Proses. Belajar.

Bagaimana belajar dengan berproses? Bukankah belajar itu harus satu arah? Dari guru atau dosen ditransfer ke siswa-siswanya. Tanpa perlu melalui proses belajar. Lalu, apa progresifnya kalau berpikir seperti itu? Bukankah pendidik adalah ujung tombak manusia untuk berpikir maju dan kritis?

Ungkapan life is a journey not a destination terucap bukan tanpa alasan. Hidup adalah proses. Salah satunya adalah proses belajar. Tidak akan mungkin manusia hidup akan benar-benar sampai di tempat atau kondisi yang final karena hidup adalah proses. Begitu juga pembelajaran.

Dalam berproses, terutama proses belajar, kita perlu MENGALAMI. Setelah langsung mengalami sesuatu yang sedang dipelajari, kita perlu MENGURAIKAN pelajaran apa yang didapat dari proses alami tadi. Lalu, di sini mulai dikenalkan pada teori yang sesuai sebagai framework untuk MENGANALISIS pengetahuan yang sudah didapat sejauh proses ini. Sampailah pada KESIMPULAN.

Lalu, berhenti? Puas? Jelas tidak. Pengetahuan baru ini kembali masuk dalam lingkaran proses awal lagi yaitu ‘mengalami’ sendiri menggunakan pengetahuan baru tersebut.

 

Advertisements

Putih, Abu dan Hitam

Lagi banyak himbauan untuk waspada sama berita hoax. Berita hoax itu sama dengan propaganda hitam, yaitu bertujuan menyebarkan informasi yang ngawur, ujungnya ya untuk memengaruhi khalayak. Jenis ini relatif semakin mudah dibaca.

Propaganda ada juga yang putih dan abu-abu. Nah, justru yang ini sering kali lolos dan nggak disadari khalayak bahwa mereka sedang dipengaruhi. Yang putih contohnya adalah penyebaran berita yang sesuai fakta melalui media arusutama tapi bias atau sengaja dibiaskan. Sementara yang abu-abu ini adalah meminta pihak lain untuk menyebarkan suatu pesan ke khalayak. Biasanya dengan bayaran tertentu. Sounds familiar?

Di tengah kampanye Pilkada, propaganda sudah jadi makanan sehari-hari bagi kita yang aktif di media sosial. Warnanya bisa putih, kelabu atau hitam. 

Secara teori maupun praktek di dunia intelijen, propaganda sudah sering dipakai untuk menggalang opini atau cipta kondisi yang paling halus atau termasuk white propaganda adalah film-film Hollywood. Hampir selalu menarasikan tentang nilai-nilai ala Barat, khususnya Amerika Serikat. 

Kita berdaulat dalam berpikir. Gunakan otak dan rasa untuk bebas dari segala jenis propaganda.

Mengapresiasi ‘Apresiatif’

Melakukan pendekatan bersifat apresiatif harusnya dapat dilakukan dalam hampir setiap pencarian solusi. Apresiatif artinya mengapresiasi apa yang sudah baik, meniadakan yang buruk. Melihat dari sisi positif, tidak dari sisi yang negatif. Melihat gelas yang terisi setengah penuh, bukan setengah kosong.

Kalau dibawa ke ranah spiritual, semangat apresiatif mirip dengan ‘bersyukur’. Manusia harus tahu batas kemampuannya, sehingga perlu bersyukur akan apa yang sudah dicapainya. Atau seperti paradigma Jawa tentang ‘untung’. “Untung ketabrak cuma patah kaki, nggak mati.”

Suatu yang sudah baik dalam suatu situasi, organisasi, komunitas bahkan pribadi itulah kekuatan atau potensi. Kita tidak perlu mencari-cari lagi, dapat langsung menjadikan kekuatan itu sebagai landasan proses. Mencari solusi dengan berangkat dari kekuatan harusnya akan lebih menyenangkan dalam prosesnya dibanding berkutat dengan mencari masalah dan kekurangan kita.

Sejarah 101

Memahami sejarah, bukan menghafal. Karena warisan pendidikan Orde Baru adalah menghafal sejarah. Menghafal tanggal kapan terjadinya perang, lahirnya suatu organisasi atau pertempuran, dan lain-lain. Garis waktu dalam sejarah penting dan perlu untuk memahami konteks suatu kejadian bukan sekadar untuk dihafal.

Sejarah adalah untuk mengetahui konteks suatu masa. Dengan mengetahui konteksnya, keluaran yang dihasilkan dapat dijadikan rujukan untuk masa kini dan masa depan. Sayangnya masih banyak orang yang tidak kenal sejarah. Akibatnya adalah melakukan kesalahan yang sama seperti dulu.

Seandainya kita mau lebih memahami sejarah…

Menjadi Spy

Mata-mata, spy atau personil intelijen salah satu tugasnya adalah mencari informasi. Sebelum berkomunikasi, bercerita atau melakukan presentasi, kita perlu tahu siapa yang akan diajak berkomunikasi tersebut. Dalam tahapan ini lah tugas kita untuk menjadi seperti spy. Mencari informasi. Informasi apa?

  • Informasi tentang siapa target audience Kita perlu tahu siapa mereka. Semakin detil semakin baik. Dari latar belakang lingkungannya hingga apa kesukaan dan ketidaksukaannya, misalnya. Berapa orang yang akan kita hadapi, dan lain-lain.
  • Informasi tentang lingkungan tempat kita nanti melakukan presentasi. Apakah tempatnya sepi atau ramai? Tenang atau berisik? Di mana posisi kita pada saat presentasi? Apakah dalam ruangan atau luar ruangan? Apakah ruangannya terang atau gelap? Bagaimana dengan suhu ruangannya? Dan sebagainya.

Mengapa mencari informasi tentang target audience dan lingkungan ini penting? Karena ini semua akan sangat membantu kita pada saat membuat presentasi atau menyiapkan cerita. Dari bagaimana menyesuaikan pemilihan visual, jenis pakaian yang akan kita pakai dan juga cara kita berbicara nanti.

2 Menit Penting

Bagaimana memulai bercerita? Dalam memulai suatu cerita, perlu kita yakini kenapa cerita ini penting umtuk disampaikan. Begitu pentingnya sehingga kita, sang pendongeng, rela datang bertemu untuk menceritakan cerita tersebut. Apakah cerita itu tentang anak kucing yang baru lahir atau anak perusahaan baru, tetap dibutuhkan intensitas keyakinan yang sama. Keyakinan kita akan pentingnya topik cerita tersebut perlu sudah muncul pada saat memulai berpikir dalam menulis suatu alur cerita.

Kita perlu menyiapkan kejutan atau twist untuk disajikan pada audience agar mereka mau tetap mendengarkan cerita kita. Misalnya dalam film-film kriminal seperti CSI. Di awal hampir tiap episode, selama 2-3 menit, kita akan disajikan suatu situasi yang biasanya ujungnya adalah terjadinya tindak kriminal. Tindakan itu sering tidak terduga kejadiannya tapi pendadakan itu yang akhirnya membuat audience untuk tetap mengikuti hingga selesai. Bagian dua menit awal itu lah PENTING-nya cerita.

Komunikasi, ‘Geek’, dan Empati

Komunikasi sebagai suatu proses itu sulit. Apalagi jika sudah berhubungan dengan dua latar belakang kultur yang berbeda. Katakanlah antara orang dengan kultur Barat dengan orang Indonesia.

Misalnya, ada insight dari orang bule yang mengatakan bahwa pada saat berkomunikasi dengan orang Indonesia, kita memang ramah, mudah tersenyum, tapi sebenarnya kita tidak paham apa yang sedang dibicarakan. Sementara, kita menilai orang Barat terlalu saklek, hitam putih, tanpa basa basi. Orang Barat melihat kita lebih banyak ngobrol bareng pada saat rehat kerja. Sementara mereka lebih suka menyendiri, asik sendiri dengan laptop atau apa pun yang sedang dikerjakan. Perbedaan cara pandang itu sering menimbulkan masalah pada akhirnya.

Untuk solusi masalah itu, saya percaya bahwa itu kembali kepada empati. Mau bule atau pun lokal kalau minim empati, tidak akan bisa nyambung berkomunikasi dengan siapa pun. Saya juga percaya bahwa empati lahir atau dapat dilatih untuk muncul dari kegiatan seni. Menjadi art geek, apa pun seninya, atau sekadar menikmati seni dapat melatih empati. Dan, secara semiotika, seni pun adalah bentuk komunikasi.

Jika empati tumbuh, komunikasi lancar, (mungkin) dunia pun damai. Insya Allah.