The Manics Love LFC

manicslfcLagu ‘cinta’ untuk Liverpool, terutama Liverpool FC dari Manic Street Preachers. Single baru dari The Manics yang bertemakan perjuangan gerakan Justice For The 96. Gerakan yang memperjuangkan nama baik dan martabat 96 orang fans sepak bola yang tewas di peristiwa Hillsborough.

Rezim penguasa lokal saat itu menuduh fans berbuat ulah sehingga terjadi bencana yaitu runtuhnya salah satu tribun di stadion Hillsborough ketika pertandingan FA Cup antara LFC dan Nottingham Forest tahun 1989. Intinya, penguasa, termasuk polisi, tidak mau disalahkan atas kejadian itu, malah menuduh fans, termasuk 96 nyawa sebagai yang bertanggung jawab.

Perjuangan memulihkan nama baik itu berlangsung sampai tahun 2016 yang setelah melalui proses hukum, juri memutuskan bahwa 96 korban adalah unlawfully killed. Artinya, bukan fans yang bertanggung jawab atas tragedi itu, tapi pihak stadion, polisi, dan lainnya.

#JFT96

Advertisements

Tahap Processing dalam #SiklusIntelijen

brain
Pic: shutterstock

Melanjutkan sharing minggu lalu tentang siklus intelijen, minggu ini lanjut ke tahap berikutnya, yaitu: Processing.

Sebelum data dan info yang didapat dari sumber-sumber intelijen sampai kepada analis untuk dianalisis, data-data mentah tersebut diproses terlebih dulu. Misalnya, menerjemahkan data atau informasi berupa hasil sadapan atau menerjemahkan gambar yang didapat dari satelit.

Tantangan di era informasi seperti sekarang ini, terutama pada tahap processing adalah informasi yang overload.  Membuat teknisi data harus dapat memilah data atau info mana yang layak diproses. Sehingga nantinya tidak membebani analis intelijen dalam menganalisis. Proses ini akan cenderung bergelut dengan masalah teknis.

Dengan jutaan data dan infromasi yang didapat dari berbagai sumber, bisa dipastikan informasi-informasi itu belum tentu memiliki kualitas baik. Tantangan lainnya adalah memroses data atau informasi yang setengah rusak atau materinya sudah terdistorsi dengan masalah teknis lainnya. Misalnya serperti data gambar yang tidak jelas, data audio tidak jernih, dan lain-lain.

(Katanya) Musik Telah Mati

IMG_20180328_202341

Semalam datang ke sebuah acara musik. Setelah sekian lama tidak pernah datang ke acara atau festival musik lokal.

Ekspektasi rendah. Tidak berharap apa pun. Tidak berharap menyaksikan band sehebat Pink Floyd. Tidak ada ekspektasi sama sekali. Nol. Zero. Perasaan datar memasuki gerbang venue.

Setelah di dalam venue, hall di bilangan SCBD, sudah hampir penuh. Tidak padat sekali, tapi hampir penuh. Bagian tepat depan panggung, sudah full. Tinggal tersisa bagian yang jauh dari panggung. Di sana lah berkumpul orang-orang tua, orang brand sebagai yang ‘punya’ acara, SPG dan orang EO, serta media pastinya. Ya, tua, karena sebagian yang datang adalah anak muda. 35 ke bawah. Mungkin malah 30 tahun ke bawah. Di atas usia itu, ya kalian tua. Termasuk saya.

Acara malam itu diisi oleh penampilan dari Tatlo, Danilla, Fourtwnty, Stars & Rabbits, dan SRXBS. Saya pernah dengar karya mereka tapi penampilannya di panggung belum. Baru sekarang ini, kecuali Tatlo.

Acara dibuka oleh Tatlo. Bermain selama 35 menit. Dengan musiknya yang American folk terutama karena teknik banjo yang dimainkan, tampil pol. Maksimal.

Berikutnya, Danilla. Saya menduga, sebelum Danilla main, suasana akan hening, cenderung romantis. Saatnya slow dance. Genggam dan peluk pasangan. Kepala pasangan bersender di pundak. Menikmati lagu-lagu Danilla sambil saling bertatapan mesra.

Dugaan saya salah.

Dengan menyaksikan musik Danilla di panggung, yang tenang, kadang suram, kadang romantis, penonton tidak serta merta menjadi tenang. Penonton tertawa bahagia, ceria, bernyanyi bersama Danilla. Sesaat saya pikir ini konser Taylor Swift yang biasanya nan ceria. Lagu Danilla dinyanyikan bareng penonton? Aneh. Lagu-lagu yang menurut saya bukan sing-a-long song. Aneh tapi nyata dan keren sekali.

Tampil selama sekitar 45 menit, Danilla turun panggung. Naik Fourtwnty. “Oh, ini band Fana Merah Jambu,” bisik saya dalam hati.

Ekspektasi pun masih rendah. Meski saya akui sedikit berharap melihat lagi kejadian seperti saat Danilla tampil.

Fourtwnty naik panggung. Perkusi elektrik mulai dimainkan. Penonton mulai bereaksi. Satu lagu. Dua lagu. Zona Nyaman. Pecah. Fana Merah Jambu, Diam Diam Ku Bawa. Gegar.

Harapan saya terwujud. Bahkan mendapat lebih.

“Saya ada di mana? Saya ke mana selama ini? Ini apa?” Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala. Ekspektasi? Ini namanya di luar ekspektasi. Mencerahkan. Lebih dari menyenangkan. Memunculkan harapan.

Katanya, industri musik Indonesia ,bahkan dunia, mau mati. Katanya, teknologi digital mendisrupsi semua industri termasuk industri musik. Katanya, musisi siap-siap cari profesi lain. Katanya, penjualan album fisik turun, padahal menurut seorang eksekutif sebuah label lokal, penjualan fisik baik-baik saja. Katanya. Tidak perlu percaya.

Mereka yang hadir semalam jelas tidak mati. Musisi maupun penontonnya hidup. Sehat sentosa, bahagia, tertawa, gembira. Tidak ada tanda-tanda kematian di sana. Tidak ada kesedihan apalagi bendera kuning. Mereka tidak mati. Fakta.

Para mantan entitas penguasa industri musik mungkin memang hampir mati. Mereka percaya itu. Biarkan saja. Silakan gali kubur sendiri. Kalau perlu, kita siapkan sekopnya.

Musisi, band, apresiator karya musik dan mereka yang dulu dimarjinalkan tak akan pernah mati. Terus berkarya. Yakin. Insya Allah.

(Tulisan ini tayang juga GooGoo FM)

Wiro Sableng di Kampus

IMG_20180328_114628(1)

Promosi wajib dilakukan siapapun. Produk, jasa bahkan sebuah karya. Film, misalnya. Cara promosi pun bisa bermacam-macam.

Jika mengikuti model klasik 4P dalam marketing, salah satu P adalah ‘promotion‘. Promotion tersebut memiliki bauran sendiri: promotion mix. Promotion mix klasik adalah aktivitas iklan, public relations, direct marketing, personal selling dan sales promotion. Meskipun sekarang ada beberapa aktivitas yang bisa ditambahkan dalam bauran itu, misalnya: event marketing, sponsorship, social media marketing, dan lainnya.

Kembali ke film. Sebagai karya kreatif layak ditunggu sebuah promosi film yang juga kreatif. Wiro Sableng, sebuah film yang akan rilis pada tahun 2018 melakukan aktivitas promosinya di kampus. Di lobi gedung A, kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tiba-tiba muncul banyak poster Wiro Sableng. Pameran poster tepatnya. Terdapat 25 karya poster yang dipamerkan.

Aktivitas ini tentu menarik mahasiswa terutama jurusan Desain atau pun mahasiswa keseluruhan. Pameran ini membuat Wiro Sableng mendapat tempat di mahasiswa. Cerita Wiro Sableng lebih dikenal oleh angkatan yang lebih tua dari mahasiswa sekarang. Angkatan para dosen mereka, mungkin lebih tua lagi.

Dengan pameran poster yang karya-karyanya keren itu makin mendekatkan Wiro Sableng dengan sasaran usia muda. Pendekatan promosi yang sesuai konteks dan paham sasaran seperti ini hasilnya akan positif. Nggak percaya? Mari kita tunggu sampai saat film ini rilis.

Pengumpulan Informasi Dalam #SiklusIntelijen

Screenshot-2018-3-26 Pinterest
pic: pinterest

Melanjutkan penjelasan tentang siklus intelijen minggu lalu, sekarang kita masuk pada tahap berikutnya: Collecting (Pengumpulan Informasi) atau pulbaket (pengumpulan bahan keterangan).

Dalam pengumpulan data dan informasi, tantangan intelijen kini adalah harus cermat memilah informasi yang mengalir deras. Dengan teknologi internet, penyampaian data dan infromasi begitu cepat dapat diakses langsung ke tangan kita melalui ponsel atau perangkat lainnya.

Pada masa Perang Dingin, informasi begitu sulit didapat. Terutama untuk mengetahui informasi dari Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur atau Komunis. Mereka sangat menutup diri dari dunia luar. Kini, zaman sudah berbeda.

Jika dulu begitu sulit mendapatkan informasi, kini justru terbalik. Informasi begitu banyak bisa didapat dari berbagai sumber. Tantangan bagi analis intelijen di era sekarang adalah bagaimana tahu informasi yang akurat atau tidak.

Informasi yang begitu banyak sumbernya, baik dari media resmi, seperti surat kabar, televisi, radio, portal berita, blog, dan juga media sosial. Informasi tersebut kebanyakan merupakan informasi terpercaya, tapi banyak pula info yang kita dapat adalah hoax atau informasi palsu. Informasi yang diciptakan untuk mengelabui satu pihak. Bisa pihak kelompok atau pun negara. Apakah info tersebut bisa dimasukkan ke dalam produk intelijen? Sebagai data/info itu dapat sebagai data penunjang, tapi sebagai produk intelijen ia masih harus melalui proses terlebih dulu. Menurut Hedly, yang termasuk dalam informasi intelijen adalah informasi yang didapat dari sumber-sumber yang sangat rahasia.

Sumber-sumber tersebut bisa berasal dari manusia (human-source intelligence), lalu signals intelligence, yaitu informasi yang didapat dari penyadapan radio, radar atau alat telekomunikasi lainnya. Kemudian, imagery intelligence, yaitu informasi yang didapat dari pantauan gambar satelit atau dari pesawat. Masih ada measurement and signature intelligence, yaitu info yang didapat dari berbagai material yang bisa memberikan suatu info tentang target, bisa melalui berbagai media; seperti jejak kimiawi, frekwensi radio, jejak data komputer, dan lain-lain.

Di lain sisi, dengan banyaknya sumber informasi dalam pengumpulan data intelijen memungkinkan analis untuk melihat suatu objek intelijen dari berbagai sudut. Semakin banyak data dari sumber-sumber informasi intelijen, semakin membantu analis membuat analisa yang akurat.

Dibutuhkan teknologi untuk mengumpulkan jutaan informasi dari media termasuk media sosial. Selain teknologi juga dibutuhkan sumber daya manusia berkapabilitas untuk memilah informasi-informasi yang overload.

Candlebox Belum ‘Hilang’

header-disappearinginairports-candlebox-albumart-copy-750x400
Pic: nationalrockreview.com

Candlebox masih hidup. Candlebox, satu band dari Seattle. Besar karena arus ‘Seattle sound’ pada tahun 90-an. Mereka masih aktif sampai sekarang. Bahkan tahun 2016 merilis album studio berjudul ‘Disappearing In Airports.’

Saya baru dengar album ini, jujur saja. Ternyata, keren. Memang nggak terlalu menggebu-gebu seperti album awal. Bagi saya, album kedua mereka, ‘Lucy’ adalah album paling ‘keras’. Paling ‘marah’ ala band-band alternatif saat itu.

Album studio keenam miik Kevin Martin dan kawan-kawan ini dibuka dengan lagu manis ‘Only Because of You’. Jangan tertipu dengan ketenangan lagu pembuka album ini. Bukan berarti satu album punya karakter tenang juga. Lagu-lagu berikutnya mulai membawa kita ke warna Candlebox yang selama ini kita kenal, bluesy dengan lengkingan vokal nan powerful dari Kevin Martin. Memang di album ini personil orisinal Candlebox tinggal Kevin Martin, tapi spirit di album-album awal mereka masih sangat kental terasa.

Candlebox jelas belum ‘hilang’. Kevin Martin masih tegar di depan mikrofon menyuarakan apa yang dirasakan dengan lantang. Meski kenangan pahit tentang musisi-musisi asal Seattle yang sudah ‘manggung di langit’ terus terbayang. Stay alive, Candlebox. Stay alive, Kevin Martin.

GO-JEK: Mengikuti atau Mengubah Perilaku?

gojek
pic: poskotanews.com

Kemarin pas mengajar mata kuliah Perilaku Konsumen, ada mahasiswa yang bertanya. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini: apakah Go-Jek mengikuti perilaku masyarakat, khususnya Jakarta sehingga ia berani membuat bisnis seperti sekarang ATAU Go-Jek justru mengubah perilaku konsumen terutama pengguna transportasi umum di Jakarta?

‘Mengikuti perilaku’ artinya Go-Jek melihat adanya perilaku konsumen yang semakin hari semakin lelah berkendara di Jakarta dengan kemacetannya. Mereka segan membawa kendaraan pribadi tapi juga tidak tertarik untuk menggunakan moda transportasi umum dengan berbagai alasannya. Melihat perilaku seperti itu, akhirnya Go-Jek melihat peluang untuk membantu masyarakat dalam menghadapi masalah kemacetan dengan membuat aplikasi yang menghubungkan konsumen dan juru ojek.

‘Mengubah perilaku’ maksudnya adalah Go-Jek layaknya Julius Cesar: veni, vidi, vici. Datang, lihat, dan menguasai. Go-Jek dengan aplikasinya datang di tengah masyarakat, ternyata disukai dan memberi solusi, hingga sekarang menjadi perusahaan papan atas. Ia mengubah perilaku konsumen pengguna transportasi di Jakarta dan kota-kota besar. Mereka tidak lagi tergantung dengan kendaraan pribadi atau pun moda transportasi umum yang belum sempurna secara infrastruktur dan lainnya.

Jadi, Go-Jek yang mana?

Dalam kelas, kami berdiskusi dan sampai pada kesimpulan bahwa Go-Jek adalah keduanya. Awalnya, Go-Jek melihat adanya perilaku konsumen yang begitu membutuhkan alternatif kendaraan untuk beraktivitas di Jakarta. Lalu, lahirlah aplikasi Go-Jek sebagai solusi transportasi. Seiring berjalannya waktu, Go-Jek menambah layanannya, hingga itu semua mengubah perilaku konsumen dalam banyak hal. Selain mengubah perilaku dalam berkendara tapi juga dalam hal delivery makanan, barang dan berbagai jasa.