi memiliki dampak dan tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Tingkat dukungan organisasi teror internasional seperti kelompok ISIS merupakan salah satu faktor pendorong yang kuat, terutama melihat tren belakangan ini. Dapat kita saksikan sendiri melalui media bahwa aksi teror makin sering terjadi. Aksi-aksi tersebut pun kini tidak hanya menggunakan bom bunuh diri tapi apa saja yang dapat dijadikan senjata pembunuh. Seperti di Nice, Perancis pada saat Bastille Day dengan menggunakan truk yang ditabrakan ke kerumunan orang. Di Wuerzburg, Jerman sempat terjadi aksi dengan menggunakan pisau dan kampak yang diayunkan membabibuta di kereta sehingga melukai beberapa orang. Terjadinya sedikit pergeseran aksi, dari aksi yang terencana dan senyap seperti aksi-aksi Jamaah Islamiyah dulu, kini menjadi aksi lebih spontan dan sporadis. Aksi-aksi teror tersebut diklaim terkait dengan kelompok ISIS dan terjadi di beberapa negara Eropa, melintasi batas negara bahkan benua.

Indonesia juga tidak luput dari sasaran kelompok teror yang berafiliasi dengan ISIS seperti yang belum lama terjadi di Solo. Seperti yang diketahui, Santoso dan MIT berbaiat dengan ISIS pada tahun 2014, sehingga apa pun yang diperintahkan ISIS, mereka akan menjalankannya, apa pun risikonya. Sebenarnya tidak hanya Indonesia yang menjadi target namun juga Malaysia dan Filipina.

Dukungan ISIS terhadap penyebaran ide khilafah dan melakukan teror di Asia Tenggara ini memiliki potensi ancaman berdampak besar karena kekuatan mereka terutama dalam penyebaran propaganda via internet. Sementara pengguna internet di Asia Tenggara jika ditotal termasuk yang terbanyak di dunia. Faktor ISIS ini juga memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi. Mereka sulit terdeteksi yang salah satu sebabnya karena dukungan dari pelaku teror teradikalisasi sendiri (self-radicalized) dengan hanya melihat propaganda di media sosial. Mereka tidak perlu mengirim ‘tenaga ahli’ untuk melakukan teror. Cukup dengan konten berisi propaganda di media sosial, lalu biarkan orang lokal yang teradikaliasi melakukan aksinya.

Propaganda di media sosial atau internet ini membawa kita pada faktor kedua yaitu teknologi informasi. Semakin canggihnya teknologi sehingga memudahkan pelaku teror untuk teradikalisasi, belajar merakit bom via internet, dan lain-lain. Teknologi tidak dapat kita hentikan perkembangannya sehingga faktor ini berpotensi berdampak besar pada skenario yang mungkin terjadi.

Skenario
Dukungan kelompok teror seperti ISIS yang memiliki jaringan luas ditambah dengan faktor teknologi informasi dapat menghasilkan beberapa skenario.

Skenario pertama adalah jika dukungan ISIS berkurang dan perkembangan teknologi informasi juga mandek. Dalam skenario ini akan membuat gerakan penerus Santoso semakin terpojok dan dapat bubar jalan karena tidak adanya dukungan baik secara finansial, pengetahuan dan juga ideologi.

Skenario kedua adalah jika dukungan ISIS melemah namun teknologi terus berkembang pesat. Jika ini yang terjadi, gerakan simpatisan Santoso akan tiarap dan menutup rapat pintunya agar tidak tercium oleh aparat namun mereka bergerak di bawah tanah, tetap menggarap misi dengan bantuan teknologi yang makin berkembang tadi. Teknologi berkembang misalnya jaringan internet di Indonesia semakin kuat dan luas cakupan areanya.

Skenario berikutnya adalah pada saat dukungan ISIS makin kuat namun teknologi informasi tidak berkembang banyak jika dibanding sekarang. Kelompok ini akan memfokuskan pada serangan-serangan fisik. Serangan yang akan semakin sering, sporadis dan juga dengan dampak besar. Jalinan kerjasama antar para pelaku teror transnasional semakin kuat meski tidak diiringi dengan kemajuan teknologi infromasi yang berarti. Kegiatan akan dilakukan secara organik dan berkoordinasi melalui cara-cara komunikasi tradisional.

Sementara skenario terakhir adalah skenario terburuk yang tentu saja kita semua berharap tidak akan pernah terjadi. Skenario itu adalah jika dukungan dari ISIS secara internasional tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti melaju ditambah dengan perkembangan teknologi informasi yang juga semakin terjangkau oleh semua orang. Dukungan baik secara finansial dan non finansial akan membuat gerakan kelompok ini menjadi semakin berbahaya. Cita-cita untuk menjadikan khilafah di Nusantara (Asia Tenggara) akan menjadi semakin nyata. Dapat saja perang di Timur Tengah dibawa ke Nusantara. Ditambah dukungan teknologi informasi yang makin berkembang, propaganda kelompok ini akan dapat memengaruhi semakin banyak lagi masyarakat di kawasan Indonesia dan wilayah Asia Tenggara sehingga semakin menyulitkan untuk menumpas gerakan kelompok ini.