Critical Thinking 101

Argumentasi itu usaha bersifat persuasif dengan menggunakan alasan-alasan yang baik. Sering salah kaprah dengan menyamakan argumen dengan debat. Debat zaman now cenderung banyakan retorika dibanding argumennya. Retorika dan argumen saja sudah beda. Jadi, jelas, debat dan argumen itu berbeda.
 
#CriticalThinking101
Advertisements

Nggak Cuma Menang-Menangan!

Pas masih SD, saya cukup sering main bola di sekitar kompleks. Di sana ada lapangan rumput (bukan lapangan bola) yang cukup untuk bisa main bola. Karena bukan lapangan bola, jadi ya nggak ada gawangnya dan garis-garis batas lapangan. Kami harus tentukan sendiri batas mana lapangan yang akan dipakai. Luasnya gawang, kami batasi dengan sandal-sandal. Tanpa tiang dan mistar. Batas-batas yang kami tentukan itu sesuai kesepakatan. Kira-kira saja, seberapa panjang dan lebarnya.

Setelah selesai ngedesain lapangan, baru lah kita bermain bola. Bolanya pun biasanya bola plastik. Bola yang biasanya sudah nggak bulat sempurna setelah kami selesai main. Main bola masa itu fun banget! Ketawa-tawa, teriak-teriak bahagia. Nggak ada curang-curangan, sengaja nendang kaki lawan dan sebagainya. Kejujuran pun dijunjung tinggi. Padahal batas lapangan nggak jelas mana garisnya. Kalau bola menuju gawang agak tinggi, karena nggak ada tiang dan mistar, kita nggak tahu kira-kira gol atau tidak. Yang ada adalah kejujuran dan keikhlasan kita saja, apakah itu gol atau tidak karena bola melayang ketinggian. Kalo bola mengenai sandal, artinya bola itu sama saja dengan kena tiang gawang.

idgen

Itu yang saya rasakan pas nonton tim ID Gen Uni Papua tanding lawan PS TNI beberapa waktu lalu. Memang ini hanya pertandingan persahabatan, tapi para pemain sangat nunjukkin sportivitas yang tinggi. Tim ID Gen Uni Papua memang dibentuk untuk menjunjung tinggi sportivitas. Prinsip yang diajarkan di sana, tanding bola bukan cuma menang kalah tapi lebih dari itu. Ada respek dan menghargai lawan. Bukan sekadar menang-menangan, jago-jagoan atau hebat-hebatan. Mirip dengan suasana main bola pas kita masih kecil. Fun dan respek nggak cuma ke tim sendiri tapi juga tim lawan. Keren ya seandainya karakter-karakter pemain di Indonesia seperti hasil didikan tim Uni Papua FC.

Coba deh simak testimoni dari anggota tim ID Gen Uni Papua FC: https://youtu.be/Gp20-i-lQDc

Ngide? Gampang!

ide

Ide. Kita sering dengar kata itu, ya gak? Dalam proses bikin content, kita jelas perlu ide, ide perlu dicari.

James Webb Young bilang bahwa an idea is nothing more nor less than a new combination of old elements. Sebuah ide adalah kombinasi dari elemen-elemen atau ide lama. Definisi ini cukup menjelaskan. Jadi, ide terbentuk dari kumpulan ide-ide lama yang dikombinasikan sehingga menjadi suatu ide baru. Ide lama bisa muncul dari mana saja, biasanya dari apa yang kita alami, kita lihat, dengar, dan rasakan.

Lalu, gimana caranya supaya kita bisa mudah menemukan ide-ide tersebut. Foster (2007) menyebutkan sepuluh kondisi agar ide dapat mudah ditemukan, yaitu:

  1. Have Fun (Bergembiralah)
    Nikmati proses pencarian tersebut tanpa beban. Nikmatilah hidup.
  2. Be More Like a Child (Jadilah Seperti Seorang Anak Kecil)
    Kita ingat bagaimana waktu kita masih anak-anak? Atau coba perhatikan anak-anak di sekitar kita. Mereka lepas bermain, hidup di saat itu tanpa berpikir terlalu jauh.
  3. Become Idea-Prone (Menjadi Sumber Ide yang Mudah Didapat)
    Semakin sering kita beride, semakin mudah ide-ide lain muncul. Artinya, jangan berhenti mencari ide. Teruslah mencari.
  4. Visualize Success (Arahkan Pikiran pada Tujuan)
    Bayangkan nikmatnya kalau ide itu didapat dan berhasil dieksekusi. Kita ngetop, digila-gilai, banyak yang ngefans. Tapi hati-hati disangka gila kalau ngebayang-bayang sampai senyum-senyum sendiri. 🙂
  5. Rejoice in Failure (Bersukacitalah dalam Kegagalan)
    Tidak ada ide yang salah. Kalau ide tersebut ternyata kurang pas, cari lagi. Santai.
  6. Get More Inputs (Dapatkan Masukan Sebanyak Mungkin)
    Sumber ide ada di mana saja. Di sekitar kita. Baca buku, tonton film, ngobrol, browsing. Buka pikiran seluas-luasnya.
  7. Screw Up Your Courage (Beranikan Diri)
    Beranikan diri meraih ide tanpa harus takut salah. Karena tidak ada ide yang salah.
  8. Team Up with Energy (Jadikan Teman sebagai Energi)
    Ajak teman atau berpartner lah. Semakin banyak kepala yang berpikir, semakin tajam idenya.
  9. Rethink Your Thinking (Pikir Ulang Cara Berpikir)
    Ubah cara berpikir. Tidak perlu ikut aturan atau logika. Berpikir secara visual. Gambarkan ide dalam sebuah visual.
  10. Learn How to Combine (Belajarlah Bagaimana Cara Mengombinasikan)
    Kombinasikan dengan menggunakan analogi. Gunakan pula skenario dengan “Seandainya begitu…”

Silakan dipraktikan. Semoga ide-ide cemerlang dan out of the box lancar ya. Berikut contoh dari seseorang yang berani berpikir out of the box. Klik di sini.