Dunia Paralel: Musik Underground & Mainstream

(Terinspirasi oleh serial TV, Stranger Things)

Sering kita dengar istilah ‘musik underground‘. Sering juga kita dengar istilah ‘musik mainstream‘. Keduanya sering diucapkan dalam satu paragraf tulisan ataupun percakapan. Lalu, sebenarnya apa maksud dari kedua istilah itu?

Dalam setiap industri pasti ada yang namanya ‘ekosistem’. Ekosistem ini adalah segala kegiatan industri tersebut dari hulu hingga ke hilir yang melibatkan semua sumber daya, modal dan manusianya. Kurang lebih begitu definisi ekosistem yang disederhanakan.

Dalam industri musik mana hulu dan mana hilirnya? Bicara hulu artinya awal dari suatu karya musik itu tercipta, yang berwujud ide. Ide datangnya dari mana? Sudah pasti dari musisinya. Sementara hilir adalah pada bagian konsumsi musik setelah karya tersebut sampai pada konsumen.

Meminjam framework peta ekosistem industri musik yang dibuat oleh Kemenparekraf dulu, industri musik diawali oleh proses Kreasi, Reproduksi, Distribusi dan diakhiri Konsumsi. Dalam ekosistem ini terdapat industri utama dan pendukung. Kita akan lebih fokus melihat perjalanan hulu ke hilir dalam industri utama.  Di dalam proses Kreasi terlibat para penulis lagu, musisi, studio musik, perusahaan rekaman hingga lembaga manajemen kolektif. Setelah karya itu selesai ditulis dan diproduksi, masuk pada tahap Reproduksi. Tahap Reproduksi melibatkan perusahaan rekaman, pengemasan dari produk, dapat berupa CD album atau dalam bentuk digital. Pada tahap Distribusi tentunya melibatkan para distributor yang akan mendistribusikan karya musik kepada konsumen. Yang terakhir adalah tahap Konsumsi. Pada tahap ini, karya musik sudah sampai pada toko-toko musik, baik digital maupun penjual ritel dan juga termasuk pertunjukan musik untuk dikonsumsi. Secara ringkas, keterangan di atas diharapkan dapat menjelaskan jalannya suatu karya musik dari hulu (ide) hingga hilir (konsumen).

Kembali kepada pertanyaan awal mengenai ‘musik underground’ dan ‘musik mainstream’. Dapat dianalogikan, di dalam industri musik terdapat parallel universe atau dunia paralel. Dunia yang seakan mirip dengan dunia yang kita tinggali tapi sebenarnya berbeda cukup signifikan. Musik mainstream memiliki ekosistem, seperti yang dijelaskan di atas, di dunianya, begitu pun dengan musik underground  di ‘dunia paralel’. Yang membedakan adalah sumber daya, terutama modal, dan medianya saja. Dengan pasokan modal yang kuat, musik mainstream dapat menggunakan kekuatan tersebut untuk lebih hadir di masyarakat melalui berbagai macam media arusutama (mainstream). Sehingga munucul istilah ‘musik mainstream’. Sementara musik undergorund dengan keterbatasan modal, tentunya butuh cara kreatif untuk menyebarkan karyanya ke khalayak untuk dikonsumsi. Dunia underground terpaksa untuk bermain secara terbatas di dalam komunitasnya saja, di bawah tanah.

Bagaimana dengan kualitas? Kualitas tidak ditentukan di dunia paralel mana seorang musisi berada, mainstream atau underground. Kualitas musik mainstream yang bagus banyak sekali, begitu juga yang buruk. Hal yang sama terjadi di dunia underground.

Ada juga yang mengatakan bahwa ‘musik underground’ adalah suatu aliran musik. Bebas saja. Tidak terlalu penting untuk memperdebatkan hal itu dalam tulisan ini. Jadi, kalian mau bermain di dunia yang mana? Lagi-lagi, jawabannya tidak penting, yang penting adalah terus berkarya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s