The Manics Love LFC

manicslfcLagu ‘cinta’ untuk Liverpool, terutama Liverpool FC dari Manic Street Preachers. Single baru dari The Manics yang bertemakan perjuangan gerakan Justice For The 96. Gerakan yang memperjuangkan nama baik dan martabat 96 orang fans sepak bola yang tewas di peristiwa Hillsborough.

Rezim penguasa lokal saat itu menuduh fans berbuat ulah sehingga terjadi bencana yaitu runtuhnya salah satu tribun di stadion Hillsborough ketika pertandingan FA Cup antara LFC dan Nottingham Forest tahun 1989. Intinya, penguasa, termasuk polisi, tidak mau disalahkan atas kejadian itu, malah menuduh fans, termasuk 96 nyawa sebagai yang bertanggung jawab.

Perjuangan memulihkan nama baik itu berlangsung sampai tahun 2016 yang setelah melalui proses hukum, juri memutuskan bahwa 96 korban adalah unlawfully killed. Artinya, bukan fans yang bertanggung jawab atas tragedi itu, tapi pihak stadion, polisi, dan lainnya.

#JFT96

Advertisements

(Katanya) Musik Telah Mati

IMG_20180328_202341

Semalam datang ke sebuah acara musik. Setelah sekian lama tidak pernah datang ke acara atau festival musik lokal.

Ekspektasi rendah. Tidak berharap apa pun. Tidak berharap menyaksikan band sehebat Pink Floyd. Tidak ada ekspektasi sama sekali. Nol. Zero. Perasaan datar memasuki gerbang venue.

Setelah di dalam venue, hall di bilangan SCBD, sudah hampir penuh. Tidak padat sekali, tapi hampir penuh. Bagian tepat depan panggung, sudah full. Tinggal tersisa bagian yang jauh dari panggung. Di sana lah berkumpul orang-orang tua, orang brand sebagai yang ‘punya’ acara, SPG dan orang EO, serta media pastinya. Ya, tua, karena sebagian yang datang adalah anak muda. 35 ke bawah. Mungkin malah 30 tahun ke bawah. Di atas usia itu, ya kalian tua. Termasuk saya.

Acara malam itu diisi oleh penampilan dari Tatlo, Danilla, Fourtwnty, Stars & Rabbits, dan SRXBS. Saya pernah dengar karya mereka tapi penampilannya di panggung belum. Baru sekarang ini, kecuali Tatlo.

Acara dibuka oleh Tatlo. Bermain selama 35 menit. Dengan musiknya yang American folk terutama karena teknik banjo yang dimainkan, tampil pol. Maksimal.

Berikutnya, Danilla. Saya menduga, sebelum Danilla main, suasana akan hening, cenderung romantis. Saatnya slow dance. Genggam dan peluk pasangan. Kepala pasangan bersender di pundak. Menikmati lagu-lagu Danilla sambil saling bertatapan mesra.

Dugaan saya salah.

Dengan menyaksikan musik Danilla di panggung, yang tenang, kadang suram, kadang romantis, penonton tidak serta merta menjadi tenang. Penonton tertawa bahagia, ceria, bernyanyi bersama Danilla. Sesaat saya pikir ini konser Taylor Swift yang biasanya nan ceria. Lagu Danilla dinyanyikan bareng penonton? Aneh. Lagu-lagu yang menurut saya bukan sing-a-long song. Aneh tapi nyata dan keren sekali.

Tampil selama sekitar 45 menit, Danilla turun panggung. Naik Fourtwnty. “Oh, ini band Fana Merah Jambu,” bisik saya dalam hati.

Ekspektasi pun masih rendah. Meski saya akui sedikit berharap melihat lagi kejadian seperti saat Danilla tampil.

Fourtwnty naik panggung. Perkusi elektrik mulai dimainkan. Penonton mulai bereaksi. Satu lagu. Dua lagu. Zona Nyaman. Pecah. Fana Merah Jambu, Diam Diam Ku Bawa. Gegar.

Harapan saya terwujud. Bahkan mendapat lebih.

“Saya ada di mana? Saya ke mana selama ini? Ini apa?” Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala. Ekspektasi? Ini namanya di luar ekspektasi. Mencerahkan. Lebih dari menyenangkan. Memunculkan harapan.

Katanya, industri musik Indonesia ,bahkan dunia, mau mati. Katanya, teknologi digital mendisrupsi semua industri termasuk industri musik. Katanya, musisi siap-siap cari profesi lain. Katanya, penjualan album fisik turun, padahal menurut seorang eksekutif sebuah label lokal, penjualan fisik baik-baik saja. Katanya. Tidak perlu percaya.

Mereka yang hadir semalam jelas tidak mati. Musisi maupun penontonnya hidup. Sehat sentosa, bahagia, tertawa, gembira. Tidak ada tanda-tanda kematian di sana. Tidak ada kesedihan apalagi bendera kuning. Mereka tidak mati. Fakta.

Para mantan entitas penguasa industri musik mungkin memang hampir mati. Mereka percaya itu. Biarkan saja. Silakan gali kubur sendiri. Kalau perlu, kita siapkan sekopnya.

Musisi, band, apresiator karya musik dan mereka yang dulu dimarjinalkan tak akan pernah mati. Terus berkarya. Yakin. Insya Allah.

(Tulisan ini tayang juga GooGoo FM)

Candlebox Belum ‘Hilang’

header-disappearinginairports-candlebox-albumart-copy-750x400
Pic: nationalrockreview.com

Candlebox masih hidup. Candlebox, satu band dari Seattle. Besar karena arus ‘Seattle sound’ pada tahun 90-an. Mereka masih aktif sampai sekarang. Bahkan tahun 2016 merilis album studio berjudul ‘Disappearing In Airports.’

Saya baru dengar album ini, jujur saja. Ternyata, keren. Memang nggak terlalu menggebu-gebu seperti album awal. Bagi saya, album kedua mereka, ‘Lucy’ adalah album paling ‘keras’. Paling ‘marah’ ala band-band alternatif saat itu.

Album studio keenam miik Kevin Martin dan kawan-kawan ini dibuka dengan lagu manis ‘Only Because of You’. Jangan tertipu dengan ketenangan lagu pembuka album ini. Bukan berarti satu album punya karakter tenang juga. Lagu-lagu berikutnya mulai membawa kita ke warna Candlebox yang selama ini kita kenal, bluesy dengan lengkingan vokal nan powerful dari Kevin Martin. Memang di album ini personil orisinal Candlebox tinggal Kevin Martin, tapi spirit di album-album awal mereka masih sangat kental terasa.

Candlebox jelas belum ‘hilang’. Kevin Martin masih tegar di depan mikrofon menyuarakan apa yang dirasakan dengan lantang. Meski kenangan pahit tentang musisi-musisi asal Seattle yang sudah ‘manggung di langit’ terus terbayang. Stay alive, Candlebox. Stay alive, Kevin Martin.

Vokalis Baru, ‘Rasa’ STP

website_bg_v19-1080x675
stp.com

Stone Temple Pilots (STP) rilis album baru. Vokalisnya juga baru. Jeff Gutt. Ia terdengar sangat mirip dengan Scott Weiland. Kalau tidak tahu Weiland sudah wafat, kita akan menyangka ia adalah pemilik suara di album ini. Gutt terdengar seperti versi seorang Weiland yang sehat, segar dan bertenaga.

Susah memang untuk tidak membandingkan keduanya. Sosok Weiland dan STP sendiri yang sudah begitu mendunia membuat kita sebagai fans cenderung mengambil jarak untuk menerima Gutt. Buat saya, Gutt is da man. Seorang yang pas mengganti suara Weiland untuk membawakan karya-karya STP.

Lagu-lagu di album ini masih sangat STP, baik dari sound dan aransemen. Kita mungkin kehilangan Weiland. Tapi rasanya kita tetap bisa menikmati STP seperti dulu. Rasanya tetap sama. Kehilangan Weiland tidak membuat Bob, Dean dan Eric mengubah musiknya. Justru sepertinya Gutt yang mengikuti resep penciptaan karya versi STP.

Enjoy the album yang sudah rilis tanggal 16 Maret 2018. Silakan cek platform-platform streaming langganan Anda.

#12Album: Achtung Baby – U2

achtungbaby_albumphoto1_640
Pic: U2.com

Baru konsen dan fokus dengerin sebuah band bernama U2 dimulai di album ini. Sebelum album ini, paling cuma denger lagu-lagu hits mereka seperti With Or Without You yang diakhir 80-an menjadi lagu fenomenal. Di tengah kepungan hair metal band,  U2 tampil gila dengan musik yang beda, baik aransemen dan produksinya, di album Joshua Tree.

Sempat tertarik untuk tahu lebih dalam tentang U2 di era album Joshua Tree dan Rattle And Hum, tapi ternyata belum cukup niat untuk ngulik. Baru pas album Achtung Baby,  berhasil tergerak. Asumsi gue, karena itu adalah pas SMA di sekolah yang benar-benar mendukung kemerdekaan berkespresi dan toleransi, termasuk dalam hal selera musik. Gak ada selera dominan di dalam komunitas sekolah tersebut. Rock mungkin bisa dibilang dominan, tapi semua cabang dan ranting dari musik rock bisa diterima. Ditambah, kami berada di usia yang sedang mencari, mengeksplorasi, dan bereksperimen tentang banyak hal termasuk selera musik.

Ada teman berkomentar pas gue denger album ini, kok selera musik gue berubah jadi aneh? Komentar itu memicu gue untuk terus mencari musik ‘aneh’ dan belajar mengapresiasi musik dan keanehan apa pun.

(Achtung Baby dan U2 dibilang aneh? Aneh!) :))

Elang di Bataclan

Melihat langsung di depan mata bagaimana orang ngebunuh orang dengan amunisi, granat dan bom. Traumatis. 

Peristiwa yang menyayat moral bagi yang melihat langsung. Apalagi kalau korbannya adalah teman sendiri atau yang sudah dianggap teman. Saya pribadi nggak berani membiarkan bayangan kejadian  itu melintas di kepala. Insiden terjadi di depan mata sendiri. 

Dibutuhkan keberanian dan tekad kuat untuk keluar dari trauma itu. Nggak cuma itu, kehadiran teman juga penting. Malah sangat penting. 

Beruntung bagi kita yang selalu punya teman..

http://imdb.com/rg/an_share/title/title/tt6212934/

#12Album – Resesi

Chrisye_-_resesiAlbum Resesi dari Chrisye ini adalah album rock asal Indonesia. Itu menurut gue. Album rock pertama yang gue denger. Mungkin ada yang nggak setuju kalau album ini adalah album rock, nggak masalah.

Kenapa buat gue ini adalah album rock? Dari lirik, lagu-lagu di dalam album ini banyak yang bertemakan ‘pemberontakan’, rebellious. Bukankah suatu lagu yang digenrekan dalam genre rock harus berisi lirik berontak? Nggak sekadar lengkingan suara vokal ataupun raungan distorsi gitar listrik?

Berontak nggak melulu melawan status quo atau beda pandangan dengan penguasa, baik penguasa secara politik, ekonomi maupun sosial. Menarasikan suatu kenyataan yang mengganggu kehidupan masyarakat atau kelompok itu sudah bisa dikatakan berontak. Menurut gue, itu dapat dikategorikan sebagai karakter berontak. Karakter sebuah komposisi rock. Bob Dylan sering atau hampir selalu mengambil pendekatan seperti ini. ‘Berteriak’ untuk berontak dengan liriknya tanpa harus berteriak.

Dari judulnya saja, album ini sudah sangat rock, sangat berontak. Berontak akan suatu kondisi yang dirasakan masyarakat saat itu. Belum lagi lirik dalam lagu seperti Lenny, Resesi, Money, Anak Manusia, Polusi Udara. Album ini sangat rock. Paling nggak buat gue yang denger album ini pas umur sekitar 10 tahun. Rasanya, ini album Chrisye satu-satunya yang paling dekat dengan karakter suatu album rock.