Telemarketing, efektif?

ccAliens

Begitu sering ditelepon oleh lembaga keuangan menawarkan berbagai macam produk, sehingga muncul pertanyaan: memangnya seberapa efektif telemarketing sebagai taktik suatu pemasaran? Akan sangat membantu jika ada yang sudah melakukan riset tentang pertanyaan ini. Sehingga secara akademis bisa dipertanggungjawabkan.

Asumsi sementara saya adalah telemarketing (masih) efektif sebagai sebuah taktik dalam pemasaran produk keuangan. Buktinya adalah sedemikian sering para telemarketer menghubungi. Sering kali telemarketer itu berasal dari lembaga yang sama dan tentunya juga sudah saya tolak berkali-kali.

Jika memang terbukti efektif, maka tidak bisa disalahkan jika para lembaga keuangan itu masih menggunakan cara telemarketing yang sama berulang kali. Penolakan adalah risiko, tapi gain yang didapat pasti lebih besar dari risikonya. Begitu harusnya secara logika.

Jika telemarketing ternyata tidak efektif, pertanyaannya, kenapa cara demikian masih dilakukan? Bukannya ini malah dapat mengakibatkan risiko, misalnya trust menurun terhadap brand lembaga keuangan tersebut?

 

Advertisements

Dobrak Barrier-nya!

Screen Shot 2017-08-01 at 4.26.00 PM.pngDi era informasi yang begitu overload ini membuat manusia, lebih hati-hati dalam memilih informasi. Dalam konteks komunikasi pemasaran, dengan semakin banyaknya produk di pasar, juga aktifnya konsumen dalam mencari berbagai macam informasi via search engine, media sosial, aplikasi chat, dan lain sebagainya, membuat konsumen membuat sebuah halangan.

The-Dentsu-Way-pg59-The-Breaking-In-and-Drawing-Out-Approaches-for-Reacing-the-Consumer-Who-Has-Put-Up-the-Information-Barrier

Halangan ini disebut information barrier (Sugiyama & Andree, 2011). Barrier ini diciptakan oleh konsumen, secara sadar atau tidak sadar, dalam memilih informasi, termasuk iklan dan jenis komunikasi pemasaran lainnya. Sehingga tugas dari komunikasi pemasaran menjadi lebih berat. Untuk menarik perhatian konsumen membutuhkan taktik yang tidak mudah. Konsumen kini memiliki ‘kuasa’ dalam memilih informasi mana yang mau ia terima, mana yang tidak. Jika informasinya sesuai dengan apa yang ia cari, atau informasi itu menarik, unik, tidak biasa, maka ia akan keluar dari barrier. Atau paling tidak. ‘mengintip’ dari dalam barrier itu.

Dibutuhkan pancingan agar konsumen mau keluar dari barrier tersebut sehingga komunikasi yang ingin disampaikan dapat terkirim dengan baik. Cara untuk menarik mereka keluar misalnya dengan pendekatan storytelling yang melibatkan berbagai jenis media yang saling silang dalam mengomunikasikan pesan tersebut. Atau cara lain yang lebih sederhana, namun idenya tidak mudah ditemukan, adalah membuat suatu materi komunikasi yang tidak biasa, absurd, nyeleneh, tapi tetap berkelas dan tidak membunuh brandnya. Cara kedua ini yang dilakukan oleh es krim Indoeskrim.

Dengan pendekatan film drama silat jadul, membuat siapa pun, tidak hanya target market es krim Indoeskrim, akan tertarik dan bahkan terhibur menonton iklan ini. Iklan yang berdurasi sekitar 3 menit ini menjadi tidak seperti iklan, tapi lebih mirip seperti konten hiburan. Apa pun tujuan komunikasi pemasaran iklan ini, jika meminjam framework AISAS, feedback yang diharapkan secara attention, interest, search, action dan share-nya sudah tercapai.

Marketing X Sales

Agak gatel. Masih sering dengar penyamaan antara Marketing dan Sales. Padahal keduanya beda.

Kegiatan penjualan, persuasi, promosi, periklanan, publikasi, semuanya adalah kegiatan pemasaran. Pemasaran bukanlah semata-mata kegiatan menjual dan memromosikan sesuatu. Pemasaran adalah suatu konsep yang menyangkut suatu sikap mental. Suatu cara berpikir, yang membimbing kita melakukan suatu kegiatan. (Kasali, 2007).

Pemasaran merupakan sikap mental, cara pikir; menempatkan pemasaran di tempat yang terhormat. Suatu organisasi jika menempatkan pemasaran pada fungsi dan khitah-nya, seharusnya tidak hanya menjadikannya tenaga ‘penjual’ saja, namun juga melibatkannya ke dalam kegiatan yang lebih strategis lagi. Tidak mungkin kita menyiapkan suatu produk kemudian meminta tim Marketing untuk menjualnya tanpa melibatkan tim tersebut dari awal. Tim Marketing perlu mendapatkan keleluasaan untuk berpendapat dalam menentukan produk dan jasa yang dihasilkan suatu perusahaan sesuai dengan insight dari konsumen (consumer needs, behaviour, etc) dan juga situasi external environment (kompetitor, situasi pasar dan industri, dll).

Steve Jobs terinspirasi untuk membuat komputer Apple, karena ia melihat keribetan penggunaan PC (windows) baik hardware maupun penggunaannya yang gak user friendly. Jika ia mencipta Apple hanya dengan intuisinya saja, dan intuisinya salah, mungkin brand Apple gak akan seperti sekarang dan betapa kasihannya tenaga-tenaga ‘sales’ Apple harus jual barang yang belum tentu dibutuhkan saat itu. Sensitifitas Jobs dalam melihat kebutuhan akan personal computer inilah yang membuatnya seperti sekarang

Demikian kegatelan saya. Semoga sedikit menjelaskan. Sekian.