Coutinho dan Angsa Hitam

Rumor FC Barcelona akan segera menggaet Philippe Coutinho dari Liverpool FC terus muncul di bulan Agustus 2017. Rumor ini sudah muncul sekitar dua musim lalu, 2015/16. Jadi bukan hal baru sebenarnya. Sejauh ini LFC tidak menjualnya di harga berapa pun. Meski kabarnya agen Cou sudah sepakat dengan tawaran dari Barca. Coutinho sendiri sampai tulisan ini diposting, kabarnya masih setia dengan LFC.

Pertanyaannya adalah, jika Coutinho jadi pergi ke Barca, apakah kasus ini adalah ‘angsa hitam’ bagi LFC sebagai klub? Angsa hitam atau black swan adalah istilah yang sering digunakan di kajian manajemen, future studies dan juga kajian intelijen. Ia menggambarkan situasi yang awalnya hampir tidak terlihat tapi pada saat ia tiba-tiba muncul akan membuat akibat atau impact yang masif. Contohnya, tsunami Aceh dan teknologi musik digital.

Tsunami Aceh jelas impactnya baik materi maupun sosial, bahkan spiritual. Begitu pula dengan musik digital. Musik yang diproduksi secara digital dan dikonsumsi secara digital, impactnya membuat tatanan bisnis musik berubah dari hulu hingga hilir.

Bagaimana mencegah itu terjadi? Singkatnya, para pemangku kepentingan perlu selalu awas dan waspada melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat merugikan ini. Bahkan kemungkinan yang pada masa ini dirasa tidak tampak.

Kembali ke pertanyaannya di atas. Coutinho bukan black swan. Kalau pun pergi ke FCB, impactnya tidak sedahsyat contoh di atas. Tidak membuat LFC misalnya pasti terdegradasi ke Championship, liga dua Inggris. Tidak juga membuat LFC pasti bangkrut dan gulung tikar. Bahkan, tidak membuat LFC pasti kehilangan peluang menjuarai satu atau lebih kompetisi yang diikuti di musim 2017/18. No one is bigger than the club.

Yang lebih jadi pertanyaan besar adalah apa yang sudah dilakukan oleh John Henry dan FSG sebagai pemilik LFC beserta manajemennya? Mengingat kasus Cou ke Barca bukan black swan karena rumor ini sudah tercium dari dua musim lalu.

 

 

Yang Beda di Singapura

Pic: thebestsingapore.com
Mencari sesuatu yang beda di Singapura dengan di Indonesia, terutama di Jakarta, nyaris mustahil. Hampir semua yang ada di Singapura, pasti ada di Jakarta. Tempat-tempat wisata tentu saja beda antara Jakarta dan Singapura. Yang dimaksud di sini adalah barang untuk dibawa ke Jakarta. 

Dulu, banyak yang bisa kita bawa dari sana. Belum banyak brand-brand asing yang masuk ke Jakarta, tapi sekarang? Mau produk restoran cepat saji hingga ritel fashion besar, hampir semua sudah ada di sini. Hingga hampir tidak ada lagi produk atau brand yang istimewa dapat kita bawa dari Singapura.

Terlebih lagi sekarang makin banyak pedagang online. Produk dari brand paling jarang pun kini bisa dicari via toko-toko online. Nggak perlu lagi jauh-jauh ke Singapura.

Lalu, selain theme park, museum dan konser, apa yang bisa kita bawa dari Singapura? Buku impor, buku keluaran publisher luar negeri. Meski di Jakarta banyak juga toko buku, tapi untuk buku impor, ritel buku di sini, sangat terbatas koleksinya. Kita bisa dapatkan buku impor mungkin via belanja online di tempat semacam Amazon.com. Atau kalau beruntung, ada penjual yang ingin jual buku tersebut di toko-toko online.

Toko buku Kinokuniya di Takashimaya, Orchard Road luasnya dua atau tiga kali Kinokuniya cabang mana pun di Jakarta. Kelengkapan koleksinya juga otomatis jauh lebih lengkap. Lebih lengkap artinya banyak buku keluaran baru, satu atau dua tahun lalu atau bahkan terbitan tahun 2017 ini. Ini merupakan salah satu tempat wajib didatangi kalau saya ke Singapura.

Artvertising dan model bisnis

20170619_134500
Design: Wiksy

Baru saja lihat film iklan beberapa pemenang Cannes 2017 ini. Yang menarik bagi saya adalah kampanye Anchor. Untuk pelaku kreatif copy-based, iklan-iklan ini keren banget. Copy-nya kuat, menghasilkan storytelling yang powerful. Pesannya pun jelas. Secara konsep dan eksekusi nyaris sempurna. Tidak heran kalau mereka menang penghargaan di Cannes 2017.

Iklan-iklan pemenang penghargaan seperti ini secara artistik memang indah, keren, kece, cakep, anjing, dan lain-lain. Layaknya kita menikmati suatu karya seni yang bikin kagum. Kita terpana dan dibikin geleng-geleng kepala karena indahnya karya-karya seni tersebut. Karya seni seperti lukisan, musik, arsitektur, seni kriya dan lain sebagainya.

Lalu, apakah iklan-iklan yang indah ini dapat disebut sebagai karya seni? Dulu ia bernama ‘advertising’, apakah sekarang dapat kita sebut, katakanlah, ‘artvertising’? Karya iklan atau advertising yang artsy, nyeni. Apakah itu nantinya sebagai genre baru dalam advertising atau film atau lainnya, tidak terlalu penting.

‘Artvertising’ ini tidak perlu mendapat tugas untuk ‘jualan’. Karena saya cukup yakin iklan seperti ini tidak mampu berbicara banyak untuk mendongkrak awareness, apalagi sales. Saya pun ragu ‘artvertising’ ini ditonton oleh target audience (atau bahkan tidak direncanakan untuk ada target audience?). Kesimpulannya, iklan artsy ini tidak menyelesaikan masalah komunikasi pemasaran suatu brand.

Akan ada yang berpendapat, bukannya advertising adalah bagian dari pemasaran sehingga tugasnya ‘jualan’? Sebagai bagian dari promotion mix, saya masih percaya advertising masih diperlukan, namun bukan dengan eksekusi seperti ini. Ada pendekatan lain yang objektifnya jelas untuk menyelesaikan masalah-masalah komunikasi pemasaran. Sementara, biarkanlah ‘artvertising’ ini juga punya tempat khusus di industri.

Lalu, bagaimana mungkin ‘artvertising’ dapat menghidupi biro iklan jika ia tidak membantu masalah klien? Berarti biro iklan akan kehilangan klien. Bisnisnya akan jatuh. Jawabannya adalah perlu bisnis model baru. Bisnis model yang dapat menjadi skema jalannya bisnis dengan ‘artvertising’ sebagai produknya. Bagaimana segmen dan revenue streamingnya, biaya-biaya apa saja yang akan dihadapi, value proposition seperti apa yang akan diusung, dan lain sebagainya.

Sehingga, nantinya, jika model bisnis baru untuk ‘artvertising’ terwujud, tidak ada lagi perdebatan, iklan bagus itu adalah yang menang award atau yang mampu menjawab masalah komunikasi pemasaran suatu brand. Karena masing-masing akan punya model bisnis, stakeholders, bahkan mungkin industri sendiri.

SDGs dan Industri Kreatif

Screenshot 2017-06-15 13.32.26

Enam grup besar biro iklan dunia ditambah satu biro iklan independen bergabung dalam Common Ground dan membuat Common Future Project, sebuah workshop untuk memberikan awareness kepada Gen Z tentang Sustainable Development Goals. Dari workshop ini nantinya akan lahir output yang akan dijadikan sebagai communications tool dan YouTube digunakan sebagai media tayangnya.

Pertemuan antara isu-isu SDGs dengan industri kreatif, terutama iklan, tentunya menjadi permulaan yang baik. Seperti kita tahu bahwa isu-isu SDGs adalah isu yang terjadi di banyak negara di dunia ini (silakan googling apa itu SDGs, jika belum paham). Isu-isu yang tidak ringan seperti pengentasan kemiskinan, masalah air bersih, akses kesehatan yang layak, isu gender dan lain sebagainya.

Isu ‘berat’ tersebut akan sulit dipahami oleh banyak anak muda terutama. Apalagi yang hidupnya ‘sejahtera’ tinggal di kota. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih ‘pop’, tanpa mengecilkan substansi dari isu-isu berat tersebut dan juga pemilihan media sebagai contact point yang tepat. Dengan pendekatan ‘kreatif’ dan populer harapannya Gen Z sebagai target audience akan aware dengan isu-isu SDGs dan pada akhirnya tergerak melakukan sesuatu.

Tentunya dengan materi video di YouTube saja tidak menyelesaikan semua masalah promosi dan komunikasi isu SDGs ini. Masih banyak sekali aktivitas promosi dan komunikasi yang perlu dilakukan oleh PBB, demi tercapainya misi SDGs di tahun 2030. Sehingga penting dipikirkan untuk melakukan campaign yang berkelanjutan dan tidak kehabisan nafas. 2030 masih jauh. Bagaimana pun, ini adalah permulaan yang baik.

Lalu, apakah inisiatif seperti ini sudah terpikirkan oleh biro iklan di sini? Perlu ditunggu, karena Indonesia justru salah satu negara yang terlibat banyak isu dalam SDGs.

#RupaNusantara: Bikin Gorengan Untuk Masa Depan

Buka puasa selalu ditunggu. Jika pekerjaan kita nggak selalu memungkinkan untuk berbuka di rumah, kemungkinan besar kita akan buka puasa di kantor.

Menu favorit mungkin hampr di tiap kantor adalah gorengan. Mungkin kita konsumsi gorengan di bulan puasa lebih banyak di bulan lain. Beruntunglah buat penjaja gorengan di bulan puasa. 

Di bawah ini sedikit cerita tentang seorang penjaja gorengan. Cita-citanya besar. Semoga bulan puasa ini, jadi bulan yang baik baginya.

Darto, penjaja gorengan

CC + JB

Akhir minggu ini dunia sepertinya sepi dari malaikat dan iblis. Mereka yang biasanya berpatroli di jagad, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup, 24 jam sehari, dari terciptanya kehidupan sampai akhirat nanti, kali ini tidak tampak.

Mereka mengajukan cuti sehari. Ada apa gerangan? Mereka, bersama penghuni ‘langit’ lainnya, ingin menyaksikan jamming dua vokalis terbaik yang pernah hidup di dunia. Keduanya akan manggung di sebuah taman nan indah di ‘langit’ sana. 

Chris Cornell dan Jeff Buckley. Keduanya akan menghibur semua penghuni ‘langit’ dengan keindahan suaranya. Suara dan juga bakat yang entah akan terlahir lagi atau tidak di dunia, paling tidak selama jatah hidup saya belum jatuh tempo.

Ah, senangnya. Enjoy the show, guys!