Keajaiban Itu Dekat

Menghadapi ketidaksempurnaan biasanya manusia menjalankan dua hal. Pertama, kita akan berusaha sekuat mungkin, sebisa mungkin, untuk menutupi ketidaksempurnaan itu. Kedua, ketidaksempurnaan itu membuat kita merasa butuh dikasihani, merendahkan diri sendiri. 

Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jika kita bertindak seperti yang pertama, kita sering lupa bahwa, memang kita terlahir tidak sempurna. Kita bisa bertindak terlalu kelewat batas untuk membuktikan kita sempurna sehingga malah membuat kekacauan dan ketidaknyamanan. Padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jika kita bertindak seperti yang kedua, rasa rendah diri berlebihan malah akan menjauhkan diri dari semangat memperbaiki diri. Bukannya bangkit, malah bisa makin terpuruk.

Apapun keadaan dan cara kita menghadapi ketidaksempurnaan itu, di situ selalu ada teman dan keluarga yang menemani. Mereka adalah penyempurna dari ketidaksempurnaan kita. Mereka seringkali adalah sebuah keajaiban yang sempurna. Keajaiban untuk menjadi manusia nyaris sempurna itu jangan-jangan ada dekat kita. Coba kita lihat lagi sekitar kita dengan lebih sensitif dan seksama.

Advertisements

Melompat Jauh. Segera.

IMG_20171207_140508

Kreatif itu bukan sekadar departemen dalam sebuah biro iklan, bukan juga sebutan bagi orang yang bekerja dalam departemen Kreatif. Kreatif lebih dari itu. Lebih dari sebutan, departemen, value dari biro iklan, biro iklannya sendiri, bahkan lebih dari industri periklanan.

Saat datang ke seminar Citra Pariwara 2017, akhirnya, mungkin setelah sekian lama, industri periklanan sadar akan apa yang saya maksud dengan kreativitas di atas. Di acara tersebut, tidak lagi menampilkan pembicara-pembicara dari industri periklanan, baik dalam atau luar negeri. Dulu, di acara sejenisnya seperti ini, seakan kreativitas hanya dimiliki oleh orang iklan, semacam katak masturbasi dalam tempurung.

Andrew Essex dalam bukunya The End of Advertising: Why It Had to Die, and the Creative Resurrection to Come, menjelaskan bahwa paradigma berpikir tentang kreativitas dalam periklanan sudah harus berubah. Lanskap pemasaran dan konsumsi media yang sudah berubah memaksa industri untuk berubah dalam berpikir kreatif dilihat dari perspektif komunikasi pemasaran, khususnya iklan.

Memang industri iklan dipercaya belum akan mati, tapi memang harus berubah, terutama dari cara melihat audience mengonsumsi media, bagaimana pergeseran behaviour, termasuk value. Value tidak hanya ekonomi, tapi sosial dan bahkan spiritual.

Industri ini harus beradaptasi menyiasati yang tak terkira di depan, lebih dari sekadar evolusi. Lompatan evolusi memakan waktu yang lama, bahkan sangat lama. Dibutuhkan lompatan yang cepat. Berubah. Segera. Adapt or die.