United Blunder

Berita tentang penumpang United Airlines yang dipaksa turun pesawat sudah diketahui banyak orang di dunia. Video yang sudah viral itu sudah ditonton sekitar 200 juta kali, di Cina. Hanya Cina ya, belum ditotal dengan negara-negara lain. Cerita tentang kejadian ini bisa dicari di media-media online. Silakan dicari sendiri.

Yang mau saya sampaikan di sini adalah bagaimana United Airlines melakukan pembunuhan brandnya sendiri. Market value UA menurut kabar, menurun. Jelas, nggak heran.

UA sempat mengalami tragedi besar. Tepatnya, saat salah satu pesawatnya digunakan untuk menabrak WTC pada 11 September 2001. UA merasa perlu membantu masyatakat Amerika untuk bangkit dari tragedi itu. Sekaligus secara tidak langsung memberikan nilai lebih pada brandnya. Mereka membuat iklan satu halaman koran yang tayang pada 21 September 2001 seperti di bawah ini.

Iklan di atas mendapat respons positif dari masyarakat saat itu. Pelanggan UA tidak mengalami penurunan, malah kabarnya meningkat. Brand UA cemerlang di tengah tragedi nasional AS ini.

Maju sekitar 16 tahun kemudian kejadian pemaksaan penumpang untuk turun ini pun terjadi. Apakah penumpang akan menurun? Apakah secara brand, UA akan dipersepsikan buruk? Bisa jadi. Apakah UA akan mengcounter kejadian ini dengan bikin iklan seperti di atas? Mungkin. Apa pun yang mereka lakukan, brand UA sudah buruk.

Advertisements

Agama, Politik dan Brand

ahok-agus-anies_20160926_161839Ada tiga hal yang tidak habisnya dibicarakan oleh manusia seantero dunia. Bahkan pembicaraan ini sering menjadi perdebatan yang tak kunjung selesai sampai kiamat datang. Brand, agama dan politik. Ketiganya adalah bahan obrolan manusia modern setiap hari. Dalam 24 jam, pasti manusia akan membicarakan satu di antara ketiganya. Atau bahkan ketiganya sekaligus dalam waktu sehari.

Liverpool FC, FC Barcelona, Nike, Apple, Samsung, dan masih banyak brand atau merk lainnya di dunia. Kemudian, Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Shinto, Kong Hucu, Kejawen, dan banyak lagi agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Lalu, ada pula globalisasi, terorisme, persaingan ekonomi, keadilan sosial, Pancasila, undang-undang, garis keras, Islam Politik, yudikatif, legislatif dan eksekutif yang senang sekali dibahas oleh manusia sedunia terkait masalah politik.

Di Pilkada DKI 2017, kita dapat ketiganya. Oleh karena itu, warga Jakarta dan Indonesia yang ada di dalam negeri atau luar negeri ramai membicarakannya. Ahok, Agus, Anies (3A) dan para pasangannya menjadi buah bibir selama kurang lebih 3-4 bulan terakhir.

Apa hubungannya dengan agama? Pendukung dari ketiganya sering digiring oleh media arusutama atau media sosial ke dalam perdebatan agama. Perdebatan ini tentu tidak jelas ujung pangkalnya. Disengaja atau tidak, agama digunakan sebagai perangkat oleh pendukung ketiganya untuk menjadi brand yang jagoan dan menangan serta sebagai pedang dalam pertarungan politik, untuk unggul dari lawan-lawannya.

Dalam politik, jelas ketiganya adalah peserta dalam suatu kontestasi politik besar di Indonesia. Suatu negara demokrasi yang besar di dunia. Ketiganya mau tidak mau akan dibicarakan secara politik oleh masyarakat Jakarta dan Indonesia.

Sekarang kita bicara hubungannya dengan brand. 3A ini bisa kita masukkan sebagai brand dengan masing-masing unique selling propositionnya. Ahok yang mengklaim bahwa ia sudah bekerja dan membuktikan pada rakyat kemampunnya. Ia membangun citra bersih dan transparan. Kemudian, Agus dengan mengangkat citra anak muda yang penuh semangat. Semangat seorang pemuda bekerja dan memimpin yang akan dirasakan masyarakat Jakarta jika ia terpilih. Lalu, Anies dan pasangannya Sandiaga Uno. Mereka menawarkan keadilan rakyat yang dirasa hilang di Jakarta ini.

Agama adalah perangkat. Politik sebagai kendaraan. Keduanya digunakan untuk memasarkan brand. Agar brand unggul atau laku di mata khalayak sasaran, apapun strategi awal dari pemasarnya.

Pilkada DKI 2017 ini cocok untuk dijadikan studi kasus dari tesisnya Steve Henry, pendiri biro iklan Howell Henry Chaldecott Lury yang mengatakan bahwa merk merupakan hal terbesar di dalam dunia ini, lebih besar dari pada kegiatan agama dan politik yang terorganisasi. Atau, malah melahirkan tesis lain bahwa ketiganya saling mendukung satu sama lain demi pencapaian suatu tujuan.