Don’t Judge

True-friends-dont-judge-each-other

Mahasiswa ini badannya tinggi besar, gerak geriknya seperti orang grogi, cara bicaranya canggung, suaranya pun lucu, agak melengking.

Tiba gilirannya untuk presentasi.

Meski dengan gaya bicara dan suaranya yang lucu, ia dapat menjelaskan dengan jelas. Jauh lebih jelas dibanding dengan siswa lain yang tampaknya percaya diri dan ‘normal’.

Ia terdengar fasih dalam bahasa Inggris. Terutama pada saat ia menjelaskan kutipan-kutipan yang diambilnya dari majalah Forbes versi bahasa Inggris.

Pesan Ramadan: Jaga mata dan hati. Don’t judge.

Advertisements

Ingat Sejarah: Iklan Adalah Media

Pada zaman VOC dulu, iklan adalah media itu sendiri. Saat itu terdapat suatu lembaran seperti surat kabar, namun kontennya bukan berita, melainkan pengumuman dan iklan. Misalnya, iklan tentang toko roti yang baru buka, pengumuman kapan kapal dari Belanda akan merapat, dan lainnya. Baru beberapa puluh tahun kemudian, media surat kabar lahir. Media dengan konten-konten berita. Iklan masih ada di media surat kabar tersebut dan menjadi salah satuĀ  sumber revenue dari media cetak, selain subscription, tapi bukan lagi menjadi konten utama.

batavie

Kira-kira seratus tahun lebih kemudian, industri iklan perlahan tapi pasti mulai padam. Biro iklan lokal banyak yang tutup. Kalau tidak tutup, sudah sangat miskinĀ  klien atau proyek. Tentu biro iklan multinasional masih berjaya, meskipun ada beberapa catatan tentang penurunan revenue di beberapa konglomerasi grup perusahaan komunikasi pemasaran. Lalu, apakah iklan sudah mati?

Tentu tidak. Selama masih ada pihak yang berdagang menjual produk, jasa, personal, bahkan ideologi, iklan tak akan mati. Iklan akan digunakan untuk memromosikan hal-hal itu semua dengan berbagai cara yang sangat mungkin tidak lagi menggunakan cara tradisional. Meski secara bisnis, iklan sedang tiarap, terutama pelaku bisnis lokalnya.

Lalu, bagaimana membangunkannya lagi? Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sekilas sejarah di paragraf pertama, saya tulis bukan tanpa maksud. Bagaimana kalau kita kembali seperti yang dicatat sejarah.

Iklan. Adalah. Media.

Konsep ini sangat tidak baru. Bahkan sekarang sudah banyak brand yang memanfaatkan strategi ini. Strategi yang sering disebut content marketing atau ada juga yang menyebut brand journalism. Brand menggunakan content marketing karena hari gini siapa yang mau nonton atau baca iklan? Sehingga brand membuat konten-konten yang diinginkan oleh target market-nya untuk ‘memancing’ konsumen keluar dari tempat persembunyiannya yang anti-iklan. Konten-konten berbayar tersebut tentunya bisa di-branding, bisa juga tidak terlalu heavy dalam branding.

Contohnya Red Bull. Silakan datang ke website Red Bull di sini. Ekspektasi kita pada saat membuka situs tersebut kemungkinan besar adalah melihat berbagai jenis produk minuman energi. Atau juga membaca keterangan tentang produk-produknya. Ternyata di luar ekspektasi.

Red Bull membuat konten-konten yang menarik bagi marketnya. Anak muda penggila olah raga, terutama extreme sports. Mereka tidak ‘jualan’ produk di webnya. Mereka memamerkan konten seperti layaknya sebuah media olah raga ekstrem. Ya, brand berakting seperti media. Ada berita, artikel, baik dalam bentuk tulisan maupun video.

Biro iklan dapat mengambil peran dalam perancangan konten dari brand. Dari perencanaan, riset, kreatif, hingga produksi. Job desc yang tidak terlalu baru tapi memang berbeda dengan perancangan iklan. Peluang ini yang rasanya dapat dimanfaatkan oleh industri iklan lokal untuk kembali bernafas.

Sekali lagi mengingatkan, iklan adalah media. Sejarah sudah pernah mencatatnya.

20 Tahun 12 Mei

20 tahun lalu ke kampus A Trisakti. Ada kuliah pagi jam 8. Mata kuliah perbaikan nilai sebelum lulus, meski nggak baik juga nilai akhirnya. Ternyata, nggak ada dosen.

Kampus tenang dan sepi. Calm before the storm. Pulang, karena itu tadi, sepi masih pagi.

Sampai rumah, memantau via IRC. Iya, internet relay chat. Anak digital lama. Banget. Memantau situasi yang beberapa hari terakhir makin ‘panas’. Di ruang2 IRC pun ‘panas’. Jauh lebih panas dibanding media2 masa itu. Netizen emang udah berangasan dan liar dari zaman dulu untuk melawan rezim.

Siang, lalu sore, terjadilah.

Sempet posting di salah satu ruang IRC: aparat keparat. Mungkin terinspirasi Arian 13 (Seringai) bikin aparatmati? Atau sebaliknya? Entahlah. Lupa.

Tapi saya nggak akan pernah lupa #20TahunTragediTrisakti.