’22 Menit’: Sebuah Aktivitas Promosi

5b4c681fcce8d-ario-bayu-dalam-film-22-menit_665_374
foto: viva.co.id

Film menjadi salah satu alat promosi. Sangat mungkin. Malah film dapat menjadi alat promosi tanpa harus terlalu terasa sebagai media yang sedang memromosikan atau meyampaikan suatu pesan. Beda dengan suatu iklan yang jelas-jelas tugasnya adalah memromosikan suatu produk atau jasa. Meski ada juga film yang sangat nyata memromosikan sesuatu. Misalnya seperti film 22 Menit.

Di dalam film yang dibesut oleh Eugene Panji ini sangat terasa pesan promonya, yaitu Polri yang sebagai pelindung masyarakat terutama dalam kejadian aksi teror. Dengan mengangkat kejadian pemboman di Jalan Thamrin pada Januari 2016, film ini begitu kuat pesan untuk menyiarkan kehebatan Polri dalam insiden tersebut. Pesan yang  dalam film ini sepertinya cuma satu, yaitu: dalam waktu 22 menit, Polri dapat menumpas para pelaku pemboman di jalan Thamrin, Jakarta. Tidak ada pesan lain. Cerita dalam film ini terkesan kurang kuat selain dari narasi kehebatan Polri tadi.

Apakah salah jika film ini menjadi alat promosi kekuatan Polri? Sama sekali tidak. Seperti yang disampaikan di atas, bahwa memang sudah seharusnya dalam melakukan promosi, sosialisasi, atau advokasi di zaman now ini salah satu caranya adalah dengan menggunakan media film. Tentu pertanyaan yang tersisa adalah apakah memang film ini bertujuan untuk bercerita tentang Polri atau hanya kebetulan saja? Perlu ditanya langsung ke filmmaker-nya.

Advertisements

Mainannya Molly

4771_1515594285

Film yang inspiratif. Banget.

Bukan karena ngajarin kita judi, tapi justru akibat dari judi tersebut. Gimana parahnya kehidupan penjudi, apalagi yang sudah kecanduan. Bahaya! Itu salah satu moral dari film tentang cerita kehidupan Molly Bloom ini.

Moral cerita lain yang bisa kita petik adalah pintar-pintarlah melihat peluang. Sering kali awalnya kita nggak melihat peluang tersebut, tapi dengan sedikit kejelian dan juga keberuntungan tentunya, peluang itu dapat kita raih.

Dan, terakhir, yang tidak kalah penting, never ever say die. Jangan pernah menyerah meski apa pun yang terjadi. Seterpuruk apa pun nasib kita.

Keajaiban Itu Dekat

Menghadapi ketidaksempurnaan biasanya manusia menjalankan dua hal. Pertama, kita akan berusaha sekuat mungkin, sebisa mungkin, untuk menutupi ketidaksempurnaan itu. Kedua, ketidaksempurnaan itu membuat kita merasa butuh dikasihani, merendahkan diri sendiri. 

Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jika kita bertindak seperti yang pertama, kita sering lupa bahwa, memang kita terlahir tidak sempurna. Kita bisa bertindak terlalu kelewat batas untuk membuktikan kita sempurna sehingga malah membuat kekacauan dan ketidaknyamanan. Padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jika kita bertindak seperti yang kedua, rasa rendah diri berlebihan malah akan menjauhkan diri dari semangat memperbaiki diri. Bukannya bangkit, malah bisa makin terpuruk.

Apapun keadaan dan cara kita menghadapi ketidaksempurnaan itu, di situ selalu ada teman dan keluarga yang menemani. Mereka adalah penyempurna dari ketidaksempurnaan kita. Mereka seringkali adalah sebuah keajaiban yang sempurna. Keajaiban untuk menjadi manusia nyaris sempurna itu jangan-jangan ada dekat kita. Coba kita lihat lagi sekitar kita dengan lebih sensitif dan seksama.

Elang di Bataclan

Melihat langsung di depan mata bagaimana orang ngebunuh orang dengan amunisi, granat dan bom. Traumatis. 

Peristiwa yang menyayat moral bagi yang melihat langsung. Apalagi kalau korbannya adalah teman sendiri atau yang sudah dianggap teman. Saya pribadi nggak berani membiarkan bayangan kejadian  itu melintas di kepala. Insiden terjadi di depan mata sendiri. 

Dibutuhkan keberanian dan tekad kuat untuk keluar dari trauma itu. Nggak cuma itu, kehadiran teman juga penting. Malah sangat penting. 

Beruntung bagi kita yang selalu punya teman..

http://imdb.com/rg/an_share/title/title/tt6212934/

Hiburan untuk fans Batman


Lego belum tentu untuk anak-anak. Mungkin lebih banyak orang tuanya yang main Lego dibanding anaknya. Begitu pula film ini. Nggak beraryi film ini jadi film anak-anak meski treatmetnya pakai Lego dalam animasinya. 

Film ini lebih cocok ditonton oleh fans Batman. Fans yang mengikuti cerita Batman, paling tidak mengikuti semua filmnya, lebih oke kalau juga ngikutin komiknya. Film dari versi Adam West sampai versi Ben Affleck. 

Treatment animasi dengan menggunakan Lego mungkin hanya gimmick agar menarik untuk anak-anak, tapi saya cukup yakin nggak banyak anak yang paham film ini dari awal hingga akhir. 

Bacalah

Bacalah, kalimat-kalimat Tuhan yang ada di dalam Al Quran. 

Bacalah, syariat-syariat alam yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Air itu benda cair, mengalir ke tempat yang lebih rendah. Jantung berdetak dari sejak manusia lahir hingga nanti ia dipanggil Tuhan. Itu syariat Tuhan. 

Bacalah, kalimat dan syariat yang ada di dalam tubuh, pikiran dan jiwa kita. 

Bacalah, dengan menyebut nama Tuhan Maha Pencipta.

Filmnya oke. Anak-anak happy. Terganggu dengan audionya. Tipikal kebanyakan film lokal, sering take audio for granted.