GRUNGE GODS “BACK TO THE TOP” – GRUNGE ADALAH SEBUAH KEYAKINAN

Ditulis oleh: Egy ‘Total Feedback’

Ritual keagaamaan kaum2 GRUNGE Indonesia untuk mempersembahan sesajinya kepada Tuhan-nya di Seattle sana, akhirnya terjadi juga di Rossi Musik Center. Walaupun sempat diguyur hujan dan carut marutnya kemacetan di ibu kota jakarta, hal itu tidak mempengaruhi Nandha dan kawan2 untuk melangsungkan berjalananya ritual kebersamaan ini.

GRUNGE GODS 2010 kali ini masuk fase tiga(3), setelah fase perdana (1) digelar di bilangan Thamrin dan fase yang ke dua(2) di Prost Kemang, grafik animo dan audiensnya terus naik mungkin karena setlist band-band yang ada didalamnya sudah melalui proses pemikiran yang matang untuk dapat masuk dan menjalani ritual dengan baik dan benar.

Dengan tema “Back to The Top” di periode tahun ketiga penyelenggaraannya, tim Grunge Gods membawa misi agar musik dan scene grunge bisa kembali jaya seperti di tahun 90-an. Meski mungkin tidak bisa setinggi era grunge 90-an tapi paling tidak makin banyak orang dan media yang menyadari bahwa scene ini masih berdiri tegak, masih rajin membuat acara2 berkualitas, masih punya banyak penggemar bahkan hampir di seluruh Indonesia komunitas grunge ada. Perjuangan yang patut didukung dan disaluti karena dengan minimnya budget, meski telah 3 tahun berjalan tapi belum ada sponsor yang tertarik, tim Grunge Gods berhasil sekali lagi membuat acara berkualitas dan semakin membaik penyelenggaraannya dan semakin banyak audiens yang datang. Mulai tahun pertama diadakan 2008, dari 85 pengunjung lalu naik menjadi 25 audiens di tahun 2009 dan akhirnya lebih dari 350 hadirin di tahun 2010 ini belum termasuk mereka yang batal datang karena ada issue pemboikotan massa terhadap acara ini yang dikirimkan melalui facebook bahwa Grunge Gods diundur penyelenggaraannya. Alhamdulillah masih banyak grungy yang tidak percaya issue yang disebar oleh oknum tak bertanggung jawab yang entah punya maksud apa terhadap komunitas grunge ini. Show still goes on, dudes!

Sempat menyesal karena TF telat beberapa jam menuju tempat acara dan tidak bisa menyaksikan beberapa band-band keren seperti COBURN, SYNDROM NOISE, SEND PAPER, WC UMUM, REVENGE THE PAINFUL, LOLLY POP, PAIT KACIDA, KRANNKK, dikarenakan oleh beberapa lain hal. Tiba pukul 18.00 di Rossi Musik, ternyata sebagian audiens masih berada didepan dan sebagian lagi masih dimulut pintu masuk sambil melihat pernak pernik merchandise attribute GRUNGE dilapak yang biasa digelar oleh anak2 dari Blackmouse Records. Sempat juga berjumpa dengan tokoh sekaligus aktivis lama Grunge Blok-M yaitu Doyok yang nyaris sudah beberapa abad tidak berjumpa dengan orang satu ini. Setelah selesai berbincang2 dan bertemu dengan panitia, kami langsung mendaki tiap anak tangga Rossi Musik Center untuk menyaksikan ritual yang sedang berlangsung.

Lelah mendaki tangga hingga ke lantai 4 akhirnya kami sampai juga dan langsung disambut penampilan dari anak2 condet yaitu SONIC DEATH. Satu pasangan dan sepupu bersaudara juga satu guest drum dari Andri ‘BESOK BUBAR’ mengalunan experimental nada-nada miring nan membius, tentu sudah sangat melekat pada tubuh band penggemar berat Sonic Youth ini. Pada akhirnya mereka mempersembahkan sebuah single milik mereka yang bertajuk “Simulakra”. TF berharap single ini sudah selesai direkam dan sudi kiranya ikut meramainkan kompilasi TF Vol.6 yang rencananya akan rilis April nanti.

Usai Sonic Death, trio dari kota Tangerang merapat kepanggung untuk bersiap menjalani ritualnya. Saat mempersiapkan instrument sempat diwarnai baku hantam antara dua umat manusia di depan panggung yang entah apa permasalahannya hingga cekcok hampir beberapa menit, untungnya pihak panitia berhasil melerainya dan kembali berjabat tangan lagi. THE BOLONG, yang juga salah satu band senior grunge ini hadir dengan menyuguhkan 2 lagu baru (Cuma Janji dan SUSI SUKA CURHAT) dan 2 lagu lama (Demonstran & Stupid People).

Kelar The Bolong, Blue Illution, band asal kota hujan, meneruskan gemuruh bisingnya deru distorsi dengan menggeber lagu milik mereka dengan nuansa agak sedikit ngepunk diteruskan dengan mengcover beberapa lagu Nirvana yang tentu saja sontak sukses menyulut gairah penonton untuk kembali bermoshing ria.

Lanjut setelah itu The Northside, segerombolan penggagas perusahaan Blackmouse Records ini (Yayan dkk) menghentak memulai dengan satu single baru dan beberapa lagu yang diambil dari album “Death and Distortion” milik mereka. Yayan sang frontman tampil maksimal didukung dengan explorasi sound yang sangat menggelora, alunan sample sound effect Roby Jawir dan Ferry bergabung menjadi satu serta drumer hyperaktif (Aktor) yang cukup mencengangkan perhatian pentonton. Hmm..

Rundown terus bergulir, kini giliran OPNAME, kuartet grunge berpostur tambun asal Jakarta ini melanjutkan tugasnya untuk menambah panas suasana ruangan. Jika kalian ingat TAD DOYLE mungkin anda akan terkecoh oleh salah satu personilnya yang mirip sekali dengan perawakan kakek DOYLE. Entah mengapa malam itu aura nirvana terus merasuki setiap band yang tampil malam itu, OPNAME juga mencover lagu Nirvana dan 1 lagu dari Silverchair (Israel Son) dan hal ini sudah barang tentu menjadi ‘makan malam’ yang lezat umat grunge malam itu. Tak lupa mereka menyelipkan karya milik mereka dan alhasil OPNAME tampil optimal sekaligus cukup mencuri perhatian.

Meriahnya suasana malam itu disambung dengan sekolompok anak nekad dari Kemanggisan, mereka adalah RESPITO. Band yang berdiri pada tahun 2001 yang belum lama telah menelurkan sebuah album pertamanya yang bertajuk “Jalan Menuju Surga” ini menapak kepanggung. Sempat terjadi gangguan tehnis pada kabel gitar milik sang vokalis dan gitaris, Pheps, namun ini tidak berlangsung lama dan Respito kembali meneruskan riuhnya ritual penting malam itu dengan tanpa ampun langsung menggelontorkan single berjudul “Freedom” apa hendak dikata, bibir panggung tak pernah sepi dari antusias untuk menyambut dentuman-dentuman band postgrunge ini hingga sampai single Adiksi diteriakan untuk menyampaikan pesan bahwa “pecandu adalah hanya sebuah korban” sebuah kampanye anti narkoba yang sangat menarik. Single Adiksi juga akan dipersiapkan untuk kompilasi TF vol 6.

Morning Shine yang sudah berada diarena acara, kini tak mau ketinggalan untuk ambil bagian dengan tampil beda menerikan Animal milik Pearl jam dibantu pada posisi bass oleh Jay “Noise Youth” dan D-iyan dari komunitas Pearl Jam Indonesia pada drum, cukup solid untuk berjingkrak-jingkrak bersama dengan sesama penikmat Pearl Jam.

Ini dia yang ditunggu-tunggu ‘Nyai Ronggeng’ dari Jakarta yang pernah menyabet penghargaan Juara 1 festival musik distadion menteng dahulu kala, DAILY FEEBACK!!! Yang kabarnya juga belum lama merilis ulang album pertamanya dalam bentuk compact disc, dimana sebelumnya pada tahun 2000 merilis dalam bentuk kaset. David, Mito dan Ijul segera naik ke stage disambut meriah oleh para grungers yang setia menunggu sedari tadi, tanpa banyak bicara tembang dari album pertama “STORING” langsung digeber lanjut dengan “Konsentrasi Palsu”, “Nyerah”, “Bordes”, paduan suara pun mewarnai disetiap lagu hampir semua crowds tak mau ketinggalan menyanyikan setiap bait lagu dilagu ini. Daily Feedback tampil sangat memuaskan.

The 3/4 pun cepat ambil posisi dan segera memainkan beberapa lagu, Chikal dan kawan-kawan malam itu tampil cukup baik. Seiring makin derasnya arus lalu lintas penonton yang baru tiba malam itu. Wajah-wajah seperti Aziz dari Dapurletter, Joshua dan team video dokumenter Grunge Indonesia, Eko Prabowo, Novita, Egha, Dhia, Iroel dan teman-teman dari Pearl Jam Indonesia, Chole beserta kawan-kawan dari BEKASI POSTER, Eko Hyperyouth dengan gerombolan anak-anak TANGERANG IS DEAD dan juga penampakan beberapa personil Navicula juga Lakota sudah naik keatas lantai Rossi Music Center dan wajah-wajah lainnya yang sudah tidak asing di scene grunge Indonesia.

Kini saatnya ALIEN SICK muncul, yang malam itu tidak hilang lagi di hari Jumat. Band yang juga penggagas acara ritual Grunge Gods 2010 ini segera mempersiapkan semua intrumennya dan menggebrak langsung membawakan ‘Come As You Are’ Nirvana dengan sedikit tempo yang berbeda, membuat crowd malam itu semakin panas dan menggila. Diteruskan dengan repetoar lagu yang diambil dari album “Lost In Friday” (Superstar, Dendam, Bebaskan, Malam) yang dirilis setahun lalu melalui label distribusi Demajors. Sebuah penampilan yang cukup apik dengan dua vokal bersahut2an antara Jessy dan Olitz, cukup ciamik dan harmonis. Ternyata banyak grungy yang hapal lagu-lagu Alien Sick dan ini menjadi motivasi mereka untuk terus berkarya dan menjadi lebih baik lagi. Band yang termasuk baru di scene grunge Jakarta dan sedang mempersiapkan album kedua ini, memang senantiasa mengkoarkan perjuangan genre musik yang hampir tidur, sejak awal mereka berdiri. Dengan management yang merangkap organizer beberapa acara grunge besar, Alien Sick sudah pasti terlibat didalamnya. Band dengan management yang solid ini ingin memotivasi band-band grunge lainnya untuk maju bersama para garda depan grunge lainnya.

Disusul oleh penampakan sosok Che dengan Cupumanik tentunya, band yang pernah gabung dengan salah satu label terkenal mencoba muncul kepermukaaan lagi. Cupumanik makin ramping saat ini setelah ditinggal oleh sang gitaris, kini Che merangkap tugas dengan menduduki posisi olah vokal sekaligus gitar, tak lupa orasi-orasi menarik keluar dari mulut sang frontman membahana kesetiap sudut ruangan arena acara. ‘Mereka Yang Terpilih’ dipilih untuk memulai ritual magis ini, tentu saja pelantun “Sang Maha Rencana” membuat barisan depan crowd seperti terhipnotis untuk segera meneriakan setiap bait yang keluar rongga mulut Che, ‘Aksara Alam’ single apik milik mereka tak lupa digelontorkan dan beberapa lagu dari album pertama dihembuskan oleh band grunge terbaik asal kota kembang ini.

Malam makin larut tapi makin menggila ketika salah satu ikon Grunge Indonesia dipanggil, siapa mereka dan siapa yang tak kenal mereka ? TOILET SOUNDS segera menuju stage. Wajah baru terlihat pada posisi bass dan kursi dingin drum sepeninggal Aldi Toilet Sound yang belum terisi, kini masih dibantu oleh Ijul dari Kucing Dapur (R.I.P) yang sekarang menetap di DAILY FEEDBACK. Apa yang anda bayangkan ketika mendengar Toilet Sounds? Band grunge terbaik milik Jakarta, Juara 1 Festival MTV Asia di Singapura, ikon sekaligus pionir Grunge Jakarta akhirnya datang juga digelaran event GRUNGE GODS 2010. Suara ceracau penonton menyambut sang ikon Petrus Saiya, layaknya anak burung menunggu makanan dari sang induknya, rekues berbagai macam lagu dilontarkan untuk menghilangkan frustasi selama ini.

Bibir panggung makin tak karuan ketika single berbahaya yang sempat menduduki chart pertama lagu Indie 8 jaman Prambos dahulu kala, “Ngga Jelas!!!” tembang keramat menjadi nomor pertama untuk mencerahkan, rasanya seperti diseret jauh ratusan kilo meter untuk kembali mengenang almarhum saksi bisu ‘Poster Cafe’ dimana jaman musik Alternatif saat itu sedang menggila dan meledak di eranya. Lanjut lagu kedua diambil dari kantong album kedua yaitu “Lepas Dari Tubuh” dan disambung dengan 1 tembang lagu yang sangat rusuh yaitu “Bangsat (Kalian)” yang seharusnya menjadi lagu terakhir tetapi audiens malam itu makin liar dan bringas belum terpuaskan untuk tambah 1 lagu lagi. Petrus mengamini lalu ditutup dengan makian terhadap setan yaitu “SATANIC BULLSHIT”, yang mana lagu ini menjadi biang keladi pemenang Festival MTV Asia di Singapura itu. Alhasil semua penonton klimaks terpuaskan layaknya mimpi basah dimalam hari.

Kerumunan massa dibibir panggung setelah ditinggal oleh Toilet Sounds juga belum sepi dikarenakan hal yang tidak diduga oleh penonton malam itu, yaitu BESOK BUBAR jadi tampil! Atas dasar keyakinan dan keinginan yang kuat Amar naik keatas panggung dilengkapi oleh sosok baru pada posisi bass yaitu bernama Egi. BESOK BUBAR band yang juga belum lama mengeluarkan album pertama bertitel “Cuci Otak The Album” ini confirm datang dan tampil. Setelah gagal launching album pada tanggal 10 Februari kemarin akibat sakit infeksi paru-paru yang di derita Amar sang frontman dan sempat dirawat beberapa pekan, AMAR nekat tampil malam itu yang walau sedikit pucat pasi, penampilan mereka tetap stabil.

“Pahlawan Bertopeng” langsung mulai dimainkan dengan intro yang sudah sangat familiar beserta ketukan cymbals chinas dari Andri diawal lagu membuat kuping terasa disayat-sayat serasa dihasut bisikan arwah gentayangan malam itu agar segera masuk lagi kebarisan depan crowds untuk berselancar diatas jiwa-jiwa yang resah. Belum usai nafas menghela single dari album pertama “Politrik” juga dimainkan dengan iringan suara chorus dari deretan gear pedal-pedal milik Amar, dan ditutup oleh lagu anthem Grunge Jakarta saat ini, yaitu “Busung Lapaarrr”!!! dan sudah barang tentu jika lagu ini dimainkan gelombang dan hentakan penonton malam itu makin tak karuan terbawa derasnya chord masiv dari busung lapar. Mulus tanpa cacat penampilan Amar, Andri, Egi, powerful walau kondisi masih dalam tahap penyembuhan. Salute BESOK BUBAR!

Pagi yang biasanya terasa dingin kini akan segera berubah panas nan membara, Dipenghujung acara, Green Grunge Gentleman dari pulau dewata menampakan wujudnya. Suatu bentuk kehormatan bagi para umat-umat grunge di indonesia apabila ganggang emas bersel satu ini datang, pesan pesan positif tentang lingkungan hidup tak pernah putus dari mereka, wahai NAVICULA. Satu keluarga tanpa batas yang sangat solid dan harmonis, sejak awal terbentuk dan hingga sekarang ‘line up’ tidak pernah berubah ataupun bongkar pasang. Setelah melepas album ‘Salto’ beberapa waktu lalu, kini mereka menerbangkan satu single bertema “Metropolutan” yang sudah dapat didownload secara gratis di situs jejaring sosial dan juga diweb resmi mereka.

Robi dkk selesai menyapa audiens, tembang Metropolutan pun melaju, lagu yang baru saja beberapa hari dilepas tetapi hampir semua crowds sudah sangat fasih meniru kalimat “Hey aku ada didalam kota metropolutan”. Penampilan mereka sempat diselingi oleh detik-detik perayaan kelahiran almarhum Kurt Donald Cobain yang tepat jatuh pada tanggal 20 Februari 2010, suasana menjadi haru biru seiring peniupan lilin untuk Kurt yang telah disediakan oleh panitia. Dilanjutkan untuk mencoba belajar “Menghitung Mundur” dan “Everyone Goes To Heaven” dan satu kolaborasi penampilan Olit ‘Aliensick’ pada lagu “ALIEN” milik Navicula. Dilanjutkan dengan tiga atau empat lagu dari Navicula yang sekaligus menutup ritual GRUNGE GODS 2010.

Usai sudah gelaran Grunge Gods 2010 tahun ini, Terima kasiih kepada pihak panitia (Nandha, Gayung, Yayan, Dana, Ferry dkk). Grunge Gods berencana dilanjutkan sebagai tour kebeberapa daerah dipulau Jawa disekitar Maret-April 2010 ini. Wajah umat terpuaskan malam itu dan terbentuk sebuah kristal keyakinan makin kuat ternanam pada tubuh anak Grunge se-Indonesia, bahwa GRUNGE sampai kapanpun tidak akan terlindas oleh jaman dan akan terus melekat disanubari yang paling dalam. Mari kita bersama-sama meyakini bahwa GRUNGE adalah sebuah keyakinan untuk menyuarakan pada dunia bahwa GRUNGE akan tetap ada.

Sebelum dan sesudahnya mohon maaf bila banyak kekurangan ditulisan saya ini. Karena saya baru belajar menulis dan membaca.

Mewakili seluruh panitia, TF mengucapkan terima kasih kepada semua grungy yang datang, band-band keren yang sudah tampil, Rossi Musik Center, Awan Mega dan Sound System-nya, Alien Sick Management and Crew, media partner yang setia mendukung (Green Radio 89.2FM Jakarta, Dapurletter, Total Feedback, Jurnallica, SoundUp Magazine, Stoned College Web Radio, DJ Wirya Radio Online), Jakarta Grunge Community (Blok M dan Jabodetabek), milis Rockapalooza dan Pearl Jam Indonesia, Joshua dan Eko HC dari tim video dokumentar Grunge Indonesia, teman-teman ISI Bandung, komunitas grunge dimanapun berada. Grunge tidak boleh mati, tetaplah berjuang untuk keyakinan kita, GRUNGE AKAN KEMBALI KEATAS, Back to The Top. Don’t give up, whatever people said and did to our belief.

Sampai ketemu di Grunge Fair 2010 dan Grunge Gods 2011.

Advertisements

How TEN Found Me…

Suatu malam di rumah Tania…yang kala itu adalah teman dekat Danie…

Gue lagi terbengong-bengong dengerin Nevermind. Buset, ni album sakit jiwa banget.
Trus, Danie pun nyeletuk, ada lagi lho band ‘aneh’ selain Nirvana, gue dong udah pernah liat videonya, ujarnya agak menyombongkan diri, ngeselin gitu deh :p

Saat itu, lagi zamannya MTV Headbanger’s Ball dan malam itu pas acara itu ada di TV.

Gak lama, sebelum basi ngeliatin orang naracap, muncul satu video hitam putih di TV. Lagunya dimulai dengan intro gitar yang cukup aneh buat masa itu, at least buat gue. Band beranggotakan lima orang yang vokalisnya sepintas di klip itu terlihat punya kebiasaan manjat rig panggung atau mutar-mutar kabel mic dan suara ‘aneh’ bariton, di era vokalis bersuara melengking tinggi.

Itulah Alive dari Pearl Jam.

Hatiku pun takluk dan langsung ke Duta Suara nyari CD-nya… :p

Mari mulai menabung buat beli re-release TEN versi Super Deluxe 😀

So 90’s, Seru!

Lagi nonton MTV, 100 Greatest Songs in the 90’s…

Kurang lebih lagu-lagu yang muncul, Cypress Hill sampe Billy Ray Cyrus, inget dong sama si rambut gobeldo (gondrong belakang doang) yang nyanyi Achy Breaky Heart itu?

Nggak nyadar, gue ikutan nyanyi lagu-lagu itu, termasuk lagu yang dulu sering gue dan temen-temen celain, Achy Breaky Heart.

Ada lagunya The Breeders yang judulnya Cannonball. Gue sih nggak pernah beli album mereka, tapi lagu itu nyantol sampe sekarang. Mungkin bakal keinget seumur idup gue, secara bass line-nya masih sering gue mainin kalo latian band. Sadar gak sadar. Pengaruhnya ternyata cukup kuat.

Trus ada The Cranberries dengan Linger-nya. Begitu intro, gue dari dapur udah tau itu lagu apaan. Dan, again ikutan nyanyi bareng Dolores.

Nah, lanjut lagi…nongol Gregg Alexander. Wek, ehh…sapa tuh? Mungkin kalo gue sebut New Radicals lebih banyak yang tau. Dia ini mastermind, vokalis, sekaligus yang ngebubarin New Radicals setelah rilis album pertama. Lagunya yang keinget sama banyak orang sampe sekarang pastinya Someday We’ll Know. Mungkin mp3 lagu ini ada di
iTunes/folder lagu-lagu lo, ya gak?

Ada juga Paula Cole…biduanita yang buat gue teknik nyanyinya flawless. Nggak mungkin kayaknya dia ini nyanyi out of tune atau maksa atau nggak enak kedengerannya. Pertama denger Where Have All The Cowboys Gone?, gue mikir, lagu gini doang, tapi kok jadi bikin beda sama lagu-lagu lain…

Lanjut ke Sarah Mclachlan. Gue berutang jasa kreatif pencarian nama anak dari dia. Again, selalu ada cerita di balik biduan dan biduanita era 90an ini.

Itu baru sampe di urutan 80, pastinya masih bakalan banyak cerita seiringan countdown berlanjut nanti. Gak tau kapan lanjutnya, mudah-mudahan sempet nonton.

Ada perasaan seneng, seru campur menerawang balik ke zaman dulu pas nonton acara itu. Udah 10 tahunan lalu, jo!

Era 90an, emang banyak cerita, secara kita (kita? Gue kali!) masih kuliah, masih nyari-nyari sesuatu yang gue sendiri nggak tau apaan. Gue dapet the bestest friends, best and sad moments in life, best lessons in life, etc. Makin berasa begitu denger musik 90s…

Jadi kepikiran, apa karena era itu musiknya top abis, even musik non-rocknya, jadi bisa terus keinget? Atau karena pas musik itu muncul, kebetulan pas sama suatu momen di idup yang otomatis bikin gue keinget? Atau karena dua-duanya?

Ada Apa dengan Italia?

Banyak banget jawabnya, dari tim-tim sepakbolanya, mafia, mode, cowok casanova, dan ekspresi. Yup, ngeliat orang Italia ngobrol pasti seru dengan segala bahasa tubuhnya yang ekspresif banget, termasuk suka diving dan pura-pura mati di lapangan bola kalo ke-tackle.

Mungkin karena keekspresifannya itu yang bikin Danny Clinch ngebet banget ngefilmin Pearl Jam pas tur di negeri pizza selama kurang lebih seminggu. Sampe akhirnya pun bikin Eddie bela-belain ngomong bahasa Italia mulu pas konser, meskipun sambil baca kebetan.

Ekspresi dan keindahan Italia bikin film Immagine In Cornice jadi begitu nikmat ditonton. Dan, tentu saja ngeliat gimana Eddie Vedder adalah orang biasa yang udah menikmati statusnya sebagai vokalis dan pemimpin band besar, sekaligus seorang ayah. Bisa diliat gimana dia masih sempet main dan ngobrol sama anaknya Olivia. Malah Olivia sempet nontonin sang ayah ngerusak tambourine, dari sisi panggung.

Di film ini gue ngerasa banget energi yang keluar dari Pearl Jam pas di atas panggung. Entah karena suasana penonton yang ekspresif itu tadi atau memang karena Eddie dkk selalu ngasih sesuatu yang maksimal di atas panggung. Eddie mulai manjat rig lagi, lari-larian di atas panggung. Jadi keinget Pink Pop pas Eddie lompat dari atas jimmy jib ke penonton. Emang sih gak sampe lompat lagi, tapi energinya kurang lebih sama. Jatoh-jatohnya karena kesandung pun kurang lebih mirip.

Lagu-lagu yang dibawain kebanyakan diambil dari album terakhir, tapi tetep ada lagu lama kayak State Of Love and Trust dan pastinya Porch. Nonton PJ maenin Porch lagi dengan Matt Cameron yang ngedrum, kok enak ya? Nikmat di mata dan telinga. Belom lagi ditambah Blood! Matt emang dewa dan teriakan Eddie masih bertenaga seperti kita denger di Vs.

Film ini emang begitu nikmat di mata dan telinga.

We spent a week in Italy. Next time, maybe it will be for a month. Maybe be for the rest of ourlives. – Eddie Vedder.