Dobrak Barrier-nya!

Screen Shot 2017-08-01 at 4.26.00 PM.pngDi era informasi yang begitu overload ini membuat manusia, lebih hati-hati dalam memilih informasi. Dalam konteks komunikasi pemasaran, dengan semakin banyaknya produk di pasar, juga aktifnya konsumen dalam mencari berbagai macam informasi via search engine, media sosial, aplikasi chat, dan lain sebagainya, membuat konsumen membuat sebuah halangan.

The-Dentsu-Way-pg59-The-Breaking-In-and-Drawing-Out-Approaches-for-Reacing-the-Consumer-Who-Has-Put-Up-the-Information-Barrier

Halangan ini disebut information barrier (Sugiyama & Andree, 2011). Barrier ini diciptakan oleh konsumen, secara sadar atau tidak sadar, dalam memilih informasi, termasuk iklan dan jenis komunikasi pemasaran lainnya. Sehingga tugas dari komunikasi pemasaran menjadi lebih berat. Untuk menarik perhatian konsumen membutuhkan taktik yang tidak mudah. Konsumen kini memiliki ‘kuasa’ dalam memilih informasi mana yang mau ia terima, mana yang tidak. Jika informasinya sesuai dengan apa yang ia cari, atau informasi itu menarik, unik, tidak biasa, maka ia akan keluar dari barrier. Atau paling tidak. ‘mengintip’ dari dalam barrier itu.

Dibutuhkan pancingan agar konsumen mau keluar dari barrier tersebut sehingga komunikasi yang ingin disampaikan dapat terkirim dengan baik. Cara untuk menarik mereka keluar misalnya dengan pendekatan storytelling yang melibatkan berbagai jenis media yang saling silang dalam mengomunikasikan pesan tersebut. Atau cara lain yang lebih sederhana, namun idenya tidak mudah ditemukan, adalah membuat suatu materi komunikasi yang tidak biasa, absurd, nyeleneh, tapi tetap berkelas dan tidak membunuh brandnya. Cara kedua ini yang dilakukan oleh es krim Indoeskrim.

Dengan pendekatan film drama silat jadul, membuat siapa pun, tidak hanya target market es krim Indoeskrim, akan tertarik dan bahkan terhibur menonton iklan ini. Iklan yang berdurasi sekitar 3 menit ini menjadi tidak seperti iklan, tapi lebih mirip seperti konten hiburan. Apa pun tujuan komunikasi pemasaran iklan ini, jika meminjam framework AISAS, feedback yang diharapkan secara attention, interest, search, action dan share-nya sudah tercapai.

Advertisements

Artvertising dan model bisnis

20170619_134500
Design: Wiksy

Baru saja lihat film iklan beberapa pemenang Cannes 2017 ini. Yang menarik bagi saya adalah kampanye Anchor. Untuk pelaku kreatif copy-based, iklan-iklan ini keren banget. Copy-nya kuat, menghasilkan storytelling yang powerful. Pesannya pun jelas. Secara konsep dan eksekusi nyaris sempurna. Tidak heran kalau mereka menang penghargaan di Cannes 2017.

Iklan-iklan pemenang penghargaan seperti ini secara artistik memang indah, keren, kece, cakep, anjing, dan lain-lain. Layaknya kita menikmati suatu karya seni yang bikin kagum. Kita terpana dan dibikin geleng-geleng kepala karena indahnya karya-karya seni tersebut. Karya seni seperti lukisan, musik, arsitektur, seni kriya dan lain sebagainya.

Lalu, apakah iklan-iklan yang indah ini dapat disebut sebagai karya seni? Dulu ia bernama ‘advertising’, apakah sekarang dapat kita sebut, katakanlah, ‘artvertising’? Karya iklan atau advertising yang artsy, nyeni. Apakah itu nantinya sebagai genre baru dalam advertising atau film atau lainnya, tidak terlalu penting.

‘Artvertising’ ini tidak perlu mendapat tugas untuk ‘jualan’. Karena saya cukup yakin iklan seperti ini tidak mampu berbicara banyak untuk mendongkrak awareness, apalagi sales. Saya pun ragu ‘artvertising’ ini ditonton oleh target audience (atau bahkan tidak direncanakan untuk ada target audience?). Kesimpulannya, iklan artsy ini tidak menyelesaikan masalah komunikasi pemasaran suatu brand.

Akan ada yang berpendapat, bukannya advertising adalah bagian dari pemasaran sehingga tugasnya ‘jualan’? Sebagai bagian dari promotion mix, saya masih percaya advertising masih diperlukan, namun bukan dengan eksekusi seperti ini. Ada pendekatan lain yang objektifnya jelas untuk menyelesaikan masalah-masalah komunikasi pemasaran. Sementara, biarkanlah ‘artvertising’ ini juga punya tempat khusus di industri.

Lalu, bagaimana mungkin ‘artvertising’ dapat menghidupi biro iklan jika ia tidak membantu masalah klien? Berarti biro iklan akan kehilangan klien. Bisnisnya akan jatuh. Jawabannya adalah perlu bisnis model baru. Bisnis model yang dapat menjadi skema jalannya bisnis dengan ‘artvertising’ sebagai produknya. Bagaimana segmen dan revenue streamingnya, biaya-biaya apa saja yang akan dihadapi, value proposition seperti apa yang akan diusung, dan lain sebagainya.

Sehingga, nantinya, jika model bisnis baru untuk ‘artvertising’ terwujud, tidak ada lagi perdebatan, iklan bagus itu adalah yang menang award atau yang mampu menjawab masalah komunikasi pemasaran suatu brand. Karena masing-masing akan punya model bisnis, stakeholders, bahkan mungkin industri sendiri.

SDGs dan Industri Kreatif

Screenshot 2017-06-15 13.32.26

Enam grup besar biro iklan dunia ditambah satu biro iklan independen bergabung dalam Common Ground dan membuat Common Future Project, sebuah workshop untuk memberikan awareness kepada Gen Z tentang Sustainable Development Goals. Dari workshop ini nantinya akan lahir output yang akan dijadikan sebagai communications tool dan YouTube digunakan sebagai media tayangnya.

Pertemuan antara isu-isu SDGs dengan industri kreatif, terutama iklan, tentunya menjadi permulaan yang baik. Seperti kita tahu bahwa isu-isu SDGs adalah isu yang terjadi di banyak negara di dunia ini (silakan googling apa itu SDGs, jika belum paham). Isu-isu yang tidak ringan seperti pengentasan kemiskinan, masalah air bersih, akses kesehatan yang layak, isu gender dan lain sebagainya.

Isu ‘berat’ tersebut akan sulit dipahami oleh banyak anak muda terutama. Apalagi yang hidupnya ‘sejahtera’ tinggal di kota. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih ‘pop’, tanpa mengecilkan substansi dari isu-isu berat tersebut dan juga pemilihan media sebagai contact point yang tepat. Dengan pendekatan ‘kreatif’ dan populer harapannya Gen Z sebagai target audience akan aware dengan isu-isu SDGs dan pada akhirnya tergerak melakukan sesuatu.

Tentunya dengan materi video di YouTube saja tidak menyelesaikan semua masalah promosi dan komunikasi isu SDGs ini. Masih banyak sekali aktivitas promosi dan komunikasi yang perlu dilakukan oleh PBB, demi tercapainya misi SDGs di tahun 2030. Sehingga penting dipikirkan untuk melakukan campaign yang berkelanjutan dan tidak kehabisan nafas. 2030 masih jauh. Bagaimana pun, ini adalah permulaan yang baik.

Lalu, apakah inisiatif seperti ini sudah terpikirkan oleh biro iklan di sini? Perlu ditunggu, karena Indonesia justru salah satu negara yang terlibat banyak isu dalam SDGs.

#AdvIntro3: Iklan Dalam Masyarakat

Globalisasi membuat dunia menjadi semakin dekat dan tanpa batas. Dalam ekonomi, globalisasi dapat dikatakan sebagai suatu proses perusahaan untuk mencari keuntungan tambahan di negara-negara di luar negara asalnya. Hal ini memengaruhi banyak hal dalam kehidupan manusia. Kehidupan dalam hal ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan juga termasuk dalam hal berkomunikasi. Semuanya berubah karena faktor globalisasi dan teknologi.

Kini, manusia yang berjauhan dengan menggunakan teknologi yang sama, yaitu internet, dapat menjadi dekat. Jika sebelum ada teknologi internet, untuk berhubungan antara Jakarta-Bandung saja membutuhkan cukup banyak biaya. Misalnya, jika menggunakan telepon, kita harus ke wartel untuk melakukan hubungan telepon. Kita harus membayar jasa wartel tersebut sekian rupiah. Atau jika tidak menggunakan wartel, kita dapat menggunakan kartu telepon. Itu pun kita harus beli, kemudian harus mengantri telepon kartu. Karena telepon kartu saat itu peminatnya cukup banyak. Banyak yang harus kita keluarkan untuk berkomunikasi pada saat internet belum lahir. Begitu internet lahir, semuanya seakan mudah. Komunikasi menjadi begitu cepat, dapat dilakukan kapan saja, dan dengan biaya yang relatif murah. 

Komunikasi yang menjadi semakin cepat dan terbuka ini ternyata tidak hanya membawa kebaikan namun juga keburukan bagi manusia. Keburukan misalnya saja semakin tidak terkendalinya orang dalam mengeluarkan pendapat.  Masyarakat modern, termasuk kita di Indonesia, banyak yang terlalu mudah untuk berkomentar atau membagikan konten-konten di media sosial dan internet. Itu semua dilakukan tanpa memikirkan dampak apa yang akan diberikan oleh pihak lain, terutama pihak penerima pesan kita tadi. Kesiapan mental dalam menerima teknologi internet dan media sosial harus ditingkatkan lagi agar tidak semakin gaduh lagi pertemanan sosial di dunia dengan gaya komunikasi baru ini. 

Mengapa ini dapat terjadi? Salah satu alasannya adalah dunia global yang sudah cenderung menjadi satu ini. Hingga segala nilai sosial budaya, politik, ekonomi tidak lagi ada batasnya. Siapa yang memiliki kekuatan dalam teknologi dan dana, ia yang akan mampu menyebarkan nilai-nilainya ke dunia baru melalui teknologi internet. Perusahaan-perusahaan multinasional terutama dari Amerika Serikat dan Eropa adalah pihak yang paling menguasai teknologi dan dana. Sehingga otomatis mereka lah yang memegang kendali dalam menyebarkan nilai, sekaligus produk dan jasa. Nilai yang mereka sebarkan, apakah itu disengaja atau tidak, dapat tercermin dari iklan-iklan produk mereka. 

Sering kali, nilai-nilai sosial budaya yang ada di dalam iklan produk atau jasa dari luar negeri belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa. Ini yang sering menimbulkan perdebatan di dalam industri pemasaran. Tugas dari departemen pemasaran suatu perusahaan menjadi makin berat terutama karena mereka harus berhadapan dengan perbedaan budaya jika mereka beriklan di negara lain. Dibantu dengan biro iklan mereka yang biasanya juga multinasional, perusahaan multinasional perlu berhati-hati jika tidak ingin melakukan kesalahan dalam promosi atau beriklan. 

Dari sini, kita akan coba membahas pertanyaan berikut ini: Apakah iklan itu baik atau buruk bagi masyarakat? Dari pertanyaan ini, paling tidak ada tiga perdebatan yang muncul.

1. Debat penciptaan permintaan: apakah iklan menciptakan permintaan produk yang padahal sebenarnya tidak dibuuhkan orang? Contohnya smartphone. Bagi yang menganggap iklan itu menciptkan permintaan untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan akan mengatakan bahwa iklan-iklan smartphone sangat berpengaruh menciptakan permintaan tadi. Nissa sudah memiliki smartphone. Tidak ada masalah dengan smartphonenya. Tidak rusak dan masih berfungsi dengan baik semua fiturnya. Kemudian, di suatu sore, ia melihat iklan smartphone keluaran Samsung terbaru. Efek dari iklan tersebut ia menjadi tertarik perhatiannya akan produk tersebut. Saat itu pula ia langsung mencari tahu tentang produk tersebut. Semakin ia tahu banyak tentang produk tersebut, ia semakin memiliki smartphone itu. Padahal ia juga sadar bahwa ia tidak ada kebutuhan untuk punya smartphone baru. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa iklan bisa memengaruhi audiens sehingga menimbulkan permintaan dari produk atau jasa tersebut. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa iklan tidak serta merta menciptakan permintaan. Karena pada akhirnya konsumen memiliki kuasa untuk tidak tertarik pada iklan maupun produk tersebut.

2. Debat menciptakan nilai atau mencerminkan nilai. Perdebatannya adalah tentang penciptaan nilai dan pencerminan nilai. Penciptaan Nilai masksudnya adalah bahwa iklan itu memberikan masyarakat suatu nilai di dalam kehidupan. Nilai baik, buruk. Cantik, kurang cantik, dan masih banyak lagi. Sementara Penerminan Nilai maksudnya adalah bahwa iklan itu mengikuti nilai, kebiasaaan, trend atau budaya yang sudah ada di masyarakat. Iklan tidak menciptakan suatu nilai baru.  Bagi yg percaya dgn penciptaan nilai, banyak contoh ttg ini, misalnya perempuan sehat adalah yg kurus, raamping. Perempuan yang cantik adalah yang berkulit cerah. Sedangkan contoh mencerminkan nilai adalah banyak iklan yg memvisualkan kehidupan sehat karena gaya hidup sehat sekarang sudah menjadi bagian kehidupan dari masyarakat, terutama kelas menengah.

3. Debat komersialisasi. Perdebatan di sini adalah mengenai komersialisasi. Di zaman sekarang, semuanya serba materi, misalnya sakit kepala ya minum obat. Tidak ada iklan yang mengajak kita istirahat untuk menghilangkan sakit kepala. Ini juga berhubungan dengan terjadinya komersialisasi di mana-mana. Untuk memasang iklan di media besar maupun media kecil atau lokal, pengiklan sekarang harus membayar suatu nilai yang cukup besar. Oleh karena itu, pengiklan bersama biro iklannya berusaha untuk mencari celah bagaimana memasarkan produk atau jasanya tidak melulu dengan membayar media. Salah satu contohnya adalah mensponosori acara-acara TV. Misalnya saja American Idol. Coca Cola menjadi salah satu sponsor di acara yang terkenal di dunia tersebut. Sebagai kompensasinya, Coca Cola boleh menyelipkan produk-produknya di berbagai segmen dalam acara tersebut. Ada penelitian yang menyatakan bahwa produk Coca Cola muncul sekitar 2.000-an kali selama acara American Idol berlangsung. Perdebatan muncul. Apakah Coca Cola memiliki ‘suara’ dalam menentukan berjalannya acara Idol ini? Misalnya, ikut menentukan juri-juri, peserta, bahkan mungkin pemenangnya.

Perdebatan akan peran atau efek iklan di masyarakat ini tidak hanya dalam segi sosial tapi juga dalam ekonomi dan politik. Untuk bidang ekonomi ada beberapa perdebatan:

1. Kompetisi. Perdebatan dalam hal kompetisi ini membahas bahwa brand-brand dengan belanja iklan yang besar, terutama brand multinasional, dapat membunuh brand-brand lokal. Brand lokal ini tidak memiliki kekuatan modal yang sebesar brand multinasional. Sehingga mereka tidak memiliki kekuatan untuk berperang melalui iklan dan komunikasi pemasaran. Modal yang mereka miliki akan lebih banyak digunakan untuk misalnya pengembangan produk, inovasi, pengembangan SDM, dan lain-lain. Karena brand lokal jarang berpromosi, akhirnya konsumen tidak aware akan kehadiran mereka dan pada akhirnya mereka akan kalah bersaing hingga menutup usahanya. Ditambah dengan situasi jika kompetisi semakin sedikit, otomatis harga akan naik.

2. Membeli Di Luar Kemampuan. Perdebatan ini mirip dengan debat penciptaan permintaan. Ada beberapa audiens secara demografi yang biasa disasar dalam komunikasi pemasaran; masyarakat urban, suburban dan rural. Masyarakat urban adalah kebanyakan kelas menengah yang tinggal di kota.

Ada juga perdebatan terkait dengan politik. Politik akan menentukan berbagai peraturan perundangan di suatu daerah atau negara, termasuk peraturan dalam beriklan. Lalu, di samping itu, iklan juga banyak dimanfaatkan oleh partai politik ataupun kegiatan-kegiatan yang berbau politik. Terutama dalam pemilihan kepala daerah atau kepala negara, iklan menjadi salah satu ujung tombak bagi para pemain di bidang politik. Iklan dalam aktivitas politik berfungsi kurang lebih sama dengan iklan komersial produk atau jasa yaitu untuk memperkenalkan sosok, partai atau kandidat kepala daerah kepada khalayak luas. Setelah sosok tersebut dikenal, iklan juga dapat digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan program-program dari politisi atau partai politik tersebut. 

Perdebatan iklan dalam dunia politik tidak jauh dari tayangan-tayangan iklan yang menyerang lawan. Kampanye negatif ini sering terjadi dalam kehidupan politik di mana pun. Perdebatan yang berlangsung di antaranya adalah:

1. Apakah kampanye negatif itu akan lebih diingat oleh masyarakat atau audiens?

2. Apakah kampanye negatif memengaruhi pemilih?

3. Atau apakah ia justru menggiring audiens ke penyesatan informasi?

4. Apakah kampanye negatif ini malah membuat pemilih tidak tertarik untuk berpartisipasi?

REFERENSI:

1. Frith, Katherine Toland., and Barbara Mueller. 2003. Advertising and Societies: Global Issues. New York: Peter Lang Publishing, Inc.

2. Moriarty, Sandra., Nancy Mitchell and William Wells. 2009. Advertising: Principles & Practice, 8th Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

#AdvIntro02: Iklan dan proses komunikasi

essential-elements-communication-process_83c908f7a1695260

David Ogilvy pernah mengatakan bahwa iklan itu seperti percakapan personal. Artunya, iklan itu dapat diibaratkan seperti kita sedang berbicara dengan teman kita, pacar kita atau keluarga kita. Yang ingin ia katakan sebenarnya adalah iklan harus dapat berkomunikasi sesuai dengan  khalayak sasarannya. Bagaimana kita bicara dengan pacar berbeda pastinya dengan pada saat berbicara dengan adik.

Dari penjelasan di atas kata kunci yang perlu digarisbawahi adalah komunikasi. Iklan perlu bercakap-cakap, ngobrol dengan khalayak sasarannya. Bedanya dengan percakapan personal, iklan adalah percakapan atau komunikasi dengan massa yang luas. Sehingga perlu kita ketahui proses komunikasi dalam iklan itu sendiri.

Model komunikasi adalah suatu proses komunikasi. Proses ini dimulai dari Sumber atau Source, yang mengirimkan (encoding) suatu Pesan. Pesan ini dikirimkan melalui suatu saluran komunikasi atau Media. Setelah itu, Pesan diterima (decoding) oleh Penerima atau Receiver. Penerima pesan akan memberikan respons dari Pesan yang diterima kembali kepada Source. Kemudian di dalam proses komunikasi ini, terdapat pula Noise yang dapat mengganggu proses.

The-communication-process

Di era yang baru ini, model komunikasi seperti di atas tidak hanya satu-satunya model. Terdapat paling tidak satu lagi model komunikasi, yaitu model komunikasi interakif. Model komunikasi ini jelas lebih interaktif. Source dan Receiver mengubah posisinya seiring dengan pertukaran informasi. Model ini disebut juga Dialog. Model seperti ini yang kini sedang terjadi. Sudah hampir tidak adanya lagi batas antara Source dan Receiver, akibat dari teknologi internet. Kini bentuk promosi dilakukan dengan percakapan di media sosial, baik percakapan antara brand X dengan konsumennya, maupun konsumen dengan konsumen lainnya yang membicarakan brand X.

Sekarang kita bicarakan tentang periklanan sebagai komunikasi. Berdasarkan model komunikasi di atas, iklan dapat pula dianalisis menggunakan model tersebut. Source dalam periklanan adalah Pengiklan atau Brand yang dibantu biasanya oleh biro iklan. Meskipun ada juga Brand yang melakukan kegiatan komunikasi pemasarannya tanpa bantuan biro iklan.

Kemudian, Pesan dibentuk oleh biro iklan dengan/atau tim Marcomm brand. Lahirnya sebuah pesan biasanya memakan waktu. Ada proses perencanaan strategi Komunikasi yang bertujuan selain merencanakan strategi, juga menentukan  pesan untuk kampanye iklan. Pesan tersebut nantinya akan disampaikan melalui suatu media. Media dapat berupa surat kabar, majalah, TV, radio, internet, media sosial, outdoor dan lain-lain. Di masa sekarang, media pun dapat berupa media alternatif seperti yang dapat diakses via ponsel.

Noise dalam periklanan dibagi menjadi dua: gangguan eksternal dan internal. Eksternal adalah gangguan dari luar diri konsumen sebagaia konsumen atau sasaran. Gangguan eksternal ini dapat berupa tren sosioekonomi, masalah clutter dan juga masalah teknologi. Gangguan internal adalah gangguan yang ada di dalam diri konsumen. Misalnya saja pikiran, latarbelakang, fisik, dan lain-lain.

Tanggapan atau feedback dapat dilakukan dengan melakukan riset dan juga dengan mendengar tanggapan dari konsumen secara langsung. Ini yang penting dalam perencanaan suatu komunikasi, apa pun bentuknya, termasuk dalam komunikasi pemasaran. Bagaimana respons atau feedback yang diharapkan dari proses komunikasi itu harus ditentukan sejak awal. Mengapa ini penting? Karena jika respons yang diharapkan sudah ditentukan sejak awal perencanaan, kita dapat lebih tajam dalam menentukan pesan dan juga lebih tepat dalam menentukan media. Semakin jelas respons yang diharapkan dari penerima pesan, semakin efisien pula proses komunikasinya. Semakin efisien proses komunikasi artinya semakin efisiennya pula budget yang akan terpakai.

Yang terakhir adalah Penerima pesan atau Konsumen itu sendiri. Efektivitas komunikasi iklan akan ditentukan di sini. Dampak dari iklan dapat dilihat dari beberapa pendekatan yang tradisional atau sering dipakai. Misalnya: AIDA (awareness, interest, desire, action) atau TFD (think feel do). Dalam AIDA, dampak suatu iklan dilihat dari suatu proses yang akan dipraktekan dan dirasakan oleh konsumen. Saat awal ia menonton, kembaca, mendengar sebuah iklan, ia akan aware atau tertarik akan iklan tersebut. Kemudian setelah ia aware, tahap kedua adalah ia mulai tertarik untuk tahu lebih banyak tentang brand atau produk yang diiklankan tersebut. Tahap berikutnya, timbul keinginan untuk semakin mendalami produk atau jasa yang diiklankan tersebut. Bahkan keinginan untuk mendapatkannya, memilihnya dan tidak peduli jika ia harus membelinya. Kemudian yang terakhir adalah aksinya untuk segera memiliki produk tersebut dengan membeli di toko, klik ke website, mencoblos di TPS, dan lain-lain tindakannya.

Screenshot 2017-02-14 14.02.25

Model-model lainnya juga mengikuti beberapa tahap. Masing-masing model kurang lebih sama dalam tahap-tahapnya hanya saja ada sedikit perbedaan dalam aktivitas tahapannya.

 

REFERENSI:

  1. Belch, George E., and Michael A. Belch. 2009. Advertising and Promotion: An Integrated Marketing Communications Perspective, 8th Edition. New York: McGraw-Hill/Irwin.
  1. Moriarty, Sandra., Nancy Mitchell and William Wells. 2009. Advertising: Principles & Practice, 8th Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

#AdvIntro01 – Peran Iklan

Marketing

Advertising berhubungan dekat sekali dengan marketing. Advertising adalah salah satu bagian dari bauran promosi dalam marketing mix. Ia berperan sebagai pengantar pesan atau informasi tentang barang atau jasa. Barang seperti sepatu, mobil, baju, dan lainnya. Jasa seperti asuransi, transportasi, pariwisata. Dan juga, ide, seperti kampanye parpol, pilkada, pilpres, dan lain-lain. Ia menyampaikan pesan tersebut tentunya harus menyasar target audiens tertentu. Penyampaian pesan melalui Iklan atau advertising juga dapat bertujuan untuk menyampaikan persepsi akan citra sebuah merek atau brand.

Komunikasi

Advertising adalah penyampaian pesan. Sering juga kita dengar istilah marketing communications. Salah satu senjata marcomm adalah iklan. Penyampaian pesan ini tentunya mengikuti proses komunikasi. Biasanya, iklan bertujuan menggerakkan audiens untuk melakukan sesuatu (call to action). Misalnya, mengajak audiens untuk melakukan donasi dengan klik link tertentu atau segera bergerak ke suatu tempat jika ingin mendapatkan produk atau jasa tersebut. Tidak hanya itu, iklan juga dapat berkomunikasi untuk menimbulkan citra tertentu kepada audiens. Misalnya, iklan-iklan rokok. 

Ekonomi

Ilmu ekonomi dasar adalah ada permintaan, ada penawaran. Iklan dapat bertindak sebagai pencipta permintaan. Misalnya produk-produk Apple. Kita sering kali tidak membutuhkan barang-barang tersebut, tapi karena ditampilkan lewat iklan, sehingga kita merasa perlu untuk membeli iPhone, iPad, iWatch. Permintaan tersebut dapat tercipta dengan cara hard sell maupun soft sell. Hard sell adalah iklan seperti iklan promosi. Menggunakan rasionalitas target dengan persuasi sehingga mereka ingin segera bertindak. Sementara soft sell lebih menunjukkan citra sehingga audiens dapat terhubung dengan iklan tersebut karena ia merasa nyambung dengan iklan tadi. Iklan ini lebih menyentuh emosi. Iklan karena ditayangkan secara luas akan dikenal orang banyak sehingga dapat menekan harga pemasaran. Harga produk atau jasa tersebut pun dapat ditekan lebih murah sehingga konsumen dapat membeli. 

Sosial

Selain memberi informasi tentang suatu barang atau jasa, iklan juga memberi audiens sesuatu dalam kehidupan sosial. Misalnya, iklan memberikan cara berpakaian yang lagi trend. Atau gaya bicara yang sesuai dengan anak muda. Iklan dapat juga memperlihatkan pada kita tentang indahnya alam. 

Jasmerah Iklan

Advertising atau periklanan sudah ada sejak zaman penjajahan. Pada saat VOC masuk ke
Indonesia di 1600-an, dan Jan Pieterzoon Coen menjadi gubernur jenderal Batavia, ia sudah melahirkan edaran seperti surat kabar bernama Memorie De Nouvelles. Edaran ini bertujuan untuk alat menyampaikan pesan tentang aktivitas perusahaan di Hindia Belanda, terutama dalam melawan pedagang-pedagang Portugis yang bersaing dalam perdangangan rempah-rempah, terutama di timur Nusantara, seperti Ambon. Bentuk ͚iklan͛ saat itu adalah silografi atau tulisan indah yang berisi tentang berita-berita
aktivitas perusahaan Belanda di Hindia Belanda.  

Di awal abad 20, ekonomi dunia meningkat pesat namun pada sekitar akhir tahun 20-an, terjadi krisis di dunia. Perusahaan-perusahaan di Eropa justru memaksa mereka untuk bertahan dengan berproduksi di luar negeri, terutama di tanah jajahannya. Ini mengakibatkan Hindia Belanda yang adalah jajahan Belanda mendapatkan rejeki akibat dari banyaknya pabrik atau usaha yang berinvestasi di Hindia Belanda. Biro iklan pun termasuk yang ketiban untung. Brand seperti mobil Chrysler pun muncul di Hindia Belanda. Target pasarnya jelas para pedagang,
residen dan elit Belanda lainnya.

Masih panjang sejarah periklanan di Indonesia. Masih banyak yang perlu ditulis tentang naik turunnya industri ini. Perlu buku sejarah yang lebih lengkap lagi. Segera.