BUMDES di Desa Cibadak

desa

Dua minggu yang lalu, setelah capek kerja (azek!) selama lima hari, saya pergi refreshing. Rencana ini sebenernya salah satu resolusi tahun baru yaitu untuk lebih banyak liburan sekalian olah raga. Saya pilih hiking atau trekking. Nggak mimpi untuk mendaki gunung Everest tapi cukup trekking di medan yang ‘gampang’. Gampang dan juga dekat dengan Jakarta.

Untuk rute pertama tahun ini, saya pilih berkunjung ke tempat yang paling dekat dengan Jakarta, yaitu Curug Hejo di sekitar Sentul, Bogor. Perjalanan ke sana bisa ditempuh dari dua rute (menurut google Maps). Yang pertama, Citeureup. Yang kedua, dari Sentul. Saya pilih lewat Citeureup karena lebih cepat (lagi-lagi menurut google Maps).

Pas mau masuk lokasi, saya melewati sebuah pos tiket dan bayar tanda masuk sebesar Rp25ribu/orang dan Rp15ribu/mobil. Yang menarik, petugas penjaga tiket adalah anggota dari BUMDES. Terlihat dari seragam biru yang dipakai dengan label “BUMDES” di dadanya. Iya, mereka berseragam. Keren.

img_20180121_091727.jpg

BUMDES adalah salah satu perangkat yang dimiliki oleh desa. Desa, sejak disahkannya Undang Undang Desa, memiliki hak untuk membesarkan daerahnya, secara sosial, budaya, termasuk secara ekonomi. Salah satu caranya adalah dengan membentuk BUMDES. BUMDES adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung. Artinya, berasal dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar- besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.

Curug Hejo ini ada di kawasan Desa Cibadak. Artinya, BUMDES Desa Cibadak yang mengelola kawasan pariwisata ini. Hasil yang didapat dari kawasan curug nantinya digunakan untuk pembangunan desa Cibadak sendiri. Dengan demikian desanya makin dapat mandiri. Karena pembangunan Indonesia sudah seharusnya dibangun dari pinggiran.

Mau tau lebih jauh tentang transformasi desa? Klik link berikut.

Advertisements

Pahami Generasi Phi

“Everybody else is doing it, so why can’t we?” –¬† The Cranberries (RIP Dolores)

Di dalam buku ini, salah satu yang penting dan menarik adalah fakta bahwa generasi phi (milenial) cenderung menganggap kesalehan adalah sebuah fenomena anti mainstream. Mengapa? Karena bagi mereka, kenakalan, vandalisme, dan apa pun bentuk tindak negatif dari anak muda adalah aktivitas arusutama atau mainstream.

Sementara, generasi phi ini menyukai sesuatu yang di luar mainstream. Jadi, kesalehan atau mendekat ke ibadah adalah sesuatu yang anti mainstream. Sehingga banyak generasi phi ini yang dekat dengan agama. Rajin ibadah dan juga menunjukkan kesalehan itu dalam kehidupan sosialnya. Sengaja atau tidak sengaja. Generasi sebelumnya mau setuju atau tidak, tidak penting. Mau nyinyir ya silakan. Karena demikian fakta atau temuannya.

Ini temuan yang menarik. Dan, saya kira karya ini salah satu yang penting untuk paling tidak mulai memahami tentang teori generasi  khas Indonesia. Tidak terkontaminasi dari teori para orientalis.