Digital vs Nggak Digital

Dikotomi digital advertising dan konvensional advertising ini sepertinya terus ada. Apakah ini pengalihan isu? Hmmm… Misalnya kasus digital bisa (harus?) produksinya murah, konvensional pasti mahal. Oke lah, untuk eksekusi masih bisa ‘ditawar’ detil kualitasnya.
Yang perlu diingat, tapi sering dilupain adalah say no to tawar menawar dalam urusan riset, strategic planning, hingga ide kreatif sebagai solusi dari masalah bisnis klien. Kita (stakeholders industri iklan) sering terjebak. Bukan berarti produksi bisa murah tapi ide juga murahan. Atau, “Yuk, bikin web series aja!” Oh, bukan, tapi apa ide untuk solusi masalahnya, ide yang lahir dari riset dan planning matang. Murah-mahal, majalah-Facebook, TV-YouTube, digital-konvensional itu nantinya otomatis lahir dari proses pencarian solusi tadi. Temukan ide untuk solusi dari masalah si klien dulu. Itu yang paling penting.

Klasik memang tapi begitu idealnya supaya industri ini tetap jadi ‘great’ seperti judul Citra Pariwara tahun 2016. Iya, ‘great’, tanpa ‘again’, because it is. Why? Nanti lah ceritanya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s