Kepungan Propaganda

joseph-goebbels-3

Jika ingin belajar tentang propaganda, era sekarang adalah waktu yang tepat. Terutama pada saat pilpres lalu. Mengapa? Karena masing-masing kubu melakukan propaganda. Berbagai macam teknik propaganda dilakukan hampir oleh kedua belah pihak.

Misalnya, teknik Plain Folks yaitu mencitrakan seorang calon pemimpih seolah-olah merakyat atau sama dengan kita, rakyat. Kedua pasangan calon melakukannya, bagaimana mereka berusaha untuk menjadi seperti rakyat biasa. Semua bisa disaksikan dan direkam lewat media sosial maupun media konvensional.

Teknik Bandwagon, yaitu teknik yang mengajak konstituen untuk bergabung dengan ‘gerbong’ salah satu calon, juga sangat sering kita lihat, terutama di media sosial. Ajakan bergabung dari berbagai simpatisan (seakan-akan simpatisan) untuk mendukung salah satu calon pujaannya. Teknik ini kerap kali dilakukan bersamaan dengan teknik Transfer yaitu mengatasnamakan sesuatu demi memperkuat posisi. Misalnya deklarasi dari alumni universitas A yang mengajak alumni universitas dan masyrakat untuk bergabung mendukung salah satu paslon.

Propaganda ini baru dari dua sumber yaitu kedua paslon presiden dan wakilnya. Belum lagi propaganda komersial dari korporasi berbentuk iklan dan tayang bersponsor lainnya. Ditambah lagi dengan propaganda dari pemerintah melalui kementerian dan lembaganya. Satu lagi, pihak civil society organization yang juga punya agenda sendiri melalui pesan propagandanya. Kita dikepung oleh propaganda.

Advertisements

Efektivitas Alat Kampanye

53334981cfdbc73015f00f1616504685
Foto: Media Indonesia

Pemilihan umum 2019 berbarengan antara memilih calon legislatif, DPD dan juga presiden serta wakilnya. Dengan situasi seperti itu, perlu banyak alat kampanye seperti baliho, poster, banner, dan lainnya. Pertanyaan sederhananya yang selalu saya ingin tahu adalah, apakah alat kampanye yang sedemikian banyak dan mengotori pemandangan kita sehari-hari tersebut begitu efektif?

Misalnya kita memakai framework AISAS (attention, interest, search, action, share) yang dipopulerkan oleh Dentsu Aegis Network. Dengan sedemikian banyak alat kampanye, mungkin hampir tiap calon membuat alat kampanye, artinya mereka berebut attention atau perhatian dari konstituen. Sementara kalau dilihat dari bentuk, visualisasi, dan desain, nyaris tidak ada bedanya antara satu alat kampanye caleg A dengan caleg B. Bagaimana mereka bisa berebut attention jika tidak ada bedanya?

Jika dalam AISAS, sehabis attention, konsumen (konstituen) perlu dimunculkan interest atau minatnya. Minat untuk cari tahu (search) lebih banyak tentang si caleg. Pertanyaan berikutnya, bagaimana alat kampanye bisa memunculkan minat untuk cari tahu sementara terdapat puluhan, ratusan dan ribuan alat kampanye di suatu sudut kota dari caleg yang berbeda-beda?

Memang alat kampanye seperti baliho, poster, dan lainnya bukan satu-satunya jalan agar konstituen aware tentang seorang caleg. Masih ada internet dan media sosial yang bisa dimaksimalkan tapi lagi-lagi alat kampanye via media sosial pun tetap harus efektif dan tidak menjadi sampah digital.

Lalu bagaimana solusi kampanye yang efektif? Kampanye yang menghibur, fun dan paling penting, tepat sasaran. Bukan sekadar menyebar poster di segala tempat tanpa tahu secara pasti siapa konstituen (target audience) kita.

Iklan, Revisited

‘Iklan’ dulu, dan mungkin sampai sekarang, didefinisikan sebagai: cara berpromosi dengan membeli slot waktu atau kolom atau pixel di media dengan tujuan memersuasi khalayak sasaran untuk melakukan aksi tertentu. Jika itu adalah definisinya lalu, apa yang dilakukan brand dengan menyewa selebgram untuk memromosikan value brandnya bisa disebut iklan? Atau bukan iklan? Lalu yang dilakukan DB Beer di New Zealand ini apa?

Yang kita sebut iklan dulu sudah berubah sekarang. Istilah ‘iklan’ sudah mengalami perluasan. Iklan kini adalah, meminjam istilah mas Janoe Arijanto, creative business solutions. Istilah baru yang bisa menjadi awal untuk memahami perubahan dan keluasan arti ‘iklan’ itu sendiri. Bukan hanya sekadar cara berpromosi lewat media, tapi adalah suatu solusi bisnis. Tak sekadar solusi, tapi solusi yang kreatif.

Tidak Cukup (Hanya) Visual

main-qimg-50fd5810005b18982fc715b760e32c8fKalau kita bicara ‘branding’, langsung terbayang logo, warna, desain, dan font type. Visual. Branding ya visual. Padahal, secara teori pemasaran modern, branding tidak cukup hanya bicara logo, packaging, desain dan visualisasi lainnya. Cara bicara seorang waiter dalam melayani pelanggannya itu adalah branding. Bahkan audio atau suara pun juga branding.

Jika visual boleh menjadi alat branding, kenapa audio tidak? Yang paling sederhana (ini  contoh yang terlalu menyederhanakan) adalah penggunaan jingle dalam iklan. Iklan Indomie misalnya. Kita sudah paham dan nyantol jika mendengar jingle Indomie, terutama bagian: Indomie, seleraku. Atau ‘audio logo’ (banyak yang bilang ‘end tunes’, mentang-mentang selalu diletakkan di akhir iklan) setiap akhir iklan Telkomsel.

Branding dengan menggunakan suara memang tidak hanya pada iklan, jingle, dan end tunes. Lebih dari itu semua. Seperti branding dengan visual, audio pun seharusnya ada di mana brand itu berada. Kantor pusat, pabrik, alat-alat promosi hingga warung-warung tempat produk dari brand itu dijual.

Jadi, audio pun bisa menjadi alat yang kuat untuk branding. Alat untuk mengasosiasikan suatu brand. Alat yang menjadi identitas sebuah brand. Lalu, bagaimana suara brand Anda?

Are You OK, Mr. Ries?

quote-a-branding-program-should-be-designed-to-differentiate-your-cow-from-all-the-other-cattle-al-ries-66-93-83.jpg

Membaca satu artikel di majalah Mix, bikin saya tersenyum. Senyum sambil membayangkan wajah Al Ries yang pernah bilang bahwa periklanan sudah mati dalam buku terkenalnya The Fall of Advertising & The Rise of PR.

Buku yang terbit sekitar tahun 2002, sesuai judulnya meramalkan bahwa industri periklanan akan ‘mati’. Argumennya adalah karena iklan dinilai tidak efektif, mahal biayanya, dan lain-lain. Lalu, sebagai gantinya, PR (public relations) akan bangkit. Mengapa? Karena PR, dirasa lebih murah biaya kampanyenya dan efektif. Konsumen atau khalayak sasaran konon lebih percaya dengan kampanye PR dibanding iklan. Tesis Ries ini juga sempat, bahkan masih, membuat praktisi iklan atau PR berdebat. Praktisi iklan merasa iklan tidak akan mati, praktisi PR bersikeras bahwa iklan sudah mati atau akan mati.

16 tahun kemudian setelah buku itu terbit. Muncul artikel ini (artikel pertama yang saya baca adalah yang versi majalahnya). Artikel yang memaparkan tentang betapa belanja iklan di Indonesia pada Q3 tahun 2018, sebesar Rp39 triliun. Tumbuh 4% dibanding kuartal yang sama di tahun 2017.

Tiga puluh sembilan triliun rupiah. Jumlah yang banyak tentunya. Apakah jumlah tersebut menunjukkan akan kematian industri iklan? Tiga puluh sembilan triliun rupiah di satu kuartal. Mati? Are you okay, Mr. Ries? Bagaimana dengan fanboy-nya Mr. Ries? Ada komentar?

’22 Menit’: Sebuah Aktivitas Promosi

5b4c681fcce8d-ario-bayu-dalam-film-22-menit_665_374
foto: viva.co.id

https://soundcloud.com/improaudio/22menit

Film menjadi salah satu alat promosi. Sangat mungkin. Malah film dapat menjadi alat promosi tanpa harus terlalu terasa sebagai media yang sedang memromosikan atau meyampaikan suatu pesan. Beda dengan suatu iklan yang jelas-jelas tugasnya adalah memromosikan suatu produk atau jasa. Meski ada juga film yang sangat nyata memromosikan sesuatu. Misalnya seperti film 22 Menit.

Di dalam film yang dibesut oleh Eugene Panji ini sangat terasa pesan promonya, yaitu Polri yang sebagai pelindung masyarakat terutama dalam kejadian aksi teror. Dengan mengangkat kejadian pemboman di Jalan Thamrin pada Januari 2016, film ini begitu kuat pesan untuk menyiarkan kehebatan Polri dalam insiden tersebut. Pesan yang  dalam film ini sepertinya cuma satu, yaitu: dalam waktu 22 menit, Polri dapat menumpas para pelaku pemboman di jalan Thamrin, Jakarta. Tidak ada pesan lain. Cerita dalam film ini terkesan kurang kuat selain dari narasi kehebatan Polri tadi.

Apakah salah jika film ini menjadi alat promosi kekuatan Polri? Sama sekali tidak. Seperti yang disampaikan di atas, bahwa memang sudah seharusnya dalam melakukan promosi, sosialisasi, atau advokasi di zaman now ini salah satu caranya adalah dengan menggunakan media film. Tentu pertanyaan yang tersisa adalah apakah memang film ini bertujuan untuk bercerita tentang Polri atau hanya kebetulan saja? Perlu ditanya langsung ke filmmaker-nya.

Ingat Sejarah: Iklan Adalah Media

Pada zaman VOC dulu, iklan adalah media itu sendiri. Saat itu terdapat suatu lembaran seperti surat kabar, namun kontennya bukan berita, melainkan pengumuman dan iklan. Misalnya, iklan tentang toko roti yang baru buka, pengumuman kapan kapal dari Belanda akan merapat, dan lainnya. Baru beberapa puluh tahun kemudian, media surat kabar lahir. Media dengan konten-konten berita. Iklan masih ada di media surat kabar tersebut dan menjadi salah satu  sumber revenue dari media cetak, selain subscription, tapi bukan lagi menjadi konten utama.

batavie

Kira-kira seratus tahun lebih kemudian, industri iklan perlahan tapi pasti mulai padam. Biro iklan lokal banyak yang tutup. Kalau tidak tutup, sudah sangat miskin  klien atau proyek. Tentu biro iklan multinasional masih berjaya, meskipun ada beberapa catatan tentang penurunan revenue di beberapa konglomerasi grup perusahaan komunikasi pemasaran. Lalu, apakah iklan sudah mati?

Tentu tidak. Selama masih ada pihak yang berdagang menjual produk, jasa, personal, bahkan ideologi, iklan tak akan mati. Iklan akan digunakan untuk memromosikan hal-hal itu semua dengan berbagai cara yang sangat mungkin tidak lagi menggunakan cara tradisional. Meski secara bisnis, iklan sedang tiarap, terutama pelaku bisnis lokalnya.

Lalu, bagaimana membangunkannya lagi? Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sekilas sejarah di paragraf pertama, saya tulis bukan tanpa maksud. Bagaimana kalau kita kembali seperti yang dicatat sejarah.

Iklan. Adalah. Media.

Konsep ini sangat tidak baru. Bahkan sekarang sudah banyak brand yang memanfaatkan strategi ini. Strategi yang sering disebut content marketing atau ada juga yang menyebut brand journalism. Brand menggunakan content marketing karena hari gini siapa yang mau nonton atau baca iklan? Sehingga brand membuat konten-konten yang diinginkan oleh target market-nya untuk ‘memancing’ konsumen keluar dari tempat persembunyiannya yang anti-iklan. Konten-konten berbayar tersebut tentunya bisa di-branding, bisa juga tidak terlalu heavy dalam branding.

Contohnya Red Bull. Silakan datang ke website Red Bull di sini. Ekspektasi kita pada saat membuka situs tersebut kemungkinan besar adalah melihat berbagai jenis produk minuman energi. Atau juga membaca keterangan tentang produk-produknya. Ternyata di luar ekspektasi.

Red Bull membuat konten-konten yang menarik bagi marketnya. Anak muda penggila olah raga, terutama extreme sports. Mereka tidak ‘jualan’ produk di webnya. Mereka memamerkan konten seperti layaknya sebuah media olah raga ekstrem. Ya, brand berakting seperti media. Ada berita, artikel, baik dalam bentuk tulisan maupun video.

Biro iklan dapat mengambil peran dalam perancangan konten dari brand. Dari perencanaan, riset, kreatif, hingga produksi. Job desc yang tidak terlalu baru tapi memang berbeda dengan perancangan iklan. Peluang ini yang rasanya dapat dimanfaatkan oleh industri iklan lokal untuk kembali bernafas.

Sekali lagi mengingatkan, iklan adalah media. Sejarah sudah pernah mencatatnya.