Skenario-kan Organisasi

Instagram_marketeers_46296166_757398227935528_1913820210781825934_n
IG Marketeers

Perencanaan skenario dapat dilakukan dalam bidang apa saja dan untuk tujuan apa pun. Woody Wade dalam bukunya Scenario Planning dan di salah satu workshopnya pun pernah mengatakan hal demikian. Bahkan di websitenya, ia spesifik menulis tentang skenario untuk sumber daya manusia.

Asumsi saya, quote di atas adalah penggunaan perencanaan skenario, terutama di Indonesia, lebih banyak digunakan dengan tujuan untuk pertumbuhan bisnis yang tidak menyentuh isu sumber daya manusianya. Padahal dengan pendekatan skenario, organisasi dapat melihat gambaran tentang masa depan dari sisi yang mungkin belum pernah terpikirkan. Sehingga memungkinkan organisasi untuk merencanakan masa depannya dengan lebih siap.

Advertisements

Distribusi Produk Intelijen dalam #SiklusIntelijen

627717aaf24cf0763bf7b1b3494255ba
pic: quotemaster.org

Setelah melalui beberapa tahap, sampai kita di tahap akhir. Tahapan akhir dalam siklus intelijen adalah Dissemination (Penyebaran).

Proses diskusi antara produsen intelijen dan konsumen intelijen di saat penyebaran atau pendistribusian produk intelijen terjadi real time karena user kini sudah sangat terpapar dengan informasi begitu cepat. Informasi dari internet yang bisa dapat langsung diakses melalui telepon atau perangkat genggam atau pun dari bentuk media lain. Komunikasi antara user dan intelijen pun sekarang juga semakin terbuka dan cepat. Proses diseminasi menjadi lebih praktis karena dapat dilakukan secara remote, tanpa harus melakukan pertemuan khusus.

Dengan demikian tantangan intelijen untuk memberikan layanan kepada user menjadi semakin berat. Analis intelijen harus dapat menghasilkan suatu produk intelijen yang tidak hanya tepat, cepat tetapi juga mempunya nilai lebih untuk dapat meyakinkan para pembuat kebijakan. Nilai lebih sebagai pembeda antara produk intelijen dengan kebisingan informasi lainnya yang mungkin sudah diketahui oleh pengguna intelijen. Dituntut kreativitas dan kecermatan analis dalam mengolah serta mengkomunikasikan sumber informasi agar produk yang dihasilkannya dapat bersaing dengan informasi-informasi di luar sana, terutama dari media-media internet, terutama informasi yang menyesatkan.

Mengenal pribadi dan gaya kepemimpinan dari user juga penting. Apakah ia suka membaca panjang atau tulisan pendek? Apakah ia seorang yang peduli dengan detail? Apakah ia punya banyak waktu untuk diskusi? Jika kita cukup kenal dengan karakternya, akan lebih memudahkan mempresentasikan produk intelijen sekalipun di era information overload ini. Sehingga akan muncul semangat untuk berkolaborasi antara user dan intelijen, seperti yang disampaikan Wirtz. Bekerjasama untuk tujuan yang sama.

Analisis adalah Koentji dalam #SiklusIntelijen

Analysis-b

pic: skyway media

Analisis adalah langkah ketiga. Langkah sebelumnya dapat dibaca di sini. Analisis dalam intelijen adalah pokok dari suatu produk intelijen. Tanpanya, produk intelijen hanya akan merupakan sebuah catatan mengenai data-data tentang suatu tempat. Analisis yang membuat produk intelijen memiliki nilai lebih dibanding dengan informasi lain, seperti informasi dari media-media misalnya.

Esensi dari analisis intelijen adalah harus memiliki kedalaman informasi dan pengetahuan akan suatu subjek masalah. Sedangkan tujuan dari analisis, adalah mendapatkan informasi sejelas-jelasnya dengan cara meneliti informasi yang didapat sehingga dapat bermanfaat bagi user dalam mengambil keputusan. Analisis yang baik mampu memberi pengaruh positif dalam output dari keputusan. Baik itu untuk kepentingan dalam atau luar negeri. Produk dari analisis intelijen terdiri dari berbagai bentuk:

  • Current Intelligence
  • Estimative Intelligence
  • Basic Intelligence
  • Warning Intelligence:
  • Intelligence for Operational Support
  • Scientific and Technical Intelligence

Peran analis adalah menganalisis informasi yang sudah dikumpulkan dan diproses untuk melahirkan produk intelijen. Dengan tersedianya data yang sudah diproses, seharusnya akan memudahkan analis dalam memroduksi produk intelijen. Kata kuncinya adalah ‘tersedianya data’. Data yang ia terima dalam era informasi seperti sekarang ini bisa sangat banyak. Selain mendapatkan data yang sudah terproses, ia juga mungkin akan terpapar dengan info dari luar yang belum terproses. Ia bisa terpapar dari mana saja. Saat menonton TV, dengar radio atau sesederhana, sedang buka e-mail atau internet.

Hal ini dapat membuat hilangnya fokus analis dari data-data yang sudah terproses tadi. Fokus hilang, dan akan membuang waktu jika harus mengulang proses.

Kecepatan informasi ini di lain sisi juga menuntut analis untuk bekerja cepat. Dengan bekerja cepat berarti mengorbankan analisis detail. Dengan kata lain, mengorbankan keakuratan dari suatu produk intelijen. Padahal, para petinggi negara membutuhkan suatu analisis intelijen yang strategis maupun laporan intelijen tentang isu terkini.

Intelijen strategis memerlukan waktu lebih lama untuk dihasilkan, sementara karena intelijen merupakan bagian dari suatu pemerintahan, maka pembuat kebijakan menginginkan produk intelijen yang dapat mendukung kebijakan-kebijakan politiknya.

Informasi di era ini tapi juga membawa sisi positif. Antara lain, komunikasi akan jauh lebih cepat dan real time antara user dan intelijen. Sehingga seharusnya tidak ada lagi tembok birokrasi yang menghalangi untuk bekerja lebih efisien.

Tahap Processing dalam #SiklusIntelijen

brain
Pic: shutterstock

Melanjutkan sharing minggu lalu tentang siklus intelijen, minggu ini lanjut ke tahap berikutnya, yaitu: Processing.

Sebelum data dan info yang didapat dari sumber-sumber intelijen sampai kepada analis untuk dianalisis, data-data mentah tersebut diproses terlebih dulu. Misalnya, menerjemahkan data atau informasi berupa hasil sadapan atau menerjemahkan gambar yang didapat dari satelit.

Tantangan di era informasi seperti sekarang ini, terutama pada tahap processing adalah informasi yang overload.  Membuat teknisi data harus dapat memilah data atau info mana yang layak diproses. Sehingga nantinya tidak membebani analis intelijen dalam menganalisis. Proses ini akan cenderung bergelut dengan masalah teknis.

Dengan jutaan data dan infromasi yang didapat dari berbagai sumber, bisa dipastikan informasi-informasi itu belum tentu memiliki kualitas baik. Tantangan lainnya adalah memroses data atau informasi yang setengah rusak atau materinya sudah terdistorsi dengan masalah teknis lainnya. Misalnya serperti data gambar yang tidak jelas, data audio tidak jernih, dan lain-lain.

Pengumpulan Informasi Dalam #SiklusIntelijen

Screenshot-2018-3-26 Pinterest
pic: pinterest

Melanjutkan penjelasan tentang siklus intelijen minggu lalu, sekarang kita masuk pada tahap berikutnya: Collecting (Pengumpulan Informasi) atau pulbaket (pengumpulan bahan keterangan).

Dalam pengumpulan data dan informasi, tantangan intelijen kini adalah harus cermat memilah informasi yang mengalir deras. Dengan teknologi internet, penyampaian data dan infromasi begitu cepat dapat diakses langsung ke tangan kita melalui ponsel atau perangkat lainnya.

Pada masa Perang Dingin, informasi begitu sulit didapat. Terutama untuk mengetahui informasi dari Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur atau Komunis. Mereka sangat menutup diri dari dunia luar. Kini, zaman sudah berbeda.

Jika dulu begitu sulit mendapatkan informasi, kini justru terbalik. Informasi begitu banyak bisa didapat dari berbagai sumber. Tantangan bagi analis intelijen di era sekarang adalah bagaimana tahu informasi yang akurat atau tidak.

Informasi yang begitu banyak sumbernya, baik dari media resmi, seperti surat kabar, televisi, radio, portal berita, blog, dan juga media sosial. Informasi tersebut kebanyakan merupakan informasi terpercaya, tapi banyak pula info yang kita dapat adalah hoax atau informasi palsu. Informasi yang diciptakan untuk mengelabui satu pihak. Bisa pihak kelompok atau pun negara. Apakah info tersebut bisa dimasukkan ke dalam produk intelijen? Sebagai data/info itu dapat sebagai data penunjang, tapi sebagai produk intelijen ia masih harus melalui proses terlebih dulu. Menurut Hedly, yang termasuk dalam informasi intelijen adalah informasi yang didapat dari sumber-sumber yang sangat rahasia.

Sumber-sumber tersebut bisa berasal dari manusia (human-source intelligence), lalu signals intelligence, yaitu informasi yang didapat dari penyadapan radio, radar atau alat telekomunikasi lainnya. Kemudian, imagery intelligence, yaitu informasi yang didapat dari pantauan gambar satelit atau dari pesawat. Masih ada measurement and signature intelligence, yaitu info yang didapat dari berbagai material yang bisa memberikan suatu info tentang target, bisa melalui berbagai media; seperti jejak kimiawi, frekwensi radio, jejak data komputer, dan lain-lain.

Di lain sisi, dengan banyaknya sumber informasi dalam pengumpulan data intelijen memungkinkan analis untuk melihat suatu objek intelijen dari berbagai sudut. Semakin banyak data dari sumber-sumber informasi intelijen, semakin membantu analis membuat analisa yang akurat.

Dibutuhkan teknologi untuk mengumpulkan jutaan informasi dari media termasuk media sosial. Selain teknologi juga dibutuhkan sumber daya manusia berkapabilitas untuk memilah informasi-informasi yang overload.

Planning dalam Aktivitas Intelijen

Screen Shot 2018-03-19 at 11.18.18
pic: gettyimages

Ada tiga ‘wajah’ intelijen: sebagai organisasi, informasi dan aktivitas. Dalam aktivitas , intelijen memiliki suatu proses. Proses intelijen meliputi: planning, collecting, processing, analysis, dissemination. Dalam tiap tahapan tersebut, sering kali terjadi masalah.

1. Planning (Perencanaan)
Dalam merencanakan suatu aktivitas intelijen yang akan menghasilkan produk intelijen, pihak intelijen yang diwakilkan oleh analis sudah dihadapi dengan masalah awal. Terutama dengan banyaknya informasi yang beredar di sekitar kita. Information overload. Ini membuat siapa pun merasa tahu tentang suatu isu.

User juga tidak luput dari paparan informasi yang overload tersebut. Membuat mereka merasa tahu tentang banyak hal bahkan lebih dulu dari produk intelijen yang diberikan. Sikap user ini disebut the consumer as analyst (Lowenthal, 1992), sikap yang terjadi karena pengalaman dari user yang sudah berpengalaman mendalami suatu isu. Mungkin karena ia pernah menjabat di daerah itu, menjabat sebagai kepala di departemen dengan isu terkait, dan sebagainya. Dengan informasi terutama dari media online maupun media sosial, informasi dapat dengan mudah diakses. Bahkan langsung melalui ponsel atau perangkat lain ke tangan user.

Karena user merasa sudah tahu tentang info dari suatu isu intelijen, maka dapat membuat ia tidak lagi merasa laporan intelijen itu penting. Sehingga dalam melakukan planning yang dilakukan bersama tim intelijen, ia sudah bias dengan info-info yang didapat. Kebiasan ini yang membuat hubungan antara intelijen dan user menjadi tidak seimbang. Laporan intelijen tidak lagi menjadi independen. Bertentangan dengan pendapat dari Sherman Kent yang menyatakan bahwa intelijen itu harus independen, bebas dari pengaruh politik. Jika produk intelijen sudah terpengaruh oleh pesanan politisi maka produk tersebut tidak akan mampu menghasilkan laporan intelijen yang valid dan obyektif. Kegagalan intelijen tinggal menunggu waktu jika dalam proses pertama intelijen saja sudah terjadi kesalahan.

Kritik intelijen yang mengkaji tentang peristiwa 9/11, menyatakan bahwa penyerangan teroris itu berasal dari gagalnya intelijen yang tidak bisa memprediksi kejadian tersebut. Kegagalan yang bersumber dari pengaruh politik ke dalam intelijen. Kebijakan pemerintah saat itu yang hanya ingin melihat laporan intelijen jangka pendek dan tidak menghiraukan laporan strategis jangka panjang tentang kekuatan dan ancaman teroris Al Qaeda.

Nantikan artikel penjelasan tahap berikutnya minggu depan.

Coutinho dan Angsa Hitam

Rumor FC Barcelona akan segera menggaet Philippe Coutinho dari Liverpool FC terus muncul di bulan Agustus 2017. Rumor ini sudah muncul sekitar dua musim lalu, 2015/16. Jadi bukan hal baru sebenarnya. Sejauh ini LFC tidak menjualnya di harga berapa pun. Meski kabarnya agen Cou sudah sepakat dengan tawaran dari Barca. Coutinho sendiri sampai tulisan ini diposting, kabarnya masih setia dengan LFC.

Pertanyaannya adalah, jika Coutinho jadi pergi ke Barca, apakah kasus ini adalah ‘angsa hitam’ bagi LFC sebagai klub? Angsa hitam atau black swan adalah istilah yang sering digunakan di kajian manajemen, future studies dan juga kajian intelijen. Ia menggambarkan situasi yang awalnya hampir tidak terlihat tapi pada saat ia tiba-tiba muncul akan membuat akibat atau impact yang masif. Contohnya, tsunami Aceh dan teknologi musik digital.

Tsunami Aceh jelas impactnya baik materi maupun sosial, bahkan spiritual. Begitu pula dengan musik digital. Musik yang diproduksi secara digital dan dikonsumsi secara digital, impactnya membuat tatanan bisnis musik berubah dari hulu hingga hilir.

Bagaimana mencegah itu terjadi? Singkatnya, para pemangku kepentingan perlu selalu awas dan waspada melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat merugikan ini. Bahkan kemungkinan yang pada masa ini dirasa tidak tampak.

Kembali ke pertanyaannya di atas. Coutinho bukan black swan. Kalau pun pergi ke FCB, impactnya tidak sedahsyat contoh di atas. Tidak membuat LFC misalnya pasti terdegradasi ke Championship, liga dua Inggris. Tidak juga membuat LFC pasti bangkrut dan gulung tikar. Bahkan, tidak membuat LFC pasti kehilangan peluang menjuarai satu atau lebih kompetisi yang diikuti di musim 2017/18. No one is bigger than the club.

Yang lebih jadi pertanyaan besar adalah apa yang sudah dilakukan oleh John Henry dan FSG sebagai pemilik LFC beserta manajemennya? Mengingat kasus Cou ke Barca bukan black swan karena rumor ini sudah tercium dari dua musim lalu.