Maksimalkan Intelijen, Hindari Pendadakan ISIS

Studi tentang pendadakan strategis dapat mengecewakan mereka yang selalu berasumsi bahwa akan mendapatkan pemahaman teoritis lebih baik dari suatu subjek. Hingga secara logis akan mengarahkan pada penemuan praktis yang lebih efektif untuk mengantisipasi pendadakan strategis dan mengurangi dampaknya.[1] Artinya, ancaman pendadakan strategis dapat datang kapan saja tanpa ada yang tahu. Pendadakan strategis pun juga sering terjadi di Indonesia. Yang akan dibahas di sini adalah pendadakan yang melibatkan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di Indonesia.

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, telah mengonfirmasi bahwa lebih dari 50 warganya sedang berjuang di Suriah dan Irak. Malaysia telah mengatakan bahwa antara 30 dan 40 warga Malaysia melakukan hal yang sama. Dalam kedua kasus, angka yang sebenarnya bisa jauh lebih tinggi jika kita mempertimbangkan orang-orang yang mungkin telah melakukan perjalanan ke daerah konflik dari tujuan lainnya. Pihak berwenang Indonesia telah mencatat bahwa beberapa warga negaranya tewas berjuang untuk ISIS di Suriah.[2]

Gerakan ini telah menyebarkan pengaruh dan merekrut pengikutnya di Indonesia ditandai dengan deklarasi pendirian ISIS Indonesia di Solo, Bima dan sejumlah wilayah di Indonesia lainnya. Sejauh ini ISIS Indonesia telah mengirimkan lebih dari 200 anggotanya ke Irak dan Suriah via Turki, dan diperkirakan keanggotaan ISIS di Indonesia telah mencapai angka 1000 anggota di Indonesia. Para pendukung ISIS di Indonesia telah bersumpah setia atau membaiat pimpinan ISIS, Abu Bakar al Baghdadi. Dengan sumpah itu, para pendukung ISIS seolah-olah tak lagi menjadi warga negara Indonesia, melainkan menjadi warga negara ISIS.[3]

Indonesia sebagai negara demokrasi dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia menjadi target empuk bagi para teroris berideologi agama ini. Terbukti dengan berbagai kegiatan teror yang terjadi dalam 15 tahun terakhir.

Diperkirakan sudah ada beberapa organisasi Islam yang mendukung gerakan ISIS di Indonesia, mereka adalah: Abu Bakar Ba’asyir dan sebagian Jemaah Anshorut Tauhid (JAT), Tauhid wal Jihad yang dipimpin oleh Aman Abdurrahman (sekarang di penjara), FAKSI (Forum Aktivis Syariat Islam) dipimpin oleh M. Fachry, pemimpin redaksi situs Al Mustaqbal dan MIT (Mujahidin Indonesia Timur) yang dipimpin oleh Santoso.[4]

Perjuangan ISIS memang tidak jauh dari kelompok Islam radikal lainnya. Musuh abadi mereka adalah para kafir atau non muslim dan juga pendukungnya serta siapapun yang tidak setuju dengan pendirian kekhalifahan, termasuk pemerintah Indonesia yang berideologi Pancasila.

Faktor yang membuat ISIS memliki pengikut yang cukup besar dan dapat meningkat lagi, karena mereka menawarkan suatu yang berbeda, sesuatu yang tidak dimiliki oleh barisan Islam garis keras lainnya seperti misalnya Jamaah Islamiyah. ISIS menawarkan suatu jalan alternatif yang menjauhi korupsi dan sistem politik yang lain dari sistem ala Barat ataupun Arab. Masyarakat ideal yang akan menerapkan sistem sesuai dengan Al Quran. ISIS mulai menularkan ide-ide untuk isu birokrasi, sosial, pendidikan dan pelayanan kesehatan, pajak (zakat) bagi Muslim maupun non muslim.[5]

Intelijen negara dalam menghadapi ISIS sudah bekerja dan menyatakan komitmennya, seperti yang dinyatakan oleh Kepala BIN Marciano Norman bahwa pemerintah sudah sangat tegas menolak dan tidak mengizinkan ISIS berkembang di Indonesia. Jika terdapat kelompok yang tetap mendorong atau melakukan dukungan terhadap ISIS harus diambil tindakan tegas. Selain itu harus ada peran serta masyarakat mencegah berkembangnya ISIS di Indonesia. Badan Intelijen Negara telah melakukan deteksi terhadap dampak penyebaran paham ISIS di Indonesia terutama berkembangnya kelompok-kelompok radikal. Terdapat potensi adanya upaya dari kelompok radikal untuk bergabung menjadi bagian dari ISIS. Oleh karena itu, BIN akan melakukan upaya pencegahan penyebaran paham yang dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.[6]

Penangkapan terhadap beberapa tokoh ISIS di Indonesia juga sudah berjalan. Abu Fida yang menjadi salah satu anggota dari JAT pimpinan Abu Bakar Ba’asyir sudah ditangkap oleh tim anti teror Densus 88. Abu Fida yang memiliki nama asli Syaifuddin Umar ini adalah salah satu tokoh ISIS di Indonesia. Ia aktif dalam kegiatan propaganda ISIS di Indonesia. Biasanya, pria yang pernah sekolah di Mekkah ini kebagian materi syariah, materi yang banyak mengupas dalil-dalil seputar kewajiban muslim mendukung gerakan kekhilafahan. Penguasaan inilah yang membuatnya bisa menjadi semacam motivator ulung. Ceramahnya mampu memberikan doktrin yang kuat, termasuk doktrin seputar kewajiban berjihad kepada para pendukung ISIS.[7]

Penangkapan terhadap tokoh ISIS di Indonesia ini merupakan salah satu kegiatan operasi yang di dalamnya terlibat juga intelijen negara. Secara fungsi, intelijen sudah bekerja sesuai tugasnya yaitu melakukan penyelidikan, pengamanan dan penggalangan sesuai yang diamanatkan Undang Undang nomor 17 tahun 2013.

Tugas intelijen dalam menghadapi ISIS dipastikan tidak berhenti di sini. Karena masih terdapat tugas yang tidak kalah beratnya yaitu menghadapi para jihadi ISIS yang nantinya akan pulang ke Indonesia setelah berperang di Irak dan Suriah. Bagaimana mengawasi mereka sehingga tidak menimbulkan kegiatan ISIS berikutnya di Indonesia adalah tantangan baru yang harus diantisipasi oleh intelijen Indonesia.

Untuk menghadapi pulangnya jihadi ISIS inilah peran BIN sebagai koordinator intelijen diperlukan. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 67 tahun 2013, Badan Intelijen Negara (BIN) resmi menjadi koordinator penyelenggara intelijen negara. BIN kini memiliki BIN daerah (Binda) sebagai unit struktural BIN di provinsi dalam hal penyelenggaraan kegiatan intelijen di daerah. Sementara di pusat ada pula Komite Intelijen Pusat (Kominpus) yang menjadi forum kordinasi pimpinan penyelenggaraan intelijen negara di pusat[8]. Dalam struktur Komite Intelijen Pusat yang dibentuk BIN terdapat kepala BIN sebagai ketua dengan anggota yang terdiri dari kepala intelijen Polri, asisten intelijen panglima TNI (Tentara Nasional Indonesia), kepala intelijen TNI, jaksa agung muda bidang intelijen serta pimpinan intelijen kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian. Sementara untuk Kominda, kepala Binda sebagai ketua dan anggotanya terdiri dari pimpinan Intelijen TNI di daerah, pimpinan intelijen Kepolisian di daerah, pimpinan intelijen Kejaksaan di daerah, kepala Kesatuan Bangsa dan Politik dan pimpinan intelijen kementerian lembaga pemerintah nonkementeran di daerah.

Dengan kelengkapan alat dan perangkat hukum tentang intelijen yang ada sekarang, BIN seharusnya dapat melakukan kerja koordinasi intelijen di Indonesia terkait dengan perkembangan ISIS, baik di pusat maupun daerah. Sesuai dengan Perpres nomor 67 tahun 2013 pasal 9 tadi, pertukaran informasi atau intelijen dapat dilakukan pada saat rapat koordinasi intelijen di pusat atau daerah yang akan diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan.

Namun demikian untuk mengantisipasi pendadakan strategis tetap dibutuhkan suatu sistem atau cara yang murah, cepat dan efektif. Agar keterangan intelijen tentang ISIS ataupun isu ancaman lainnya dapat dibagi dan didistribusikan demi kepentingan nasional serta dapat diakses siapapun dari dalam komunitas intelijen negara Indonesia.

[1]    Betts & Mahken (ed), Michael I. Handel: Intelligence and the Problem of Strategic Surprise, Paradoxes of Strategic Intelligence, hal. 1; Frank Cass, London, 2003

[2]    Joseph Cinyong Liow; ISIS Goes to Asia, hal. 2; Foreign Affairs, 2014

[3]    Fuad Nassar; Gerakan ISIS, Ancaman Ideologi dan Keagaman NKRI, bimasislam.kemenag.gi.id-informasi-opini

[4]    Gwenael Njoto-Feilard, Responses to the Challange of ISIS in Indonesia, hal. 3; ISEAS Perspective; 2014

[5]    Ibid.

[6]    http://www.bin.go.id/nasional/detil/298/1/07/08/2014/kepala-bin–tidak-ada-ruang-bagi-isis-di-indonesia

[7]    http://www.tribunnews.com/regional/2014/08/15/abu-fida-motivator-ulung-langganan-densus-88

[8]    http://www.beritasatu.com/nasional/151537-peraturan-presiden-no67-bin-jadi-koordinator-intelijen-negara.html

Advertisements

Badan Ekonomi Kreatif: Pemberantas Pembajakan?

 

badan-ekonomi-kreatif-pembajakan

Badan Ekonomi Kreatif sudah dibentuk. Meski belum siap untuk bekerja penuh, namun janji dari presiden Jokowi pada masa kampanye sudah ditepati. Lalu apa tugas awal untuk mematangkan industri kreatif di Indonesia khususnya dunia musik? Ada beberapa musisi yang berpendapat bahwa yang utama adalah pemberantasan pembajakan.

Masalah pembajakan baik untuk karya musik, perangkat lunak, film dan lainnya adalah masalah klasik industri kreatif di Indonesia. Kerugian akibat dari pembajakan ini sudah merugikan negara sebesar kurang lebih Rp4triliun.[1] Dalam hal pembajakan, Indonesia memiliki prestasi ‘tinggi’ yaitu menempati peringkat 12 dunia.[2] Tidak hanya di Indonesia, pembajakan juga bukan lagi hal baru di dunia. Ia sudah begitu menjadi ancaman akan dirampasnya hak intelektual para pekerja kreatif, termasuk pencipta lagu dan musisi

Kasus Norwegia

Teknologi dapat menjadi dua sisi pedang. Di satu sisi ‘ketajamannya’ dapat membantu industri kreatif, terutama musik. Di sisi lain ia dapat ‘membunuh’ perlahan-lahan. Dalam hal ‘membunuh’ salah satu contohnya adalah pembajakan yang relatif lebih mudah pada saat musik dapat dikompres menjadi file kecil dalam bentuk mp3. Mp3 dapat pindah dari satu komputer ke komputer lain, dari satu ponsel ke ponsel lain, dari satu flashdisk ke flashdisk lain tanpa perlu sadar dengan mechanical rights (hak menyebarkan) dari karya-karya musik tersebut.

Ada beberapa cara untuk mengurangi ketakutan kita akan pembajakan, sebagai pelaku dalam industri kreatif, baik pencipta maupun pebisnis. Ada studi di Norwegia baru-baru ini yang menyatakan bahwa pembajakan di negeri tersebut menurun[3]. Penyebab menurunnya pembajakan karena bantuan teknologi. Ini lah sisi lain dari teknologi yang positif dan membantu, yaitu streaming musik.

Dalam lima tahun, di survey itu, yang mengunduh file secara ilegal menurun drastis. Dari 80% di tahun 2009, pada tahun 2014 tinggal 4%! Jenis file yang paling banyak diunduh ilegal tentu saja adalah musik. Dengan bergesernya gaya hidup masyarakat Norwegia menjadi lebih dekat dengan dunia digital, sehingga membuat streaming musik sebagai kebutuhan yang relevan dan kontekstual. Seiring dengan bergesernya gaya hidup, kebutuhan akan hiburan, terutama musik, pun ikut bergeser.

Menurut data, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara dengan pengguna smartphone terbanyak di dunia dan jumlah pengguna internet Indonesia dari 2013 sebanyak 71 juta, meningkat menjadi 82 juta jiwa di 2014.[4] Di Indonesia sudah ada beberapa layanan streaming musik. Kesulitan yang dialami layanan-layanan tersebut adalah dalam hal transaksi pembelian jasa streaming itu yang kebanyakan menggunakan kartu kredit atau transfer. Ada juga yang menggunakan pemotongan pulsa ponsel bagi layanan yang bekerja sama atau yang dimiliki oleh perusahaan telco. Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak memiliki kartu kredit dan juga isu trust dalam bertransaksi menggunakan kartu kredit ataupun kas transfer di dunia maya menjadi masalah lain. Meskipun sudah banyak online shop tapi tidak serta merta banyak orang jadi percaya dan mau melakukan transaksi secara online.

Dengan pengguna ponsel dan internet yang begitu tinggi, Indonesia dapat mencontoh apa yang sudah dilakukan Norwegia untuk menurunkan angka pengunduhan data ilegal terutama musik. Badan Ekonomi Kreatif inilah yang diharapkan mampu menjadi inisiator dan lokomotif dari gerakan tersebut. Menyiapkan infrastruktur, termasuk untuk memudahkan transaksi online yang terjamin keamanannya, merangsang investor dan perbankan untuk mendukung lebih banyak lagi startup membuat layanan streaming musik, serta mengikutsertakan praktisi, akademisi, peneliti, untuk terus melakukan riset menemukan cara terbaik dalam menyelesaikan masalah ilegal sharing ini.

Butuh Bersinergi

Badan Ekonomi Kreatif (BEK) perlu bersinergi lintas instansi untuk melakukan pencegahan, pembinaan dan juga kampanye anti pembajakan dengan intensitas lebih tinggi, dengan menggunakan cara-cara yang kreatif tentunya. Sekarang kita juga memiliki komisioner di bawah Kemkumham yaitu Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Lembaga ini dibentuk untuk melindungi hak cipta sehingga dapat mendorong makin banyak orang untuk mencipta.[5]

Antara Badan Ekonomi Kreatif dan LMKN ini belum terlalu jelas tupoksi masing-masing. Apakah LMKN hanya bertugas untuk mengelola perlindungan hak cipta; cara pengoleksian hak cipta antara pemegang hak cipta dengan pengguna karyanya? Sedangkan BEK lebih pada tataran yang lebih luas mencakup pengembangan infrastruktur, pembinaan hingga strategi pengembangan inovasi industri kreatif? Apakah tupoksi BEK juga mencakup strategi pencegahan pembajakan? Semua ini masih belum jelas karena keduanya masih baru terbentuk. Asumsi sementara, kedua badan ini perlu bersinergi, termasuk dengan lembaga penegak hukum, dalam pencegahan dan pemberantasan pembajakan. Serta yang paling penting adalah political will yang solid dan konsisten.

 

[1] http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt524064d8f303a/pappri–pembajakan-di-indonesia-mencapai-90-persen. Diakses 1 Februari 2015

[2] http://news.okezone.com/read/2011/03/09/95/433207/hari-musik-nasional-stop-pembajakan. Diakses 2 Februari 2015

[3] http://www.businessinsider.co.id/norway-music-piracy-statistics-2015-1/#.VM3TccYolPM. Diakses 1 Februari 2015

[4]http://www.republika.co.id/berita/trendtek/gadget/14/11/02/neehfh-pengguna-smartphone-indonesia-peringkat-kelima-dunia. Diakses 1 Februari 2015

[5] http://www.tempo.co/read/news/2015/01/20/112636253/Rhoma-dan-Ebiet-Jadi-Komisioner-Hak-Cipta. Diakses 2 Februari 2015

American Sniper: Nasionalis Ketipu

american-sniper-poster

Tulisan ini bukan sinopsis atau review film karya Clint Eastwood. Jadi tidak perlu takut ada spoiler di tulisan ini. Toh, filmnya juga berdasarkan cerita nyata.

11 September 2001, menara WTC di New York dihajar dua pesawat dari maskapai penerbangan United Airlines dan American Airlines. Chris Kyle dan istrinya menyaksikan kejadian ini melalui pesawat televisi di rumah mereka di daerah Texas. Emosi amarah dari Chris Kyle pun memuncak. Rasa nasionalismenya pun membakar. Saat itu ia sudah tergabung dengan Navy Seals. Tidak lama setelah hari bersejarah itu, kampanye ‘Global War of Terror’ dicanangkan oleh pemerintah George W. Bush.

Tahun 2003, pemerintah Amerika Serikat dan sekutunya memutuskan untuk menginvasi Irak. Menurut laporan intelijen AS, Irak saat itu sedang mengembangkan senjata pemusnah massal. Cukup dengan laporan itu, George W. Bush memerintahkan untuk mengirimkan pasukan ke Irak. Tentunya juga masih menunggangi kampanye Global War of Terror yang tujuannya jelas memerangi terorisme, terutama Al Qaeda dan gerakan-gerakan aliansinya. Perang berlangsung beberapa tahun hingga akhirnya pemerintah Saddam Hussein jatuh dan, dalam konteks perang Irak, AS resmi menarik pasukannya pada tahun 2011.

Chris Kyle sebagai sniper dari US Navy Seals melakukan empat tur bolak balik ke Irak hingga keluar dari Navy pada tahun 2009. Rasa nasionalisme untuk menjaga AS dari serangan terorisme yang membuatnya getol bolak balik ke Irak. Rasa ingin melindungi bangsa dan keluarganya membuat ia rela meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Dengan alasan melindungi keluarganya itu lah hingga akhirnya konon ia menjadi incaran tentara maupun insurgen Irak karena keandalannya sebagai sniper. Dalam beberapa kesempatan nyawanya terancam.

Beberapa tahun kemudian, diketahui bahwa laporan intelijen itu ternyata dipolitisasi oleh rezim Bush. Tidak pernah ditemukan bukti konkret bahwa Irak sedang membangun senjata pemusnah massal. Karena memang mereka tidak punya senjata tersebut. Laporan itu hanya digunakan sebagai alat ‘pembenaran’ rezim Bush untuk invasi ke Irak dengan berbagai kepentingan di belakangnya, termasuk tentunya kepentingan terkait dengan minyak.

Seandainya bisa, Chris Kyle seharusnya ditempatkan satu ruangan dengan George W. Bush untuk saling curhat dan berdebat tentang ini. Tentunya bakal seru. Seringkali rasa kebanggaan untuk bela bangsa, apapun wujudnya, dari warga negara dimanfaatkan oleh penguasa bangsa itu sendiri.

The Imitation Game: Kekuatan SIGINT

The-Imitation-Game-Arindra-Intelijen

Pada saat CIA belum lahir di tahun 1947 dan Zulkifli Lubis yang disebut sebagai bapak intelijen Indonesia masih tergabung dengan PETA, Jerman sudah memiliki mesin sandi bernama Enigma. Konon, Enigma ini mengenkripsi pesan yang begitu sulit untuk dipecahkan oleh tentara Inggris dan Sekutu. Ada sekitar 159 juta juta juta (bukan typo, tapi memang sebanyak itu) kemungkinan dan itu pun harus dipecahkan dalam beberapa jam, karena lewat dari jam 12 malam, Jerman akan mengganti pesan sehari sebelumnya dengan pesan yang lain. Saat itu, sebagian besar pihak menganggap bahwa pesan-pesan sandi dari tentara Jerman ini seperti tidak mungkin dipecahkan. Datanglah Alan Turing, seorang jenius matematika dari King’s College Cambridge untuk membantu menyelesaikan masalah dinas rahasia Kerajaan Inggris tersebut.

Kisah ini diambil dari kisah nyata. Nama Turing sudah terkenal di mata para ilmuwan dan ahli matematika namun tidak ada yang tahu secara pasti keterlibatannya dalam operasi kontra intelijen ini. Kasus ini baru dibuka tahun 2013 oleh pemerintah Inggris.

SIGINT atau signal intelligence bisa jadi merupakan hal penting dalam kemenangan Sekutu pada perang dunia kedua ini. Pemecahan sandi adalah kemampuan yang harus dimiliki intelijen, terutama intelijen militer di masa perang. Di saat salah satu pihak berhasil memecahkan sandi-sandi dari lawannya, kemenangan sudah hampir di tangan. Namun justru sebaliknya, jika pihak lawan berhasil melakukan desepsi dan melakukan disinformasi terhadap sinyal-sinyal yang disadap, justru kekalahan atau kerugian yang akan didapat. Istilahnya adalah kegagalan intelijen. Contohnya kegagalan dalam SIGINT adalah Operation Gold. Operasi intelijen yang dilakukan oleh CIA dan SIS Inggris pada masa Perang Dingin sekitar tahun 1953 di Berlin. Objektif operasi itu adalah menyadap telepon di markas tentara Soviet di Berlin. Penyadapan berhasil dilakukan tapi pihak Soviet juga sudah dikabarkan oleh mata-mata yang menyusup di dalam intelijen Inggris, George Blake. Sehingga komunikasi yang dilakukan pihak Soviet kebanyakan hanyalah informasi palsu untuk menyesatkan CIA dan SIS.

Kesuksesan Turing dan timnya yang tergabung dalam GC and CS (Government Code and Cipher School) di Bletchley Park inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal terbentuknya Goverment Communications Headquarters (GCHQ) tahun 1952, dinas rahasia yang bertugas memantau SIGINT di seluruh dunia untuk kepentingan Inggris.

Intelijen & Pengamanan Budaya

arindra karamoy blog - intelbudaya

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Sehingga yang dimaksud dengan budaya adat Indonesia adalah hasil karya, rasa dan cipta masyarakat Indonesia di tiap daerah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Jenisnya pun beragam, ada tarian, lagu, musik, acara adat, pakaian, kepercayaan dan lain-lain.

Dengan begitu banyaknya budaya yang ada di Indonesia tentunya mereka tidak lepas dari ancaman dari kepunahan karena kalah bersaing dengan budaya asing ataupun yang sudah beberapa kali terjadi adalah ancaman dari ‘pencurian’ budaya yang dilakukan negara lain. Menghadapi ancaman ini, intelijen sebenarnya dapat berperan untuk mendeteksi ancaman-ancaman seperti ini. Inteljien pun dapat melakukan operasi sesuai dengan tugas dan fungsinya dengan tujuan untuk menjaga ketahanan budaya agar tetap utuh.

Salah satu fungsi intelijen adalah pengamanan. Dalam Undang Undang nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara dijelaskan definisi tentang ‘pengamanan’, yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk mencegah dan/atau melawan upaya, pekerjaan, kegiatan Intelijen, dan/atau Pihak Lawan yang merugikan kepentingan dan keamanan nasional.

Dengan mengacu pada fungsi intelijen ini apapun yang diduga dapat merugikan kepentingan nasional maka dapat segera dideteksi oleh intelijen. Sementara menurut A.M Hendropriyono dalam buku Filsafat Intelijen, kegiatan pengamanan dapat dibagi dua, yaitu pengamanan aktif dan pasif. Pengamanan aktif adalah dengan melakukan counter-intelligence. Sementara pengamanan pasif adalah melakukan kegiatan preventif terhadap kemungkinan pihak lawan menjadikan kita sasaran intelijen. Pengamanan dapat dilakukan terhadap personil, keterangan dan material. Pengamanan untuk budaya termasuk dalam pengamanan material yang mencegah material atau dalam hal ini jenis budaya menjadi sasaran pemalsuan, pencurian dan perusakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Bagaimana ‘mengamankan’ budaya? Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan pengarsipan atau mendokumentasikan segala kegiatan atau jenis budaya di Indonesia. Dalam era digital seperti sekarang ini, data penyimpanan untuk melakukan pengarsipan sedemikian besarnya. Sehingga untuk melakukan pengarsipan dalam jumlah data yang besar tidak lagi menjadi masalah.

Pengamanan budaya tentunya dapat menjaga ketahanan budaya dan juga sebagai bukti otentik bahwa Indonesia adalah pemilik resmi dari budaya tersebut. Terlebih lagi di dunia daring seperti era sekarang ini, masyarakat atau siapapun yang ingin ‘menjual’ budaya Indonesia dapat sekaligus melakukan promosi budaya lokal tersebut yang tersimpan secara digital untuk dapat dinikmati siapapun di dunia ini dengan akses internet. Sehingga dapat meningkatkan nilai Indonesia di mata bangsa lain dan otomatis akan melahirkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia.

Seperti apa PSSI di tahun 2025?

l-Soccer-cat

oleh Arindra Karamoy & Andhika Prakasa

Bermain di Piala Dunia adalah mimpi semua pemain sepakbola. Menyaksikan tim nasional sepakbola negaranya adalah kebanggaan bagi setiap warga negara tersebut.

Bermain di Piala Dunia bukanlah hal yang mudah. Persaingan antar negara begitu ketat. Dibutuhkan suatu industri sepakbola yang sehat untuk menciptakan kompetisi berkualitas di segala kelompok umur. Kompetisi yang pada akhirnya melahirkan pemain-pemain berkelas. Tim nasional suatu negara pun akan terbantu jika kompetisi dalam negara itu berjalan dengan baik dan mempunyai pemain-pemain berkelas yang lahir dari kompetisi lokal. Tim nasional akan diisi oleh pemain-pemain berkualitas tinggi dan mampu bersaing.

Sepakbola di Indonesia adalah olahraga yang paling digandrungi oleh sebagian besar warga Indonesia. Potensi pemain – pemain berbakat sepakbola Indonesia juga sangat besar terbukti dengan Timnas Indonesia U-19 menjuarai Piala AFF U-19 yang digelar di Indonesia pada September 2013. Prestasi lainnya adalah Tim Nasional U-12 AQUADNC meraih posisi ke–7 pada kejuaraan yang diselenggarakan oleh Aqua di Brazil, diikuti timnas oleh 32 tim dari berbagai belahan dunia seperti Jepang, Brazil, Jerman dll. Dalam kejuaraan ini Tim Indonesia berhasil menyabet peringkat 7 setelah mengalahkan Meksiko dengan skor 1-0 berkat gol tunggal dari Saiful.1

Potensi yang besar selama ini tidak dikelola dengan baik oleh PSSI yang ada. Untuk gelar tim senior atau timnas U-23 indonesia terakhir kali mendapatkan posisi tertingginya pada kejuaraan se-ASEAN adalah hanya pada SEA Games 1991 yang sudah dihelat 23 tahun lalu. Publik rindu timnas Indonesia berjaya di kancah Internasional setidaknya pada kawasan Asia tenggara dulu, lalu bertahap ke tahap Asia kemudian Dunia.

Skenario terbaik

Skenario terbaik yang dapat terjadi pada PSSI pada tahun 2025, setahun sebelum Piala Dunia ke 23 berlangsung, jika melihat pada dua faktor, yaitu keterlibatan pemerintah yang maksimal dan keberanian PSSI sebagai organisasi untuk berinovasi.

Pada tahun 2025, PSSI dapat menjadi organisasi yang berbeda dibanding dengan sebelumnya. Revolusi yang terjadi di tubuh organisasi membawa perubahan besar. Masalah-masalah klasik yang sering terjadi di dalam sepakbola Indonesia makin berkurang.

Kompetisi berjalan secara berkelanjutan dari kompetisi junior hingga kompetisi profesional sehingga lahir pemain-pemain berkualitas yang menjadi tim nasional Indonesia disegani di Asia, terutama pada saat penyisihan Piala Dunia zona Asia Pasific. Di kompetisi Liga Indonesia, semakin banyak pemain-pemain bintang dari seluruh dunia, terutama dari negara-negara utama di Asia Pasifik. Dengan lancarnya kompetisi, semakin banyak sponsor yang berminat untuk ikut dalam industri sepakbola.

Meskipun FIFA terpaksa mencekal segala kegiatan timnas untuk berlaga di turnamen internasional akibat dari intervensi pemerintah, tapi itu justru membuat pemangku kepentingan PSSI fokus untuk melakukan revolusi dan inovasi. Pencekalan terjadi pada tahun 2016 hingga 2020.

Inovasi PSSI yang bermentalkan revolusi ini didukung penuh oleh pemerintah sehingga PSSI memiliki kekuatan hukum dan wewenang untuk melakukan apa saja demi memajukan persepakbolaan nasional. Perubahan di berbagai aspek organisasi dan pembangunan sepakbola yang akhirnya kini membawa menjadi suatu industri. Pemerintah melakukan banyak kebijakan terhadap revolusi PSSI ini.

Pertama-tama, pada tahun 2015, pemerintah menyiapkan tim independen yang akan bertindak sebagai pengawas sekaligus auditor dalam bidang keuangan, transparansi rekrutmen pelatih, wasit, keuangan klub-klub, baik klub dari divisi terendah hingga klub yang akan bermain di liga utama. Hasilnya, perombakan total di dalam tubuh PSSI, dari pengurus pusat hingga pengurus di daerah. Jelas banyak protes dari berbagai pihak yang berkepentingan. Banyak tuntutan dan ‘perang’ di media antara pemerintah dan rezim lama PSSI.

Setelah melakukan perombakan total di dalam tubuh PSSI, pemerintah mulai melakukan reformasi di dalam PSSI. Pemilihan orang-orang yang akan menjadi pengurus dilakukan secara akuntabel dan transparan berdasarkan kapabilitas inti. Pemilihan dilakukan oleh lembaga rekrutmen yang independen. Setelah berhasil menentukan pengurus, PSSI dan pemerintah duduk bareng untuk menentukan langkah-langkah strategis jangka panjang maupun taktis.

Prestasi di kawasan Asia Tenggara bukanlah mimpi lagi. Timnas Garuda sudah berhasil menjadi macan Asia Tenggara. Turnamen AFF ataupun SEA Games sudah menjadi langganan prestasi timnas. Tidak ada lagi negara ASEAN yang mampu menandingi timnas Garuda.

Pelatihan yang sudah canggih dengan mengadopsi sports science, termasuk ilmu psikologi dan manajemen, menghasilkan tim manajemen timnas dari tahun ke tahun mumpuni dan modern. Masalah cedera berkelanjutan dari seorang pemain ataupun masalah psikis dapat diselesaikan dengan baik.

Pada penyisihan PD 2026, Indonesia berhasil bersaing dengan ketat dalam grup. Persaingan paling ketat adalah dari negara-negara seperti Korsel, Iran serta Australia. China, yang mengalami resesi ekonomi di negaranya, membuat mereka tidak mampu berkompetisi karena fokus pada masalah dalam negerinya.

Prediksi seperti ilustrasi di atas tentu tidaklah mudah namun bukan berarti mustahil. Tekad dari semua pihak untuk memajukan sepakbola Indonesia begitu dibutuhkan. Terutama keterlibatan dan keseriusan PSSI dan juga pemerintah. Karena mati atau tidaknya persepakbolaan sangat tergantung dari kedua entitas tersebut.

Intelijen dan Naiknya Harga BBM

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya intelijen dengan kenaikan harga BBM? Dalam Undang Undang nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara pasal 6 tertulis tentang fungsi intelijen. Salah satu fungsinya adalah ‘penggalangan’. Di dalam pasal 6 ayat 3 itu tertulis bahwa penggalangan terdiri atas serangkaian upaya, pekerjaan, kegiatan, dan tindakan yang dilakukan secara terencana dan terarah untuk memengaruhi sasaran agar menguntungkan kepentingan dan keamanan nasional. Kata kuncinya di dalam definisi dari ayat tersebut adalah ‘memengaruhi’. ‘Sasaran’ dalam konteks tulisan ini adalah masyarakat Indonesia pada umumnya.

Karena intelijen negara adalah bagian dari pemerintah, maka mendukung kebijakan pemerintah memang sudah menjadi kewajiban. Mendukung di sini tentunya harus sesuai dengan fungsinya yang diatur dalam Undang Undang.

Di luar berbagai pendapat yang pro dan kontra terhadap isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang diumumkan oleh presiden Joko Widodo pada tanggal 17 November 2014 lalu , salah satu fungsi intelijen negara yaitu penggalangan, sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah berkenaan dengan kepentingan nasional. Kepentingan nasional dalam hal ini, secara singkat, adalah untuk mendistribusikan subsidi agar lebih tepat sasaran.

Secara umum di banyak negara, intelijen negara, yang di negara ini dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Negara atau BIN, adalah agensi atau lembaga negara dengan klien tunggal, produsen dengan ‘langganan’ hanya satu konsumen, yaitu presiden. Sehingga presiden berhak meminta intelijen negara untuk membantu melakukan salah satu fungsinya ini untuk menggalang pengaruh di masyarakat.

Menurut AM Hendropriyono (Filsafat Intelijen), ada dua jenis penggalangan, yaitu penggalangan keras dan cerdas. Untuk kenaikan BBM yang resmi naik per tanggal 18 November 2014  ini perlu digunakan penggalangan cerdas menggunakan pendekatan yang lebih psikologis, dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk menyadarkan dan memengaruhi rakyat akan pentingnya kenaikan BBM ini demi kepentingan nasional di masa depan.

Jika zaman dulu kerap kali kita mendengar bahwa fungsi penggalangan ini disalahgunakan oleh pemerintah Orde Baru untuk memaksa masyarakat menuruti kebijakan-kebijakan dari pemerintah. Memaksa dengan segala cara, dari cara yang wajar hingga cara kekerasan. Kini, zaman telah berubah. Intelijen negara tidak dapat lepas dari keterikatan sumpah dan Undang Undang yang dapat menghukum personel intelijen negara yang melanggar. Setiap orang yang dirugikan dalam pelaksanaan fungsi intelijen juga dapat mengajukan permohonan rehabilitasi, kompensasi dan restitusi seperti yang tertulis dalam pasal 15 UU 17/2011. Pelaksanaan fungsi intelijen yang profesional dan sesuai dengan Undang Undang seharusnya sudah dapat diterapkan sesuai jalurnya.

Selain itu, filosofi dari eksistensi intelijen ialah untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Intelijen negara juga berperan untuk mengamankan dan menyukseskan kebijakan dari pemerintah. Jadi sebenarnya sudah sangat wajar jika pemertintah untuk memaksimalkan kerja intelijen dalam mendukung kebijakan kenaikan BBM ini.

Kegiatan intelijen kebanyakan dilakukan dengan melakukan kegiatan rahasia, yang tidak terlihat oleh masyarakat. Sehingga kegiatan penggalangan ini juga kemungkinan tidak mudah terbaca oleh masyarakat. Mungkin kegiatan kampanye penggalangan dalam mendukung naiknya BBM ini sudah dilakukan oleh pemerintah dan intelijen. Atau mungkin juga belum maksimal, karena sekarang hanya berselang satu hari dari harga baru BBM berlaku (tulisan ini ditulis pada tanggal 19 November 2014). Harapannya tentu agar kegiatan penggalangan ini, jika ada, dilakukan demi tujuan masa depan yang lebih baik untuk menyejahterakan bangsa dan memajukan negara ini. Tidak lagi disalahgunakan seperti masa lalu.