Melompat Jauh. Segera.

IMG_20171207_140508

Kreatif itu bukan sekadar departemen dalam sebuah biro iklan, bukan juga sebutan bagi orang yang bekerja dalam departemen Kreatif. Kreatif lebih dari itu. Lebih dari sebutan, departemen, value dari biro iklan, biro iklannya sendiri, bahkan lebih dari industri periklanan.

Saat datang ke seminar Citra Pariwara 2017, akhirnya, mungkin setelah sekian lama, industri periklanan sadar akan apa yang saya maksud dengan kreativitas di atas. Di acara tersebut, tidak lagi menampilkan pembicara-pembicara dari industri periklanan, baik dalam atau luar negeri. Dulu, di acara sejenisnya seperti ini, seakan kreativitas hanya dimiliki oleh orang iklan, semacam katak masturbasi dalam tempurung.

Andrew Essex dalam bukunya The End of Advertising: Why It Had to Die, and the Creative Resurrection to Come, menjelaskan bahwa paradigma berpikir tentang kreativitas dalam periklanan sudah harus berubah. Lanskap pemasaran dan konsumsi media yang sudah berubah memaksa industri untuk berubah dalam berpikir kreatif dilihat dari perspektif komunikasi pemasaran, khususnya iklan.

Memang industri iklan dipercaya belum akan mati, tapi memang harus berubah, terutama dari cara melihat audience mengonsumsi media, bagaimana pergeseran behaviour, termasuk value. Value tidak hanya ekonomi, tapi sosial dan bahkan spiritual.

Industri ini harus beradaptasi menyiasati yang tak terkira di depan, lebih dari sekadar evolusi. Lompatan evolusi memakan waktu yang lama, bahkan sangat lama. Dibutuhkan lompatan yang cepat. Berubah. Segera. Adapt or die.

Advertisements

Copywriter, binatang apa itu?

writing_quotes__mark_twain-1

Copywriter terlibat dalam pembuatan berbagai bentuk iklan dan materi promosi. Berbagai macam materi promosi, bukan yang hanya sering kita lihat di media. Bahkan banyak iklan atau materi promosi yang tidak pernah kita lihat. Kita cenderung hanya memikirkan kampanye paling terkenal untuk brand-brand mapan: iklan yang kita lihat disiarkan di saluran televisi utama, disisipkan ke papan reklame besar atau tayang via YouTube.

Copywriter tidak bekerja sendirian dalam membuat iklan. Dalam sistem kerja traditional advertising agency, copywriter dipasangkan dengan seorang art director. Jika copywriter bertugas untuk menyampaikan pesan sebuah iklan atau materi promosi melalui kata-kata, art director yang akan mengolah visualnya.

Cara kerja mereka sangatlah dinamis dan luwes. Artinya, tidak selamanya copywriter hanya bertugas mencari kata-kata. Ia juga dapat membantu memikirkan visual. Begitu juga dengan seorang art director dapat membantu membuat headline. Pada praktiknya, banyak copywriter yang sangat visual driven dan banyak juga art director yang pintar bermain kata-kata.

Ada banyak sekali materi iklan atau promosi yang membutuhkan masukan kreatif dari copywriter. Bukan hanya di biro iklan saja kita dapat menemukan copywriter. Keterampilan copywriter juga terlibat dalam banyak tempat lain. Tugas mereka tetep membuat dan membuat teks untuk berbagai macam materi promosi dan pemasaran. Misalnya saja, biro PR, konsultan pemasaran, graphic house, digital marketing agency dan lain-lain. Bahkan, brand owner sendiri juga sering menggunakan jasa copywriter untuk membuat materi-materi promosi dalam berbagai media.

Iklan membawa banyak pesan ke sejumlah khalayak sasaran yang berbeda. Kita juga  sepakat bahwa iklan adalah suatu bentuk komunikasi. Iklan mengikuti alur komunikasi dan juga berkomunikasi secara semiotika. Ada pesan yang ingin disampaikan dalam iklan. Ini adalah bagian penting dari pekerjaan copywriter profesional untuk memastikan pesan tersebut berhasil disampaikan.

Menyampaikan pesan melalui kata-kata dan visual. Itu lah tugas utama tim kreatif dalam marcomm atau lebih spesifik, periklanan. Copywriter dan art director harus bekerjasama mencari cara kreatif dalam penyampaian pesan tersebut. Kata-kata dan visual bukan saling bersaing tapi harus saling melengkapi, sehingga pesan dari iklan atau materi promosi tersebut dapat tersampaikan dengan sejelas-jelasnya.

Copywriter iklan bertugas untuk menyampaikan pesan dan meyakinkan orang melakukan tindakan tertentu, apakah itu ajakan mencoba pisau cukur baru, untuk menyadari bahaya narkoba atau untuk menyumbangkan uang ke badan amal. Di situlah tantangan seorang copywriter. Pekerjaannya yang begitu dinamis karena mengerjakan berbagai macam jenis brand, produk, atau jasa. Lalu, ia juga bekerja untuk menyampaikan pesan ke berbagai khalayak sasaran, dengan berbagai macam media yang berbeda pula. Ditambah lagi, ia dituntut untuk hadir dengan ide-ide yang kreatif dan orisinil.

Dengan begitu dinamisnya pekerjaan seorang copywriter, maka mau tidak mau ia harus selalu siap untuk menuangkan ide-idenya, terutama melalu tulisan atau kata-kata. Tidak jarang seorang copywriter sedang merasa tidak mood pada saat pekerjaan datang dan deadline semakin dekat. Seorang copywriter bukanlah seorang seniman kata seperti misalnya penulis novel, penulis puisi atau penulis lagu. Ia bekerja dengan deadline yang ketat. Ia dituntut untuk segera menulis meski merasa tidak mood atau mentok dalam penulisan.

Salah satu cara dalam menghadapi hal seperti tidak mood atau mentok ini adalah paksakan menulis. Menulis apa saja. Tidak perlu dipikirkan apakah tulisan itu baik atau buruk. Yang penting adalah menulis dan menulis. Setelah mood kita mengalir kembali atau sudah mendapat ilham, baru kita lihat kembali tulisan tersebut. Bagian mana yang perlu diedit.

Selain menulis untuk memersuasi khalayak sasaran dengan menonjolkan benefit atau USP dari suatu produk atau jasa, copy dalam iklan biasanya diharapkan untuk menciptakan respons yang lebih kompleks di antara penonton kita. Respons tersebut dapat muncul lewat suatu tulisan menyentuh emosi khalayak sasaran.
Emosi khalayak sasaran adalah kekuatan dalam memainkan peran bagaimana mereka berperilaku sebagai konsumen produk dan layanan. Copy dalam iklan sangat membantu untuk melahirkan sebuah emosi yang diharapkan, apakah emosi gembira, sedih, marah, dan lainnya. Kata-kata dalam iklan dapat membuat sebuah iklan seakan berbicara langsung kepada sasaran. Apalagi jika si copywriter sangat paham akan insight dari konsumen yang dituju.

Dobrak Barrier-nya!

Screen Shot 2017-08-01 at 4.26.00 PM.pngDi era informasi yang begitu overload ini membuat manusia, lebih hati-hati dalam memilih informasi. Dalam konteks komunikasi pemasaran, dengan semakin banyaknya produk di pasar, juga aktifnya konsumen dalam mencari berbagai macam informasi via search engine, media sosial, aplikasi chat, dan lain sebagainya, membuat konsumen membuat sebuah halangan.

The-Dentsu-Way-pg59-The-Breaking-In-and-Drawing-Out-Approaches-for-Reacing-the-Consumer-Who-Has-Put-Up-the-Information-Barrier

Halangan ini disebut information barrier (Sugiyama & Andree, 2011). Barrier ini diciptakan oleh konsumen, secara sadar atau tidak sadar, dalam memilih informasi, termasuk iklan dan jenis komunikasi pemasaran lainnya. Sehingga tugas dari komunikasi pemasaran menjadi lebih berat. Untuk menarik perhatian konsumen membutuhkan taktik yang tidak mudah. Konsumen kini memiliki ‘kuasa’ dalam memilih informasi mana yang mau ia terima, mana yang tidak. Jika informasinya sesuai dengan apa yang ia cari, atau informasi itu menarik, unik, tidak biasa, maka ia akan keluar dari barrier. Atau paling tidak. ‘mengintip’ dari dalam barrier itu.

Dibutuhkan pancingan agar konsumen mau keluar dari barrier tersebut sehingga komunikasi yang ingin disampaikan dapat terkirim dengan baik. Cara untuk menarik mereka keluar misalnya dengan pendekatan storytelling yang melibatkan berbagai jenis media yang saling silang dalam mengomunikasikan pesan tersebut. Atau cara lain yang lebih sederhana, namun idenya tidak mudah ditemukan, adalah membuat suatu materi komunikasi yang tidak biasa, absurd, nyeleneh, tapi tetap berkelas dan tidak membunuh brandnya. Cara kedua ini yang dilakukan oleh es krim Indoeskrim.

Dengan pendekatan film drama silat jadul, membuat siapa pun, tidak hanya target market es krim Indoeskrim, akan tertarik dan bahkan terhibur menonton iklan ini. Iklan yang berdurasi sekitar 3 menit ini menjadi tidak seperti iklan, tapi lebih mirip seperti konten hiburan. Apa pun tujuan komunikasi pemasaran iklan ini, jika meminjam framework AISAS, feedback yang diharapkan secara attention, interest, search, action dan share-nya sudah tercapai.

Artvertising dan model bisnis

20170619_134500
Design: Wiksy

Baru saja lihat film iklan beberapa pemenang Cannes 2017 ini. Yang menarik bagi saya adalah kampanye Anchor. Untuk pelaku kreatif copy-based, iklan-iklan ini keren banget. Copy-nya kuat, menghasilkan storytelling yang powerful. Pesannya pun jelas. Secara konsep dan eksekusi nyaris sempurna. Tidak heran kalau mereka menang penghargaan di Cannes 2017.

Iklan-iklan pemenang penghargaan seperti ini secara artistik memang indah, keren, kece, cakep, anjing, dan lain-lain. Layaknya kita menikmati suatu karya seni yang bikin kagum. Kita terpana dan dibikin geleng-geleng kepala karena indahnya karya-karya seni tersebut. Karya seni seperti lukisan, musik, arsitektur, seni kriya dan lain sebagainya.

Lalu, apakah iklan-iklan yang indah ini dapat disebut sebagai karya seni? Dulu ia bernama ‘advertising’, apakah sekarang dapat kita sebut, katakanlah, ‘artvertising’? Karya iklan atau advertising yang artsy, nyeni. Apakah itu nantinya sebagai genre baru dalam advertising atau film atau lainnya, tidak terlalu penting.

‘Artvertising’ ini tidak perlu mendapat tugas untuk ‘jualan’. Karena saya cukup yakin iklan seperti ini tidak mampu berbicara banyak untuk mendongkrak awareness, apalagi sales. Saya pun ragu ‘artvertising’ ini ditonton oleh target audience (atau bahkan tidak direncanakan untuk ada target audience?). Kesimpulannya, iklan artsy ini tidak menyelesaikan masalah komunikasi pemasaran suatu brand.

Akan ada yang berpendapat, bukannya advertising adalah bagian dari pemasaran sehingga tugasnya ‘jualan’? Sebagai bagian dari promotion mix, saya masih percaya advertising masih diperlukan, namun bukan dengan eksekusi seperti ini. Ada pendekatan lain yang objektifnya jelas untuk menyelesaikan masalah-masalah komunikasi pemasaran. Sementara, biarkanlah ‘artvertising’ ini juga punya tempat khusus di industri.

Lalu, bagaimana mungkin ‘artvertising’ dapat menghidupi biro iklan jika ia tidak membantu masalah klien? Berarti biro iklan akan kehilangan klien. Bisnisnya akan jatuh. Jawabannya adalah perlu bisnis model baru. Bisnis model yang dapat menjadi skema jalannya bisnis dengan ‘artvertising’ sebagai produknya. Bagaimana segmen dan revenue streamingnya, biaya-biaya apa saja yang akan dihadapi, value proposition seperti apa yang akan diusung, dan lain sebagainya.

Sehingga, nantinya, jika model bisnis baru untuk ‘artvertising’ terwujud, tidak ada lagi perdebatan, iklan bagus itu adalah yang menang award atau yang mampu menjawab masalah komunikasi pemasaran suatu brand. Karena masing-masing akan punya model bisnis, stakeholders, bahkan mungkin industri sendiri.

SDGs dan Industri Kreatif

Screenshot 2017-06-15 13.32.26

Enam grup besar biro iklan dunia ditambah satu biro iklan independen bergabung dalam Common Ground dan membuat Common Future Project, sebuah workshop untuk memberikan awareness kepada Gen Z tentang Sustainable Development Goals. Dari workshop ini nantinya akan lahir output yang akan dijadikan sebagai communications tool dan YouTube digunakan sebagai media tayangnya.

Pertemuan antara isu-isu SDGs dengan industri kreatif, terutama iklan, tentunya menjadi permulaan yang baik. Seperti kita tahu bahwa isu-isu SDGs adalah isu yang terjadi di banyak negara di dunia ini (silakan googling apa itu SDGs, jika belum paham). Isu-isu yang tidak ringan seperti pengentasan kemiskinan, masalah air bersih, akses kesehatan yang layak, isu gender dan lain sebagainya.

Isu ‘berat’ tersebut akan sulit dipahami oleh banyak anak muda terutama. Apalagi yang hidupnya ‘sejahtera’ tinggal di kota. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih ‘pop’, tanpa mengecilkan substansi dari isu-isu berat tersebut dan juga pemilihan media sebagai contact point yang tepat. Dengan pendekatan ‘kreatif’ dan populer harapannya Gen Z sebagai target audience akan aware dengan isu-isu SDGs dan pada akhirnya tergerak melakukan sesuatu.

Tentunya dengan materi video di YouTube saja tidak menyelesaikan semua masalah promosi dan komunikasi isu SDGs ini. Masih banyak sekali aktivitas promosi dan komunikasi yang perlu dilakukan oleh PBB, demi tercapainya misi SDGs di tahun 2030. Sehingga penting dipikirkan untuk melakukan campaign yang berkelanjutan dan tidak kehabisan nafas. 2030 masih jauh. Bagaimana pun, ini adalah permulaan yang baik.

Lalu, apakah inisiatif seperti ini sudah terpikirkan oleh biro iklan di sini? Perlu ditunggu, karena Indonesia justru salah satu negara yang terlibat banyak isu dalam SDGs.

United Blunder

Berita tentang penumpang United Airlines yang dipaksa turun pesawat sudah diketahui banyak orang di dunia. Video yang sudah viral itu sudah ditonton sekitar 200 juta kali, di Cina. Hanya Cina ya, belum ditotal dengan negara-negara lain. Cerita tentang kejadian ini bisa dicari di media-media online. Silakan dicari sendiri.

Yang mau saya sampaikan di sini adalah bagaimana United Airlines melakukan pembunuhan brandnya sendiri. Market value UA menurut kabar, menurun. Jelas, nggak heran.

UA sempat mengalami tragedi besar. Tepatnya, saat salah satu pesawatnya digunakan untuk menabrak WTC pada 11 September 2001. UA merasa perlu membantu masyatakat Amerika untuk bangkit dari tragedi itu. Sekaligus secara tidak langsung memberikan nilai lebih pada brandnya. Mereka membuat iklan satu halaman koran yang tayang pada 21 September 2001 seperti di bawah ini.

Iklan di atas mendapat respons positif dari masyarakat saat itu. Pelanggan UA tidak mengalami penurunan, malah kabarnya meningkat. Brand UA cemerlang di tengah tragedi nasional AS ini.

Maju sekitar 16 tahun kemudian kejadian pemaksaan penumpang untuk turun ini pun terjadi. Apakah penumpang akan menurun? Apakah secara brand, UA akan dipersepsikan buruk? Bisa jadi. Apakah UA akan mengcounter kejadian ini dengan bikin iklan seperti di atas? Mungkin. Apa pun yang mereka lakukan, brand UA sudah buruk.

#AdvIntro3: Iklan Dalam Masyarakat

Globalisasi membuat dunia menjadi semakin dekat dan tanpa batas. Dalam ekonomi, globalisasi dapat dikatakan sebagai suatu proses perusahaan untuk mencari keuntungan tambahan di negara-negara di luar negara asalnya. Hal ini memengaruhi banyak hal dalam kehidupan manusia. Kehidupan dalam hal ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan juga termasuk dalam hal berkomunikasi. Semuanya berubah karena faktor globalisasi dan teknologi.

Kini, manusia yang berjauhan dengan menggunakan teknologi yang sama, yaitu internet, dapat menjadi dekat. Jika sebelum ada teknologi internet, untuk berhubungan antara Jakarta-Bandung saja membutuhkan cukup banyak biaya. Misalnya, jika menggunakan telepon, kita harus ke wartel untuk melakukan hubungan telepon. Kita harus membayar jasa wartel tersebut sekian rupiah. Atau jika tidak menggunakan wartel, kita dapat menggunakan kartu telepon. Itu pun kita harus beli, kemudian harus mengantri telepon kartu. Karena telepon kartu saat itu peminatnya cukup banyak. Banyak yang harus kita keluarkan untuk berkomunikasi pada saat internet belum lahir. Begitu internet lahir, semuanya seakan mudah. Komunikasi menjadi begitu cepat, dapat dilakukan kapan saja, dan dengan biaya yang relatif murah. 

Komunikasi yang menjadi semakin cepat dan terbuka ini ternyata tidak hanya membawa kebaikan namun juga keburukan bagi manusia. Keburukan misalnya saja semakin tidak terkendalinya orang dalam mengeluarkan pendapat.  Masyarakat modern, termasuk kita di Indonesia, banyak yang terlalu mudah untuk berkomentar atau membagikan konten-konten di media sosial dan internet. Itu semua dilakukan tanpa memikirkan dampak apa yang akan diberikan oleh pihak lain, terutama pihak penerima pesan kita tadi. Kesiapan mental dalam menerima teknologi internet dan media sosial harus ditingkatkan lagi agar tidak semakin gaduh lagi pertemanan sosial di dunia dengan gaya komunikasi baru ini. 

Mengapa ini dapat terjadi? Salah satu alasannya adalah dunia global yang sudah cenderung menjadi satu ini. Hingga segala nilai sosial budaya, politik, ekonomi tidak lagi ada batasnya. Siapa yang memiliki kekuatan dalam teknologi dan dana, ia yang akan mampu menyebarkan nilai-nilainya ke dunia baru melalui teknologi internet. Perusahaan-perusahaan multinasional terutama dari Amerika Serikat dan Eropa adalah pihak yang paling menguasai teknologi dan dana. Sehingga otomatis mereka lah yang memegang kendali dalam menyebarkan nilai, sekaligus produk dan jasa. Nilai yang mereka sebarkan, apakah itu disengaja atau tidak, dapat tercermin dari iklan-iklan produk mereka. 

Sering kali, nilai-nilai sosial budaya yang ada di dalam iklan produk atau jasa dari luar negeri belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa. Ini yang sering menimbulkan perdebatan di dalam industri pemasaran. Tugas dari departemen pemasaran suatu perusahaan menjadi makin berat terutama karena mereka harus berhadapan dengan perbedaan budaya jika mereka beriklan di negara lain. Dibantu dengan biro iklan mereka yang biasanya juga multinasional, perusahaan multinasional perlu berhati-hati jika tidak ingin melakukan kesalahan dalam promosi atau beriklan. 

Dari sini, kita akan coba membahas pertanyaan berikut ini: Apakah iklan itu baik atau buruk bagi masyarakat? Dari pertanyaan ini, paling tidak ada tiga perdebatan yang muncul.

1. Debat penciptaan permintaan: apakah iklan menciptakan permintaan produk yang padahal sebenarnya tidak dibuuhkan orang? Contohnya smartphone. Bagi yang menganggap iklan itu menciptkan permintaan untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan akan mengatakan bahwa iklan-iklan smartphone sangat berpengaruh menciptakan permintaan tadi. Nissa sudah memiliki smartphone. Tidak ada masalah dengan smartphonenya. Tidak rusak dan masih berfungsi dengan baik semua fiturnya. Kemudian, di suatu sore, ia melihat iklan smartphone keluaran Samsung terbaru. Efek dari iklan tersebut ia menjadi tertarik perhatiannya akan produk tersebut. Saat itu pula ia langsung mencari tahu tentang produk tersebut. Semakin ia tahu banyak tentang produk tersebut, ia semakin memiliki smartphone itu. Padahal ia juga sadar bahwa ia tidak ada kebutuhan untuk punya smartphone baru. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa iklan bisa memengaruhi audiens sehingga menimbulkan permintaan dari produk atau jasa tersebut. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa iklan tidak serta merta menciptakan permintaan. Karena pada akhirnya konsumen memiliki kuasa untuk tidak tertarik pada iklan maupun produk tersebut.

2. Debat menciptakan nilai atau mencerminkan nilai. Perdebatannya adalah tentang penciptaan nilai dan pencerminan nilai. Penciptaan Nilai masksudnya adalah bahwa iklan itu memberikan masyarakat suatu nilai di dalam kehidupan. Nilai baik, buruk. Cantik, kurang cantik, dan masih banyak lagi. Sementara Penerminan Nilai maksudnya adalah bahwa iklan itu mengikuti nilai, kebiasaaan, trend atau budaya yang sudah ada di masyarakat. Iklan tidak menciptakan suatu nilai baru.  Bagi yg percaya dgn penciptaan nilai, banyak contoh ttg ini, misalnya perempuan sehat adalah yg kurus, raamping. Perempuan yang cantik adalah yang berkulit cerah. Sedangkan contoh mencerminkan nilai adalah banyak iklan yg memvisualkan kehidupan sehat karena gaya hidup sehat sekarang sudah menjadi bagian kehidupan dari masyarakat, terutama kelas menengah.

3. Debat komersialisasi. Perdebatan di sini adalah mengenai komersialisasi. Di zaman sekarang, semuanya serba materi, misalnya sakit kepala ya minum obat. Tidak ada iklan yang mengajak kita istirahat untuk menghilangkan sakit kepala. Ini juga berhubungan dengan terjadinya komersialisasi di mana-mana. Untuk memasang iklan di media besar maupun media kecil atau lokal, pengiklan sekarang harus membayar suatu nilai yang cukup besar. Oleh karena itu, pengiklan bersama biro iklannya berusaha untuk mencari celah bagaimana memasarkan produk atau jasanya tidak melulu dengan membayar media. Salah satu contohnya adalah mensponosori acara-acara TV. Misalnya saja American Idol. Coca Cola menjadi salah satu sponsor di acara yang terkenal di dunia tersebut. Sebagai kompensasinya, Coca Cola boleh menyelipkan produk-produknya di berbagai segmen dalam acara tersebut. Ada penelitian yang menyatakan bahwa produk Coca Cola muncul sekitar 2.000-an kali selama acara American Idol berlangsung. Perdebatan muncul. Apakah Coca Cola memiliki ‘suara’ dalam menentukan berjalannya acara Idol ini? Misalnya, ikut menentukan juri-juri, peserta, bahkan mungkin pemenangnya.

Perdebatan akan peran atau efek iklan di masyarakat ini tidak hanya dalam segi sosial tapi juga dalam ekonomi dan politik. Untuk bidang ekonomi ada beberapa perdebatan:

1. Kompetisi. Perdebatan dalam hal kompetisi ini membahas bahwa brand-brand dengan belanja iklan yang besar, terutama brand multinasional, dapat membunuh brand-brand lokal. Brand lokal ini tidak memiliki kekuatan modal yang sebesar brand multinasional. Sehingga mereka tidak memiliki kekuatan untuk berperang melalui iklan dan komunikasi pemasaran. Modal yang mereka miliki akan lebih banyak digunakan untuk misalnya pengembangan produk, inovasi, pengembangan SDM, dan lain-lain. Karena brand lokal jarang berpromosi, akhirnya konsumen tidak aware akan kehadiran mereka dan pada akhirnya mereka akan kalah bersaing hingga menutup usahanya. Ditambah dengan situasi jika kompetisi semakin sedikit, otomatis harga akan naik.

2. Membeli Di Luar Kemampuan. Perdebatan ini mirip dengan debat penciptaan permintaan. Ada beberapa audiens secara demografi yang biasa disasar dalam komunikasi pemasaran; masyarakat urban, suburban dan rural. Masyarakat urban adalah kebanyakan kelas menengah yang tinggal di kota.

Ada juga perdebatan terkait dengan politik. Politik akan menentukan berbagai peraturan perundangan di suatu daerah atau negara, termasuk peraturan dalam beriklan. Lalu, di samping itu, iklan juga banyak dimanfaatkan oleh partai politik ataupun kegiatan-kegiatan yang berbau politik. Terutama dalam pemilihan kepala daerah atau kepala negara, iklan menjadi salah satu ujung tombak bagi para pemain di bidang politik. Iklan dalam aktivitas politik berfungsi kurang lebih sama dengan iklan komersial produk atau jasa yaitu untuk memperkenalkan sosok, partai atau kandidat kepala daerah kepada khalayak luas. Setelah sosok tersebut dikenal, iklan juga dapat digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan program-program dari politisi atau partai politik tersebut. 

Perdebatan iklan dalam dunia politik tidak jauh dari tayangan-tayangan iklan yang menyerang lawan. Kampanye negatif ini sering terjadi dalam kehidupan politik di mana pun. Perdebatan yang berlangsung di antaranya adalah:

1. Apakah kampanye negatif itu akan lebih diingat oleh masyarakat atau audiens?

2. Apakah kampanye negatif memengaruhi pemilih?

3. Atau apakah ia justru menggiring audiens ke penyesatan informasi?

4. Apakah kampanye negatif ini malah membuat pemilih tidak tertarik untuk berpartisipasi?

REFERENSI:

1. Frith, Katherine Toland., and Barbara Mueller. 2003. Advertising and Societies: Global Issues. New York: Peter Lang Publishing, Inc.

2. Moriarty, Sandra., Nancy Mitchell and William Wells. 2009. Advertising: Principles & Practice, 8th Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.