DICARI: KONTRA NARASI RADIKALISME

 

blank-wanted-poster-template-for-kidswanted-poster-template-for-pirates-6jud41kx

Diseminasi ideologi dapat dilakukan lewat mana pun, termasuk lewat media. Pada era demokrasi dan teknologi informasi seperti sekarang ini, semua orang dapat membuat media sendiri. Bentuknya dapat berupa media konvensional seperti surat kabar, televisi atau radio. Ketiganya memerlukan modal yang besar. Sementara adanya internet memberikan alternatif yang jauh lebih murah dan lebih efektif dalam hal kecepatan penyampaian pesan serta jangkauan yang luas. Dengan situs internet, siapa pun, di mana pun dapat mengakses konten media tersebut.

Maret 2015, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan rilis akan menutup situs-situs internet yang diduga menyebarkan paham radikal. Sebanyak 22 situs yang dianggap menjadi penggerak paham radikalisme di Indonesia ditutup. Alasan penutupan 22 situs tersebut adalah permintaan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Menurut BNPT semua situs itu menyebarkan paham radikalisme dan sebagai simpatisan radikalisme.

Di era demokrasi sekarang ini, penutupan situs-situs itu menimbulkan pro dan kontra. Masing-masing dengan alasan sendiri. Bagi yang pro menyebutkan bahwa pemblokiran sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika 19/2014 yang menyediakan payung hukum untuk menutup akses terhadap situs internet bermuatan negatif dan meresahkan masyarakat. Sesuai aturan tersebut, situs konten yang bisa dilaporkan dan dapat diblokir adalah menyangkut privasi, pornografi anak, kekerasan, suku, agama, ras, dan antar golongan. Dalam kasus penutupan 22 situs ini, media-media tersebut digolongkan sebagai konten negatif yang dapat membahayakan masyarakat dan keamanan nasional, seperti dikutip dari laman BNPT. Pihak yang kontra berpendapat tidak adanya definisi jelas mengenai ‘situs radikal’. Ada juga yang membawanya ke ranah pelanggaran HAM, karena mendapatkan informasi adalah bagian dari hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat dilindungi dalam lingkungan demokrasi.

‘Demokrasi’ dan ‘HAM’ kerap dijadikan tameng untuk lolos dari dakwaan bagi kelompok radikal. Dari persoalan ini maka timbul ancaman, bahwa penegak hukum tidak dapat berfungsi maksimal dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan terorisme karena selalu dibenturkan dengan isu HAM, sehingga kegagalan pengamanan akan sangat mungkin terjadi. Keamanan negara dan bangsa dapat terancam.

Dengan melihat fenomena di atas, muncul pertanyaan: bagaimana agar aktivitas intelijen dan penegak hukum tidak berbenturan dengan isu HAM dalam mencegah dan memberantas terorisme pada era demokrasi sekarang ini? Jawabannya, kontra narasi. Karena di era sekarang, tidak mungkin melakukan tindakan kekerasan dari penegak hukum seperti era Orde Baru untuk mengekang kebebasan berpikir, berpendapat dan berkumpul.

Dalam teori intelijen ada yang disebut dengan penggalangan (conditioning). Penggalangan adalah kegiatan intelijen dengan sasaran psikologis. Oleh karena itu perang ini dinamakan psychological warfare atau perang urat syarat. Tujuan penggalangan adalah menggarap sasaran sedemikian rupa, sehingga mau berbuat sesuai dengan keinginan kita (Hendropriyono, 2013). Kegiatan ini serupa dengan membangun dan mendistribusikan narasi yang nantinya akan disebarkan kepada masyarakat. Narasi apa? Tentunya adalah narasi anti radikalisme untuk melawan narasi yang sudah dibangun oleh kelompok radikal lewat situs atau media lainnya. Narasi tersebut dapat disebarkan melalui cara-cara yang dekat dengan masyarakat menggunakan produk budaya populer misalnya tulisan, buku, cerita, bahkan film.

Aktivitas kelompok radikal di media online, sangat aktif. Setiap harinya ada sekitar 2-3 artikel baru tayang di situs mereka. Mereka juga aktif di media sosial. Engagement atau interaksi mereka dengan pengikutnya yang kebanyakan anak muda juga cukup tinggi. Adanya interaksi artinya mereka memiliki admin yang selalu aktif menjaga media sosialnya. Artinya, terdapat suatu organisasi di balik semua kegiatan mereka. Organisasi ini bisa kecil atau mungkin besar secara ukuran jumlah pegawai atau dana. Melihat keaktifannya, tidak mungkin kegiatan di media online ini dilakukan oleh satu-dua orang saja.

Diperlukan kampanye narasi anti radikalisme yang masif, sustainable dan terencana rapi. Perlunya peran dari berbagai disiplin ilmu untuk membantu menghadapi masalah radikalisme yang semakin meluas. Perang sesungguhnya adalah perang urat syaraf atau narasi, tentu tanpa mengecilkan tindakan peneyergapan atau operasi kontak senjata dari para penegak hukum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s