Artvertising dan model bisnis

20170619_134500
Design: Wiksy

Baru saja lihat film iklan beberapa pemenang Cannes 2017 ini. Yang menarik bagi saya adalah kampanye Anchor. Untuk pelaku kreatif copy-based, iklan-iklan ini keren banget. Copy-nya kuat, menghasilkan storytelling yang powerful. Pesannya pun jelas. Secara konsep dan eksekusi nyaris sempurna. Tidak heran kalau mereka menang penghargaan di Cannes 2017.

Iklan-iklan pemenang penghargaan seperti ini secara artistik memang indah, keren, kece, cakep, anjing, dan lain-lain. Layaknya kita menikmati suatu karya seni yang bikin kagum. Kita terpana dan dibikin geleng-geleng kepala karena indahnya karya-karya seni tersebut. Karya seni seperti lukisan, musik, arsitektur, seni kriya dan lain sebagainya.

Lalu, apakah iklan-iklan yang indah ini dapat disebut sebagai karya seni? Dulu ia bernama ‘advertising’, apakah sekarang dapat kita sebut, katakanlah, ‘artvertising’? Karya iklan atau advertising yang artsy, nyeni. Apakah itu nantinya sebagai genre baru dalam advertising atau film atau lainnya, tidak terlalu penting.

‘Artvertising’ ini tidak perlu mendapat tugas untuk ‘jualan’. Karena saya cukup yakin iklan seperti ini tidak mampu berbicara banyak untuk mendongkrak awareness, apalagi sales. Saya pun ragu ‘artvertising’ ini ditonton oleh target audience (atau bahkan tidak direncanakan untuk ada target audience?). Kesimpulannya, iklan artsy ini tidak menyelesaikan masalah komunikasi pemasaran suatu brand.

Akan ada yang berpendapat, bukannya advertising adalah bagian dari pemasaran sehingga tugasnya ‘jualan’? Sebagai bagian dari promotion mix, saya masih percaya advertising masih diperlukan, namun bukan dengan eksekusi seperti ini. Ada pendekatan lain yang objektifnya jelas untuk menyelesaikan masalah-masalah komunikasi pemasaran. Sementara, biarkanlah ‘artvertising’ ini juga punya tempat khusus di industri.

Lalu, bagaimana mungkin ‘artvertising’ dapat menghidupi biro iklan jika ia tidak membantu masalah klien? Berarti biro iklan akan kehilangan klien. Bisnisnya akan jatuh. Jawabannya adalah perlu bisnis model baru. Bisnis model yang dapat menjadi skema jalannya bisnis dengan ‘artvertising’ sebagai produknya. Bagaimana segmen dan revenue streamingnya, biaya-biaya apa saja yang akan dihadapi, value proposition seperti apa yang akan diusung, dan lain sebagainya.

Sehingga, nantinya, jika model bisnis baru untuk ‘artvertising’ terwujud, tidak ada lagi perdebatan, iklan bagus itu adalah yang menang award atau yang mampu menjawab masalah komunikasi pemasaran suatu brand. Karena masing-masing akan punya model bisnis, stakeholders, bahkan mungkin industri sendiri.

2 Menit Penting

Bagaimana memulai bercerita? Dalam memulai suatu cerita, perlu kita yakini kenapa cerita ini penting umtuk disampaikan. Begitu pentingnya sehingga kita, sang pendongeng, rela datang bertemu untuk menceritakan cerita tersebut. Apakah cerita itu tentang anak kucing yang baru lahir atau anak perusahaan baru, tetap dibutuhkan intensitas keyakinan yang sama. Keyakinan kita akan pentingnya topik cerita tersebut perlu sudah muncul pada saat memulai berpikir dalam menulis suatu alur cerita.

Kita perlu menyiapkan kejutan atau twist untuk disajikan pada audience agar mereka mau tetap mendengarkan cerita kita. Misalnya dalam film-film kriminal seperti CSI. Di awal hampir tiap episode, selama 2-3 menit, kita akan disajikan suatu situasi yang biasanya ujungnya adalah terjadinya tindak kriminal. Tindakan itu sering tidak terduga kejadiannya tapi pendadakan itu yang akhirnya membuat audience untuk tetap mengikuti hingga selesai. Bagian dua menit awal itu lah PENTING-nya cerita.

Ekstremis dan Marketing

mv5bmtc0ntk0mju5ml5bml5banbnxkftztgwmzg4nzgwmdi-_v1_sy1000_sx666_al_
Pic: imdb

Tugas marketing adalah membuat masyarakat bergerak untuk melakukan sesuatu. Begitu percayanya masyarakat akan suatu nilai sehingga mereka rela bahkan mungkin tidak sadar untuk melakukan sesuatu, seperti sederhananya membeli sebuah produk atau jasa.

Gagasan atau ide adalah suatu produk yang dapat juga memiliki nilai dan pada akhirnya dapat dipasarkan. Gagasan bisa dalam bentuk positif menurut worldview masyarakat umum tapi juga dapat negatif. Negatif untuk banyak orang tapi buat sekelompok orang bisa saja itu adalah gagasan hebat. Begitu hebatnya sehingga pengikutnya percaya dan rela melakukan apa saja.

Gagasan radikal dan ekstrem ,misalnya. Apakah ekstremis menggunakan jubah agama, lingkungan, atau lainnya tak jadi soal karena mereka punya nilai yang mampu dipasarkan. Dengan perencanaan strategis dan taktis plus kharisma si marketer, gagasan apa pun dapat dipasarkan, gagasan ekstrem sekalipun.

Marketing is a powerful discipline. Siapa pun bisa jadi produsen dan menggunakan marketing sebagai alat. Apa pun ‘jualan’-nya.

Marketing X Sales

Agak gatel. Masih sering dengar penyamaan antara Marketing dan Sales. Padahal keduanya beda.

Kegiatan penjualan, persuasi, promosi, periklanan, publikasi, semuanya adalah kegiatan pemasaran. Pemasaran bukanlah semata-mata kegiatan menjual dan memromosikan sesuatu. Pemasaran adalah suatu konsep yang menyangkut suatu sikap mental. Suatu cara berpikir, yang membimbing kita melakukan suatu kegiatan. (Kasali, 2007).

Pemasaran merupakan sikap mental, cara pikir; menempatkan pemasaran di tempat yang terhormat. Suatu organisasi jika menempatkan pemasaran pada fungsi dan khitah-nya, seharusnya tidak hanya menjadikannya tenaga ‘penjual’ saja, namun juga melibatkannya ke dalam kegiatan yang lebih strategis lagi. Tidak mungkin kita menyiapkan suatu produk kemudian meminta tim Marketing untuk menjualnya tanpa melibatkan tim tersebut dari awal. Tim Marketing perlu mendapatkan keleluasaan untuk berpendapat dalam menentukan produk dan jasa yang dihasilkan suatu perusahaan sesuai dengan insight dari konsumen (consumer needs, behaviour, etc) dan juga situasi external environment (kompetitor, situasi pasar dan industri, dll).

Steve Jobs terinspirasi untuk membuat komputer Apple, karena ia melihat keribetan penggunaan PC (windows) baik hardware maupun penggunaannya yang gak user friendly. Jika ia mencipta Apple hanya dengan intuisinya saja, dan intuisinya salah, mungkin brand Apple gak akan seperti sekarang dan betapa kasihannya tenaga-tenaga ‘sales’ Apple harus jual barang yang belum tentu dibutuhkan saat itu. Sensitifitas Jobs dalam melihat kebutuhan akan personal computer inilah yang membuatnya seperti sekarang

Demikian kegatelan saya. Semoga sedikit menjelaskan. Sekian.