Agama, Politik dan Brand

ahok-agus-anies_20160926_161839Ada tiga hal yang tidak habisnya dibicarakan oleh manusia seantero dunia. Bahkan pembicaraan ini sering menjadi perdebatan yang tak kunjung selesai sampai kiamat datang. Brand, agama dan politik. Ketiganya adalah bahan obrolan manusia modern setiap hari. Dalam 24 jam, pasti manusia akan membicarakan satu di antara ketiganya. Atau bahkan ketiganya sekaligus dalam waktu sehari.

Liverpool FC, FC Barcelona, Nike, Apple, Samsung, dan masih banyak brand atau merk lainnya di dunia. Kemudian, Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Shinto, Kong Hucu, Kejawen, dan banyak lagi agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Lalu, ada pula globalisasi, terorisme, persaingan ekonomi, keadilan sosial, Pancasila, undang-undang, garis keras, Islam Politik, yudikatif, legislatif dan eksekutif yang senang sekali dibahas oleh manusia sedunia terkait masalah politik.

Di Pilkada DKI 2017, kita dapat ketiganya. Oleh karena itu, warga Jakarta dan Indonesia yang ada di dalam negeri atau luar negeri ramai membicarakannya. Ahok, Agus, Anies (3A) dan para pasangannya menjadi buah bibir selama kurang lebih 3-4 bulan terakhir.

Apa hubungannya dengan agama? Pendukung dari ketiganya sering digiring oleh media arusutama atau media sosial ke dalam perdebatan agama. Perdebatan ini tentu tidak jelas ujung pangkalnya. Disengaja atau tidak, agama digunakan sebagai perangkat oleh pendukung ketiganya untuk menjadi brand yang jagoan dan menangan serta sebagai pedang dalam pertarungan politik, untuk unggul dari lawan-lawannya.

Dalam politik, jelas ketiganya adalah peserta dalam suatu kontestasi politik besar di Indonesia. Suatu negara demokrasi yang besar di dunia. Ketiganya mau tidak mau akan dibicarakan secara politik oleh masyarakat Jakarta dan Indonesia.

Sekarang kita bicara hubungannya dengan brand. 3A ini bisa kita masukkan sebagai brand dengan masing-masing unique selling propositionnya. Ahok yang mengklaim bahwa ia sudah bekerja dan membuktikan pada rakyat kemampunnya. Ia membangun citra bersih dan transparan. Kemudian, Agus dengan mengangkat citra anak muda yang penuh semangat. Semangat seorang pemuda bekerja dan memimpin yang akan dirasakan masyarakat Jakarta jika ia terpilih. Lalu, Anies dan pasangannya Sandiaga Uno. Mereka menawarkan keadilan rakyat yang dirasa hilang di Jakarta ini.

Agama adalah perangkat. Politik sebagai kendaraan. Keduanya digunakan untuk memasarkan brand. Agar brand unggul atau laku di mata khalayak sasaran, apapun strategi awal dari pemasarnya.

Pilkada DKI 2017 ini cocok untuk dijadikan studi kasus dari tesisnya Steve Henry, pendiri biro iklan Howell Henry Chaldecott Lury yang mengatakan bahwa merk merupakan hal terbesar di dalam dunia ini, lebih besar dari pada kegiatan agama dan politik yang terorganisasi. Atau, malah melahirkan tesis lain bahwa ketiganya saling mendukung satu sama lain demi pencapaian suatu tujuan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s