Belajar Sejarah

Kita sering kagetan. Padahal berita yang kita dapat itu adalah hoax atau belum jelas kebenarannya. Propaganda salah satu wujudnya.

Kalau saja kita tidak malas untuk mempelajari sejarah, sebenarnya banyak hoax yang bisa kita tangkal. Memang hampir semua cerita sejarah tergantung dari siapa yang bercerita dan konteks situasi saat itu terjadi. Meski begitu, paling tidak kita punya referensi atau pegangan pada saat menghadapi suatu isu.

Belum terlambat untuk ngulik lagi sejarah. Terutama untuk menghadapi isu-isu saat ini, terutama tentang agama dan kebangsaan.

Advertisements

Nyasar

Kita pasti pernah tersesat. Terutama kalau lagi berjalan menuju tempat yang tidak familiar. Nyasar. 
Apa yang dilakukan jika kita tersesat? Yang paling lazim adalah bertanya ke orang yang paham akan daerah itu atau zaman sekarang, buka google maps atau aplikasi berbasis GPS lain. 

Begitu pun sebaliknya. Kalau ada orang tersesat lalu bertanya pada kita, sebagai orang Indonesia yang konon ramah, dengan senang hati kita akan mencoba memberitahu jalan yang benar pada si penanya jalan. 

Jadi, sungguh wajar jika ada orang yang katanya tersesat, kita beritahu mana jalan yang benar. Bukannya malah dihardik, dibentak, dimaki. Apalagi kalau mengaku orang Indonesia yang konon ramah. 

Coba bayangkan jika kita tersesat, begitu mau tanya ke orang atau malah belum sempat bertanya, malah dibentak: Kamu sesat!

Stasiun Kereta 2016

Misalnya, pada saat manusia wafat, jiwanya dikumpulkan dalam sebuah stasiun. Di stasiun itu mereka menunggu kedatangan sebuah kereta unruk membawa jiwa-jiwa itu ke tempat yang sudah ditentukan Tuhan. Kereta tersebut akan datang tiap akhir tahun. Katakanlah kereta itu akan berangkat tiap tanggal 31 Desember. Datang, menunggu sampai semua jiwa naik ke dalam gerbong-gerbong kereta, kemudian langsung berangkat.

Di penghujung tahun ini, kereta tersebut akan membawa banyak orang-orang yang terkenal hebat di bidangnya selama mereka hidup. Ali Mustafa Yaqub, Ireng Maulana, Prof. Sarlito, Muhammad Ali, Johan Cruyff, Prince, David Bowie, George Michael, Carrie Fisher dan lain-lain. Mungkin mereka akan berada dalam satu gerbong. Mungkin juga papa akan satu gerbong dengan salah satu atau bahkan semua dari mereka itu. 

Didoakan perjalanannya lancar. 

RIP George

Pertama tahu dari video klipnya WHAM!, Wake Me Up…lanjut Careless Whisper, Last Christmas. Jelas nggak tahu namanya. Baru tahu namanya pas dia rilis Faith. “Oh, vokalis WHAM! itu namanya George Michael. Oke lah.” Biasa aja. Nggak ngefans.

Sekitar tahun 1992, ada konser tributenya Freddie Mercury. Di situ George Michael didaulat untuk bawain 39, These Are The Days of Our Lives, tapi yang paling berkesan, Somebody To Love. Terhenyak. Anjing, keren. Tetap nggak ngefans tapi respeknya naik berkali lipat, sampai sekarang.

RIP George.

Keep On Keepin’ On: GBU, CT

 

justin-kauflin-and-clark-terry-in-keep-on-keepin-on
Pic: filmblerg.com

Clark Terry itu inspirasi. Mungkin nggak banyak yang tahu siapa dia, terutama di luar scene jazz. Peniup terompet jazz ini namanya melegenda. Karena ia adalah mentor dari entah berapa musisi jazz kelas dunia, Quincy Jones, Miles Davis, Marsalis brothers, dan lain-lain. Murid pertamanya adalah Quincy Jones.

Diibaratkan, Clark mengajar beberapa murid, yang kemudian mereka mengajar puluhan murid baru, yang mengajar ratusan murid lagi, yang lalu juga mengajar ribuan murid lagi, dan seterusnya. Sanadnya ya satu, Clark Terry.

Jadilah Clark Terry, jadilah mentor. Seperti apa dan siapa itu mentor? Bisa siapa saja. Orang yang tidak lelah berbagi dan menginspirasi.

Politik Slengekan

“Fuckin politic, don’t like the ethic…”

Begitu cuplikan bagian chorus dari lagu Funkin Politic. Lagu yang ada di album Virus, album milik Slank. Sebagai slankers pasti tahu album ini yang dirilis sekitar tahun 2001.

Tahun 2001 kondisi politik masih belum menentu karena Orde Baru belum lama tumbang. Bisa jadi karena situasi seperti itu sehingga Slank sampai menulis lagu ini.

Dipercepat ke tahun 2014 hingga 2016. Mungkin dua tahun belakangan, Slank sudah merasa bahwa politik sudah membaik sehingga perlu mendukung calon dalam pemilihan. Butuh waktu 13-15 tahun pandangan terhadap politik yang tanpa etika pun berubah 180 derajat. Entah apa sebabnya. Saya pun ingin tahu.

Duh, nggak kebayang misalnya Johnny Rotten 15 tahun setelah menyanyikan Anarchy in The UK dan God Save The Queen, mendadak mendukung monarki Inggris dan menerima gelar MBE yang sudah disiapkan pemerintah Inggris (fyi, Johnny menolak menerima gelar tersebut). Punk would be dead, literally.

Assassin’s Creed: It’s 2016. No one cares about freedom.

Pic: comingsoon.net

Andalusia, Spanyol yang dikuasai kekhalifahan Islam selama delapan abad akhirnya jatuh juga memasuki akhir abad 15. Setting waktu dan situasi dalam film ini meminjam masa yang sama dengan tahun kejatuhan Islam di Spanyol selatan tersebut. Ya, hanya meminjam konteks karena ceritanya sendiri tidak ada hubungan langsung dengan sejarah. 

Pertanyaan yang lebih bikin penasaran adalah apakah segala kejadian di dunia ini, kecuali bencana alam, terjadi karena pertarungan dua kelompok yang mewakili dua peradaban besar? Pertarungan untuk menguasai apa pun di muka bumi ini. Yang mengaku bekerja di kegelapan untuk melayani kebaikan. Sementara, kita cuma sesuatu apalah, kecil, tidak signifikan. Berani jawab?

Selamat tidur. 😘