#12Album: Achtung Baby – U2

achtungbaby_albumphoto1_640
Pic: U2.com

Baru konsen dan fokus dengerin sebuah band bernama U2 dimulai di album ini. Sebelum album ini, paling cuma denger lagu-lagu hits mereka seperti With Or Without You yang diakhir 80-an menjadi lagu fenomenal. Di tengah kepungan hair metal band,  U2 tampil gila dengan musik yang beda, baik aransemen dan produksinya, di album Joshua Tree.

Sempat tertarik untuk tahu lebih dalam tentang U2 di era album Joshua Tree dan Rattle And Hum, tapi ternyata belum cukup niat untuk ngulik. Baru pas album Achtung Baby,  berhasil tergerak. Asumsi gue, karena itu adalah pas SMA di sekolah yang benar-benar mendukung kemerdekaan berkespresi dan toleransi, termasuk dalam hal selera musik. Gak ada selera dominan di dalam komunitas sekolah tersebut. Rock mungkin bisa dibilang dominan, tapi semua cabang dan ranting dari musik rock bisa diterima. Ditambah, kami berada di usia yang sedang mencari, mengeksplorasi, dan bereksperimen tentang banyak hal termasuk selera musik.

Ada teman berkomentar pas gue denger album ini, kok selera musik gue berubah jadi aneh? Komentar itu memicu gue untuk terus mencari musik ‘aneh’ dan belajar mengapresiasi musik dan keanehan apa pun.

(Achtung Baby dan U2 dibilang aneh? Aneh!) :))

Advertisements

#12Album – Resesi

Chrisye_-_resesiAlbum Resesi dari Chrisye ini adalah album rock asal Indonesia. Itu menurut gue. Album rock pertama yang gue denger. Mungkin ada yang nggak setuju kalau album ini adalah album rock, nggak masalah.

Kenapa buat gue ini adalah album rock? Dari lirik, lagu-lagu di dalam album ini banyak yang bertemakan ‘pemberontakan’, rebellious. Bukankah suatu lagu yang digenrekan dalam genre rock harus berisi lirik berontak? Nggak sekadar lengkingan suara vokal ataupun raungan distorsi gitar listrik?

Berontak nggak melulu melawan status quo atau beda pandangan dengan penguasa, baik penguasa secara politik, ekonomi maupun sosial. Menarasikan suatu kenyataan yang mengganggu kehidupan masyarakat atau kelompok itu sudah bisa dikatakan berontak. Menurut gue, itu dapat dikategorikan sebagai karakter berontak. Karakter sebuah komposisi rock. Bob Dylan sering atau hampir selalu mengambil pendekatan seperti ini. ‘Berteriak’ untuk berontak dengan liriknya tanpa harus berteriak.

Dari judulnya saja, album ini sudah sangat rock, sangat berontak. Berontak akan suatu kondisi yang dirasakan masyarakat saat itu. Belum lagi lirik dalam lagu seperti Lenny, Resesi, Money, Anak Manusia, Polusi Udara. Album ini sangat rock. Paling nggak buat gue yang denger album ini pas umur sekitar 10 tahun. Rasanya, ini album Chrisye satu-satunya yang paling dekat dengan karakter suatu album rock.

#12Album: Kampungan – slank

Suatu hasil karya meledak karena bertepatan dengan konteks ruang dan waktu. ‘Kampungan’ ini salah satu buktinya. Selera pasar musik saat itu sekitar akhir 80-an sampai awal 90-an adalah Guns N Roses. Apa pun yang bernuansakan GnR hampir pasti laku. Tidak hanya berlaku pada genre tapi juga attitude dan bahkan gaya hidup. Semua itu ada pada Slank. Suka gak suka album ini juga terpengaruh oleh era GnR tersebut, meski para personil Slank saat itu punya referensi musik masing-masing yang sangat jauh dari band-band ‘jebolan’ The Roxy di Los Angeles sana.

Pertama kali tahu Slank, nonton mereka di televisi, kalau gak salah di TVRI. Ya, stasiun milik pemerintah itu memang cukup keren di zamannya dengan acara-acaranya. Waktu itu masih promosi album pertama, ‘Suit..suit..Hehe’ tapi malah bisa dapat albumnya beberapa bulan kemudian. Ternyata mereka sudah punya album baru, ‘Kampungan’.

Album yang nggak sopan dan nggak senonoh di zamannya ini jelas langsung jadi playlist di pemutar kaset saya. Nggak ada band yang selugas ini dalam bermusik, terutama dalam liriknya. Iwan Fals lugas tapi nggak teriak “Anjing!” kan di lagu-lagunya? 

Album yang pas dengan suasana hati dan situasi saat itu. Muda, liar, berontak, dan anjing.

#12Album: Nevermind – Nirvana

01-114-d31474ea-a1db-41e3-9e4c-8371729a959b
pic: rollingstone.com

I like it, I’m not gonna crack – Lithium (Nirvana)

Album legendaris yang akan selalu diingat jika kita bicara generasi 90-an. Mau benci, ngefans, pernah ngefans atau nggak ngefans, pasti tahu album ini jika kita besar di era 90-an, terutama 90-an awal.

Pertama kali dengar Smells Like Teen Spirit di sebuah radio Jakarta. Saya berpikir waktu itu, kenapa lagu sekencang ini bisa masuk playlist radio? Lagu ini jelas lagu rock yang bukan ballad. Waktu itu, cuma lagu rock ballad yang bisa masuk playlist harian radio-radio Jakarta, kecuali di acara yang khusus musik rock. Saya tertarik.

Ketika mendegar utuh seluruh album, ada perasaan aneh. Album ini meninggalkan kemarahan yang diselimuti oleh ketepatan harmoni nada-nadanya. Keliaran yang tersalurkan dan terarah tepat menuju sasaran. Biasanya jika band hard rock atau metal, kecenderungannya melupakan harmoni dan dinamika dalam musiknya. Yang penting berisik, sangar dan marah. Begitu pun dengan band punk. Yang penting nyeleneh dan aneh. Album ini berbeda.

Album ini, seperti juga Ten (Pearl Jam) dan Achtung Baby (U2), adalah milestone pribadi saya dalam eksplorasi musik. Paling tidak dalam mencari pengalaman baru dalam menikmati musik. Ketiganya adalah awal dari keterjerumusan dalam buaian musik ‘alternatif’ yang sepertinya adalah genre paling berpengaruh dalam hidup saya.

 

 

#12Album: Ten – Pearl Jam

index
amazon.com

Untuk album ini, sebagian sudah pernah saya tulis di sini.

Yang ingin saya tambahkan adalah dalam satu fase kehidupan pasti ada saatnya kita jenuh dan ingin perubahan. Perubahan dalam hal apa pun, tidak hanya pengalaman menikmati musik.

Kemunculan Ten di sekitar tahun 1991-92 ini bagi saya adalah bertepatan dengan fase tersebut. Ingin perubahan akan suatu yang lebih jujur, apa adanya, tidak ditutupi dengan make up seperti kebanyakan ‘hair band’ saat itu. Tidak hanya Ten tapi beberapa album lainnya dari daftar ini juga termasuk dalam fase kehidupan saat itu.

Keinginan akan adanya perubahan mungkin juga pengaruh dari mulai memanasnya kondisi politik di Indonesia saat itu, secara sadar atau tidak. Mulai munculnya ketidakpuasan dengan rezim Soeharto, terutama karena praktek KKN oleh keluarga dan kroninya yang semakin nyata terbuka di depan mata.

Kondisi sosial politik di Indonesia tersebut yang secara tidak sadar membuat Ten sebagai suatu pelarian. Pelarian dari kepalsuan, ketidakpuasan, dan ketidakadilan yang mulai muncul ke permukaan.

#12Album: White Album – The Beatles

Pertemuan pertama dengan album ini sekitar 30 tahunan lalu, harusnya. Waktu itu lagi main ke rumah sepupu dan kami sama-sama beatlemania. Kalo anak sekarang ngomongin game online atau pistol Nerf dengan sepupu, kami ngobrolnya tentang kaset The Beatles yang waktu itu jelas masih kaset bajakan. Suram memang tapi bahagia.

Ngobrol macam-macam sampai akhirnya mata saya mengarah ke sebuah kaset dengan sampul putih polos. Saya pikir itu pasti bukan album The Beatles. Ternyata setelah diperhatikan, ada tulisan The Beatles di situ. Saya bertanya pada sepupu dan ia bilang ini album The Beatles. Setelah diperhatikan ada lagu Obladi Oblada yang saya sudah tahu sebelumnya. Ini jelas album The Beatles.

Singkat kata, setelah tahu akan eksistensi album ini di dunia, saya mulai mencari di toko kaset. Agak sulit karena waktu itu kaset berisi lagu-lagu campuran dari berbagai album. Jarang yang menjual kaset per album. Maklum bajakan. Akhirnya, keluar juga kaset edisi per album dan dapatlah album ini.

Pertama kali dengar, bingung. Ini The Beatles? Helter Skelter? Revolution? Happiness is a warm Gun? Why Don’t We Do It In The Road? APA INI?? Dari soundnya sama sekali bukan Help! apalagi Love Me Do. Juga dari aransemen dan lirik. Hilang sudah manisnya musik pop, citra good boys from Liverpool. Bahkan album Sgt. Peppers masih ada unsur Beatles awal dan saya masih bisa ‘kena’. Berganti dengan gitar bermuatan drive yang kuat, progresi kord yang kian rumit, teriakan-teriakan kasar dan parau.

Di double album ini justru saya malah menemukan The Beatles sesungguhnya. Kejeniusan mereka. Bukan lagi sekadar lagu enak di telinga tapi keberanian mereka mengambil sisi estetis yang berbeda jauh. Keluar dari kenyamanan. Siapa yang berani rilis double album di tahun 1968? Pink Floyd baru 11 tahun kemudian merilis The Wall, yang mungkin adalah the best selling double album in human history.

Karena alasan-alasan di atas jadi jelas kenapa album ini berpengaruh dan penting buat saya. Oh ya, album ini sebenarnya bukan ‘White Album’, tapi judulnya sederhana, ‘The Beatles’. Sederhana judul dan cover albumnya, tidak sederhana musiknya.

#12Album Yang Berpengaruh

Dapat postingan seperti ini di facebook. 12 hari ke depan mau coba membahas masing-masing album ini. Dimulai hari ini.

Rules of the game: Copy this and post as your status update. List 12 albums that made a lasting impression on you, but only 1 per band/artist. Don’t take too long and don’t think too long!

1. The Beatles – White Album

2. Pearl Jam – Ten

3. Nirvana – Nevermind

4. Slank – Kampungan

5. Chrisye – Resesi

6. u2 – Achtung Baby

7. Bon Jovi – New Jersey

8. Rush – Hemispheres

9. Soundgarden – Superunknown

10. REM – Automatic For The People

11. Queen – Jazz

12. Iwan Fals – Mata Dewa