Diingatkan Oleh “Trolls”

Pic: comiccoverage.com

“Tak kenal maka tak sayang” itu dahsyat. Sederhana, membosankan, tapi dalam. 

Sering kita dengar atau baca sesuatu dan menyimpulkannya dengan cepat tanpa melihatnya dengan sudut dan jarak pandang yang pas. Apalagi di zaman media sosial ini. Si anu begitu, si ini begini, katanya. Kata entah siapa di internet. 

Menilai dengan super cepat secepat kilat seperti itu lama kelamaan jadi kebiasaan. Sehingga akhirnya kebiasaan itu terus tumbuh dan menjadi bagian dari hidup. 

Idealnya, kita kenali, pahami, hingga nantinya pasti akan tumbuh empati.

Advertisements

Dokter Juga Manusia

doctor-strange-comic-con-art-featured
Pic: screenrant.com

Pandai, pintar atau jenius sebenarnya nggak istimewa. Kenapa? Karena tetap saja kita   bukan manusia super seperti Superman atau manusia mutan seperti Wolverine. Kita tetap manusia biasa yang bisa luka, berdarah, cacat bahkan akhirnya mati.

Karena tahu bukan manusia super yang nggak bisa luka, makanya sudah seharusnya kita jaga diri. Jaga diri dengan tidak melakukan hal-hal bodoh dan arogan seakan-akan kita manusia super. Hal bodoh nan arogan yang sederhana seperti kebut-kebutan di jalan sambil mainan ponsel. Bisa panjang urusannya.

Keadilan

Pic: sosiological.blogspot.co.id

“Saya menilai orang itu adalah orang jahat. Karena mukanya seperti bandit yang ada di film-film. Mari kita gebukin!”

Menilai masalah jika tanpa melihatnya secara kaffah atau menyeluruh jadinya akan menghasilkan output yang subjektif dan sempit. Akan sangat bahaya kalau sikap seperti itu dimiliki oleh pengambil keputusan yang berhubungan dengan hidup dan bahkan matinya seseorang.

Peace. Salam. 

Pemuda, Beda dan Berbahaya

cha           sid

Musik dan anak muda gak mungkin dipisahkan. Meski sebagian anak muda ada yang mulai mengharamkan musik karena dalih agama ya gak apa-apa, silakan saja, tapi sebagian besar anak muda tetap menjadikan musik sebagai bagian dari hidupnya.

Relasi antara musik dan anak muda bukan sekadar relasi ‘majikan’ dan ‘buruh’ saja. Artinya, musik bukan hanya sebagai pemuas atau media hiburan di tengah kegalauan ditinggal pacar atau masalah-masalah klasik lainnya. Musik juga sebagai alat ekspresi dan penyebar semangat. Musik ekspresi ini biasanya ditulis oleh anak muda dan ditujukan untuk membakar semangat dan menyadarkan anak muda tentang khitahnya sebagai orang muda.

Dari zaman ke zaman, baik di luar negeri ataupun di dalam negeri, banyak musisi yang mengangkat isu tentang pemuda ini. Contohnya di dalam negeri Chaseiro dari era 70- 80an dan Superman Is Dead dari era 2000-an. Musiknya beda banget antara keduanya, tapi gue menangkap semangat yang sama. Kegelisahan sama tapi selain itu tetap optimis untuk bikin sesuatu yang keren dan terutama mengingatkan tentang siapa kita. ‘Pemuda’ itu memang relatif dilihat dari umur tapi selama punya semangat bikin karya dan progresif ya itu anak muda. 😉

Selamat hari Sumpah Pemuda

Bersatulah semua seperti dahulu. Lihatlah ke muka. Keinginan luhur kan terjangkau semua – Pemuda (Chaseiro)

 

Dan jika kami bersama. Nyalakan tanda bahaya. Musik akan menghentak. Anda akan tersentak
Dan kami tau engkau bosan. Dijejali rasa yang sama. Kami adalah kamu. Muda beda dan berbahaya – Jika Kami Bersama (SID)

Era Horisontal dalam Pilkada


Pemillihan kepala daerah serentak di beberapa tempat akan dimulai beberapa bulan lagi. Daerah yang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah tersebut terdiri atas tujuh provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Ketujuh provinsi tersebut yaitu Aceh, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Banten, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua Barat. Meski saat ini belum resmi untuk melakukan kampanye, banyak calon, sadar atau tidak sadar sudah mulai menebarkan pesonanya ke segala penjuru daerah pemilihannya. Yang tidak kalah heboh adalah aktivitias di media sosial dan jagad internet. Konten-konten yang memasarkan pasangan calon sudah banyak bertebaran, dari konten bernada positif maupun negatif. 
Pemilihan kepala daerah tersebut menimbulkan pertanyaan, sebenarnya calon seperti apa yang diinginkan oleh pemilih nanti? Bagaimana seharusnya pendekatan dari para calon untuk memenangkan hati pemilihnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut yang pertama-tama perlu dilihat adalah seperti apa kondisi lanskap ‘pasar’ yang akan dituju. Penulis akan mencoba melihat dari kaca mata marketing atau pemasaran.

Di dalam lanskap bisnis, mungkin dapat dikatakan juga lanskap sosial, seperti sekarang, sudah mulai terjadi pergeseran relasi. Misalnya saja relasi antara produsen dan konsumen, seorang CEO dengan karyawan, klien dengan vendor, semuanya sudah berubah. Jika dulu relasi seperti yang dicontohkan di atas berlangsung vertikal, sekarang sudah berubah menjadi horisontal. Artinya, yang dulu selalu berada pada posisi ‘atas’ dan dapat secara otoritatif mendikte harga, pasar yang dituju atau peraturan di organisasinya, kini tidak lagi demikian. Semuanya menjadi sejajar. Produsen tidak dapat sesukanya menentukan produk beserta harga dari produk tersebut, bagaimana segmentasi pasarnya, atau siapa menjadi target. Karena sekarang konsumen lebih berperan dan memiliki ‘kuasa’ dalam menentukan sesuatu itu layak dibeli atau tidak, bahkan penting untuk dibicarakan atau tidak. Misalnya percakapan dalam komunitas di media sosial begitu menentukan tren atau apa yang sedang dibicarakan dalam masyarakat, termasuk suatu produk atau merek.
Dari penjelasan tentang lanskap horisontal tadi, artinya posisi produsen dan konsumen sudah makin sejajar. Konsumen akan lebih memilih produk atau layanan yang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dan memiliki spirit yang sama. Konsumen dapat menjadi produsen dengan mengampanyekan produk, merek atau apa pun yang menurut mereka membuat hidup lebih baik. Begitu pun dengan produsen dapat menjadi konsumen dalam arti dengan selalu mengonsumsi masukan atau kritik dari konsumen untuk menghasilkan produk atau layanan yang makin prima dan terpenting, sesuai dengan kebutuhan konsumen. Sehingga perbedaan antara produsen dan konsumen akan sangat tipis sekali dan pemisahan antara keduanya menjadi semakin tidak relevan. Konsumen mencari produk atau merek yang adalah bagian dari mereka. Bukan yang merayu konsumen, bahkan cenderung memaksa dengan berbagai cara promosi, untuk membeli produk tersebut.

Melihat lanskap horisontal seperti yang dijelaskan di atas, mari kembali kepada aktivitas pemilihan kepala daerah. Lanskap tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pijakan bagi para tim sukses untuk membuat strategi pemenangan pasangannya. Caranya yang pertama dan paling utama tentunya adalah mengubah paradigma dari vertikal menjadi horisontal. Paradigma kepala daerah adalah ‘vertikal’, di posisi atas, berjarak dan jauh dari rakyatnya jelas harus segera dikubur dalam-dalam  karena tak akan mungkin laku dijual. Kepala daerah yang masih memosisikan dirinya sebagai ‘atasan’ dari wilayah tersebut akan mengecilkan peluangnya untuk memenangkan pemilihan. Itu nantinya akan nyata terlihat dari cara masing-masing pasangan berkampanye, baik pada saat bicara tentang program maupun retorika-retorikanya di media.
Kemudian juga dengan kampanye yang terlalu mengumbar janji tidak akan memenangkan hati pemilih. Karena lanskap yang horisontal ini, akan sangat mudah dirasakan apakah pasangan tersebut jujur dan sepenuh hati dalam ucapannya atau hanya umbar janji. Era horisontal ini adalah era kejujuran, apa adanya, bukan rekayasa.

Era horisontal juga adalah era kolaborasi. Perlu adanya kerjasama antar beberapa pihak untuk menghasilkan suatu produk. Misalnya saja dalam merancang program-program kerja harus memperhatikan hubungan horisontal yang kolaboratif. Program-program yang mengaku pro rakyat tapi dibuat tanpa bermusyawarah atau berkolaborasi dengan rakyat akan menutup kepercayaan rakyat nantinya secara perlahan tapi pasti.

Di era horisontal, konsumen, dalam hal ini warga dengan hak pilih, akan mencari pasangan yang one of them, atau yang dirasa bagian dari mereka. Artinya, pasangan calon harus benar-benar mengerti kebutuhan dari konsumen atau dalam hal ini adalah warga. Mengerti di sini tidak hanya melihat langsung tapi juga mau mendengar dan pada akhirnya menghasilkan ‘produk’ yang dapat membuat hidup warga menjadi lebih baik.

Tentunya, marketing atau pemasaran tidak hanya berhenti pada produk yang down to earth dan dekat dengan konsumen tapi masih banyak hal perlu diperhatikan. Dimulai dari penentuan segmentasi hingga nilai merek (brand value) dari pasangan yang perlu segera ditentukan oleh para tim sukses dalam merancang kampanye pemenangan. Yang perlu dingat sekarang adalah zaman sudah berubah, sehingga pendekatan terhadap strategi pemenangan juga wajib berubah. Selamat bertarung dan adu strategi yang sehat karena dengan kampanye positif akan memenangkan hati calon pemilih sebagai ‘konsumen’.

Cerita Rakjat

pancasila-749041
Pic: bondan bondowoso

Syahdan di negeri dongeng nun jauh sebelah matahari…

“Anda kan kami yang bayar, kenapa situ jadi marah kalau kami menuntut Anda menjalankan kewajiban? Kami berhak protes karena kami adalah pemilik sah tanah ini!” begitu sergah Rakjat.

“Kalian boleh protes, tapi harus sesuai dengan aturan hukum. Karena negara ini adalah negara hukum!” jawab Pelajan.

“Begini ya. Coba bayangkan, kami adalah pemegang saham, lalu menggaji seorang CEO dan direktur-direktur lain untuk mengelola perusahaan. Eh, ternyata kalian ambil dengan perlahan tapi pasti aset-aset perusahaan untuk kepentingan sendiri. Padahal jelas-jelas kalian harus bekerja untuk kepentingan kami, tapi malah nyuri. Siapa sekarang yang tidak taat hukum?” ujar Rakjat sebelum banjir masuk ke rumahnya, membangunkannya dari mimpi.

Ekstremis dan Marketing

mv5bmtc0ntk0mju5ml5bml5banbnxkftztgwmzg4nzgwmdi-_v1_sy1000_sx666_al_
Pic: imdb

Tugas marketing adalah membuat masyarakat bergerak untuk melakukan sesuatu. Begitu percayanya masyarakat akan suatu nilai sehingga mereka rela bahkan mungkin tidak sadar untuk melakukan sesuatu, seperti sederhananya membeli sebuah produk atau jasa.

Gagasan atau ide adalah suatu produk yang dapat juga memiliki nilai dan pada akhirnya dapat dipasarkan. Gagasan bisa dalam bentuk positif menurut worldview masyarakat umum tapi juga dapat negatif. Negatif untuk banyak orang tapi buat sekelompok orang bisa saja itu adalah gagasan hebat. Begitu hebatnya sehingga pengikutnya percaya dan rela melakukan apa saja.

Gagasan radikal dan ekstrem ,misalnya. Apakah ekstremis menggunakan jubah agama, lingkungan, atau lainnya tak jadi soal karena mereka punya nilai yang mampu dipasarkan. Dengan perencanaan strategis dan taktis plus kharisma si marketer, gagasan apa pun dapat dipasarkan, gagasan ekstrem sekalipun.

Marketing is a powerful discipline. Siapa pun bisa jadi produsen dan menggunakan marketing sebagai alat. Apa pun ‘jualan’-nya.