Hasil Survey Wahid Foundation tentang Potensi Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia

IMG_20160803_110502.jpg

Indonesia, negara berpenduduk Muslim moderat dan toleran terbesar di dunia yang berakar pada tradisi dan sejarah yang panjang. Sayangnya, sekarang sedang menghadapi tantangan serius dengan menguatnya potensi intoleransi yang, di beberapa wilayah, berujung pada aksi radikal atas nama agama. Yang terakhir adalah insiden di Tanjungbalai.

WAHID Foundation bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia melakukan survei nasional mengenai POTENSI intoleransi dan radikalisme sosial-keagamaan di kalangan Muslim Indonesia. Survei ini melibatkan 1520 responden pada 34 provinsi di Indonesia.

Hasil dari survei ini salah satunya adalah mengukur potensi radikalisme sosial-keagamaan, yaitu partisipasi kesediaan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang melibatkan atau berpotensi melibatkan kekerasan atas nama agama. Hal ini antara lain diukur dari: Keterlibatan dalam perencanaan atau ikut melakukan sweeping hal-hal yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam; Berdemonstrasi menentang kelompok yang dinilai menodai atau mengancam kesucian Islam; dan Melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain.

Survei menunjukkan 7,7% responden menyatakan mereka bersedia melakukan tindakan radikal BILA ADA KESEMPATAN. 0,4% dari total responden mengaku PERNAH MELAKUKAN tindakan radikal. Bila angka potensi ini diproyeksikan pada sekitar 180-an juta jiwa populasi Muslim Indonesia, maka terdapat sekitar 13 juta orang yang bersedia melakukan tindakan radikal dan sekitar 700 ribu orang yang pernah terlibat dalam tindakan radikal. Angka ini adalah angka potensial bukan angka aktual. Jika ditotal, jumlah tersebut kurang lebih melampaui jumlah penduduk DKI Jakarta yang pada tahun 2014 berdasarkan hasil proyeksi Sensus Penduduk tahun 2010 adalah sekitar 10 jutaan jiwa.

Hasil penting lainnya adalah tingkat intoleransi umum. Dari sekitar 1.500 orang yang disurvey menghasilkan skor 0,6% orang termasuk dalam kategori ‘toleran’, 50,4% dalam kategori ‘netral’ dan 49% kategori ‘intoleran’. Terdapat perbedaan yang tipis sekali antara kategori orang yang ‘netral’ terhadap intoleransi dengan kategori orang yang intoleran. Intoleransi di sini adalah pengingkaran terhadap hak-hak kewarganegaraan. Jadi, bukan hanya intoleransi terhadap pemeluk agama lain saja. Masalah intoleransi ini jelas penting. Seseorang yang intoleran akan mudah tersulut untuk melakukan kekerasan dan dapat menimbulkan konflik horisontal.

Survei ini juga menunjukkan bahwa faktor pendidikan, pendapatan, dan wilayah tempat tinggal ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap intoleransi dan radikalisme sosial-keagamaan di Indonesia. Yang lebih berpengaruh adalah pemahaman agama yang bersifat literalis yakni pemaknaan nilai dan aturan secara harafiah dan kaku. Paparan pemberitaan atau ceramah yang berangkat dari pemahaman agama yang literalis tersebut juga turut berperan.

Hasil positif dari survey ini ternyata masih ditemukan harapan untuk menanggulangi intoleransi dan radikalisme. Responden memberikan nilai positif terhadap Pancasila dan demokrasi. Mayoritas menyatakan mendukung demokrasi sebagai bentuk pemerintahan terbaik untuk Indonesia beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan juga menerima Pancasila serta UUD 45.

Wahid Foundation merekomendasikan beberapa hal untuk meredam potensi intoleransi dan radikalisme:

  1. Negara harus melaksanakan tuntutan Pancasila untuk memberikan jaminan atas hak-hak sipil seluruh warga tanpa terkecuali, termasuk melakukan penegakan hukum atas aksi-aksi radikalisme keberagaman yang marak terjadi.
  2. Perlunya organisasi sosial-keagamaan dan tokoh-tokoh agama mengkampanyekan nilai-nilai Islam yang positif, damai dan toleran, serta menjadikan tafsir keagamaan lebih kontekstual sesuai tuntutan zaman guna menghindari pemahaman literalis.
  3. Membuka ruang dialog seluas-luasnya serta menggiatkan interaksi dan kerjasama antar kelompok masyarakat untuk memupuk rasa saling pengertian dan pemahaman serta menghindarkan stigmatisasi.

Harapannya, hasil survey ini dapat dijadikan pijakan untuk merancang suatu kebijakan yang berkesinambungan dan terintegrasi demi menjamin seluruh warga negara Indonesia terhindar dari tindakan intoleransi serta menghambat perilaku intoleran itu sendiri. Menjadikan Indonesia yang senantiasa damai dan tenteram.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s