Temukan Potensi Seperti Kroasia

ivan-perisic-france-croatia-world-cup-final-15072018jpg_vklkbeeit9aa1lu0afbg2stdb
goal.com

Viva Hrvatska!

Kroasia berpenduduk total 4.154.200 juta jiwa menurut Wikipedia. Mengapa Kroasia bisa masuk final Piala Dunia tapi Indonesia yang berpenduduk sekitar 60 kali lipatnya tidak bisa lolos, bahkan dari grup Asia Tenggara?

Jelas persoalannya bukan pada jumlah penduduk, tapi potensi penduduk di masing-masing negara. Mungkin Kroasia dengan jumlah penduduk yang kecil tapi mereka memiliki masyarakat dengan bakat, mengutip Howard Gardner, intelijensia kinestetik yang tinggi. Lebih spesifik lagi, intelijensia kinestetik dalam bermain sepak bola. Sementara Indonesia tidak. Jangan pesimis dulu, mungkin intelijensia masyarakat Indonesia ada di bidang lain. Silakan dicek teori multiple intelligence-nya Howard Gardner, ada apa saja intelijensia dalam diri manusia dan tiap manusia masing-masing memiliki intelijensia yang dominan.

Kemampuan masing-masing manusia berbeda, dan bisa jadi kemampuan suatu bangsa, yang merupakan kumpulan manusia, pun berbeda. Cina, negara yang sekarang menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia dan juga prestasi atlet di banyak cabang olahraga begitu membuat iri, baru sekali main di Piala Dunia, tahun 2002 di Jepang-Korsel. Itu pun tidak pernah menang di grup. Setelah itu belum pernah lagi masuk Piala Dunia. Padahal mereka sudah mencoba membangun liganya dengan uang yang tidak sedikit. Mungkin satu saat nanti mereka bisa masuk Piala Dunia lagi, tapi masuk final seperti Kroasia? Saya kok gak yakin. Di nomor olahraga lain, mereka boleh berjaya, tapi di sepak bola sepertinya tidak. Bagaimana dengan Indonesia? Mari dicari potensi bangsa ini.

Advertisements

Sila Yatim Piatu

pancasila

1 Juni. Hari lahir Pancasila. Semua ingat. Tentunya ingat juga sila-sila dalam Pancasila.

Dari kelima sila Pancasila, sila kelima adalah tujuan. Meraih keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah cita-cita bangsa ini. Sayangnya, keadilan masih jauh dari harapan.

Sila kelima, menurut Buya Syafii Maarif adalah sila yatim piatu. Ya, seorang yatim piatu artinya tidak ada orang tuanya. Tidak ada sosok untuk menjaga, menemani, dan melindunginya. Ia hidup sendiri. Syukur kalau ada yang mau mengasuhnya sementara, tapi kalau tidak ada artinya dia harus hidup sendirian. Rawan untuk disakiti, diserang dan dimanipulasi. Terbukti saat ini si yatim piatu sering kali dicederai oleh mereka yang bahkan mengaku Pancasilais. Memang dalam kenyataannya keadilan masih jauh dari keinginan Pancasila.

Sekarang di era pascakebenaran, orang yang berpikir, atau paling tidak mencoba berpikir adil, sering kali dituduh macam-macam. Bisa dituduh radikal, dituduh pro itu atau anti anu. Bahkan dituduh tidak dalam golongan #SayaPancasila. Ironis.

Memang sulit menjadi sila yatim piatu tanpa orang tua sebagai pelindung. Siapa kira-kira yang ingin menjadi ‘orang tua’ si yatim piatu ini?

Selamat hari lahir Pancasila.

Don’t Judge

True-friends-dont-judge-each-other

Mahasiswa ini badannya tinggi besar, gerak geriknya seperti orang grogi, cara bicaranya canggung, suaranya pun lucu, agak melengking.

Tiba gilirannya untuk presentasi.

Meski dengan gaya bicara dan suaranya yang lucu, ia dapat menjelaskan dengan jelas. Jauh lebih jelas dibanding dengan siswa lain yang tampaknya percaya diri dan ‘normal’.

Ia terdengar fasih dalam bahasa Inggris. Terutama pada saat ia menjelaskan kutipan-kutipan yang diambilnya dari majalah Forbes versi bahasa Inggris.

Pesan Ramadan: Jaga mata dan hati. Don’t judge.

20 Tahun 12 Mei

20 tahun lalu ke kampus A Trisakti. Ada kuliah pagi jam 8. Mata kuliah perbaikan nilai sebelum lulus, meski nggak baik juga nilai akhirnya. Ternyata, nggak ada dosen.

Kampus tenang dan sepi. Calm before the storm. Pulang, karena itu tadi, sepi masih pagi.

Sampai rumah, memantau via IRC. Iya, internet relay chat. Anak digital lama. Banget. Memantau situasi yang beberapa hari terakhir makin ‘panas’. Di ruang2 IRC pun ‘panas’. Jauh lebih panas dibanding media2 masa itu. Netizen emang udah berangasan dan liar dari zaman dulu untuk melawan rezim.

Siang, lalu sore, terjadilah.

Sempet posting di salah satu ruang IRC: aparat keparat. Mungkin terinspirasi Arian 13 (Seringai) bikin aparatmati? Atau sebaliknya? Entahlah. Lupa.

Tapi saya nggak akan pernah lupa #20TahunTragediTrisakti.

(Katanya) Musik Telah Mati

IMG_20180328_202341

Semalam datang ke sebuah acara musik. Setelah sekian lama tidak pernah datang ke acara atau festival musik lokal.

Ekspektasi rendah. Tidak berharap apa pun. Tidak berharap menyaksikan band sehebat Pink Floyd. Tidak ada ekspektasi sama sekali. Nol. Zero. Perasaan datar memasuki gerbang venue.

Setelah di dalam venue, hall di bilangan SCBD, sudah hampir penuh. Tidak padat sekali, tapi hampir penuh. Bagian tepat depan panggung, sudah full. Tinggal tersisa bagian yang jauh dari panggung. Di sana lah berkumpul orang-orang tua, orang brand sebagai yang ‘punya’ acara, SPG dan orang EO, serta media pastinya. Ya, tua, karena sebagian yang datang adalah anak muda. 35 ke bawah. Mungkin malah 30 tahun ke bawah. Di atas usia itu, ya kalian tua. Termasuk saya.

Acara malam itu diisi oleh penampilan dari Tatlo, Danilla, Fourtwnty, Stars & Rabbits, dan SRXBS. Saya pernah dengar karya mereka tapi penampilannya di panggung belum. Baru sekarang ini, kecuali Tatlo.

Acara dibuka oleh Tatlo. Bermain selama 35 menit. Dengan musiknya yang American folk terutama karena teknik banjo yang dimainkan, tampil pol. Maksimal.

Berikutnya, Danilla. Saya menduga, sebelum Danilla main, suasana akan hening, cenderung romantis. Saatnya slow dance. Genggam dan peluk pasangan. Kepala pasangan bersender di pundak. Menikmati lagu-lagu Danilla sambil saling bertatapan mesra.

Dugaan saya salah.

Dengan menyaksikan musik Danilla di panggung, yang tenang, kadang suram, kadang romantis, penonton tidak serta merta menjadi tenang. Penonton tertawa bahagia, ceria, bernyanyi bersama Danilla. Sesaat saya pikir ini konser Taylor Swift yang biasanya nan ceria. Lagu Danilla dinyanyikan bareng penonton? Aneh. Lagu-lagu yang menurut saya bukan sing-a-long song. Aneh tapi nyata dan keren sekali.

Tampil selama sekitar 45 menit, Danilla turun panggung. Naik Fourtwnty. “Oh, ini band Fana Merah Jambu,” bisik saya dalam hati.

Ekspektasi pun masih rendah. Meski saya akui sedikit berharap melihat lagi kejadian seperti saat Danilla tampil.

Fourtwnty naik panggung. Perkusi elektrik mulai dimainkan. Penonton mulai bereaksi. Satu lagu. Dua lagu. Zona Nyaman. Pecah. Fana Merah Jambu, Diam Diam Ku Bawa. Gegar.

Harapan saya terwujud. Bahkan mendapat lebih.

“Saya ada di mana? Saya ke mana selama ini? Ini apa?” Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala. Ekspektasi? Ini namanya di luar ekspektasi. Mencerahkan. Lebih dari menyenangkan. Memunculkan harapan.

Katanya, industri musik Indonesia ,bahkan dunia, mau mati. Katanya, teknologi digital mendisrupsi semua industri termasuk industri musik. Katanya, musisi siap-siap cari profesi lain. Katanya, penjualan album fisik turun, padahal menurut seorang eksekutif sebuah label lokal, penjualan fisik baik-baik saja. Katanya. Tidak perlu percaya.

Mereka yang hadir semalam jelas tidak mati. Musisi maupun penontonnya hidup. Sehat sentosa, bahagia, tertawa, gembira. Tidak ada tanda-tanda kematian di sana. Tidak ada kesedihan apalagi bendera kuning. Mereka tidak mati. Fakta.

Para mantan entitas penguasa industri musik mungkin memang hampir mati. Mereka percaya itu. Biarkan saja. Silakan gali kubur sendiri. Kalau perlu, kita siapkan sekopnya.

Musisi, band, apresiator karya musik dan mereka yang dulu dimarjinalkan tak akan pernah mati. Terus berkarya. Yakin. Insya Allah.

(Tulisan ini tayang juga GooGoo FM)

Critical Thinking 101

Argumentasi itu usaha bersifat persuasif dengan menggunakan alasan-alasan yang baik. Sering salah kaprah dengan menyamakan argumen dengan debat. Debat zaman now cenderung banyakan retorika dibanding argumennya. Retorika dan argumen saja sudah beda. Jadi, jelas, debat dan argumen itu berbeda.
 
#CriticalThinking101

Nggak Cuma Menang-Menangan!

Pas masih SD, saya cukup sering main bola di sekitar kompleks. Di sana ada lapangan rumput (bukan lapangan bola) yang cukup untuk bisa main bola. Karena bukan lapangan bola, jadi ya nggak ada gawangnya dan garis-garis batas lapangan. Kami harus tentukan sendiri batas mana lapangan yang akan dipakai. Luasnya gawang, kami batasi dengan sandal-sandal. Tanpa tiang dan mistar. Batas-batas yang kami tentukan itu sesuai kesepakatan. Kira-kira saja, seberapa panjang dan lebarnya.

Setelah selesai ngedesain lapangan, baru lah kita bermain bola. Bolanya pun biasanya bola plastik. Bola yang biasanya sudah nggak bulat sempurna setelah kami selesai main. Main bola masa itu fun banget! Ketawa-tawa, teriak-teriak bahagia. Nggak ada curang-curangan, sengaja nendang kaki lawan dan sebagainya. Kejujuran pun dijunjung tinggi. Padahal batas lapangan nggak jelas mana garisnya. Kalau bola menuju gawang agak tinggi, karena nggak ada tiang dan mistar, kita nggak tahu kira-kira gol atau tidak. Yang ada adalah kejujuran dan keikhlasan kita saja, apakah itu gol atau tidak karena bola melayang ketinggian. Kalo bola mengenai sandal, artinya bola itu sama saja dengan kena tiang gawang.

idgen

Itu yang saya rasakan pas nonton tim ID Gen Uni Papua tanding lawan PS TNI beberapa waktu lalu. Memang ini hanya pertandingan persahabatan, tapi para pemain sangat nunjukkin sportivitas yang tinggi. Tim ID Gen Uni Papua memang dibentuk untuk menjunjung tinggi sportivitas. Prinsip yang diajarkan di sana, tanding bola bukan cuma menang kalah tapi lebih dari itu. Ada respek dan menghargai lawan. Bukan sekadar menang-menangan, jago-jagoan atau hebat-hebatan. Mirip dengan suasana main bola pas kita masih kecil. Fun dan respek nggak cuma ke tim sendiri tapi juga tim lawan. Keren ya seandainya karakter-karakter pemain di Indonesia seperti hasil didikan tim Uni Papua FC.

Coba deh simak testimoni dari anggota tim ID Gen Uni Papua FC: https://youtu.be/Gp20-i-lQDc