Jasmerah Iklan

Advertising atau periklanan sudah ada sejak zaman penjajahan. Pada saat VOC masuk ke
Indonesia di 1600-an, dan Jan Pieterzoon Coen menjadi gubernur jenderal Batavia, ia sudah melahirkan edaran seperti surat kabar bernama Memorie De Nouvelles. Edaran ini bertujuan untuk alat menyampaikan pesan tentang aktivitas perusahaan di Hindia Belanda, terutama dalam melawan pedagang-pedagang Portugis yang bersaing dalam perdangangan rempah-rempah, terutama di timur Nusantara, seperti Ambon. Bentuk ÍšiklanÍ› saat itu adalah silografi atau tulisan indah yang berisi tentang berita-berita
aktivitas perusahaan Belanda di Hindia Belanda.  

Di awal abad 20, ekonomi dunia meningkat pesat namun pada sekitar akhir tahun 20-an, terjadi krisis di dunia. Perusahaan-perusahaan di Eropa justru memaksa mereka untuk bertahan dengan berproduksi di luar negeri, terutama di tanah jajahannya. Ini mengakibatkan Hindia Belanda yang adalah jajahan Belanda mendapatkan rejeki akibat dari banyaknya pabrik atau usaha yang berinvestasi di Hindia Belanda. Biro iklan pun termasuk yang ketiban untung. Brand seperti mobil Chrysler pun muncul di Hindia Belanda. Target pasarnya jelas para pedagang,
residen dan elit Belanda lainnya.

Masih panjang sejarah periklanan di Indonesia. Masih banyak yang perlu ditulis tentang naik turunnya industri ini. Perlu buku sejarah yang lebih lengkap lagi. Segera.

Advertisements

Seniman atau Salesman

Advertising atau periklanan itu sama semangat dan tujuannya dengan salesman. Ya jualan,  tentunya dengan cara dan pengukuran keberhasilan yang berbeda dari salesman mobil di showroom mobil misalnya. Jadi ya advertising itu suatu kerjaan yang biasa saja. Standar. Tugasnya sama beratnya dengan mas atau mbak UNICEF di mal yang selalu minta waktu untuk ngobrol tapi selalu kita cuekin. Menjadi lucu kalau ada yang melihat advertising sebagai pekerjaan seni, misalnya. Atau malah digolongkan dalam pekerjaan yang masuk ranah dunia hiburan atau entertainment. Bisa-bisa diomelin David Ogilvy!

Bagi anak lama di biro iklan harusnya sudah paham penjelasan di atas atau mungkin masih ada yang ngotot bahwa dirinya seniman? Bagi anak baru yang baru masuk ke industri ini, semoga penjelasan singkat di atas bisa bikin sadar bahwa kalian bukan seniman atau entertainer atau bahkan manajer artis. Kalian salesman. Apa pun media iklannya, digital atau tradisional, modern atau jadul, masa kini atau masa gitu, kalian tetap salesman. Menyesal? Belum terlambat untuk jadi seniman beneran kok. Silakan.

Dunia dan Advertising

 

crop380w_istock_000018298852xsmall
Pic: fastweb.com

 

Setelah iseng membaca lagi beberapa buku tentang advertising dan marketing communications, saya yakin bahwa bidang ini mampu mengubah banyak hal di dunia. Mengapa? Bukan glamornya, karena memang sama sekali tidak glamor, bukan pula karena bisa berpakaian kasual di kantor bahkan pada saat meeting, tapi karena tugas kami sebagai pencari solusi. Solusi untuk bisnis klien tentunya, apa pun masalah yang sedang mereka hadapi.

Advertising atau iklan bukanlah suatu yang lebih hebat dibanding politik, ekonomi atau pun saudara sekandungnya sendiri, yaitu jurnalistik. Bahkan, pekerja iklan dan industrinya sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang karena dianggap, ya tidak penting-penting amatlah untuk kehidupan sosial, kehidupan bernegara bahkan kehidupan manusia.

David Droga pernah cerita bahwa advertising adalah cara ia untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik. Memang, tidak selamanya advertising itu adalah kaki tangan kapitalisme, tapi seperti yang Droga tambahkan, bahwa industri iklan adalah satu-satunya industri yang bisa bermain di semua isu, dari politik, ekonomi, ekologi, sosial, budaya, bahkan agama. Artinya iklan dapat membantu semua industri untuk sesuatu yang positif. Saya pun setuju. Memakai pemahaman itu, advertising sangat mungkin untuk mengubah dunia dan saya kira sudah banyak contohnya yang mungkin tidak kita sadari. Silakan buktikan.