Wiro Sableng di Kampus

IMG_20180328_114628(1)

Promosi wajib dilakukan siapapun. Produk, jasa bahkan sebuah karya. Film, misalnya. Cara promosi pun bisa bermacam-macam.

Jika mengikuti model klasik 4P dalam marketing, salah satu P adalah ‘promotion‘. Promotion tersebut memiliki bauran sendiri: promotion mix. Promotion mix klasik adalah aktivitas iklan, public relations, direct marketing, personal selling dan sales promotion. Meskipun sekarang ada beberapa aktivitas yang bisa ditambahkan dalam bauran itu, misalnya: event marketing, sponsorship, social media marketing, dan lainnya.

Kembali ke film. Sebagai karya kreatif layak ditunggu sebuah promosi film yang juga kreatif. Wiro Sableng, sebuah film yang akan rilis pada tahun 2018 melakukan aktivitas promosinya di kampus. Di lobi gedung A, kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tiba-tiba muncul banyak poster Wiro Sableng. Pameran poster tepatnya. Terdapat 25 karya poster yang dipamerkan.

Aktivitas ini tentu menarik mahasiswa terutama jurusan Desain atau pun mahasiswa keseluruhan. Pameran ini membuat Wiro Sableng mendapat tempat di mahasiswa. Cerita Wiro Sableng lebih dikenal oleh angkatan yang lebih tua dari mahasiswa sekarang. Angkatan para dosen mereka, mungkin lebih tua lagi.

Dengan pameran poster yang karya-karyanya keren itu makin mendekatkan Wiro Sableng dengan sasaran usia muda. Pendekatan promosi yang sesuai konteks dan paham sasaran seperti ini hasilnya akan positif. Nggak percaya? Mari kita tunggu sampai saat film ini rilis.

Advertisements

Pengumpulan Informasi Dalam #SiklusIntelijen

Screenshot-2018-3-26 Pinterest
pic: pinterest

Melanjutkan penjelasan tentang siklus intelijen minggu lalu, sekarang kita masuk pada tahap berikutnya: Collecting (Pengumpulan Informasi) atau pulbaket (pengumpulan bahan keterangan).

Dalam pengumpulan data dan informasi, tantangan intelijen kini adalah harus cermat memilah informasi yang mengalir deras. Dengan teknologi internet, penyampaian data dan infromasi begitu cepat dapat diakses langsung ke tangan kita melalui ponsel atau perangkat lainnya.

Pada masa Perang Dingin, informasi begitu sulit didapat. Terutama untuk mengetahui informasi dari Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur atau Komunis. Mereka sangat menutup diri dari dunia luar. Kini, zaman sudah berbeda.

Jika dulu begitu sulit mendapatkan informasi, kini justru terbalik. Informasi begitu banyak bisa didapat dari berbagai sumber. Tantangan bagi analis intelijen di era sekarang adalah bagaimana tahu informasi yang akurat atau tidak.

Informasi yang begitu banyak sumbernya, baik dari media resmi, seperti surat kabar, televisi, radio, portal berita, blog, dan juga media sosial. Informasi tersebut kebanyakan merupakan informasi terpercaya, tapi banyak pula info yang kita dapat adalah hoax atau informasi palsu. Informasi yang diciptakan untuk mengelabui satu pihak. Bisa pihak kelompok atau pun negara. Apakah info tersebut bisa dimasukkan ke dalam produk intelijen? Sebagai data/info itu dapat sebagai data penunjang, tapi sebagai produk intelijen ia masih harus melalui proses terlebih dulu. Menurut Hedly, yang termasuk dalam informasi intelijen adalah informasi yang didapat dari sumber-sumber yang sangat rahasia.

Sumber-sumber tersebut bisa berasal dari manusia (human-source intelligence), lalu signals intelligence, yaitu informasi yang didapat dari penyadapan radio, radar atau alat telekomunikasi lainnya. Kemudian, imagery intelligence, yaitu informasi yang didapat dari pantauan gambar satelit atau dari pesawat. Masih ada measurement and signature intelligence, yaitu info yang didapat dari berbagai material yang bisa memberikan suatu info tentang target, bisa melalui berbagai media; seperti jejak kimiawi, frekwensi radio, jejak data komputer, dan lain-lain.

Di lain sisi, dengan banyaknya sumber informasi dalam pengumpulan data intelijen memungkinkan analis untuk melihat suatu objek intelijen dari berbagai sudut. Semakin banyak data dari sumber-sumber informasi intelijen, semakin membantu analis membuat analisa yang akurat.

Dibutuhkan teknologi untuk mengumpulkan jutaan informasi dari media termasuk media sosial. Selain teknologi juga dibutuhkan sumber daya manusia berkapabilitas untuk memilah informasi-informasi yang overload.

Candlebox Belum ‘Hilang’

header-disappearinginairports-candlebox-albumart-copy-750x400
Pic: nationalrockreview.com

Candlebox masih hidup. Candlebox, satu band dari Seattle. Besar karena arus ‘Seattle sound’ pada tahun 90-an. Mereka masih aktif sampai sekarang. Bahkan tahun 2016 merilis album studio berjudul ‘Disappearing In Airports.’

Saya baru dengar album ini, jujur saja. Ternyata, keren. Memang nggak terlalu menggebu-gebu seperti album awal. Bagi saya, album kedua mereka, ‘Lucy’ adalah album paling ‘keras’. Paling ‘marah’ ala band-band alternatif saat itu.

Album studio keenam miik Kevin Martin dan kawan-kawan ini dibuka dengan lagu manis ‘Only Because of You’. Jangan tertipu dengan ketenangan lagu pembuka album ini. Bukan berarti satu album punya karakter tenang juga. Lagu-lagu berikutnya mulai membawa kita ke warna Candlebox yang selama ini kita kenal, bluesy dengan lengkingan vokal nan powerful dari Kevin Martin. Memang di album ini personil orisinal Candlebox tinggal Kevin Martin, tapi spirit di album-album awal mereka masih sangat kental terasa.

Candlebox jelas belum ‘hilang’. Kevin Martin masih tegar di depan mikrofon menyuarakan apa yang dirasakan dengan lantang. Meski kenangan pahit tentang musisi-musisi asal Seattle yang sudah ‘manggung di langit’ terus terbayang. Stay alive, Candlebox. Stay alive, Kevin Martin.

GO-JEK: Mengikuti atau Mengubah Perilaku?

gojek
pic: poskotanews.com

Kemarin pas mengajar mata kuliah Perilaku Konsumen, ada mahasiswa yang bertanya. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini: apakah Go-Jek mengikuti perilaku masyarakat, khususnya Jakarta sehingga ia berani membuat bisnis seperti sekarang ATAU Go-Jek justru mengubah perilaku konsumen terutama pengguna transportasi umum di Jakarta?

‘Mengikuti perilaku’ artinya Go-Jek melihat adanya perilaku konsumen yang semakin hari semakin lelah berkendara di Jakarta dengan kemacetannya. Mereka segan membawa kendaraan pribadi tapi juga tidak tertarik untuk menggunakan moda transportasi umum dengan berbagai alasannya. Melihat perilaku seperti itu, akhirnya Go-Jek melihat peluang untuk membantu masyarakat dalam menghadapi masalah kemacetan dengan membuat aplikasi yang menghubungkan konsumen dan juru ojek.

‘Mengubah perilaku’ maksudnya adalah Go-Jek layaknya Julius Cesar: veni, vidi, vici. Datang, lihat, dan menguasai. Go-Jek dengan aplikasinya datang di tengah masyarakat, ternyata disukai dan memberi solusi, hingga sekarang menjadi perusahaan papan atas. Ia mengubah perilaku konsumen pengguna transportasi di Jakarta dan kota-kota besar. Mereka tidak lagi tergantung dengan kendaraan pribadi atau pun moda transportasi umum yang belum sempurna secara infrastruktur dan lainnya.

Jadi, Go-Jek yang mana?

Dalam kelas, kami berdiskusi dan sampai pada kesimpulan bahwa Go-Jek adalah keduanya. Awalnya, Go-Jek melihat adanya perilaku konsumen yang begitu membutuhkan alternatif kendaraan untuk beraktivitas di Jakarta. Lalu, lahirlah aplikasi Go-Jek sebagai solusi transportasi. Seiring berjalannya waktu, Go-Jek menambah layanannya, hingga itu semua mengubah perilaku konsumen dalam banyak hal. Selain mengubah perilaku dalam berkendara tapi juga dalam hal delivery makanan, barang dan berbagai jasa.

Planning dalam Aktivitas Intelijen

Screen Shot 2018-03-19 at 11.18.18
pic: gettyimages

Ada tiga ‘wajah’ intelijen: sebagai organisasi, informasi dan aktivitas. Dalam aktivitas , intelijen memiliki suatu proses. Proses intelijen meliputi: planning, collecting, processing, analysis, dissemination. Dalam tiap tahapan tersebut, sering kali terjadi masalah.

1. Planning (Perencanaan)
Dalam merencanakan suatu aktivitas intelijen yang akan menghasilkan produk intelijen, pihak intelijen yang diwakilkan oleh analis sudah dihadapi dengan masalah awal. Terutama dengan banyaknya informasi yang beredar di sekitar kita. Information overload. Ini membuat siapa pun merasa tahu tentang suatu isu.

User juga tidak luput dari paparan informasi yang overload tersebut. Membuat mereka merasa tahu tentang banyak hal bahkan lebih dulu dari produk intelijen yang diberikan. Sikap user ini disebut the consumer as analyst (Lowenthal, 1992), sikap yang terjadi karena pengalaman dari user yang sudah berpengalaman mendalami suatu isu. Mungkin karena ia pernah menjabat di daerah itu, menjabat sebagai kepala di departemen dengan isu terkait, dan sebagainya. Dengan informasi terutama dari media online maupun media sosial, informasi dapat dengan mudah diakses. Bahkan langsung melalui ponsel atau perangkat lain ke tangan user.

Karena user merasa sudah tahu tentang info dari suatu isu intelijen, maka dapat membuat ia tidak lagi merasa laporan intelijen itu penting. Sehingga dalam melakukan planning yang dilakukan bersama tim intelijen, ia sudah bias dengan info-info yang didapat. Kebiasan ini yang membuat hubungan antara intelijen dan user menjadi tidak seimbang. Laporan intelijen tidak lagi menjadi independen. Bertentangan dengan pendapat dari Sherman Kent yang menyatakan bahwa intelijen itu harus independen, bebas dari pengaruh politik. Jika produk intelijen sudah terpengaruh oleh pesanan politisi maka produk tersebut tidak akan mampu menghasilkan laporan intelijen yang valid dan obyektif. Kegagalan intelijen tinggal menunggu waktu jika dalam proses pertama intelijen saja sudah terjadi kesalahan.

Kritik intelijen yang mengkaji tentang peristiwa 9/11, menyatakan bahwa penyerangan teroris itu berasal dari gagalnya intelijen yang tidak bisa memprediksi kejadian tersebut. Kegagalan yang bersumber dari pengaruh politik ke dalam intelijen. Kebijakan pemerintah saat itu yang hanya ingin melihat laporan intelijen jangka pendek dan tidak menghiraukan laporan strategis jangka panjang tentang kekuatan dan ancaman teroris Al Qaeda.

Nantikan artikel penjelasan tahap berikutnya minggu depan.

Vokalis Baru, ‘Rasa’ STP

website_bg_v19-1080x675
stp.com

Stone Temple Pilots (STP) rilis album baru. Vokalisnya juga baru. Jeff Gutt. Ia terdengar sangat mirip dengan Scott Weiland. Kalau tidak tahu Weiland sudah wafat, kita akan menyangka ia adalah pemilik suara di album ini. Gutt terdengar seperti versi seorang Weiland yang sehat, segar dan bertenaga.

Susah memang untuk tidak membandingkan keduanya. Sosok Weiland dan STP sendiri yang sudah begitu mendunia membuat kita sebagai fans cenderung mengambil jarak untuk menerima Gutt. Buat saya, Gutt is da man. Seorang yang pas mengganti suara Weiland untuk membawakan karya-karya STP.

Lagu-lagu di album ini masih sangat STP, baik dari sound dan aransemen. Kita mungkin kehilangan Weiland. Tapi rasanya kita tetap bisa menikmati STP seperti dulu. Rasanya tetap sama. Kehilangan Weiland tidak membuat Bob, Dean dan Eric mengubah musiknya. Justru sepertinya Gutt yang mengikuti resep penciptaan karya versi STP.

Enjoy the album yang sudah rilis tanggal 16 Maret 2018. Silakan cek platform-platform streaming langganan Anda.

Mainannya Molly

4771_1515594285

Film yang inspiratif. Banget.

Bukan karena ngajarin kita judi, tapi justru akibat dari judi tersebut. Gimana parahnya kehidupan penjudi, apalagi yang sudah kecanduan. Bahaya! Itu salah satu moral dari film tentang cerita kehidupan Molly Bloom ini.

Moral cerita lain yang bisa kita petik adalah pintar-pintarlah melihat peluang. Sering kali awalnya kita nggak melihat peluang tersebut, tapi dengan sedikit kejelian dan juga keberuntungan tentunya, peluang itu dapat kita raih.

Dan, terakhir, yang tidak kalah penting, never ever say die. Jangan pernah menyerah meski apa pun yang terjadi. Seterpuruk apa pun nasib kita.