Proposal Untuk Black Mirror

020db10497db6c3ebbbc3cd4557b5f02.1000x1000x1Review Single .Feast, “Dalam Hitungan”

Apa kita sedang punya tuhan baru? Tuhan bisa diartikan tidak secara teologis tapi sosok, sesuatu, zat yang kita sembah. Disembah kapan pun, di mana pun. Bahkan bikin lupa dengan siapa yang harus kita sembah dan imani. Tuhan baru itu bernama teknologi digital. Pesan itu yang saya dapat dari single baru keluaran .Feast ini. Mungkin saya beda dengan Anda dalam menafsirkannya. Tidak apa, zaman ini semua orang berusaha jadi mufasir, meski lupa esensi takbir.

Lagu ini saya kira cocok juga untuk dijadikan tema lagu salah satu episode Black Mirror. Atau bahkan tema lagu Black Mirror semua episodenya? Penyembahan yang berlebihan terhadap teknologi sedang menggejala. Fenomena itu yang ingin ditangkap dalam lirik lagu ini. Pesan yang dilantunkan dengan jelas, nakal dan nyata oleh sang vokalis.

Sound drum lebar dan kekinian membuat lagu ini megah nan surgawi. Produksi musiknya rapi dan yang paling penting adalah mendukung pesan liriknya. Karena lagu, dan hidup, yang baik adalah harmoni. Keserasian atau harmoni antara nada, suara dan cerita. Lagu ini berhasil meramu ketiganya jadi suatu keserasian. Terasa hidup.

Advertisements

Yang Manis dari Yudis

Screen Shot 2019-06-25 at 11.15.14.png

Review single ‘Keinara’ dari Yudis Dwiko.

Komposisi sederhana bukan berarti sembarangan. Hanya dengan gitar akustik dan vokal, single karya Yudis Dwiko ini sebenarnya sudah beres. Bungkus! Dipermanis dengan tambahan alunan suara string, vokal harmoni dan perkusi melengkapi aransemen lagu. Sederhana tanpa kehilangan arti dan keindahannya.

Dengan aransemen yang minimalis, produksinya pun menjadi sederhana. Yang menarik adalah peletakan vokal pada awal dan chorus lagu. Vokal ganda yang ditempatkan di ruang kiri dan kanan, bukan di tengah seperti biasa letak vokal. Justru gitar akustik menjadi ‘vokal’ utama di tengah. Vokal ganda di-treat berbeda antara kiri dan kanan. Membuat mereka saling melengkapi.

Gitar akustik seperti menjadi yang utama mungkin karena Yudis adalah gitaris. Performa permainan gitarnya nyaris sempurna di lagu ini. Tone yang dihasilkan dari petikannya terasa dekat, intim dan khas permainan Yudis, baik dalam pemilihan nada dan hasil akhirnya.

Intimasi Sebuah Debut

safar.png

Review album ‘Safar’ dari Sekaranggi

Pertama saya dengar petikan gitarnya, terbayang Adhitia Sofyan yang mengisi gitar. Atau duo Kings of Convenience? Ternyata gitar dimainkan oleh Sekaranggi, si pemilik lagu-lagu dalam album perdana ini.

Tidak hanya gitar, tapi ia juga bernyanyi. Kedua tugasnya, sebagai gitaris dan penyanyi dijalankan dengan sangat baik oleh Sekaranggi dalam album yang berisi delapan lagu ini. Petikan gitar dibawakan dengan rapi dengan aransemen yang sederhana.

Aransemen musik dan komposisi lagu secara keseluruhan dirancang simpel. Instrumen yang dimainkan pun tidak banyak. Suasana yang dibangun dalam album ini terasa dekat dan intim, tipikal album singer-songwriter.

Menarik menunggu Sekaranggi jika ia pentas. Saya pikir musiknya akan lebih bersuara dan punya arti jika bermain dalam suasana temaram, romantis dan penuh kedekatan. Musik yang sesuai konteks. Seperti ditulis David Byrne dalam ‘How Music Works’.

Mantra Magis Kunto Aji

Screen Shot 2019-05-21 at 12.13.20

Review Album ‘Mantra Mantra’ dari Kunto Aji

Tone yang menarik. Perpaduan vokal sendu nan romantis dengan kelindan instrumen elektronik dan analog menjadikan tone keseluruhan album ini unik. Sendu, kelabu tapi masih terlihat celah untuk sinar matahari menerobos masuk.

Harmoni lagu-lagu yang sebenarnya tidak terlalu mudah dinikmati dalam sekali dengar. Namun dengan ajakan vokal dan tone yang unik, membuat kita dipaksa mendengarkannya. Sehingga kita sampai pada liriknya.

Lirik memberi makna dalam sebuah lagu juga kuat dalam album ini. Pemilihan kata  sederhana tanpa mendangkalkan makna. Malah menjadikannya kekuatan untuk mengekspresikan emosi kita. Emosi yang bahkan membuat Najwa Shihab menangis…

“As Long As”: Tentang Penghakiman

Screen Shot 2019-05-14 at 12.37.39.png

Single Baru ‘Heidi (The Girl with the Hair)’

Sekitar tahun 2018, pertama kali dengar Soon Finland dari Heidi, saya pikir ini karya dari Barat. Entah siapa, yang jelas bule. Lupa, awalnya dari mana saya dapat link lagu ini.

Setelah mendengar lagunya tentu lanjut mencari tahu di YouTube. Ternyata, ia orang Indonesia. Musik folk yang sangat kental, aksen bernyanyi dan timbre vokalnya membuat imajinasi membayangkan suasana jauh dari Indonesia.

Single barunya berjudul As Long As baru dirilis. Masih dengan suasana folk ala dongeng  Heidi di pegunungan Alpen yang bernyanyi bebas lepas diterpa hembusan angin sejuk dan domba-domba berlarian di atas hamparan rumput hijau.

Yang membedakan dari single pertamanya, lebih kepada aransemen dan produksi. Aransemen dengan penambahan instrumen dan produksi yang lebih polished. Meski begitu, sama sekali tidak menghilangkan perasaan sejuk, tenang dan menyenangkan.

Liriknya tidak ringan, meski dibawakan dengan musik sederhana. Bercerita tentang banyaknya penghakiman di masyarakat terhadap sesuatu yang beda, yang tidak biasa. Membuat seringkali kita terpaksa atau dipaksa berubah.

Relevansi Dua Generasi

Ada yang menarik di Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 lalu. Di lantai 3 gedung A, tepatnya di sebuah lapangan futsal yang disulap menjadi lokasi pentas, tampil beberapa penampil. Di antaranya adalah Orkes Pancaran Sinar Petromaks (PSP) dan Jason Ranti. PSP adalah orkes lawas yang besar di era 70-80-an pada saat para anggotanya masih kuliah di UI. Sekarang mereka sudah ‘kepala enam’. Seperti apa musik mereka, silakan cari di YouTube. Sementara Jason Ranti adalah anak agak muda (yang jelas jauh lebih muda dari om-om PSP), singer-songwriter style, ala Iwan Fals, dengan lirik-lirik masa kini. Musiknya pun bisa dicari YouTube.

Lalu apa menarik yang dari keduanya? Pada saat PSP main, penonton kebanyakan adalah audience yang hidup pada masa mudanya dengan mendengarkan PSP. Mereka yang besar dan kuliah di era 80 dan 90-an, baik di UI atau kampus lain. Masa yang masih relevan dengan musik dan lirik PSP Kehidupan mahasiswa saat itu yang pernah dirasakan langsung oleh penonton PSP.

Dtyt5f2U0AA83qO

PSP selesai main. Ganti Jeje. Audiencenya beda banget. Yang tadi anak muda 80-an, sekarang anak muda 2018. Anak muda 80-an mundur teratur dari pinggir panggung diganti oleh anak muda masa kini. Bergantinya generasi penikmat di pinggir panggung berlangsung tanpa rusuh. Damai, teratur dan saling tahu diri.

46078428_278687316338074_2154147335114116420_n.jpg

Keduanya mewakili generasi berbeda. Generasi yang terpaut 30 tahun, kurang lebih. Musiknya pun berbeda. Yang sama adalah relevansi di zamannya masing-masing. Relevansi dari musik secara seni suara maupun lirik yang bercerita tentang sesuatu di masanya. Ya, begitulah seharusnya sebuah karya. Karya harus relevan, bukan sekadar masturbasi ekspresi.

Tidak Cukup (Hanya) Visual

main-qimg-50fd5810005b18982fc715b760e32c8fKalau kita bicara ‘branding’, langsung terbayang logo, warna, desain, dan font type. Visual. Branding ya visual. Padahal, secara teori pemasaran modern, branding tidak cukup hanya bicara logo, packaging, desain dan visualisasi lainnya. Cara bicara seorang waiter dalam melayani pelanggannya itu adalah branding. Bahkan audio atau suara pun juga branding.

Jika visual boleh menjadi alat branding, kenapa audio tidak? Yang paling sederhana (ini  contoh yang terlalu menyederhanakan) adalah penggunaan jingle dalam iklan. Iklan Indomie misalnya. Kita sudah paham dan nyantol jika mendengar jingle Indomie, terutama bagian: Indomie, seleraku. Atau ‘audio logo’ (banyak yang bilang ‘end tunes’, mentang-mentang selalu diletakkan di akhir iklan) setiap akhir iklan Telkomsel.

Branding dengan menggunakan suara memang tidak hanya pada iklan, jingle, dan end tunes. Lebih dari itu semua. Seperti branding dengan visual, audio pun seharusnya ada di mana brand itu berada. Kantor pusat, pabrik, alat-alat promosi hingga warung-warung tempat produk dari brand itu dijual.

Jadi, audio pun bisa menjadi alat yang kuat untuk branding. Alat untuk mengasosiasikan suatu brand. Alat yang menjadi identitas sebuah brand. Lalu, bagaimana suara brand Anda?