Kampanye Cerdas Jammily Indonesia

Pearl Jam Night adalah acara rutin yang dilakukan kumpulan PJId (Pearl Jam Indonesia). Mereka adalah fans berat dari band asal Seattle itu.

Untuk perhelatan PJ Night V yang akan diadakan sekitar awal Juni 2010 nanti, ada pra event campaign yang dilakukan panitia acara. Sesuai dengan tema acara Pearl Jam Night V, Do The Greenvolution, kampanye pra event itu nggak jauh dari tema lingkungan. Menariknya, mereka melakukan kampanye viral di social media (Facebook, Twitter) yang berisi pesan untuk menjaga berbagai spesies khas Indonesia agar tidak punah.

Berbagai disain digital dibuat berisi berbagai pesan anti punah tadi. Disain itu akan disebar secara viral di internet dan akan ditambah disain baru tiap hari selama 10 hari. Pada akhirnya, diharapkan pesan itu akan sampai pada orang banyak, terutama fans Pearl Jam dan  mereka akan datang ke acara Pearl Jam Night V di MU Cafe nanti.

Kampanye yang menarik dari para Jammily!

Disain hari pertama sampai 10:



Smells Like 90s – DRAMA MUSIM PANAS

Oleh Novita Kee Wee

Menit ke dua puluh dua babak perdelapan final Piala Dunia 1990 antara Jerman Barat melawan Belanda merubah pertandingan menjadi liar. Frank Rijkaard dan Rudi Voller terlibat kasus “ludah-ludahan” yang mengakibatkan kedua pemain itu diganjar kartu merah oleh wasit. Tim Oranye, tim yang sangat berbakat, sang juara Piala Eropa 1988 mungkin tidak harus pulang awal jika tidak ada peristiwa “peludahan” itu. Dan Jerman Barat – yang akhirnya merebut piala paling bergensi itu – melaju ke babak perempat final dengan skor 2 – 1.

Drama juga terjadi pada tanggal 3 Juli 1990 saat tuan rumah, Italia, menjamu juara dunia dua kali Argentina di babak semi final yang berakhir dengan adu pinalti. Country first, mungkin itulah yang dirasakan oleh si “Tangan Tuhan” Diego Maradona saat mengeksekusi tendangan pinalti ke gawang Walter Zenga di rumput yang telah diinjak selama enam tahun, Napoli – Italia. Ya, Maradona berhasil mengeksekusi dengan baik untuk negaranya yang gagal dimanfaatkan oleh Roberto Donadoni dan striker Aldo Serena. Spanduk raksasa “O Diego, kaulah dewa kami, tapi Italia adalah negara kami!” mengiringi kekalahan Italia.

Masih ingatkah kontroversi Roger Milla yang berada di Italia hanya karena permintaan presiden Kamerun Paul Biya? Juga pemain Kolombia Rene Higuita yang menonjol karena aksi dan blundernya? Serta momen di mana Chris Waddle gagal mengeksekusi pinalti dan gagal menyelamatkan tim Inggris ke grand final. Semua itu menjadi tontonan panas musim panas 1990.. saat orang melupakan sejenak drama yang hadir dalam kehidupan nyata setiap harinya. Dan mengabaikan kemunculan satu nama yang kemudian hari menjadi nama besar dalam blantika musik dunia: Mariah Carey.

(1) The Power – Snap (2) Cradle Of Love – Billy Idol (3) Hold On – En Vogue (4) Rub You The Right Way – Johnny Gil (5) She Ain’t Worth It – Glenn Medeiros feat. Bobby Brown (6) Vision Of Love – Mariah Carey (7) When I’m Back On My Feet Again – Michael Bolton (8) Girls Night Out – Tyler Collins (9) King Of Wishful Thinking – Go West (10) Hanky Panky – Madonna

10 Alasan Mengapa BACKSPACER Wajib Dicerna!

Oleh Hilman Taofani

01. ALBUM PERTAMA DALAM 3 TAHUN
Yang paling jelas, bagi semua yang suka Pearl Jam, 3 tahun adalah rentang yang cukup lama untuk dibiarkan tanpa rilisan baru. Mari kita hitung cepat! Rentang rilis Versus (1993) dari Ten (1991) hanyalah dua tahun. Sementara Vitalogy langsung rlis tak sampai setahun dari Versus (1994), disusul No Code dua tahun kemudian (1996) serta rentang yang sama untuk Yield (1998), Binaural (2000) dan Riot Act (2002). Avocado (Pearl Jam self/titled – 2006) sedikit keterlaluan karena membutuhkan empat tahun untuk rilis meski tak terasa karena fans disuguh dengan kompilasi Lost Dogs (2004) dan Rearviewmirror (2005). Maka kini giliran Backspacer sebagai album dengan rentang kedua terpanjang yang dirilis Pearl Jam. Ingat betapa segarnya menikmati apukat di album sebelumnya setelah dahaga lama?

02. FAKTOR BRENDAN O BRIEN
Mantan “the sixth member of Pearl Jam” kembali menukangi Stone Gossard dan kawan-kawan. Ini adalah Brendan yang membidani lahirnya Versus sampai Yield! Brendan pula yang bermain surf rock pada lagu “Gremmie Out of Control” (Music for Our MotherOceans 2). Brendan pula yang dianggap sebagai midas oleh banyak musisi, dari level pop sampai heavy metal. Namun dengan Pearl Jam, Brendan mempunyai pakta sendiri, buah dari hasil kerjasama dan hubungan mutual yang solid selama bertahun-tahun. Sempat disela Tchad Blake dan Adam Kasper, kini Brendan O Brien kembali. Nama Brendan adalah asosiasi positif untuk hasil rekaman Pearl Jam.

03. MATT CAMERON ODD SIGNATURE
Banyak yang mengeluhkan mengapa signature drum Matt Cameron kala bergabung bersama Soundgarden tak tampak di tiga album sebelumnya. Mungkin yang mengeluhkan hanya mendengarkan lagu Light Years dan I Am Mine saja. Padahal, bila disimak sejak Riot Act, sumbangsih Matt tak hanya di departemen perkusi, namun juga menulis lagu. Drum pattern-nya dapat dinikmati di beberapa lagu seperti Insignificance (Binaural) atau You Are (Riot Act). Oke, mungkin itu bukan “hits” yang gampang diakses di YouTube seperti halnya contoh sebelumnya. Namun di Backspacer ini, single perdana Pearl Jam, The Fixer ditulis oleh Matt Cameron dengan odd-signature-nya. Simak juga Got Some yang telah beredar mendahului Backspacer. Matt is as great as ever!

04. WICKED ARTWORK
Tom Tomorrow adalah nama pena dari seorang kartunis surat kabar. Menyusul resesi, beberapa jaringan surat kabar di Amerika tutup atau melakukan efisiensi halaman sehingga lahan kerja Tom – yang sohor dengan kartun strip “This Modern World” – menjadi menurun drastis. Vedder memberikan dukungan dengan mengirim surat awal tahun lalu kepada fans Pearl Jam. Namun langkah nyata diambil oleh Ed dan kawan-kawan dengan memberikan Tom pekerjaan prestisus yakni merancang artwork untuk Backspacer. Artwork album dan Pearl Jam adalah entitas tak terpisahkan. Dan Tom bekerja dengan sangat bagus menyajikan gambar-gambar kartun yang maknanya menjadi puzzle tersendiri untuk para fans.

05. PENUH DENGAN PESAN POSITIVISME
Era kegelapan dan depresi secara personal sudah pernah dijajal Pearl Jam dalam serial album di awal karir. Lalu kontemplasi transendental juga dicicip melalui No Code dan Yield. Materi politis dirambah pula pada 3 album sebelum Backspacer. Dan kini, di saat Amerika memiliki kepemimpinan baru yang kandidasinya mereka dukung, Pearl Jam menyebar positivisme. Pesan-pesan yang mereka tuangkan dalam beberapa lagu di Backspacer menggarisbawahi nilai-nilai positif dari humanisme seperti kerja keras, semangat saling membantu, menyambut harapan dan sebagainya. Di Amerika ini perlu karena di sana tengah dilanda resesi terburuk setelah depresi besar di tahun 1930an. Namun pesan ini tentu sangat penting juga untuk disampaikan ke seluruh dunia!


06. CONCISE, SHARP AND SHORT
Total clocking time: 36 menit! Ini adalah album Pearl Jam yang terpendek yang pernah mereka buat dari sisi waktu. Mereka kembali bermain dengan mematahkan stereotipikal dan persepsi klise mengenai kualitas lagu ditinjau dari sisi waktu. Lagu berdurasi banyak tak selalu berbanding lurus dengan kualitas. Mari kita ingat The Beatles, The Ramones dan bahkan Nirvana! Mereka bisa membuat album bagus dengan total waktu yang tak terlalu panjang. Backspacer layak dicoba, dan tak akan jenuh diputar berulang-ulang. Sambil menonton sepakbola, kita bisa 3 kali spin CD Backspacer yang tak akan membuat bosan!

07. EFEKTIVITAS MARKETING
Pearl Jam bergerak independen kali ini. Namun bukan berarti mereka tanpa effort dalam hal promosi dan pemasaran. Target, sebuah korporasi retail (semacam Matahari bila di Indonesia) digandeng sebagai partner untuk memasarkan album. Komersil? You guess! Mereka berpikir karena independen, album haruslah mudah diakses oleh seluruh kalangan. I called it brilliant! Buktinya, untuk worldwide release yang tak semua negara dijangkau Target, Pearl Jam tetap bekerjasama dengan distributor yang punya jaringan luas. Universal digaet, yang seharusnya membuat kita bersyukur karena Indonesia tetap bisa masuk dalam jaringan distribusi internasional. Masih juga berpikir komersial? How about this: Pearl Jam juga menyalurkan eksklusif konten yang berbeda untuk album Backspacer melalui jaringan toko musik independen. Mereka mendukung jejaring kecil dalam industri musik yang tentunya akan tergencet bila tetap bekerja dengan label besar. Dengan menentukan Target sebagai partner, Pearl Jam bisa tetap mengembangkan konsep pemasaran yang ideal menurut mereka, karena Target sebagai retailer barang umum tentu tak akan memandang toko-toko rekaman independen sebagai rival mereka.

08. PLATINUM!!!
Efektivitas marketing yang membuahkan hasil. Di banyak negara, termasuk Polandia, Portugal dan Australia album Backspacer membuahkan hasil platinum. Ini tentu kasus langka di era digital lantaran seperti halnya album lain, Backspacer telah bocor sekitar 15 hari sebelum tanggal rilis. Banyak yang menduga bahwa bocornya album ini sedikit diabaikan oleh Pearl Jam lantaran mereka beranggapan bahwa versi CD-nya tetap mempunyai nilai jual sendiri bagi fans musik sebenarnya. Anggapan yang makin didukung ketika gilanya mereka melepas streaming penuh album Backspacer dalam situs resmi mereka (www.pearljam.com) yang tentu bisa dengan mudah diunduh oleh banyak pihak. Dan sejauh ini, dengan raihan sales yang menggembirakan, artinya konsep Pearl Jam memang berjalan. Album fisik tetap diserbu penggemar dan mencatatkan diri dalam status penjualan bagus di seluruh dunia.

09. LEBIH BAIK DARI ALBUM LAINNYA
Ini adalah anggapan dari situs MetaCritic. MetaCritic adalah agregator kritik dari berbagai media terpandang untuk membuat suatu kesimpulan rating sebuah album. Backspacer yang rilis pada 20 September menghadapi kompetisi yang tak gampang karena harus digempur oleh band-band yang kurang lebih “sealiran”. Paramore, Black Crowes, Muse, Alice in Chains dan Phish merilis album mereka dalam bulan September, yang tentunya akan menjadi pesaing Backspacer dalam hal berebut pasar. Namun Backspacer, menurut MetaCritic, memperoleh rating yang lebih baik daripada album lain yang rilis bulan September. Backspacer meninggalkan Popular Songs (Yo La Tengo), Brand New Eyes (Paramore), Crash Love (AFI), The Boy Who Knew That Much (Mika), Before the Frost…Until the Freeze (Black Crowes), The Resistance (Muse), Black Gives Way to Blue (Alice in Chains), dan Joy (Phish) dengan review yang dikumpulkan dari media-media ternama seperti Rolling Stone, Spin, Q Magazine dan sebagainya.

10. NOMER 1 DI BILLBOARD CHART
Dan inilah bukti sahih, kulminasi dari butir-butir di atas, ketika pertama dalam 13 tahun terakhir (setelah No Code) album Pearl Jam bertengger di urutan pertama tangga lagu Billboard untuk SEMUA kategori! Mereka menggusur Jay-Z, yang notabene merupakan artis paling digemari di Amerika secara populis.

So, let’s have a Backspacing time!

Besok Bubar: Cuci Otak

Oleh Eko Prabowo

Seno Gumira Ajidarma pernah menulis sebuah buku yang judulnya sangat menggugah semangat perlawanan: Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Ketika fakta ditutup-tutupi, kesaksian dan ide harus tetap hidup dalam bentuk metafora dan simbol-simbol. Dalam seni. Dalam kata-kata, gambar, maupun lagu.

Dan disanalah Besok Bubar berdiri tegar. Ketika pemimpin bangsa ini lebih senang berpose daripada bertindak benar, ketika penjaga hukum malah memanfaatkan hukum untuk memperkaya diri, ketika dewan yang terhormat berkelakuan tidak lebih baik daripada anak TK ingusan, Besok Bubar menelurkan karyanya dan menawarkan alternatif penghibur hati di era kegelapan ini: Cuci Otak!

Apa yang lebih baik dibanding rangkaian lirik berikut, untuk menggambarkan situasi kita saat ini: “Perangkap siap menangkap si tikus… tikus pun panik tak bisa berkutik… Satu per satu tikus pada mampus… Aku hanya ingin rumahku bersih…”

Itu adalah impian kita semua. Hasrat kita yang terkubur dalam ketidakberdayaan. Untuk memberantas tikus sampai mampus. Sampai rumah kita bersih. Untuk hari esok yang lebih baik.

Tema yang sama, dengan pendekatan lirik berbeda, kembali muncul di nomor Raksasa, sebuah kolaborasi dengan Robi Navicula.

Amar, dibalik sosok jangkung dan rambutnya yang seperti pohon beringin, dibalik omong-kosongnya yang selalu diselingi kekehan a la Wiro Sableng ketika berdiri di panggung, ternyata memiliki kesadaran politik yang luar biasa mengagumkan. Lagu-lagunya, jika saya diijinkan memasukkannya dalam kotak klasifikasi, adalah perkawinan suara grunge yang berat dan berkecepatan tinggi dengan lirik sadar politik layaknya punk. Sama sekali bukan perkawinan yang jelek!

Pertanyaan, gugatan, dan tuntutan pada tatanan sosial yang ada menjadi menu utama album ini. Kritik pada institusi keagamaan, dan orang-orang yang kerap memberi cap kebenaran pada diri sendiri, dimuntahkan dalam Pahlawan Bertopeng. Koruptor menjadi bintang dalam Perangkap Tikus, Raksasa, dan Busung Lapar. Sajian televisi yang seperti sampah jadi bahan caci maki di Tivi Butut dan Cuci Otak. Gugatan yang tak kalah keras juga muncul di nomor lainnya, seperti Penguasa, Politrick, dan Diskriminasi.

Satu lagu yang saya kurang pahami, Bedtime Stories. Liriknya dalam bahasa Inggris sih!

Pramoedya Ananta Toer, yang batal memperoleh nobel sastra karena disabot oleh negaranya sendiri, paham betul bagaimana caranya menyelipkan dan memelihara semangat perlawanan dalam prosa-prosa indah. Sayangnya, petinggi militer kala itu tak kalah canggih dalam mengendus karya sastra bermutu tinggi, dan membakarnya!

Amar jelas beda kelas dibanding Pram. Yang satu menulis lirik yang tajam dan nyaris tanpa kiasan, satunya lagi menulis prosa yang lugas, indah, namun sekaligus penuh gugatan dan kritik pedas. Yang satu tukang minum bir, satunya lagi minum anggur menjelang tidur malam. Yang pertama ikon lokal, yang kedua adalah warisan budaya internasional.

Bagaimanapun, keduanya berpihak pada yang papa dan menawarkan hal yang sama: potret manusia menghadapi sebuah jaman. Sebuah gambaran yang merupakan media perenungan sekaligus tempat untuk melarikan diri sejenak dari kehidupan yang semakin tidak menentu. Sebuah ajakan untuk Cuci Otak!

Jalan Menuju Surga: The Album

Oleh Eko Prabowo

Periode akhir ‘90-an merupakan awal kehancuran grunge. Adalah anak haram hasil percampuran darah grunge dan hard rock, yang kemudian diberi nama post-grunge oleh industri musik, yang memporakporandakan kerajaan yang dibangun oleh empat dewa dari Seattle itu. Meskipun, tentu saja, hingga hari ini dua dewa masih tegak berdiri, satu dalam upaya merangkak kembali, dan mereka tetap bisa dengan sukses menghajar balik raksasa post-grunge samacam Nickleback, Staind, maupun Creed yang baru saja bangkit dari kubur.

Dan disitulah Respito berdiri. Mengangkangi jurang pengkotakan musik, dengan satu kaki berpijak pada lirik yang banyak mengandung gugatan dan amarah khas grunge, sementara kaki lainnya nyaman berdiri pada lagu yang durasinya tergolong panjang, lengkap dengan solo gitar yang berlama-lama dan cenderung terdengar manis, khas hard rock.

Seolah menyesuaikan dengan namanya, Respito, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti Surga, album penuh pertama mereka ini diberi judul Jalan Menuju Surga. Bahwa surga yang dimaksud adalah alam pikiran, bukan surga seperti yang didongengkan oleh banyak agama, tanyakan saja pada Pheps, yang menulis semua lirik lagu dalam album ini.

Delapan lagu, dengan satu lagu bonus sebagai tambahan, terdengar terlalu sedikit untuk menjadi album. Namun, mengingat durasi lagu-lagunya yang memang tergolong panjang, jumlah itu rasanya menjadi pas.

Angels Cry dan Membusuk di Neraka, dua lagu yang paling saya sukai dari album ini, juga tidak main-main durasinya. Yang pertama berdurasi 5:58 menit, sementara yang kedua 5:22 menit. Sangat tidak radio friendly, jika boleh dibilang demikian.

Satu lagu lagi, Angkuh, yang terdengar pop meski dengan distorsi yang cukup pekat, yang ternyata makin enak didengar setiap kali saya putar, dan sangat cocok menemani saya menyelesaikan buku silat karangan Seno Gumira Ajidarma yang setebal 800 halaman itu, lebih masuk akal durasinya. Cukup 4:19 menit saja.

Tapi itulah Respito, yang mengusung semangat perlawanan grunge dalam lirik, bentuk, maupun durasi lagu.

Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam – seandainya Anda belum tahu – pernah bilang, “Anda boleh tidak suka dengan musik kami, tapi dijamin Anda pasti suka dengan kaus kaki yang kami jual (di website).” Saya berkata, “Kecocokan musik Respito dengan selera kuping kita masing-masing memang terbuka untuk diperdebatkan, seperti juga halnya setiap karya seni musik lainnya, tapi satu hal yang pasti: art work albumnya ok punya!”

Jalan Menuju Surga menggunakan bahan sampul album yang ramah lingkungan, dalam arti tidak akan menjadi polusi jika kemudian kita cukup gila untuk membuangnya ke tempat sampah.

Dan yang sangat menarik, jika tidak boleh disebut mengagumkan, adalah lima gambar yang berasal dari goresan tangan Pheps dan Daff, sang gitaris. Meski, sejujurnya, saya sama sekali tidak punya gambaran mengenai apa makna gambar-gambar tersebut. Namun, kehadirannya dalam sampul album ini tak terelakkan menambah nilai koleksinya. Menjadikan Jalan Menuju Surga tidak berhenti sebagai musik, tapi menjadi karya seni multi-dimensi yang layak dikoleksi.

Itulah dia, Respito, dengan albumnya Jalan Menuju Surga. Meretas masa depannya dengan bermodalkan karya seni sendiri. Terpengaruh, namun jelas bukan mencontek, apalagi mencuri. Menyongsong kedatangan tahun singa logam yang merupakan periode tercapainya kemakmuran bagi semua orang yang bekerja sangat keras.

Grunge: Does It Really Matter?

Ditulis oleh Eko Prabowo

Soleh Solihun, betapapun konyol dan kurang ajarnya dia punya celoteh, sesungguhnya mengungkapkan kebenaran.

Tidak ada orang yang peduli ketika grunge pertama kali lahir dari kota tukang kayu, Seattle. Tidak juga ada yang mau tahu ketika akhirnya grunge mati dan membusuk seiring kematian Kurt Cobain. Lalu kenapa kita, belakangan ini, demikian sibuk mengatakan bahwa grunge terlahir kembali?

Still stand and still strong!

Siapa kiranya yang hendak kita yakinkan? Apakah bukan diri kita sendiri, para pecinta grunge yang tidak percaya diri?

Jangan tanya definisi grunge pada saya. Sejujurnya, saya tidak mengerti.

Saya mencintai Pearl Jam. Sangat menikmati Alice in Chains. Memahami Nirvana dengan cukup baik. Dan sama sekali tidak keberatan dengan Soundgarden.

Bagi saya, di kotak manapun keempat dedengkot musik itu diletakkan, tidak menjadi masalah. Di tingkat manapun ketenaran mereka saat ini, bukanlah hal yang patut saya risaukan.

Kesenangan saya mendengarkan karya-karya mereka tidak berkurang hanya karena jatah penayangan mereka di tivi dan radio sudah nyaris punah. Kebanggaan saya sebagai penggemar tidak luntur lantaran wajah mereka tak lagi muncul di koran maupun majalah.

Mainkan grunge dari hati, dan saya akan melahapnya!

Bagi saya, pertunjukan di The Rock semalam meraih pencapaian tertingginya ketika Andy /Rif menyuarakan Rooster bersama Alien Sick, yang kali ini diperkuat Nito. Energi performer yang tulus mengalir mulus dan deras ke audiens. Ditangkap, dicerna, dan dikembalikan dengan tak kalah bertenaga.

Menyenangkan? Pasti! Memuaskan? Saya rasa tulang rongsokan saya masih mampu menanggung lima sampai sepuluh lagu, dengan energi pada level seperti itu, lagi.

Kejutan manis diberikan Konspirasi, yang akan meluncurkan album perdananya dalam waktu dekat, di sesi terakhir, ketika malam berganti dini hari. Black Gives Way to Blue dan Check My Brain. Dua lagu dari album terbaru Alice in Chains yang seolah mengokohkan pernyataan diatas, bahwa grunge memang masih tegar berdiri.

Namun bagi saya, setidaknya untuk BGWtB, itu adalah simbol ditanggalkannya semua kenangan sekaligus dimulainya sebuah babak baru. Kerelaan untuk melepaskan warna yang sudah melekat demikian lama. Periode baru dari grunge, yang dalam perjalanannya kedepan mungkin akan berganti nama, bentuk, dan tidak mustahil, filosofi.

Dan Anji Drive, betapapun dia sudah babak belur dihajar sepak pojok, tendangan bebas, dan bahkan tendangan pinalti dari Soleh Solihun sang MC, membuktikan bahwa kesungguhan hati bisa mengatasi banyak tantangan. Israel Son dan Tomorrow, yang dibawakannya bersama Stigmata di sesi pertama pertunjukan malam itu, sama sekali tidak mengecewakan.

Saya sungguh menikmati kehadiran sekian banyak punggawa musik yang lekat dengan nuansa grunge lokal. Yana Marvel, Anji Drive, Aryo The Dance Company, Andy /Rif, Anda Perdana, hingga Yuki Pas Band, semua menunjukkan warna diri sesungguhnya. Seberapapun jauhnya mereka telah berpaling, malam itu semua kembali pada akarnya. Sejenak menikmati lagi manisnya gairah memainkan musik karya sang idola.

Jikapun ada suatu kekurangan, kiranya pilihan lagu yang sangat beragam, baik dari pencipta, warna, maupun energinya, yang pada akhirnya membuat audiens bingung tak tentu rimba nuansa.

Dalam perjalanan pulang, sembari terkantuk-kantuk pada jam dua pagi, saya bertanya pada diri sendiri: apakah grunge yang membuat saya bahagia, ataukah performer yang memainkan musiknya sepenuh hati?

Jika kebenaran ternyata terletak pada pilihan kedua, apakah kemudian saya masih perlu repot-repot memikirkan grunge yang digadang-gadang sedang terlahir kembali?

GRUNGE GODS “BACK TO THE TOP” – GRUNGE ADALAH SEBUAH KEYAKINAN

Ditulis oleh: Egy ‘Total Feedback’

Ritual keagaamaan kaum2 GRUNGE Indonesia untuk mempersembahan sesajinya kepada Tuhan-nya di Seattle sana, akhirnya terjadi juga di Rossi Musik Center. Walaupun sempat diguyur hujan dan carut marutnya kemacetan di ibu kota jakarta, hal itu tidak mempengaruhi Nandha dan kawan2 untuk melangsungkan berjalananya ritual kebersamaan ini.

GRUNGE GODS 2010 kali ini masuk fase tiga(3), setelah fase perdana (1) digelar di bilangan Thamrin dan fase yang ke dua(2) di Prost Kemang, grafik animo dan audiensnya terus naik mungkin karena setlist band-band yang ada didalamnya sudah melalui proses pemikiran yang matang untuk dapat masuk dan menjalani ritual dengan baik dan benar.

Dengan tema “Back to The Top” di periode tahun ketiga penyelenggaraannya, tim Grunge Gods membawa misi agar musik dan scene grunge bisa kembali jaya seperti di tahun 90-an. Meski mungkin tidak bisa setinggi era grunge 90-an tapi paling tidak makin banyak orang dan media yang menyadari bahwa scene ini masih berdiri tegak, masih rajin membuat acara2 berkualitas, masih punya banyak penggemar bahkan hampir di seluruh Indonesia komunitas grunge ada. Perjuangan yang patut didukung dan disaluti karena dengan minimnya budget, meski telah 3 tahun berjalan tapi belum ada sponsor yang tertarik, tim Grunge Gods berhasil sekali lagi membuat acara berkualitas dan semakin membaik penyelenggaraannya dan semakin banyak audiens yang datang. Mulai tahun pertama diadakan 2008, dari 85 pengunjung lalu naik menjadi 25 audiens di tahun 2009 dan akhirnya lebih dari 350 hadirin di tahun 2010 ini belum termasuk mereka yang batal datang karena ada issue pemboikotan massa terhadap acara ini yang dikirimkan melalui facebook bahwa Grunge Gods diundur penyelenggaraannya. Alhamdulillah masih banyak grungy yang tidak percaya issue yang disebar oleh oknum tak bertanggung jawab yang entah punya maksud apa terhadap komunitas grunge ini. Show still goes on, dudes!

Sempat menyesal karena TF telat beberapa jam menuju tempat acara dan tidak bisa menyaksikan beberapa band-band keren seperti COBURN, SYNDROM NOISE, SEND PAPER, WC UMUM, REVENGE THE PAINFUL, LOLLY POP, PAIT KACIDA, KRANNKK, dikarenakan oleh beberapa lain hal. Tiba pukul 18.00 di Rossi Musik, ternyata sebagian audiens masih berada didepan dan sebagian lagi masih dimulut pintu masuk sambil melihat pernak pernik merchandise attribute GRUNGE dilapak yang biasa digelar oleh anak2 dari Blackmouse Records. Sempat juga berjumpa dengan tokoh sekaligus aktivis lama Grunge Blok-M yaitu Doyok yang nyaris sudah beberapa abad tidak berjumpa dengan orang satu ini. Setelah selesai berbincang2 dan bertemu dengan panitia, kami langsung mendaki tiap anak tangga Rossi Musik Center untuk menyaksikan ritual yang sedang berlangsung.

Lelah mendaki tangga hingga ke lantai 4 akhirnya kami sampai juga dan langsung disambut penampilan dari anak2 condet yaitu SONIC DEATH. Satu pasangan dan sepupu bersaudara juga satu guest drum dari Andri ‘BESOK BUBAR’ mengalunan experimental nada-nada miring nan membius, tentu sudah sangat melekat pada tubuh band penggemar berat Sonic Youth ini. Pada akhirnya mereka mempersembahkan sebuah single milik mereka yang bertajuk “Simulakra”. TF berharap single ini sudah selesai direkam dan sudi kiranya ikut meramainkan kompilasi TF Vol.6 yang rencananya akan rilis April nanti.

Usai Sonic Death, trio dari kota Tangerang merapat kepanggung untuk bersiap menjalani ritualnya. Saat mempersiapkan instrument sempat diwarnai baku hantam antara dua umat manusia di depan panggung yang entah apa permasalahannya hingga cekcok hampir beberapa menit, untungnya pihak panitia berhasil melerainya dan kembali berjabat tangan lagi. THE BOLONG, yang juga salah satu band senior grunge ini hadir dengan menyuguhkan 2 lagu baru (Cuma Janji dan SUSI SUKA CURHAT) dan 2 lagu lama (Demonstran & Stupid People).

Kelar The Bolong, Blue Illution, band asal kota hujan, meneruskan gemuruh bisingnya deru distorsi dengan menggeber lagu milik mereka dengan nuansa agak sedikit ngepunk diteruskan dengan mengcover beberapa lagu Nirvana yang tentu saja sontak sukses menyulut gairah penonton untuk kembali bermoshing ria.

Lanjut setelah itu The Northside, segerombolan penggagas perusahaan Blackmouse Records ini (Yayan dkk) menghentak memulai dengan satu single baru dan beberapa lagu yang diambil dari album “Death and Distortion” milik mereka. Yayan sang frontman tampil maksimal didukung dengan explorasi sound yang sangat menggelora, alunan sample sound effect Roby Jawir dan Ferry bergabung menjadi satu serta drumer hyperaktif (Aktor) yang cukup mencengangkan perhatian pentonton. Hmm..

Rundown terus bergulir, kini giliran OPNAME, kuartet grunge berpostur tambun asal Jakarta ini melanjutkan tugasnya untuk menambah panas suasana ruangan. Jika kalian ingat TAD DOYLE mungkin anda akan terkecoh oleh salah satu personilnya yang mirip sekali dengan perawakan kakek DOYLE. Entah mengapa malam itu aura nirvana terus merasuki setiap band yang tampil malam itu, OPNAME juga mencover lagu Nirvana dan 1 lagu dari Silverchair (Israel Son) dan hal ini sudah barang tentu menjadi ‘makan malam’ yang lezat umat grunge malam itu. Tak lupa mereka menyelipkan karya milik mereka dan alhasil OPNAME tampil optimal sekaligus cukup mencuri perhatian.

Meriahnya suasana malam itu disambung dengan sekolompok anak nekad dari Kemanggisan, mereka adalah RESPITO. Band yang berdiri pada tahun 2001 yang belum lama telah menelurkan sebuah album pertamanya yang bertajuk “Jalan Menuju Surga” ini menapak kepanggung. Sempat terjadi gangguan tehnis pada kabel gitar milik sang vokalis dan gitaris, Pheps, namun ini tidak berlangsung lama dan Respito kembali meneruskan riuhnya ritual penting malam itu dengan tanpa ampun langsung menggelontorkan single berjudul “Freedom” apa hendak dikata, bibir panggung tak pernah sepi dari antusias untuk menyambut dentuman-dentuman band postgrunge ini hingga sampai single Adiksi diteriakan untuk menyampaikan pesan bahwa “pecandu adalah hanya sebuah korban” sebuah kampanye anti narkoba yang sangat menarik. Single Adiksi juga akan dipersiapkan untuk kompilasi TF vol 6.

Morning Shine yang sudah berada diarena acara, kini tak mau ketinggalan untuk ambil bagian dengan tampil beda menerikan Animal milik Pearl jam dibantu pada posisi bass oleh Jay “Noise Youth” dan D-iyan dari komunitas Pearl Jam Indonesia pada drum, cukup solid untuk berjingkrak-jingkrak bersama dengan sesama penikmat Pearl Jam.

Ini dia yang ditunggu-tunggu ‘Nyai Ronggeng’ dari Jakarta yang pernah menyabet penghargaan Juara 1 festival musik distadion menteng dahulu kala, DAILY FEEBACK!!! Yang kabarnya juga belum lama merilis ulang album pertamanya dalam bentuk compact disc, dimana sebelumnya pada tahun 2000 merilis dalam bentuk kaset. David, Mito dan Ijul segera naik ke stage disambut meriah oleh para grungers yang setia menunggu sedari tadi, tanpa banyak bicara tembang dari album pertama “STORING” langsung digeber lanjut dengan “Konsentrasi Palsu”, “Nyerah”, “Bordes”, paduan suara pun mewarnai disetiap lagu hampir semua crowds tak mau ketinggalan menyanyikan setiap bait lagu dilagu ini. Daily Feedback tampil sangat memuaskan.

The 3/4 pun cepat ambil posisi dan segera memainkan beberapa lagu, Chikal dan kawan-kawan malam itu tampil cukup baik. Seiring makin derasnya arus lalu lintas penonton yang baru tiba malam itu. Wajah-wajah seperti Aziz dari Dapurletter, Joshua dan team video dokumenter Grunge Indonesia, Eko Prabowo, Novita, Egha, Dhia, Iroel dan teman-teman dari Pearl Jam Indonesia, Chole beserta kawan-kawan dari BEKASI POSTER, Eko Hyperyouth dengan gerombolan anak-anak TANGERANG IS DEAD dan juga penampakan beberapa personil Navicula juga Lakota sudah naik keatas lantai Rossi Music Center dan wajah-wajah lainnya yang sudah tidak asing di scene grunge Indonesia.

Kini saatnya ALIEN SICK muncul, yang malam itu tidak hilang lagi di hari Jumat. Band yang juga penggagas acara ritual Grunge Gods 2010 ini segera mempersiapkan semua intrumennya dan menggebrak langsung membawakan ‘Come As You Are’ Nirvana dengan sedikit tempo yang berbeda, membuat crowd malam itu semakin panas dan menggila. Diteruskan dengan repetoar lagu yang diambil dari album “Lost In Friday” (Superstar, Dendam, Bebaskan, Malam) yang dirilis setahun lalu melalui label distribusi Demajors. Sebuah penampilan yang cukup apik dengan dua vokal bersahut2an antara Jessy dan Olitz, cukup ciamik dan harmonis. Ternyata banyak grungy yang hapal lagu-lagu Alien Sick dan ini menjadi motivasi mereka untuk terus berkarya dan menjadi lebih baik lagi. Band yang termasuk baru di scene grunge Jakarta dan sedang mempersiapkan album kedua ini, memang senantiasa mengkoarkan perjuangan genre musik yang hampir tidur, sejak awal mereka berdiri. Dengan management yang merangkap organizer beberapa acara grunge besar, Alien Sick sudah pasti terlibat didalamnya. Band dengan management yang solid ini ingin memotivasi band-band grunge lainnya untuk maju bersama para garda depan grunge lainnya.

Disusul oleh penampakan sosok Che dengan Cupumanik tentunya, band yang pernah gabung dengan salah satu label terkenal mencoba muncul kepermukaaan lagi. Cupumanik makin ramping saat ini setelah ditinggal oleh sang gitaris, kini Che merangkap tugas dengan menduduki posisi olah vokal sekaligus gitar, tak lupa orasi-orasi menarik keluar dari mulut sang frontman membahana kesetiap sudut ruangan arena acara. ‘Mereka Yang Terpilih’ dipilih untuk memulai ritual magis ini, tentu saja pelantun “Sang Maha Rencana” membuat barisan depan crowd seperti terhipnotis untuk segera meneriakan setiap bait yang keluar rongga mulut Che, ‘Aksara Alam’ single apik milik mereka tak lupa digelontorkan dan beberapa lagu dari album pertama dihembuskan oleh band grunge terbaik asal kota kembang ini.

Malam makin larut tapi makin menggila ketika salah satu ikon Grunge Indonesia dipanggil, siapa mereka dan siapa yang tak kenal mereka ? TOILET SOUNDS segera menuju stage. Wajah baru terlihat pada posisi bass dan kursi dingin drum sepeninggal Aldi Toilet Sound yang belum terisi, kini masih dibantu oleh Ijul dari Kucing Dapur (R.I.P) yang sekarang menetap di DAILY FEEDBACK. Apa yang anda bayangkan ketika mendengar Toilet Sounds? Band grunge terbaik milik Jakarta, Juara 1 Festival MTV Asia di Singapura, ikon sekaligus pionir Grunge Jakarta akhirnya datang juga digelaran event GRUNGE GODS 2010. Suara ceracau penonton menyambut sang ikon Petrus Saiya, layaknya anak burung menunggu makanan dari sang induknya, rekues berbagai macam lagu dilontarkan untuk menghilangkan frustasi selama ini.

Bibir panggung makin tak karuan ketika single berbahaya yang sempat menduduki chart pertama lagu Indie 8 jaman Prambos dahulu kala, “Ngga Jelas!!!” tembang keramat menjadi nomor pertama untuk mencerahkan, rasanya seperti diseret jauh ratusan kilo meter untuk kembali mengenang almarhum saksi bisu ‘Poster Cafe’ dimana jaman musik Alternatif saat itu sedang menggila dan meledak di eranya. Lanjut lagu kedua diambil dari kantong album kedua yaitu “Lepas Dari Tubuh” dan disambung dengan 1 tembang lagu yang sangat rusuh yaitu “Bangsat (Kalian)” yang seharusnya menjadi lagu terakhir tetapi audiens malam itu makin liar dan bringas belum terpuaskan untuk tambah 1 lagu lagi. Petrus mengamini lalu ditutup dengan makian terhadap setan yaitu “SATANIC BULLSHIT”, yang mana lagu ini menjadi biang keladi pemenang Festival MTV Asia di Singapura itu. Alhasil semua penonton klimaks terpuaskan layaknya mimpi basah dimalam hari.

Kerumunan massa dibibir panggung setelah ditinggal oleh Toilet Sounds juga belum sepi dikarenakan hal yang tidak diduga oleh penonton malam itu, yaitu BESOK BUBAR jadi tampil! Atas dasar keyakinan dan keinginan yang kuat Amar naik keatas panggung dilengkapi oleh sosok baru pada posisi bass yaitu bernama Egi. BESOK BUBAR band yang juga belum lama mengeluarkan album pertama bertitel “Cuci Otak The Album” ini confirm datang dan tampil. Setelah gagal launching album pada tanggal 10 Februari kemarin akibat sakit infeksi paru-paru yang di derita Amar sang frontman dan sempat dirawat beberapa pekan, AMAR nekat tampil malam itu yang walau sedikit pucat pasi, penampilan mereka tetap stabil.

“Pahlawan Bertopeng” langsung mulai dimainkan dengan intro yang sudah sangat familiar beserta ketukan cymbals chinas dari Andri diawal lagu membuat kuping terasa disayat-sayat serasa dihasut bisikan arwah gentayangan malam itu agar segera masuk lagi kebarisan depan crowds untuk berselancar diatas jiwa-jiwa yang resah. Belum usai nafas menghela single dari album pertama “Politrik” juga dimainkan dengan iringan suara chorus dari deretan gear pedal-pedal milik Amar, dan ditutup oleh lagu anthem Grunge Jakarta saat ini, yaitu “Busung Lapaarrr”!!! dan sudah barang tentu jika lagu ini dimainkan gelombang dan hentakan penonton malam itu makin tak karuan terbawa derasnya chord masiv dari busung lapar. Mulus tanpa cacat penampilan Amar, Andri, Egi, powerful walau kondisi masih dalam tahap penyembuhan. Salute BESOK BUBAR!

Pagi yang biasanya terasa dingin kini akan segera berubah panas nan membara, Dipenghujung acara, Green Grunge Gentleman dari pulau dewata menampakan wujudnya. Suatu bentuk kehormatan bagi para umat-umat grunge di indonesia apabila ganggang emas bersel satu ini datang, pesan pesan positif tentang lingkungan hidup tak pernah putus dari mereka, wahai NAVICULA. Satu keluarga tanpa batas yang sangat solid dan harmonis, sejak awal terbentuk dan hingga sekarang ‘line up’ tidak pernah berubah ataupun bongkar pasang. Setelah melepas album ‘Salto’ beberapa waktu lalu, kini mereka menerbangkan satu single bertema “Metropolutan” yang sudah dapat didownload secara gratis di situs jejaring sosial dan juga diweb resmi mereka.

Robi dkk selesai menyapa audiens, tembang Metropolutan pun melaju, lagu yang baru saja beberapa hari dilepas tetapi hampir semua crowds sudah sangat fasih meniru kalimat “Hey aku ada didalam kota metropolutan”. Penampilan mereka sempat diselingi oleh detik-detik perayaan kelahiran almarhum Kurt Donald Cobain yang tepat jatuh pada tanggal 20 Februari 2010, suasana menjadi haru biru seiring peniupan lilin untuk Kurt yang telah disediakan oleh panitia. Dilanjutkan untuk mencoba belajar “Menghitung Mundur” dan “Everyone Goes To Heaven” dan satu kolaborasi penampilan Olit ‘Aliensick’ pada lagu “ALIEN” milik Navicula. Dilanjutkan dengan tiga atau empat lagu dari Navicula yang sekaligus menutup ritual GRUNGE GODS 2010.

Usai sudah gelaran Grunge Gods 2010 tahun ini, Terima kasiih kepada pihak panitia (Nandha, Gayung, Yayan, Dana, Ferry dkk). Grunge Gods berencana dilanjutkan sebagai tour kebeberapa daerah dipulau Jawa disekitar Maret-April 2010 ini. Wajah umat terpuaskan malam itu dan terbentuk sebuah kristal keyakinan makin kuat ternanam pada tubuh anak Grunge se-Indonesia, bahwa GRUNGE sampai kapanpun tidak akan terlindas oleh jaman dan akan terus melekat disanubari yang paling dalam. Mari kita bersama-sama meyakini bahwa GRUNGE adalah sebuah keyakinan untuk menyuarakan pada dunia bahwa GRUNGE akan tetap ada.

Sebelum dan sesudahnya mohon maaf bila banyak kekurangan ditulisan saya ini. Karena saya baru belajar menulis dan membaca.

Mewakili seluruh panitia, TF mengucapkan terima kasih kepada semua grungy yang datang, band-band keren yang sudah tampil, Rossi Musik Center, Awan Mega dan Sound System-nya, Alien Sick Management and Crew, media partner yang setia mendukung (Green Radio 89.2FM Jakarta, Dapurletter, Total Feedback, Jurnallica, SoundUp Magazine, Stoned College Web Radio, DJ Wirya Radio Online), Jakarta Grunge Community (Blok M dan Jabodetabek), milis Rockapalooza dan Pearl Jam Indonesia, Joshua dan Eko HC dari tim video dokumentar Grunge Indonesia, teman-teman ISI Bandung, komunitas grunge dimanapun berada. Grunge tidak boleh mati, tetaplah berjuang untuk keyakinan kita, GRUNGE AKAN KEMBALI KEATAS, Back to The Top. Don’t give up, whatever people said and did to our belief.

Sampai ketemu di Grunge Fair 2010 dan Grunge Gods 2011.