Ingat Sejarah: Iklan Adalah Media

Pada zaman VOC dulu, iklan adalah media itu sendiri. Saat itu terdapat suatu lembaran seperti surat kabar, namun kontennya bukan berita, melainkan pengumuman dan iklan. Misalnya, iklan tentang toko roti yang baru buka, pengumuman kapan kapal dari Belanda akan merapat, dan lainnya. Baru beberapa puluh tahun kemudian, media surat kabar lahir. Media dengan konten-konten berita. Iklan masih ada di media surat kabar tersebut dan menjadi salah satu  sumber revenue dari media cetak, selain subscription, tapi bukan lagi menjadi konten utama.

batavie

Kira-kira seratus tahun lebih kemudian, industri iklan perlahan tapi pasti mulai padam. Biro iklan lokal banyak yang tutup. Kalau tidak tutup, sudah sangat miskin  klien atau proyek. Tentu biro iklan multinasional masih berjaya, meskipun ada beberapa catatan tentang penurunan revenue di beberapa konglomerasi grup perusahaan komunikasi pemasaran. Lalu, apakah iklan sudah mati?

Tentu tidak. Selama masih ada pihak yang berdagang menjual produk, jasa, personal, bahkan ideologi, iklan tak akan mati. Iklan akan digunakan untuk memromosikan hal-hal itu semua dengan berbagai cara yang sangat mungkin tidak lagi menggunakan cara tradisional. Meski secara bisnis, iklan sedang tiarap, terutama pelaku bisnis lokalnya.

Lalu, bagaimana membangunkannya lagi? Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sekilas sejarah di paragraf pertama, saya tulis bukan tanpa maksud. Bagaimana kalau kita kembali seperti yang dicatat sejarah.

Iklan. Adalah. Media.

Konsep ini sangat tidak baru. Bahkan sekarang sudah banyak brand yang memanfaatkan strategi ini. Strategi yang sering disebut content marketing atau ada juga yang menyebut brand journalism. Brand menggunakan content marketing karena hari gini siapa yang mau nonton atau baca iklan? Sehingga brand membuat konten-konten yang diinginkan oleh target market-nya untuk ‘memancing’ konsumen keluar dari tempat persembunyiannya yang anti-iklan. Konten-konten berbayar tersebut tentunya bisa di-branding, bisa juga tidak terlalu heavy dalam branding.

Contohnya Red Bull. Silakan datang ke website Red Bull di sini. Ekspektasi kita pada saat membuka situs tersebut kemungkinan besar adalah melihat berbagai jenis produk minuman energi. Atau juga membaca keterangan tentang produk-produknya. Ternyata di luar ekspektasi.

Red Bull membuat konten-konten yang menarik bagi marketnya. Anak muda penggila olah raga, terutama extreme sports. Mereka tidak ‘jualan’ produk di webnya. Mereka memamerkan konten seperti layaknya sebuah media olah raga ekstrem. Ya, brand berakting seperti media. Ada berita, artikel, baik dalam bentuk tulisan maupun video.

Biro iklan dapat mengambil peran dalam perancangan konten dari brand. Dari perencanaan, riset, kreatif, hingga produksi. Job desc yang tidak terlalu baru tapi memang berbeda dengan perancangan iklan. Peluang ini yang rasanya dapat dimanfaatkan oleh industri iklan lokal untuk kembali bernafas.

Sekali lagi mengingatkan, iklan adalah media. Sejarah sudah pernah mencatatnya.

Advertisements

Wiro Sableng di Kampus

IMG_20180328_114628(1)

Promosi wajib dilakukan siapapun. Produk, jasa bahkan sebuah karya. Film, misalnya. Cara promosi pun bisa bermacam-macam.

Jika mengikuti model klasik 4P dalam marketing, salah satu P adalah ‘promotion‘. Promotion tersebut memiliki bauran sendiri: promotion mix. Promotion mix klasik adalah aktivitas iklan, public relations, direct marketing, personal selling dan sales promotion. Meskipun sekarang ada beberapa aktivitas yang bisa ditambahkan dalam bauran itu, misalnya: event marketing, sponsorship, social media marketing, dan lainnya.

Kembali ke film. Sebagai karya kreatif layak ditunggu sebuah promosi film yang juga kreatif. Wiro Sableng, sebuah film yang akan rilis pada tahun 2018 melakukan aktivitas promosinya di kampus. Di lobi gedung A, kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tiba-tiba muncul banyak poster Wiro Sableng. Pameran poster tepatnya. Terdapat 25 karya poster yang dipamerkan.

Aktivitas ini tentu menarik mahasiswa terutama jurusan Desain atau pun mahasiswa keseluruhan. Pameran ini membuat Wiro Sableng mendapat tempat di mahasiswa. Cerita Wiro Sableng lebih dikenal oleh angkatan yang lebih tua dari mahasiswa sekarang. Angkatan para dosen mereka, mungkin lebih tua lagi.

Dengan pameran poster yang karya-karyanya keren itu makin mendekatkan Wiro Sableng dengan sasaran usia muda. Pendekatan promosi yang sesuai konteks dan paham sasaran seperti ini hasilnya akan positif. Nggak percaya? Mari kita tunggu sampai saat film ini rilis.

GO-JEK: Mengikuti atau Mengubah Perilaku?

gojek
pic: poskotanews.com

Kemarin pas mengajar mata kuliah Perilaku Konsumen, ada mahasiswa yang bertanya. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini: apakah Go-Jek mengikuti perilaku masyarakat, khususnya Jakarta sehingga ia berani membuat bisnis seperti sekarang ATAU Go-Jek justru mengubah perilaku konsumen terutama pengguna transportasi umum di Jakarta?

‘Mengikuti perilaku’ artinya Go-Jek melihat adanya perilaku konsumen yang semakin hari semakin lelah berkendara di Jakarta dengan kemacetannya. Mereka segan membawa kendaraan pribadi tapi juga tidak tertarik untuk menggunakan moda transportasi umum dengan berbagai alasannya. Melihat perilaku seperti itu, akhirnya Go-Jek melihat peluang untuk membantu masyarakat dalam menghadapi masalah kemacetan dengan membuat aplikasi yang menghubungkan konsumen dan juru ojek.

‘Mengubah perilaku’ maksudnya adalah Go-Jek layaknya Julius Cesar: veni, vidi, vici. Datang, lihat, dan menguasai. Go-Jek dengan aplikasinya datang di tengah masyarakat, ternyata disukai dan memberi solusi, hingga sekarang menjadi perusahaan papan atas. Ia mengubah perilaku konsumen pengguna transportasi di Jakarta dan kota-kota besar. Mereka tidak lagi tergantung dengan kendaraan pribadi atau pun moda transportasi umum yang belum sempurna secara infrastruktur dan lainnya.

Jadi, Go-Jek yang mana?

Dalam kelas, kami berdiskusi dan sampai pada kesimpulan bahwa Go-Jek adalah keduanya. Awalnya, Go-Jek melihat adanya perilaku konsumen yang begitu membutuhkan alternatif kendaraan untuk beraktivitas di Jakarta. Lalu, lahirlah aplikasi Go-Jek sebagai solusi transportasi. Seiring berjalannya waktu, Go-Jek menambah layanannya, hingga itu semua mengubah perilaku konsumen dalam banyak hal. Selain mengubah perilaku dalam berkendara tapi juga dalam hal delivery makanan, barang dan berbagai jasa.

Ngide? Gampang!

ide

Ide. Kita sering dengar kata itu, ya gak? Dalam proses bikin content, kita jelas perlu ide, ide perlu dicari.

James Webb Young bilang bahwa an idea is nothing more nor less than a new combination of old elements. Sebuah ide adalah kombinasi dari elemen-elemen atau ide lama. Definisi ini cukup menjelaskan. Jadi, ide terbentuk dari kumpulan ide-ide lama yang dikombinasikan sehingga menjadi suatu ide baru. Ide lama bisa muncul dari mana saja, biasanya dari apa yang kita alami, kita lihat, dengar, dan rasakan.

Lalu, gimana caranya supaya kita bisa mudah menemukan ide-ide tersebut. Foster (2007) menyebutkan sepuluh kondisi agar ide dapat mudah ditemukan, yaitu:

  1. Have Fun (Bergembiralah)
    Nikmati proses pencarian tersebut tanpa beban. Nikmatilah hidup.
  2. Be More Like a Child (Jadilah Seperti Seorang Anak Kecil)
    Kita ingat bagaimana waktu kita masih anak-anak? Atau coba perhatikan anak-anak di sekitar kita. Mereka lepas bermain, hidup di saat itu tanpa berpikir terlalu jauh.
  3. Become Idea-Prone (Menjadi Sumber Ide yang Mudah Didapat)
    Semakin sering kita beride, semakin mudah ide-ide lain muncul. Artinya, jangan berhenti mencari ide. Teruslah mencari.
  4. Visualize Success (Arahkan Pikiran pada Tujuan)
    Bayangkan nikmatnya kalau ide itu didapat dan berhasil dieksekusi. Kita ngetop, digila-gilai, banyak yang ngefans. Tapi hati-hati disangka gila kalau ngebayang-bayang sampai senyum-senyum sendiri. 🙂
  5. Rejoice in Failure (Bersukacitalah dalam Kegagalan)
    Tidak ada ide yang salah. Kalau ide tersebut ternyata kurang pas, cari lagi. Santai.
  6. Get More Inputs (Dapatkan Masukan Sebanyak Mungkin)
    Sumber ide ada di mana saja. Di sekitar kita. Baca buku, tonton film, ngobrol, browsing. Buka pikiran seluas-luasnya.
  7. Screw Up Your Courage (Beranikan Diri)
    Beranikan diri meraih ide tanpa harus takut salah. Karena tidak ada ide yang salah.
  8. Team Up with Energy (Jadikan Teman sebagai Energi)
    Ajak teman atau berpartner lah. Semakin banyak kepala yang berpikir, semakin tajam idenya.
  9. Rethink Your Thinking (Pikir Ulang Cara Berpikir)
    Ubah cara berpikir. Tidak perlu ikut aturan atau logika. Berpikir secara visual. Gambarkan ide dalam sebuah visual.
  10. Learn How to Combine (Belajarlah Bagaimana Cara Mengombinasikan)
    Kombinasikan dengan menggunakan analogi. Gunakan pula skenario dengan “Seandainya begitu…”

Silakan dipraktikan. Semoga ide-ide cemerlang dan out of the box lancar ya. Berikut contoh dari seseorang yang berani berpikir out of the box. Klik di sini.

Pahami Generasi Phi

“Everybody else is doing it, so why can’t we?” –  The Cranberries (RIP Dolores)

Di dalam buku ini, salah satu yang penting dan menarik adalah fakta bahwa generasi phi (milenial) cenderung menganggap kesalehan adalah sebuah fenomena anti mainstream. Mengapa? Karena bagi mereka, kenakalan, vandalisme, dan apa pun bentuk tindak negatif dari anak muda adalah aktivitas arusutama atau mainstream.

Sementara, generasi phi ini menyukai sesuatu yang di luar mainstream. Jadi, kesalehan atau mendekat ke ibadah adalah sesuatu yang anti mainstream. Sehingga banyak generasi phi ini yang dekat dengan agama. Rajin ibadah dan juga menunjukkan kesalehan itu dalam kehidupan sosialnya. Sengaja atau tidak sengaja. Generasi sebelumnya mau setuju atau tidak, tidak penting. Mau nyinyir ya silakan. Karena demikian fakta atau temuannya.

Ini temuan yang menarik. Dan, saya kira karya ini salah satu yang penting untuk paling tidak mulai memahami tentang teori generasi  khas Indonesia. Tidak terkontaminasi dari teori para orientalis.

Melompat Jauh. Segera.

IMG_20171207_140508

Kreatif itu bukan sekadar departemen dalam sebuah biro iklan, bukan juga sebutan bagi orang yang bekerja dalam departemen Kreatif. Kreatif lebih dari itu. Lebih dari sebutan, departemen, value dari biro iklan, biro iklannya sendiri, bahkan lebih dari industri periklanan.

Saat datang ke seminar Citra Pariwara 2017, akhirnya, mungkin setelah sekian lama, industri periklanan sadar akan apa yang saya maksud dengan kreativitas di atas. Di acara tersebut, tidak lagi menampilkan pembicara-pembicara dari industri periklanan, baik dalam atau luar negeri. Dulu, di acara sejenisnya seperti ini, seakan kreativitas hanya dimiliki oleh orang iklan, semacam katak masturbasi dalam tempurung.

Andrew Essex dalam bukunya The End of Advertising: Why It Had to Die, and the Creative Resurrection to Come, menjelaskan bahwa paradigma berpikir tentang kreativitas dalam periklanan sudah harus berubah. Lanskap pemasaran dan konsumsi media yang sudah berubah memaksa industri untuk berubah dalam berpikir kreatif dilihat dari perspektif komunikasi pemasaran, khususnya iklan.

Memang industri iklan dipercaya belum akan mati, tapi memang harus berubah, terutama dari cara melihat audience mengonsumsi media, bagaimana pergeseran behaviour, termasuk value. Value tidak hanya ekonomi, tapi sosial dan bahkan spiritual.

Industri ini harus beradaptasi menyiasati yang tak terkira di depan, lebih dari sekadar evolusi. Lompatan evolusi memakan waktu yang lama, bahkan sangat lama. Dibutuhkan lompatan yang cepat. Berubah. Segera. Adapt or die.

Copywriter, binatang apa itu?

writing_quotes__mark_twain-1

Copywriter terlibat dalam pembuatan berbagai bentuk iklan dan materi promosi. Berbagai macam materi promosi, bukan yang hanya sering kita lihat di media. Bahkan banyak iklan atau materi promosi yang tidak pernah kita lihat. Kita cenderung hanya memikirkan kampanye paling terkenal untuk brand-brand mapan: iklan yang kita lihat disiarkan di saluran televisi utama, disisipkan ke papan reklame besar atau tayang via YouTube.

Copywriter tidak bekerja sendirian dalam membuat iklan. Dalam sistem kerja traditional advertising agency, copywriter dipasangkan dengan seorang art director. Jika copywriter bertugas untuk menyampaikan pesan sebuah iklan atau materi promosi melalui kata-kata, art director yang akan mengolah visualnya.

Cara kerja mereka sangatlah dinamis dan luwes. Artinya, tidak selamanya copywriter hanya bertugas mencari kata-kata. Ia juga dapat membantu memikirkan visual. Begitu juga dengan seorang art director dapat membantu membuat headline. Pada praktiknya, banyak copywriter yang sangat visual driven dan banyak juga art director yang pintar bermain kata-kata.

Ada banyak sekali materi iklan atau promosi yang membutuhkan masukan kreatif dari copywriter. Bukan hanya di biro iklan saja kita dapat menemukan copywriter. Keterampilan copywriter juga terlibat dalam banyak tempat lain. Tugas mereka tetep membuat dan membuat teks untuk berbagai macam materi promosi dan pemasaran. Misalnya saja, biro PR, konsultan pemasaran, graphic house, digital marketing agency dan lain-lain. Bahkan, brand owner sendiri juga sering menggunakan jasa copywriter untuk membuat materi-materi promosi dalam berbagai media.

Iklan membawa banyak pesan ke sejumlah khalayak sasaran yang berbeda. Kita juga  sepakat bahwa iklan adalah suatu bentuk komunikasi. Iklan mengikuti alur komunikasi dan juga berkomunikasi secara semiotika. Ada pesan yang ingin disampaikan dalam iklan. Ini adalah bagian penting dari pekerjaan copywriter profesional untuk memastikan pesan tersebut berhasil disampaikan.

Menyampaikan pesan melalui kata-kata dan visual. Itu lah tugas utama tim kreatif dalam marcomm atau lebih spesifik, periklanan. Copywriter dan art director harus bekerjasama mencari cara kreatif dalam penyampaian pesan tersebut. Kata-kata dan visual bukan saling bersaing tapi harus saling melengkapi, sehingga pesan dari iklan atau materi promosi tersebut dapat tersampaikan dengan sejelas-jelasnya.

Copywriter iklan bertugas untuk menyampaikan pesan dan meyakinkan orang melakukan tindakan tertentu, apakah itu ajakan mencoba pisau cukur baru, untuk menyadari bahaya narkoba atau untuk menyumbangkan uang ke badan amal. Di situlah tantangan seorang copywriter. Pekerjaannya yang begitu dinamis karena mengerjakan berbagai macam jenis brand, produk, atau jasa. Lalu, ia juga bekerja untuk menyampaikan pesan ke berbagai khalayak sasaran, dengan berbagai macam media yang berbeda pula. Ditambah lagi, ia dituntut untuk hadir dengan ide-ide yang kreatif dan orisinil.

Dengan begitu dinamisnya pekerjaan seorang copywriter, maka mau tidak mau ia harus selalu siap untuk menuangkan ide-idenya, terutama melalu tulisan atau kata-kata. Tidak jarang seorang copywriter sedang merasa tidak mood pada saat pekerjaan datang dan deadline semakin dekat. Seorang copywriter bukanlah seorang seniman kata seperti misalnya penulis novel, penulis puisi atau penulis lagu. Ia bekerja dengan deadline yang ketat. Ia dituntut untuk segera menulis meski merasa tidak mood atau mentok dalam penulisan.

Salah satu cara dalam menghadapi hal seperti tidak mood atau mentok ini adalah paksakan menulis. Menulis apa saja. Tidak perlu dipikirkan apakah tulisan itu baik atau buruk. Yang penting adalah menulis dan menulis. Setelah mood kita mengalir kembali atau sudah mendapat ilham, baru kita lihat kembali tulisan tersebut. Bagian mana yang perlu diedit.

Selain menulis untuk memersuasi khalayak sasaran dengan menonjolkan benefit atau USP dari suatu produk atau jasa, copy dalam iklan biasanya diharapkan untuk menciptakan respons yang lebih kompleks di antara penonton kita. Respons tersebut dapat muncul lewat suatu tulisan menyentuh emosi khalayak sasaran.
Emosi khalayak sasaran adalah kekuatan dalam memainkan peran bagaimana mereka berperilaku sebagai konsumen produk dan layanan. Copy dalam iklan sangat membantu untuk melahirkan sebuah emosi yang diharapkan, apakah emosi gembira, sedih, marah, dan lainnya. Kata-kata dalam iklan dapat membuat sebuah iklan seakan berbicara langsung kepada sasaran. Apalagi jika si copywriter sangat paham akan insight dari konsumen yang dituju.