Mengapresiasi ‘Apresiatif’

Melakukan pendekatan bersifat apresiatif harusnya dapat dilakukan dalam hampir setiap pencarian solusi. Apresiatif artinya mengapresiasi apa yang sudah baik, meniadakan yang buruk. Melihat dari sisi positif, tidak dari sisi yang negatif. Melihat gelas yang terisi setengah penuh, bukan setengah kosong.

Kalau dibawa ke ranah spiritual, semangat apresiatif mirip dengan ‘bersyukur’. Manusia harus tahu batas kemampuannya, sehingga perlu bersyukur akan apa yang sudah dicapainya. Atau seperti paradigma Jawa tentang ‘untung’. “Untung ketabrak cuma patah kaki, nggak mati.”

Suatu yang sudah baik dalam suatu situasi, organisasi, komunitas bahkan pribadi itulah kekuatan atau potensi. Kita tidak perlu mencari-cari lagi, dapat langsung menjadikan kekuatan itu sebagai landasan proses. Mencari solusi dengan berangkat dari kekuatan harusnya akan lebih menyenangkan dalam prosesnya dibanding berkutat dengan mencari masalah dan kekurangan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s