Seperti apa PSSI di tahun 2025?

l-Soccer-cat

oleh Arindra Karamoy & Andhika Prakasa

Bermain di Piala Dunia adalah mimpi semua pemain sepakbola. Menyaksikan tim nasional sepakbola negaranya adalah kebanggaan bagi setiap warga negara tersebut.

Bermain di Piala Dunia bukanlah hal yang mudah. Persaingan antar negara begitu ketat. Dibutuhkan suatu industri sepakbola yang sehat untuk menciptakan kompetisi berkualitas di segala kelompok umur. Kompetisi yang pada akhirnya melahirkan pemain-pemain berkelas. Tim nasional suatu negara pun akan terbantu jika kompetisi dalam negara itu berjalan dengan baik dan mempunyai pemain-pemain berkelas yang lahir dari kompetisi lokal. Tim nasional akan diisi oleh pemain-pemain berkualitas tinggi dan mampu bersaing.

Sepakbola di Indonesia adalah olahraga yang paling digandrungi oleh sebagian besar warga Indonesia. Potensi pemain – pemain berbakat sepakbola Indonesia juga sangat besar terbukti dengan Timnas Indonesia U-19 menjuarai Piala AFF U-19 yang digelar di Indonesia pada September 2013. Prestasi lainnya adalah Tim Nasional U-12 AQUADNC meraih posisi ke–7 pada kejuaraan yang diselenggarakan oleh Aqua di Brazil, diikuti timnas oleh 32 tim dari berbagai belahan dunia seperti Jepang, Brazil, Jerman dll. Dalam kejuaraan ini Tim Indonesia berhasil menyabet peringkat 7 setelah mengalahkan Meksiko dengan skor 1-0 berkat gol tunggal dari Saiful.1

Potensi yang besar selama ini tidak dikelola dengan baik oleh PSSI yang ada. Untuk gelar tim senior atau timnas U-23 indonesia terakhir kali mendapatkan posisi tertingginya pada kejuaraan se-ASEAN adalah hanya pada SEA Games 1991 yang sudah dihelat 23 tahun lalu. Publik rindu timnas Indonesia berjaya di kancah Internasional setidaknya pada kawasan Asia tenggara dulu, lalu bertahap ke tahap Asia kemudian Dunia.

Skenario terbaik

Skenario terbaik yang dapat terjadi pada PSSI pada tahun 2025, setahun sebelum Piala Dunia ke 23 berlangsung, jika melihat pada dua faktor, yaitu keterlibatan pemerintah yang maksimal dan keberanian PSSI sebagai organisasi untuk berinovasi.

Pada tahun 2025, PSSI dapat menjadi organisasi yang berbeda dibanding dengan sebelumnya. Revolusi yang terjadi di tubuh organisasi membawa perubahan besar. Masalah-masalah klasik yang sering terjadi di dalam sepakbola Indonesia makin berkurang.

Kompetisi berjalan secara berkelanjutan dari kompetisi junior hingga kompetisi profesional sehingga lahir pemain-pemain berkualitas yang menjadi tim nasional Indonesia disegani di Asia, terutama pada saat penyisihan Piala Dunia zona Asia Pasific. Di kompetisi Liga Indonesia, semakin banyak pemain-pemain bintang dari seluruh dunia, terutama dari negara-negara utama di Asia Pasifik. Dengan lancarnya kompetisi, semakin banyak sponsor yang berminat untuk ikut dalam industri sepakbola.

Meskipun FIFA terpaksa mencekal segala kegiatan timnas untuk berlaga di turnamen internasional akibat dari intervensi pemerintah, tapi itu justru membuat pemangku kepentingan PSSI fokus untuk melakukan revolusi dan inovasi. Pencekalan terjadi pada tahun 2016 hingga 2020.

Inovasi PSSI yang bermentalkan revolusi ini didukung penuh oleh pemerintah sehingga PSSI memiliki kekuatan hukum dan wewenang untuk melakukan apa saja demi memajukan persepakbolaan nasional. Perubahan di berbagai aspek organisasi dan pembangunan sepakbola yang akhirnya kini membawa menjadi suatu industri. Pemerintah melakukan banyak kebijakan terhadap revolusi PSSI ini.

Pertama-tama, pada tahun 2015, pemerintah menyiapkan tim independen yang akan bertindak sebagai pengawas sekaligus auditor dalam bidang keuangan, transparansi rekrutmen pelatih, wasit, keuangan klub-klub, baik klub dari divisi terendah hingga klub yang akan bermain di liga utama. Hasilnya, perombakan total di dalam tubuh PSSI, dari pengurus pusat hingga pengurus di daerah. Jelas banyak protes dari berbagai pihak yang berkepentingan. Banyak tuntutan dan ‘perang’ di media antara pemerintah dan rezim lama PSSI.

Setelah melakukan perombakan total di dalam tubuh PSSI, pemerintah mulai melakukan reformasi di dalam PSSI. Pemilihan orang-orang yang akan menjadi pengurus dilakukan secara akuntabel dan transparan berdasarkan kapabilitas inti. Pemilihan dilakukan oleh lembaga rekrutmen yang independen. Setelah berhasil menentukan pengurus, PSSI dan pemerintah duduk bareng untuk menentukan langkah-langkah strategis jangka panjang maupun taktis.

Prestasi di kawasan Asia Tenggara bukanlah mimpi lagi. Timnas Garuda sudah berhasil menjadi macan Asia Tenggara. Turnamen AFF ataupun SEA Games sudah menjadi langganan prestasi timnas. Tidak ada lagi negara ASEAN yang mampu menandingi timnas Garuda.

Pelatihan yang sudah canggih dengan mengadopsi sports science, termasuk ilmu psikologi dan manajemen, menghasilkan tim manajemen timnas dari tahun ke tahun mumpuni dan modern. Masalah cedera berkelanjutan dari seorang pemain ataupun masalah psikis dapat diselesaikan dengan baik.

Pada penyisihan PD 2026, Indonesia berhasil bersaing dengan ketat dalam grup. Persaingan paling ketat adalah dari negara-negara seperti Korsel, Iran serta Australia. China, yang mengalami resesi ekonomi di negaranya, membuat mereka tidak mampu berkompetisi karena fokus pada masalah dalam negerinya.

Prediksi seperti ilustrasi di atas tentu tidaklah mudah namun bukan berarti mustahil. Tekad dari semua pihak untuk memajukan sepakbola Indonesia begitu dibutuhkan. Terutama keterlibatan dan keseriusan PSSI dan juga pemerintah. Karena mati atau tidaknya persepakbolaan sangat tergantung dari kedua entitas tersebut.

Advertisements

Intelijen dan Naiknya Harga BBM

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya intelijen dengan kenaikan harga BBM? Dalam Undang Undang nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara pasal 6 tertulis tentang fungsi intelijen. Salah satu fungsinya adalah ‘penggalangan’. Di dalam pasal 6 ayat 3 itu tertulis bahwa penggalangan terdiri atas serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk memengaruhi sasaran agar menguntungkan kepentingan dan keamanan nasional. Kata kuncinya di dalam definisi dari ayat tersebut adalah ‘memengaruhi’. ‘Sasaran’ dalam konteks tulisan ini adalah masyarakat Indonesia pada umumnya.

Karena intelijen negara adalah bagian dari pemerintah, maka mendukung kebijakan pemerintah memang sudah menjadi kewajiban. Mendukung di sini tentunya harus sesuai dengan fungsinya yang diatur dalam Undang Undang.

Di luar berbagai pendapat yang pro dan kontra terhadap isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang diumumkan oleh presiden Joko Widodo pada tanggal 17 November 2014 lalu , salah satu fungsi intelijen negara yaitu penggalangan, sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah berkenaan dengan kepentingan nasional. Kepentingan nasional dalam hal ini, secara singkat, adalah untuk mendistribusikan subsidi agar lebih tepat sasaran.

Secara umum di banyak negara, intelijen negara, yang di negara ini dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Negara atau BIN, adalah agensi atau lembaga negara dengan klien tunggal, produsen dengan ‘langganan’ hanya satu konsumen, yaitu presiden. Sehingga presiden berhak meminta intelijen negara untuk membantu melakukan salah satu fungsinya ini untuk menggalang pengaruh di masyarakat.

Menurut AM Hendropriyono (Filsafat Intelijen), ada dua jenis penggalangan, yaitu penggalangan keras dan cerdas. Untuk kenaikan BBM yang resmi naik per tanggal 18 November 2014  ini perlu digunakan penggalangan cerdas menggunakan pendekatan yang lebih psikologis, dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk menyadarkan dan memengaruhi rakyat akan pentingnya kenaikan BBM ini demi kepentingan nasional di masa depan.

Jika zaman dulu kerap kali kita mendengar bahwa fungsi penggalangan ini disalahgunakan oleh pemerintah Orde Baru untuk memaksa masyarakat menuruti kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Memaksa dengan segala cara, dari cara yang wajar hingga cara kekerasan. Kini, zaman telah berubah. Intelijen negara tidak dapat lepas dari keterikatan sumpah dan Undang Undang yang dapat menghukum personel intelijen negara yang melanggar. Setiap orang yang dirugikan dalam pelaksanaan fungsi intelijen juga dapat mengajukan permohonan rehabilitasi, kompensasi dan restitusi seperti yang tertulis dalam pasal 15 UU 17/2011. Pelaksanaan fungsi intelijen yang profesional dan sesuai dengan Undang Undang seharusnya sudah dapat diterapkan sesuai jalurnya.

Selain itu, filosofi dari eksistensi intelijen ialah untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Intelijen negara juga berperan untuk mengamankan dan menyukseskan kebijakan dari pemerintah. Jadi sebenarnya sudah sangat wajar jika pemertintah untuk memaksimalkan kerja intelijen dalam mendukung kebijakan kenaikan BBM ini.

Kegiatan intelijen kebanyakan dilakukan dengan melakukan kegiatan rahasia, yang tidak terlihat oleh masyarakat. Sehingga kegiatan penggalangan ini juga kemungkinan tidak mudah terbaca oleh masyarakat. Mungkin kegiatan kampanye penggalangan dalam mendukung naiknya BBM ini sudah dilakukan oleh pemerintah dan intelijen. Atau mungkin juga belum maksimal, karena sekarang hanya berselang satu hari dari harga baru BBM berlaku (tulisan ini ditulis pada tanggal 19 November 2014). Harapannya tentu agar kegiatan penggalangan ini, jika ada, dilakukan demi tujuan masa depan yang lebih baik untuk menyejahterakan bangsa dan memajukan negara ini. Tidak lagi disalahgunakan seperti masa lalu.

Fungsi Intelijen Dalam Antisipasi Persaingan Tiongkok Vs AS

Persaingan Tiongkok dengan Amerika Serikat diperkirakan akan terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Persaingan di berbagai bidang dari politik, ekonomi, sosial budaya, dan juga pertahanan serta teknologi. Tiongkok adalah kekuatan baru yang semakin diperhitungkan. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia selama beberapa tahun, hingga penambahan kekuatan militernya secara nyata, Tiongkok mulai dipandang sebagai satu-satunya negara yang paling berpeluang menggusur Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia di masa mendatang. Analisis tersebut memang masih jauh dari realitas. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri lagi bahwa pengaruh Tiongkok terhadap masyarakat internasional memang menguat dari waktu ke waktu. Dalam sejarah peradaban modern, posisi Tiongkok dalam kancah internasional belum pernah sekuat pada beberapa tahun belakangan ini dan masih akan menguat lagi dalam masa lima tahun mendatang.[1]

Dilihat dari persaingan kedua negara raksasa tersebut alangkah bijaksana jika Indonesia mulai berbenah diri. Bersiap untuk mengantisipasi di segala bidangyang diprediksi dapat menjadi ajang pertempuran kedua negara tersebut. Bersiap bisa dalam arti menghindar dari keterlibatan keduanya atau bersiap untuk mengambil keuntungan dari persaingan itu.

Salah satu cara untuk memrediksi ancaman agar kita siap adalah dengan memaksimalkan kerja intelijen negara. Dalam esai ini, akan dibahas peran intelijen untuk mengantisipasi persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat di masa yang akan datang.

Fungsi intelijen menurut Undang-undang 17 tahun 2011 adalah menjalankan fungsi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan. Fungsi-fungsi ini akan dijabarkan satu per satu sesuai dengan perkiraan yang mungkin terjadi akibat dari persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Penyelidikan

Sesuai Undang-undang nomor 17 pasal 6ayat 2, Penyelidikan terdiri atas serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencari, menemukan, mengumpulkan, dan mengolah informasi menjadi Intelijen, serta menyajikannya sebagai bahan masukan untuk perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan. Pengumpulan dan pengolahan informasi terjadi disini. Artinya, intelijen akan bekerja mencari tahu apa yang sedang atau akan dilakukan oleh Tiongkok dan Amerika Serikat di berbagai bidang. Ini dilakukan untuk mengetahui dan mengantisipasi jika kebijakan dari kedua negara tersebut dapat merugikan kepentingan dan keamanan nasional Indonesia.

Misalnya saja dalam bidang teknologi pertahananyang dimiliki kedua negara adidaya tersebut dalam mencuri informasi dari negara lain. Militer Tiongkok yang menggunakan doktrin ‘Local War Under Informationized Conditions’ didasarkan pada arsitektur berjejaring lengkap untuk mengoordinasikan operasi di darat, udara, laut dan luar angkasa melalui spektrum elektromagnetik. Doktrin ini juga punya tujuan untuk mengendalikan jalur informasi musuh agar kekuatan Tiongkok tetap dominan pada saat perang.Caranya adalah dengan mengembangkan ‘eksploitasi jaringan komputer komprehensif’ agar terjadi blind spotsdijaringan sistem informasi lawan yang dapat dieksploitasi oleh Tiongkok.[2]

Sementara Amerika Serikat meski anggaran pertahanannya akan diturunkan, tapi secara teknologi pertahanan mereka masih yang terdepan. Pengembangan pesawat-pesawat nir awak atau drone yang semakin canggih. Tidak hanya dapat mencuri citra visual tapi juga dapat melakukan penyerangan dan pemboman. Bahkan sekarang tidak hanya pesawat nir awak, tapi AS sudah siap dengan kapal laut nir awak yang siap mengawal kapal besar.[3]

Penyelidikan tentang teknologi-teknologi seperti ini yang perlu diagendakan oleh intelijen Indonesia dalam melakukan penyelidikan. Apakah teknologi tersebut dapat mengancam keamanan nasional jika peralatan militer canggih itu dipakai di sekitar perbatasan atau bahkan sudah masuk ke dalam wilayah Indonesia? Bagaimanakah cara menghadapinya? Hal-hal demikian yang penting diketahui untuk mengantisipasi persaingan jika terjadi hal yang terburuk.

Pengamanan

Pengamanan sebagaimana dimaksud pada Undang-undang nomor 17, pasal 6 ayat 3 taun 2011 adalah terdiri atas serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencegah dan/atau melawan upaya, pekerjaan, kegiatan Intelijen, dan/atau Pihak Lawanyang merugikan kepentingan dan keamanan nasional. Artinya, pengamanan adalah tindakan bertahan dari serangan ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri.

Baru-baru ini AS mencabutembargo senjata ke Vietnam.[4]Pencabutan itu dilakukan untuk menyiapkan penjagaan di sekitar Laut Cina Selatan. Tiongkok sudah aktif unjuk gigi di laut utara Indonesia itu sejak beberapa tahun lalu. Mereka ingin mengklaim daerah lautan yang lebih luas untuk masuk ke dalam teritori negaranya.

Di pihak AS sendirijuga tidak hanya berdiam diri. “US pivot to Asia” diungkapkan oleh Presiden AS, Barack Obama, yang artinya AS tidak main-main dengan kepentingannya di Asia. Bantuan AS dalam rangka meningkatkan maritime domain awareness Indonesia lewat Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) dan juga latihan-latihan militer Indonesia-Amerika Serikat tentunya sangat diperhatikan oleh Tiongkok. Hal ini seolah-olah menjadi persaingan ketika Tiongkok dalam Komite Kerjasama Maritim menawarkan kerjasama pembangunan satelit keamanan laut Indonesia-Tiongkok, pertukaran informasi dalam keselamatan pelayaran, lingkungan laut dan keamanan maritim termasuk dalam pelatihan operator VTS (vessel traffic service).[5]

Baik AS dan Tiongkok sangat melihat pentingnya Indonesia untuk menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Hal ini terutama karena Indonesia memiliki SeaLanes of Communications (SLOC), Sea Lanes of Trade (SLOT), Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadi lalu lintas impor energi dan gas Tiongkok dan AS. Kepentingan Tiongkok juga terdapat pada aspek perdagangan mereka yang merambah Afrika dan Timur Tengah. Jalur perdagangan itu pun melewati teritori maritimIndonesia.[6]

Peran intelijen dalam pengamanan teritori maritim ini menjadi sangat penting melihat fakta bahwa kedua negara ini sangat berkepentingan dalam memanfaatkan wilayah maritim Indonesia. Salah satu usulan misalnya adalah dengan menyusupkan aset intelijen di kedua negara tersebut khususnya di industri maritimnya. Tujuannya adalah untuk terus mengawasi perkembangan dari kegiatan maritim kedua negara tersebut. Jika terdapat indikasi yang dapat mengganggu kepentingan nasional, dapat segera ditangkal.

Tidak hanya penyusupan di industri maritim kedua negara, tapi juga yang lebih penting adalah penyusupan intelijen ke dalam lembaga-lembaga negara ataupun swasta lokal yang berhubungan erat dengan kemajuan industri maritim Indonesia. Pengamanan terhadap mafia-mafia yang ‘bermain’ di industri maritim juga dapat membahayakan negara. Baik yang ‘bermain mata’ dengan AS ataupun Tiongkok.

Penggalangan

Persaingan kedua negara besar itu, yang justru wajib bekerjasama dengan kita, malah dapat dimanfaatkan. Intelijen dapat lebih aktif lagi untuk menggalang kerjasama dengan intelijen kedua negara adidaya tersebut untuk membantu mengawasi dan mengamankan ancaman-ancaman nir-militer di sekitar regional AsiaTenggara-Pasifik. Ancaman nir-militer seperti pencurian sumber daya laut, human trafficking, narkoba, terorisme yang sering terjadi di kawasan ini butuh bantuan kedua negara tersebut, terutama dalam hal teknologi.

Aksi intelijen untuk memengaruhi pihak lawan, dalam hal ini AS danTiongkok, untuk ikut membantu pengamanan maritim Indonesia termasuk dalam aksi penggalangan. Penggalangan sebagaimana dimaksud terdiri atas serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dantindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk memengaruhi Sasaran agar menguntungkan kepentingan dan keamanan nasional.[7]Jadi, dibutuhkan kecerdikan pihak intelijen untuk dapat memengaruhi kedua pihak ini agar dapat menguntungkan pihak Indonesia, hubungan yang simbiosis mutualisme.

Penutup

Indonesia terletak dalam posisi geografis dan geopolitik yang sangat strategis bagi Tiongkok dan Amerika Serikat. Membuat kedua negara itu akan berusaha untuk menjaga hubungan dengan Indonesia.

Sementara, dalam banyak hal seperti politik luar negeri, ekonomi dan pertahanan, Indonesia pun berkepentingan untuk merangkul kedua negara besar tersebut untuk selalu menjadi ‘kawan’.

Salah satu cara untuk menjaga hubungan dengan kedua negara itu adalah dengan memaksimalkan kerja intelijen. Gunanya agar supaya kita dapat mengantisipasi situasi politik, ekonomi dan kepentingan lainnya di masa datang jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Kita sudah siap jika ada keadaan yang mengancam kepentingan nasional yang ditimbulkan dari persaingan AS dan Tiongkok. Intelijen yang profesional dan berdedikasi untuk kepentingan nasional lah yang dibutuhkan.

[1] Badan Intelijen Negara (BIN);Menyongsong 2014-2019Memperkuat Indonesia dalam Dunia yang Berubah (editor:Muhammad AS Hikam, Rumah Buku, Jakarta, 2014) hal. 8

[2]Badan Intelijen Negara (BIN); Menyongsong2014-2019Memperkuat Indonesia dalam Dunia yang Berubah (editor: Muhammad ASHikam, Rumah Buku, Jakarta, 2014) hal. 36

[7] Undang-undang 17, tentang Intelijen pasal 6 ayat 4, tahun 2011

Intelijen Dalam Kepentingan Nasional

Berikut adalah analisa singkat dalam menjawab pertanyaan, bagaimana kegiatan intelijen dapat mendukung pencapaian kepentingan nasional sebuah negara. Yang pertama harus dijabarkan adalah makna dari intelijen sendiri. Dalam dunia intelijen, ada tiga makna: intelijen sebagai organisasi, pengetahuan dan kegiatan.

Kegiatan intelijen adalah suatu kegiatan negara yang bersifat rahasia untuk mengetahui atau juga memengaruhi entitas asing.1 Jika di Indonesia, kegiatan intelijen melaksanakan tiga fungsi yaitu: Penyelidikan, Pengamanan dan Penggalangan.

Di dalam UU Intelijen pasal 6 ayat 2 tahun 2011 dijabarkan, bahwa Penyelidikan adalah serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencari, menemukan, mengumpulkan, dan mengolah informasi menjadi Intelijen, serta menyajikannya sebagai bahan masukan untuk perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan. Sedangkan Pengamanan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencegah dan/atau melawan upaya, pekerjaan, kegiatan Intelijen, dan/atau Pihak Lawan yang merugikan kepentingan dan keamanan nasional. Yang terakhir, Penggalangan adalah serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk memengaruhi sasaran agar menguntungkan kepentingan dan keamanan nasional.

Melalui kegiatan intelijen ini intinya adalah menangkal dan mencegah ancaman yang datang atau bahkan belum terlihat. Ancaman yang kemungkinan dapat mengancam berbagai kepentingan dan keamanan nasional, bahkan kedaulatan suatu negara.

Pada operasi perebutan Timor Timur (dahulu Timor Portugal), sebelum melakukan operasi militer, Indonesia melakukan kegiatan intelijen pada akhir tahun 19742. Kala itu Brigadir Jenderal LB Moerdani yang menjabat sebagai Asintel Dephankam memerintahkan Kapten Sutiyoso untuk masuk ke Timor Timur. Sang kapten diperintahkan untuk mencari celah supaya tentara Indonesia dapat masuk ke sana. Ia juga diperintahkan untuk melakukan kegiatan intelijen, mengadakan penyelidikan dan mengumpulkan data-data intelijen dengan menyamar sebagai mahasiswa hingga kuli angkut.

Setelah mendapat celah, Operasi Flamboyan dilaksanakan. Kopassandha (sekarang Kopassus) mengirimkan tiga tim menyusup ke Timor Timur. Setibanya di sana, tim-tim tersebut kembali melakukan operasi intelijen dengan menggalang sekitar 1500 milisi lokal untuk membantu tentara merebut Timor Timur. Hingga akhirnya operasi militer dengan sandi Operasi Seroja pun dilaksanakan dan Indonesia berhasil menduduki Timor Timur.

Apa yang dilakukan Indonesia saat itu jelas merupakan kegiatan intelijen. Tujuannya demi menjaga keamanan nasional. Karena saat itu terjadi perebutan kekuasaan dengan kekerasan antar golongan di Timor Timur setelah rezim Salazar tumbang di Portugal, negara yang menguasai Timor Timur. Perbatasan Nusa Tenggara Timur terancam jika perang saudara itu terus membesar. Ditambah lagi adanya ancaman penyebaran paham komunisme yang saat itu diusung oleh salah satu partai, Fretilin dan konon didukung oleh Uni Soviet.

Melihat keamanan nasional Indonesia yang terancam, pemerintah Indonesia saat itu melakukan kegiatan intelijen untuk mengatasinya. Kegiatan intelijen yang berakhir dengan operasi militer itu dapat menjawab bahwa kegiatan tersebut mendukung kepentingan suatu negara.

@pronkiy

  1. Warner, Michael; Wanted: A Definition of Intelligence, hal. 21
  1. Majalah Tempo; Edisi Khusus: Benny Moerdani Yang Belum Terungkap (Tempo, Oktober 2014), hal 76

Arus Informasi Modern; Panah atau Bumerang bagi Intelijen?

Oleh: Arindra Karamoy, Mohamad Ridlwan, Sartika Adithama

Badan intelijen adalah badan yang termasuk dalam struktur pemerintahan. Membuatnya ia bekerja untuk melayani rezim yang berkuasa. Budaya birokrasi Indonesia yang masih berkesan ‘terserah atasan’, membuat teori dari Sherman Kent menjadi hampir tidak relevan untuk diterapkan di Indonesia. Independensi intelijen adalah hal yang sulit dicapai, meskipun masih mungkin dilakukan. Terlebih lagi di era informasi modern ini. Sikap the consumer as analyst bisa semakin nyata. Pasti tidak semua user memiliki sikap seperti itu. Mungkin akan ada user yang meski sudah banyak tahu tentang informasi dari luar intelijen tapi tetap mau mendengar atau membaca produk intelijen.

Kecanggihan open source information ini sebenarnya bukan hal yang menakutkan untuk dunia intelijen. Justru mungkin banyak membantu pekerjaan produksi intelijen. Indonesia saat ini memiliki banyak sumber daya ahli di bidang teknologi informasi. Terbukti dengan banyaknya start-ups yang bergerak di bidang teknologi informasi. Seorang programmer perangkat lunak sekarang sedang laku baik di dalam maupun luar negeri. Akan sangat bijaksana jika dunia intelijen Indonesia berinvestasi untuk menggunakan jasa mereka agar terus update dengan teknologi terkini. Bahkan mereka dapat membantu untuk menciptakan suatu program untuk memudahkan kerja intelijen. Bisa dalam bentuk aplikasi di ponsel untuk memudahkan kerja lapangan atau perangkat lunak untuk membantu mengoleksi data intelijen.

Selain itu, perlunya perubahan mindset dengan mengubah budaya ‘memuaskan atasan’ atau ‘atasan berkuasa’. Meskipun itu bukanlah hal mudah. Butuh kesamaan niat untuk mengubahnya. Niat untuk menjadikan intelijen sebuah lembaga yang lebih independen. Dibutuhkan perubahan mindset relasi antara intelijen user. Bukan lagi relasi yang bersifat ‘atasan-bawahan’ atau ‘pemesan-supplier’ tapi sudah menuju relasi yang sifatnya kolaboratif. Bekerja sama untuk tujuan yang sama, bekerja dalam satu tim kerja.

Tantangan bagi intelijen dalam kondisi ini adalah bagaimana ia bisa menghasilkan produk intelijen yang memiliki nilai tambah. Nilai yang tidak dimiliki oleh jutaan informasi di luar sana. Oleh karena itu dibutuhkan dana, teknologi, dan sumber daya manusia berkelas di dalam badan intelijen.

Kecanggihan informasi sudah semakin terbukti kemampuannya dalam menciptakan keterbukaan masalah. Sehingga ini membantu pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut dan juga memberi peringatan kepada masyarakat luas untuk berhati-hati.

Kasus yang paling hangat sekarang adalah masuknya pedofil dari negara tetangga, pemburu anak-anak, ke Indonesia di tahun 2014. Dilaporkan sekitar 200an pedofil masuk ke Indonesia dengan difasilitasi oleh orang Indonesia sebagai event organizer. Mereka dikabarkan masuk ke dalam daerah-daerah miskin di sekitar Bali, Sumatera, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Terungkapnya wisatawan-wisatawan pedofil ini masuk ke Indonesia karena PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) mendapat laporan oleh pihak intelijen negara tetangga bahwa terdapat aliran dana masuk ke Indonesia berasal dari orang-orang yang dicurigai pedofil ini.

Dilihat dari proses intelijen, kegagalan mengantisipasi ini bisa jadi terletak pada planning. Tidak adanya political will dari pemerintah untuk melakukan penyelidikan dan pencegahan di masa depan. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia sudah sejak dua tahun lalu diendus informasi tentang pedofil negara tetangga masuk ke Indonesia. Bahkan kalau mau ditarik lebih jauh lagi, Fahey, seorang pedofil yang juga mengajar di JIS (Jakarta International School), bersembunyi di Indonesia selama kurang lebih 10 tahun. Artinya, sudah sejak lama intelijen Indonesia tidak bisa mendeteksi kehadiran seorang pedofil yang datang bahkan tinggal dan bekerja di Jakarta.

Dengan informasi yang begitu mudah sekarang ini dan juga cara komunikasi antar negara makin terbuka sekarang, seharusnya pemerintah Indonesia sudah bisa mengantisipasi. Paling tidak begitu kasus Fahey di JIS terungkap, intelijen dan pemerintah Indonesia mulai melihat apa yang sedang dan mungkin terjadi.

Era informasi bisa dengan cepat memberi peringatan kepada para stakeholders tapi di sisi lain, ia juga dapat membuka mata tentang adanya kegagalan intelijen. Harusnya ini dapat menjadi penyadaran intelijen untuk berbenah.

Di era informasi terbuka sekarang ini, informasi yang overload bisa membantu tugas intelijen sekaligus juga mengganggu proses intelijen. Di dalam tiap tahap dari proses tersebut, overload information dapat membantu dan dapat juga menjadi ancaman bagi kegagalan intelijen.

Dengan kegagalan intelijen timbul pertanyaan, perlukah intelijen direformasi, terutama di Indonesia? Reformasi yang paling utama dibutuhkan adalah political will yang kuat, selain dana, perubahan mindset, teknologi dan sumber daya manusia, untuk membangun intelijen Indonesia yang kuat dan independen. Intelijen dengan produk bernilai tambah

Kemudian, perlu meletakkan kepentingan nasional di semua aspek di atas kepentingan politik. Perlunya mental kolaboratif yang tinggi dari user dan intelijen.

Dunia sudah tidak ada batasnya. Tahun 2015 yang tinggal dalam hitungan bulan ini akan diresmikannya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara baik dari luas, sumber daya alam dan jmanusianya, negara yang termasuk perekonomiannya sedang tumbuh, sudah saatnya intelijen Indonesia menjadi yang terdepan di kawasan ini. Karena dipastikan ancaman dari pihak-pihak di luar sana yang tertarik memanfaatkan sumber daya alam dan manusia Indonesia. Ancaman yang sudah terlalu lama dibiarkan.

@pronkiy

Berburu Kaos di Singapura

Setiap ingat Singapura, selalu terbayang kapan ada kesempatan belanja kaos band alias kaos ‘metal’. Dari zaman kaos-kaos tersebut masih sulit didapat hingga sekarang sudah banyak bisa didapat di sini, godaan untuk mencari masih menghantui.

Liburan ke Singapura akhir Juli lalu saya gunakan untuk mencari lagi di mana penjual-penjual kaos itu. Saya terakhir ke Singapura kurang lebih 13 tahun lalu, sekitar tahun 2001 untuk meliput konser Robbie Williams. Yup, terlalu lama untuk nggak mampir ke Negara Singa ini.

Setelah browsing di internet kira-kira di mana toko-toko tersebut, akhirnya muncul nama Peninsula Plaza. Cek lewat peta di smartphone, ternyata tidak jauh dari tempat saya menginap. Cukup dengan jalan kaki sekitar 15 menit. 

Sesampainya di depan Peninsula Plaza, saya agak bingung. Soalnya ada dua gedung di situ, plaza yang bergabung dengan hotel Peninsula dan di seberangnya hanya pertokoan saja. Yang di seberang itu yang pertama saya masuki. 

Begitu saya masuk, saya langsung ke lantai dua dengan sok tahunya. Sama sekali nggak ketemu bentuk toko kaos. Malah ketemu toko sex toys. Penasaran sebenernya untuk masuk, tapi ya sudahlah. Nanti saja kalau emang saya mau beli sex toys, lain waktu, mungkin.

Akhirnya, saya putuskan untuk menyeberang ke gedung di seberangnya. Gedung perbelanjaan yang menyatu dengan hotel Peninsula Plaza.

Begitu masuk, dari lantai bawah sudah tercium aroma rock (nggak sih, biasa aja sebenernya). Hanya saja sudah terlihat di lantai atas dan bawah, toko-toko yang menjual kaos-kaos yang saya cari.

Saya putuskan ke lantai B1 dulu. Sekilas saya berasa seperti sedang ada di Blok M Mall. Bedanya di sini nggak ada bau asap Metro Mini. Di lantai bawah ini terlihat beberapa toko yang menjual kaos band. Selain itu, terdapat juga banyak toko yang menjual sepatu.

Setelah belanja dua kaos seharga masing-masing sekitar 20 dollaran, dan dapat diskon! Saya lanjut ke lantai 2. Di lantai itu juga ada banyak toko kaos dan sepatu. Kalau di lantai dua ini, rata-rata bahan kaosnya mirip dengan yang dijual di Jakarta. Saya kurang ngerti bahan kaos dan detil tentang kaos, asal muasal, dibikin di mana, dan lain-lain. Sedangkan kalau yang di lantai B1, kualitas kaosnya terasa lebih murah tapi lebih adem dipakai.

Saya cukup puas dengan perburuan saya kali ini. Mungkin ada tempat lain yang saya nggak tahu. Sengaja saya simpan untuk lain kali kalau datang lagi ke Singapura.

Salah satu kaos dari lantai B1
Salah satu kaos dari lantai B1

Inspirasi Rodriguez

Searching-for-sugar-man--poster

“Jangan takut untuk terus berkarya. Yang penting jujur.” Wejangan yang kerap kali didengar saat seorang musisi sedang down. Wejangan yang ‘lebay’? Ya namanya saja wejangan untuk menghibur, tentunya harus yang positif meskipun terdengar ‘lebay’.  Apa iya selalu ‘lebay’? Nyatanya tidak. Satu kata…

Rodriguez.

Tidak usah bingung kalau belum pernah dengar nama penyanyi ini. Saya pun baru dengar namanya ketika menonton film dokumenternya, Searching For Sugar Man belum lama ini.

Apa hubungannya Rodriguez dengan wejangan di atas?

Saat pertama kali didengar oleh A&R sebuah label, Rodriguez diramalkan bakal menjadi bintang besar di awal 70an. Setelah menandatangani kontrak, ia pun segera masuk studio rekaman. Dua album pun beres direkam tapi sayangnya, kedua album itu hanya terjual sedikit sekali di negaranya, Amerika Serikat.  Rodriguez pun dilepas kontraknya dari label dan ia pun berhenti jadi musisi.

Cerita belum selesai, justru itu awal dari cerita kesuksesannya.

Gagal total di kampungnya, tapi justru album-album Rodriguez itu sangat sukses di negara lain, Afrika Selatan. Di sana, ia bak Elvis atau Bob Dylan. Lagu-lagunya sesuai dengan semangat perjuangan melawan apartheid saat itu. Bisa dibilang, setiap rumah di Afsel pasti punya satu atau malah dua album Rodriguez. Sayangnya, ia tidak bisa sembarangan untuk diundang main di sana karena masalah politik dalam negeri di Afsel. Sampai suatu saat, fansnya di Afsel harus menangis karena mendengar kabar bahwa Rodruguez mati bunuh diri di atas panggung. Tragis.

Amat sangat tragis…

Untungnya cerita itu tidak benar.  Yang benar adalah Rodriguez mengundurkan diri dari dunia musik dan dikabarkan bekerja serabutan sebagai tenaga kasar konstruksi, tapi jelas fansnya di Afsel tidak tahu menahu tentang itu. Mereka hanya tahu bahwa pahlawan mereka mati bunuh diri.

Di sini wejangan itu mulai terasa punya arti yang benar, tidak berlebihan atau sekadar penghibur. Kita musisi ‘tugasnya’ adalah berkarya, sejujur-jujurnya, semampunya, selama-lamanya. Entah itu akan membawa ketenaran, kekayaan atau nama besar. Kita tidak pernah tahu implikasi dari karya kita pada orang lain. Bisa sangat besar, bisa amat sangat berarti untuk hidup mereka. Mengetahui karya kita punya arti bagi orang lain, itu yang tidak bisa dibayar oleh apa pun.