CC + JB

Akhir minggu ini dunia sepertinya sepi dari malaikat dan iblis. Mereka yang biasanya berpatroli di jagad, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup, 24 jam sehari, dari terciptanya kehidupan sampai akhirat nanti, kali ini tidak tampak.

Mereka mengajukan cuti sehari. Ada apa gerangan? Mereka, bersama penghuni ‘langit’ lainnya, ingin menyaksikan jamming dua vokalis terbaik yang pernah hidup di dunia. Keduanya akan manggung di sebuah taman nan indah di ‘langit’ sana. 

Chris Cornell dan Jeff Buckley. Keduanya akan menghibur semua penghuni ‘langit’ dengan keindahan suaranya. Suara dan juga bakat yang entah akan terlahir lagi atau tidak di dunia, paling tidak selama jatah hidup saya belum jatuh tempo.

Ah, senangnya. Enjoy the show, guys!

25 Years and Still Alive

pj25-screenshot-1480x832

25 tahun perjalanan hidup yang tidak sebentar. Seperempat abad waktu yang lama.

Dalam seperempat abad terakhir ini, bangsa Indonesia sudah melewati banyak momen. Lolos dari cengkeraman Orde Baru. Berhasil lolos juga dari cobaan memasuki era reformasi meskipun tidak mudah dan berdarah. Memasuki milenium baru, tahun 2000-an. Sempat terjadi peristiwa bencana besar seperti tsunami di Aceh dan beberapa gempa bumi besar seperti di Jogja. Dalam 25 tahun, bangsa ini sudah berganti presiden sebanyak lima kali.

Semuanya berubah, begitu pula dalam kehidupan pribadi. Alhamdulillah masih bernafas. Ada anugerah, ada pula musibah.

Ada satu yang nggak berubah sayangnya: belum nonton Pearl Jam live. 25 tahun lalu saya nonton klipnya ‘Alive’ di rumah seorang teman dan jatuh cinta. Sampai sekarang, ya cuma bisa nikmati mereka via layar monitor saja.

Nasib, tapi katanya ‘good things come to those who wait.’

The Staves: Harmoni Platinum


Mereka bernyanyi harmoni seperti otak yang sehat memerintahkan kaki dan tangan bergerak saat berjalan. Tanpa perlu usaha keras, tanpa perlu dipikir. Mungkin karena mereka punya DNA sama.
Itu yang kita rasakan saat mendengarkan The Staves bernyanyi, band asal Inggris yang tiga anggotanya adalah kakak beradik. Ketiganya cantik dengan suara platinum.

Musiknya folk. Ada rasa Joni Mitchell muda, ada rasa Crosby Stills and Nash tapi versi perempuan.

Meski folk Inggris sedang naik daun dengan menjamurnya artis singer-songwriter membuat The Staves tetap unik dan beda dari rombongan Sheeran dan kawan-kawan. Ada rasa ‘indie’, hippie, dan ketidakpedulian dengan tren. Silakan buktikan sendiri. Dengarkan salah satu dari dua album mereka.

#Voxtory, Here We Go!

Apa pentingnya tahu cerita di balik proses berpikir kreatif seseorang? Jawabannya mungkin seperti yang dikatakan seorang penulis, T.S Elliot: immature poets imitate, mature poets steal. Dengan tahu latar belakang berpikir kreatif seseorang, kita ‘mencuri’ yang mereka lakukan atau pikirkan untuk merangsang dan menginspirasi simpul-simpul kreativitas kita, sehingga dapat menerjemahkannya untuk melahirkan karya sendiri.

Cerita inspiratif terutama dari dunia musik dan kreatif, dirasa makin berkurang tersedia di media. Mengapa? Bisa jadi karena media yang menyajikan cerita panjang seperti majalah kian tidak dinikmati konsumen dan akhirnya tutup warung. Diganti dengan media-media online yang berjamuran tapi sayangnya tidak menyajikan cerita bermutu, mendalam dan menginspirasi. Dengan latar belakang demikian, maka muncul keinginan untuk menghadirkan kembali cerita-cerita mendalam terutama dari dunia musik, khususnya dan dunia kreatif, pada umumnya.

Media yang akan digunakan dalam bercerita adalah dengan dua media: tulisan dan suara. Suara dan tulisan tersebut akan ditayangkan di blog agar dapat dinikmati oleh semua orang yang tertarik. Tulisan juga akan dilengkapi dengan gambar berupa foto atau ilustrasi agar semakin menarik untuk dinikmati. Diharapkan suara dan tulisan itu akan saling melengkapi dalam mendalami cerita unik dari masing-masing narasumber.

Inilah, VOXTORY.

Untuk edisi perdana, silakan cek link ini: https://soundcloud.com/improaudio/kuple

Mari Bicara Musik

Tiba-tiba terpikir tentang: musik. Sesuatu yang sudah sedemikian lama lekat dalam hidup saya baik secara persepsi, impresi maupun fakta. Fakta yang saya sendiri pun sampai hari ini masih sering menolaknya. Menolak dilekatkan dengan musik. Mungkin malah seakan menolak maqom.

Terpikir hal ini sebenarnya sederhana awalnya. Segala penemuan di dunia yang mengubah peradaban manusia dimulai dengan pertanyaan. Kali ini pertanyaannya adalah: kenapa saya yang tempat berkaryanya banyak di musik malah sekarang jarang bicara tentang musik?

Alasan yang paling terasa adalah tidak ada lagi lawan bicara untuk sekadar bicara musik. Main musik bersama-sama jauh lebih sering dilakukan dibanding duduk dan bicara tentang musik. Bicara saja. Tidak perlu mimpi kejauhan. Hanya bicara. Lawan-lawan bicara yang dulu, sekarang telah sulit diajak bicara karena berbagai alasan. Keluarga, harta dan agama. Biasanya ketiga hal itu yang sering menjadi alasan mereka sulit, segan, atau malas untuk sekadar bicara tentang musik. Rekan bicara baru sulit juga dicari karena saya pun terikat dengan kewajiban dan tanggung jawab dalam hidup sehingga membatasi gerak.

Masih banyak sebenarnya hal dalam musik yang bisa didiskusikan. Industrinya berjalan terus tanpa henti. Banyak sudut pandang baru dalam melihat musik. Sudut pandang yang tidak terlihat pada saat kami masih aktif bicara musik. 

Mungkin musik saat ini adalah jalan sunyi yang harus ditempuh tapi siapa tahu di tengah jalan ada yang menyapa. Hingga kita akhirnya bicara.

Preview The One by @thedyingsirens

Lagu lama. Mungkin sudah ditulis kurang lebih 10 tahun lalu. Sudah sempat bikin demonya tapi masih ada yang kurang rasanya. Judulnya pun juga bukan The One. 

Lompat ke tahun 2016, diujicobakan lagu ini ke band mitos ini. Revisi lirik sedikit. Oke juga. Terutama setelah direkam dan diisi dengan vokal cewek. Ada yang beda. Fresh. 

Kapan rilisnya? Nggak lama lagi. Sabar, lagi mixing. Ini buktinya. 😉 

#AlbumReview: Bin Idris – Bin Idris

c1p2cyqviaa0a-x

Musik dalam budaya populer adalah kesatuan elemen suara yang dihasilkan oleh instrumen dan ucapan kata maupun kalimat dari bait lagu. Tidak terpisah. Jangan berani-berani pisahkan keduanya. Akan janggal jika kita hanya fokus pada satu elemen saja.

Musik itu akan memberikan pengalaman pribadi yang berbeda bagi tiap orang. Pengalaman tersebut akan lebih lengkap dengan kata dan bunyi instrumen. Satu kesatuan. Keindahan maupun ketidaknyamanan yang subjektif muncul jika kedua elemen tadi dinikmati bersama, tanpa terpisah.

Jika kita paham dan setuju dengan tesis di atas, mari mulai mendengarkan album dari Bin Idris ini. Akan tidak lengkap rasanya jika mendengarkan album ini sepintas tanpa tahu apa yang ia sedang sampaikan dalam liriknya. Terlebih lagi ‘mendengarkan’ adalah hal yang ‘mahal’ di masa kini. Masa yang sangat disibukkan oleh orang yang bicara dan teriak. Tidak ada yang mendengar.

Ada berbagai rasa dalam album ini. Sedih, sinis, marah, dan pasrah pada Yang Di Atas. Rasa itu muncul jika kita mau mendengar apa yang disampaikan oleh Haikal Azizi.

Album ini untuk dipahami, bukan sekadar hiburan. Setelah berhasil paham, kita akan terhibur. Jika gagal atau malas paham, silakan kembali ke gawai masing-masing.