Komunikasi, ‘Geek’, dan Empati

Komunikasi sebagai suatu proses itu sulit. Apalagi jika sudah berhubungan dengan dua latar belakang kultur yang berbeda. Katakanlah antara orang dengan kultur Barat dengan orang Indonesia.

Misalnya, ada insight dari orang bule yang mengatakan bahwa pada saat berkomunikasi dengan orang Indonesia, kita memang ramah, mudah tersenyum, tapi sebenarnya kita tidak paham apa yang sedang dibicarakan. Sementara, kita menilai orang Barat terlalu saklek, hitam putih, tanpa basa basi. Orang Barat melihat kita lebih banyak ngobrol bareng pada saat rehat kerja. Sementara mereka lebih suka menyendiri, asik sendiri dengan laptop atau apa pun yang sedang dikerjakan. Perbedaan cara pandang itu sering menimbulkan masalah pada akhirnya.

Untuk solusi masalah itu, saya percaya bahwa itu kembali kepada empati. Mau bule atau pun lokal kalau minim empati, tidak akan bisa nyambung berkomunikasi dengan siapa pun. Saya juga percaya bahwa empati lahir atau dapat dilatih untuk muncul dari kegiatan seni. Menjadi art geek, apa pun seninya, atau sekadar menikmati seni dapat melatih empati. Dan, secara semiotika, seni pun adalah bentuk komunikasi.

Jika empati tumbuh, komunikasi lancar, (mungkin) dunia pun damai. Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s