Pilgub? Apa?

Tadi pas makan malam di sebuah tempat di salah satu mal Jakarta Selatan…

Seorang ibu nanya pada anaknya: Nomor 1 siapa? Ahok nomor berapa? Emangnya siapa sih yang nomor 3?

Konteksnya jelas terkait Pilgub DKI 2017.

Dengan kehebohan Pilgub DKI, heboh yang seru maupun yang norak, ternyata masih ada seorang ibu yang nggak tahu, mungkin bahkan nggak peduli dengan event ini. Secara profil, ibu ini kelas menengah, dilihat dari penampilannya dan keluarganya. Apakah mungkin si ibu baru sampai Jakarta dari luar kota atau luar negeri sehingga nggak ngerti akan adanya event ini? Tetap nggak masuk akal kalau ia nggak tahu tentang Pilgub. Karena eksposur yang gila-gilaan rasanya kok gak mungkin dia gak tau. 

Bagi si ibu, perhelatan ini nggak penting-penting amat. Karena sehabis bertanya itu, dia gak ngebahas lagi sama anaknya. Sekadar ingin tahu, tanpa harus membahasnya lebih dalam. Nggak ada kewajiban baginya untuk tahu tentang pemilihan ini, siapa saja calonnya, apalagi peduli dengan program jualannya. Dengan nggak tahu, jadi nggak tergoda untuk sok demokratis, sok politis, sok agamis dan sok bhinekais.

Pelatihan Aktivis LSM

Di akhir sebuah pelatihan dengan peserta para aktivis LSM perempuan, tiba-tiba terdengar, “Jadi kapan kita makan-makan memeringati ditangkapnya Patrialis?”

Sukses untuk perjuangan memberdayakan perempuan Indonesia, teman-teman. Semoga apa yang kami bagikan bisa sedikit membantu perempuan Indonesia. Kalian keren! 

Tajamnya Kata

scriptwritingKata-kata seperti pisau. Pisau kalau digunakan untuk memotong sayur dan daging sebelum diolah menjadi makanan, menjadi suatu alat yang memiliki nilai kebaikan. Di lain sisi, pisau bersimbah darah dari seorang korban yang dibunuh menjadi alat pembunuh dengan nilai buruk. Nilai tercipta dari niat.

Hal yang sama dapat berlaku pula pada kata-kata. Kata yang dirangkai menjadi suatu cerita atau berita baik, akan memberikan pembacanya perasaan yang positif, senang, tercerahkan. Sementara jika digunakan untuk merangkai narasi negatif atau bahkan cerita palsu dan menyesatkan, dapat membuat kita yang baca jadi kesal, panas, marah, emosi, dan lain-lain.

Cerita adalah rangkaian kata. Di dalam cerita, kata-kata adalah rangka dan sekaligus nyawa. Yang dapat membawa pembaca merasa dan bahkan melakukan apa saja.

Preview The One by @thedyingsirens

Lagu lama. Mungkin sudah ditulis kurang lebih 10 tahun lalu. Sudah sempat bikin demonya tapi masih ada yang kurang rasanya. Judulnya pun juga bukan The One. 

Lompat ke tahun 2016, diujicobakan lagu ini ke band mitos ini. Revisi lirik sedikit. Oke juga. Terutama setelah direkam dan diisi dengan vokal cewek. Ada yang beda. Fresh. 

Kapan rilisnya? Nggak lama lagi. Sabar, lagi mixing. Ini buktinya. 😉 

Solo, Solitude

Rezim otoritarian, segalanya yang bertentangan akan dibungkam. Aparat akan dikerahkan demi memadamkan suara-suara haram. 

Meskipun sang kritikus hanyalah pengguna kata-kata. Bukan ahli senjata. 

Sosoknya mungkin telah hilang. Mungkin hidupnya sudah di seberang.

Yang tertinggal hanyalah pelajaran dan menjadi sejarah kelam bangsa. Yang tidak boleh terulang di saat anak cucu kita dewasa.
*suka dengan casting dan DOP-nya*

Bangsa ‘Aneh’!

Pic: paper-replika.com
Naik motor kebut-kebutan tanpa helm, nggak takut mati. Ngelamar pacar padahal cuma modal dengkul, nekad dan akhirnya hidup tenteram. Melawan Belanda, Jepang, Inggris hanya dengan bambu runcing dan sandal jepit, menang lalu merdeka.

Itu Indonesia. ‘Kerennya’ Indonesia. Nggak akan masuk ke dalam akal orang yang melihatnya dengan sudut pandang Barat atau paradigma asing lainnya. Nggak ada jenderal Sekutu yang berani berperang melawan Jerman hanya dengan modal senapan dan bayonet. Sementara Jerman dengan tank dan kendaraan berat lainnya. Semuanya pasti dihitung dengan cermat. Di Indonesia, perhitungan itu seakan lenyap. Hanya dengan takbir, bambu runcing, sandal peyot, tentara Inggris diperangi di Surabaya.

Cukup dengan ‘bismillah’, apa pun berani kita lakukan. Sulit dipahami memang, tapi nyata. Justru jangan-jangan di situ ada kekuatan. Kekuatan yang akan membuat bangsa ini baik-baik saja ke depan. Tidak seperti ketakutan banyak pihak. Pihak yang sepertinya belum paham Indonesia. Kekuatan ini yang perlu terus dipahami, digali dan disesuaikan dengan konteks zaman.

#AlbumReview: Bin Idris – Bin Idris

c1p2cyqviaa0a-x

Musik dalam budaya populer adalah kesatuan elemen suara yang dihasilkan oleh instrumen dan ucapan kata maupun kalimat dari bait lagu. Tidak terpisah. Jangan berani-berani pisahkan keduanya. Akan janggal jika kita hanya fokus pada satu elemen saja.

Musik itu akan memberikan pengalaman pribadi yang berbeda bagi tiap orang. Pengalaman tersebut akan lebih lengkap dengan kata dan bunyi instrumen. Satu kesatuan. Keindahan maupun ketidaknyamanan yang subjektif muncul jika kedua elemen tadi dinikmati bersama, tanpa terpisah.

Jika kita paham dan setuju dengan tesis di atas, mari mulai mendengarkan album dari Bin Idris ini. Akan tidak lengkap rasanya jika mendengarkan album ini sepintas tanpa tahu apa yang ia sedang sampaikan dalam liriknya. Terlebih lagi ‘mendengarkan’ adalah hal yang ‘mahal’ di masa kini. Masa yang sangat disibukkan oleh orang yang bicara dan teriak. Tidak ada yang mendengar.

Ada berbagai rasa dalam album ini. Sedih, sinis, marah, dan pasrah pada Yang Di Atas. Rasa itu muncul jika kita mau mendengar apa yang disampaikan oleh Haikal Azizi.

Album ini untuk dipahami, bukan sekadar hiburan. Setelah berhasil paham, kita akan terhibur. Jika gagal atau malas paham, silakan kembali ke gawai masing-masing.