Dobrak Barrier-nya!

Screen Shot 2017-08-01 at 4.26.00 PM.pngDi era informasi yang begitu overload ini membuat manusia, lebih hati-hati dalam memilih informasi. Dalam konteks komunikasi pemasaran, dengan semakin banyaknya produk di pasar, juga aktifnya konsumen dalam mencari berbagai macam informasi via search engine, media sosial, aplikasi chat, dan lain sebagainya, membuat konsumen membuat sebuah halangan.

The-Dentsu-Way-pg59-The-Breaking-In-and-Drawing-Out-Approaches-for-Reacing-the-Consumer-Who-Has-Put-Up-the-Information-Barrier

Halangan ini disebut information barrier (Sugiyama & Andree, 2011). Barrier ini diciptakan oleh konsumen, secara sadar atau tidak sadar, dalam memilih informasi, termasuk iklan dan jenis komunikasi pemasaran lainnya. Sehingga tugas dari komunikasi pemasaran menjadi lebih berat. Untuk menarik perhatian konsumen membutuhkan taktik yang tidak mudah. Konsumen kini memiliki ‘kuasa’ dalam memilih informasi mana yang mau ia terima, mana yang tidak. Jika informasinya sesuai dengan apa yang ia cari, atau informasi itu menarik, unik, tidak biasa, maka ia akan keluar dari barrier. Atau paling tidak. ‘mengintip’ dari dalam barrier itu.

Dibutuhkan pancingan agar konsumen mau keluar dari barrier tersebut sehingga komunikasi yang ingin disampaikan dapat terkirim dengan baik. Cara untuk menarik mereka keluar misalnya dengan pendekatan storytelling yang melibatkan berbagai jenis media yang saling silang dalam mengomunikasikan pesan tersebut. Atau cara lain yang lebih sederhana, namun idenya tidak mudah ditemukan, adalah membuat suatu materi komunikasi yang tidak biasa, absurd, nyeleneh, tapi tetap berkelas dan tidak membunuh brandnya. Cara kedua ini yang dilakukan oleh es krim Indoeskrim.

Dengan pendekatan film drama silat jadul, membuat siapa pun, tidak hanya target market es krim Indoeskrim, akan tertarik dan bahkan terhibur menonton iklan ini. Iklan yang berdurasi sekitar 3 menit ini menjadi tidak seperti iklan, tapi lebih mirip seperti konten hiburan. Apa pun tujuan komunikasi pemasaran iklan ini, jika meminjam framework AISAS, feedback yang diharapkan secara attention, interest, search, action dan share-nya sudah tercapai.

Advertisements

#RupaNusantara: Bikin Gorengan Untuk Masa Depan

Buka puasa selalu ditunggu. Jika pekerjaan kita nggak selalu memungkinkan untuk berbuka di rumah, kemungkinan besar kita akan buka puasa di kantor.

Menu favorit mungkin hampr di tiap kantor adalah gorengan. Mungkin kita konsumsi gorengan di bulan puasa lebih banyak di bulan lain. Beruntunglah buat penjaja gorengan di bulan puasa. 

Di bawah ini sedikit cerita tentang seorang penjaja gorengan. Cita-citanya besar. Semoga bulan puasa ini, jadi bulan yang baik baginya.

Darto, penjaja gorengan

United Blunder

Berita tentang penumpang United Airlines yang dipaksa turun pesawat sudah diketahui banyak orang di dunia. Video yang sudah viral itu sudah ditonton sekitar 200 juta kali, di Cina. Hanya Cina ya, belum ditotal dengan negara-negara lain. Cerita tentang kejadian ini bisa dicari di media-media online. Silakan dicari sendiri.

Yang mau saya sampaikan di sini adalah bagaimana United Airlines melakukan pembunuhan brandnya sendiri. Market value UA menurut kabar, menurun. Jelas, nggak heran.

UA sempat mengalami tragedi besar. Tepatnya, saat salah satu pesawatnya digunakan untuk menabrak WTC pada 11 September 2001. UA merasa perlu membantu masyatakat Amerika untuk bangkit dari tragedi itu. Sekaligus secara tidak langsung memberikan nilai lebih pada brandnya. Mereka membuat iklan satu halaman koran yang tayang pada 21 September 2001 seperti di bawah ini.

Iklan di atas mendapat respons positif dari masyarakat saat itu. Pelanggan UA tidak mengalami penurunan, malah kabarnya meningkat. Brand UA cemerlang di tengah tragedi nasional AS ini.

Maju sekitar 16 tahun kemudian kejadian pemaksaan penumpang untuk turun ini pun terjadi. Apakah penumpang akan menurun? Apakah secara brand, UA akan dipersepsikan buruk? Bisa jadi. Apakah UA akan mengcounter kejadian ini dengan bikin iklan seperti di atas? Mungkin. Apa pun yang mereka lakukan, brand UA sudah buruk.

#AdvIntro3: Iklan Dalam Masyarakat

Globalisasi membuat dunia menjadi semakin dekat dan tanpa batas. Dalam ekonomi, globalisasi dapat dikatakan sebagai suatu proses perusahaan untuk mencari keuntungan tambahan di negara-negara di luar negara asalnya. Hal ini memengaruhi banyak hal dalam kehidupan manusia. Kehidupan dalam hal ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan juga termasuk dalam hal berkomunikasi. Semuanya berubah karena faktor globalisasi dan teknologi.

Kini, manusia yang berjauhan dengan menggunakan teknologi yang sama, yaitu internet, dapat menjadi dekat. Jika sebelum ada teknologi internet, untuk berhubungan antara Jakarta-Bandung saja membutuhkan cukup banyak biaya. Misalnya, jika menggunakan telepon, kita harus ke wartel untuk melakukan hubungan telepon. Kita harus membayar jasa wartel tersebut sekian rupiah. Atau jika tidak menggunakan wartel, kita dapat menggunakan kartu telepon. Itu pun kita harus beli, kemudian harus mengantri telepon kartu. Karena telepon kartu saat itu peminatnya cukup banyak. Banyak yang harus kita keluarkan untuk berkomunikasi pada saat internet belum lahir. Begitu internet lahir, semuanya seakan mudah. Komunikasi menjadi begitu cepat, dapat dilakukan kapan saja, dan dengan biaya yang relatif murah. 

Komunikasi yang menjadi semakin cepat dan terbuka ini ternyata tidak hanya membawa kebaikan namun juga keburukan bagi manusia. Keburukan misalnya saja semakin tidak terkendalinya orang dalam mengeluarkan pendapat.  Masyarakat modern, termasuk kita di Indonesia, banyak yang terlalu mudah untuk berkomentar atau membagikan konten-konten di media sosial dan internet. Itu semua dilakukan tanpa memikirkan dampak apa yang akan diberikan oleh pihak lain, terutama pihak penerima pesan kita tadi. Kesiapan mental dalam menerima teknologi internet dan media sosial harus ditingkatkan lagi agar tidak semakin gaduh lagi pertemanan sosial di dunia dengan gaya komunikasi baru ini. 

Mengapa ini dapat terjadi? Salah satu alasannya adalah dunia global yang sudah cenderung menjadi satu ini. Hingga segala nilai sosial budaya, politik, ekonomi tidak lagi ada batasnya. Siapa yang memiliki kekuatan dalam teknologi dan dana, ia yang akan mampu menyebarkan nilai-nilainya ke dunia baru melalui teknologi internet. Perusahaan-perusahaan multinasional terutama dari Amerika Serikat dan Eropa adalah pihak yang paling menguasai teknologi dan dana. Sehingga otomatis mereka lah yang memegang kendali dalam menyebarkan nilai, sekaligus produk dan jasa. Nilai yang mereka sebarkan, apakah itu disengaja atau tidak, dapat tercermin dari iklan-iklan produk mereka. 

Sering kali, nilai-nilai sosial budaya yang ada di dalam iklan produk atau jasa dari luar negeri belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa. Ini yang sering menimbulkan perdebatan di dalam industri pemasaran. Tugas dari departemen pemasaran suatu perusahaan menjadi makin berat terutama karena mereka harus berhadapan dengan perbedaan budaya jika mereka beriklan di negara lain. Dibantu dengan biro iklan mereka yang biasanya juga multinasional, perusahaan multinasional perlu berhati-hati jika tidak ingin melakukan kesalahan dalam promosi atau beriklan. 

Dari sini, kita akan coba membahas pertanyaan berikut ini: Apakah iklan itu baik atau buruk bagi masyarakat? Dari pertanyaan ini, paling tidak ada tiga perdebatan yang muncul.

1. Debat penciptaan permintaan: apakah iklan menciptakan permintaan produk yang padahal sebenarnya tidak dibuuhkan orang? Contohnya smartphone. Bagi yang menganggap iklan itu menciptkan permintaan untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan akan mengatakan bahwa iklan-iklan smartphone sangat berpengaruh menciptakan permintaan tadi. Nissa sudah memiliki smartphone. Tidak ada masalah dengan smartphonenya. Tidak rusak dan masih berfungsi dengan baik semua fiturnya. Kemudian, di suatu sore, ia melihat iklan smartphone keluaran Samsung terbaru. Efek dari iklan tersebut ia menjadi tertarik perhatiannya akan produk tersebut. Saat itu pula ia langsung mencari tahu tentang produk tersebut. Semakin ia tahu banyak tentang produk tersebut, ia semakin memiliki smartphone itu. Padahal ia juga sadar bahwa ia tidak ada kebutuhan untuk punya smartphone baru. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa iklan bisa memengaruhi audiens sehingga menimbulkan permintaan dari produk atau jasa tersebut. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa iklan tidak serta merta menciptakan permintaan. Karena pada akhirnya konsumen memiliki kuasa untuk tidak tertarik pada iklan maupun produk tersebut.

2. Debat menciptakan nilai atau mencerminkan nilai. Perdebatannya adalah tentang penciptaan nilai dan pencerminan nilai. Penciptaan Nilai masksudnya adalah bahwa iklan itu memberikan masyarakat suatu nilai di dalam kehidupan. Nilai baik, buruk. Cantik, kurang cantik, dan masih banyak lagi. Sementara Penerminan Nilai maksudnya adalah bahwa iklan itu mengikuti nilai, kebiasaaan, trend atau budaya yang sudah ada di masyarakat. Iklan tidak menciptakan suatu nilai baru.  Bagi yg percaya dgn penciptaan nilai, banyak contoh ttg ini, misalnya perempuan sehat adalah yg kurus, raamping. Perempuan yang cantik adalah yang berkulit cerah. Sedangkan contoh mencerminkan nilai adalah banyak iklan yg memvisualkan kehidupan sehat karena gaya hidup sehat sekarang sudah menjadi bagian kehidupan dari masyarakat, terutama kelas menengah.

3. Debat komersialisasi. Perdebatan di sini adalah mengenai komersialisasi. Di zaman sekarang, semuanya serba materi, misalnya sakit kepala ya minum obat. Tidak ada iklan yang mengajak kita istirahat untuk menghilangkan sakit kepala. Ini juga berhubungan dengan terjadinya komersialisasi di mana-mana. Untuk memasang iklan di media besar maupun media kecil atau lokal, pengiklan sekarang harus membayar suatu nilai yang cukup besar. Oleh karena itu, pengiklan bersama biro iklannya berusaha untuk mencari celah bagaimana memasarkan produk atau jasanya tidak melulu dengan membayar media. Salah satu contohnya adalah mensponosori acara-acara TV. Misalnya saja American Idol. Coca Cola menjadi salah satu sponsor di acara yang terkenal di dunia tersebut. Sebagai kompensasinya, Coca Cola boleh menyelipkan produk-produknya di berbagai segmen dalam acara tersebut. Ada penelitian yang menyatakan bahwa produk Coca Cola muncul sekitar 2.000-an kali selama acara American Idol berlangsung. Perdebatan muncul. Apakah Coca Cola memiliki ‘suara’ dalam menentukan berjalannya acara Idol ini? Misalnya, ikut menentukan juri-juri, peserta, bahkan mungkin pemenangnya.

Perdebatan akan peran atau efek iklan di masyarakat ini tidak hanya dalam segi sosial tapi juga dalam ekonomi dan politik. Untuk bidang ekonomi ada beberapa perdebatan:

1. Kompetisi. Perdebatan dalam hal kompetisi ini membahas bahwa brand-brand dengan belanja iklan yang besar, terutama brand multinasional, dapat membunuh brand-brand lokal. Brand lokal ini tidak memiliki kekuatan modal yang sebesar brand multinasional. Sehingga mereka tidak memiliki kekuatan untuk berperang melalui iklan dan komunikasi pemasaran. Modal yang mereka miliki akan lebih banyak digunakan untuk misalnya pengembangan produk, inovasi, pengembangan SDM, dan lain-lain. Karena brand lokal jarang berpromosi, akhirnya konsumen tidak aware akan kehadiran mereka dan pada akhirnya mereka akan kalah bersaing hingga menutup usahanya. Ditambah dengan situasi jika kompetisi semakin sedikit, otomatis harga akan naik.

2. Membeli Di Luar Kemampuan. Perdebatan ini mirip dengan debat penciptaan permintaan. Ada beberapa audiens secara demografi yang biasa disasar dalam komunikasi pemasaran; masyarakat urban, suburban dan rural. Masyarakat urban adalah kebanyakan kelas menengah yang tinggal di kota.

Ada juga perdebatan terkait dengan politik. Politik akan menentukan berbagai peraturan perundangan di suatu daerah atau negara, termasuk peraturan dalam beriklan. Lalu, di samping itu, iklan juga banyak dimanfaatkan oleh partai politik ataupun kegiatan-kegiatan yang berbau politik. Terutama dalam pemilihan kepala daerah atau kepala negara, iklan menjadi salah satu ujung tombak bagi para pemain di bidang politik. Iklan dalam aktivitas politik berfungsi kurang lebih sama dengan iklan komersial produk atau jasa yaitu untuk memperkenalkan sosok, partai atau kandidat kepala daerah kepada khalayak luas. Setelah sosok tersebut dikenal, iklan juga dapat digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan program-program dari politisi atau partai politik tersebut. 

Perdebatan iklan dalam dunia politik tidak jauh dari tayangan-tayangan iklan yang menyerang lawan. Kampanye negatif ini sering terjadi dalam kehidupan politik di mana pun. Perdebatan yang berlangsung di antaranya adalah:

1. Apakah kampanye negatif itu akan lebih diingat oleh masyarakat atau audiens?

2. Apakah kampanye negatif memengaruhi pemilih?

3. Atau apakah ia justru menggiring audiens ke penyesatan informasi?

4. Apakah kampanye negatif ini malah membuat pemilih tidak tertarik untuk berpartisipasi?

REFERENSI:

1. Frith, Katherine Toland., and Barbara Mueller. 2003. Advertising and Societies: Global Issues. New York: Peter Lang Publishing, Inc.

2. Moriarty, Sandra., Nancy Mitchell and William Wells. 2009. Advertising: Principles & Practice, 8th Edition. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Agama, Politik dan Brand

ahok-agus-anies_20160926_161839Ada tiga hal yang tidak habisnya dibicarakan oleh manusia seantero dunia. Bahkan pembicaraan ini sering menjadi perdebatan yang tak kunjung selesai sampai kiamat datang. Brand, agama dan politik. Ketiganya adalah bahan obrolan manusia modern setiap hari. Dalam 24 jam, pasti manusia akan membicarakan satu di antara ketiganya. Atau bahkan ketiganya sekaligus dalam waktu sehari.

Liverpool FC, FC Barcelona, Nike, Apple, Samsung, dan masih banyak brand atau merk lainnya di dunia. Kemudian, Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Shinto, Kong Hucu, Kejawen, dan banyak lagi agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Lalu, ada pula globalisasi, terorisme, persaingan ekonomi, keadilan sosial, Pancasila, undang-undang, garis keras, Islam Politik, yudikatif, legislatif dan eksekutif yang senang sekali dibahas oleh manusia sedunia terkait masalah politik.

Di Pilkada DKI 2017, kita dapat ketiganya. Oleh karena itu, warga Jakarta dan Indonesia yang ada di dalam negeri atau luar negeri ramai membicarakannya. Ahok, Agus, Anies (3A) dan para pasangannya menjadi buah bibir selama kurang lebih 3-4 bulan terakhir.

Apa hubungannya dengan agama? Pendukung dari ketiganya sering digiring oleh media arusutama atau media sosial ke dalam perdebatan agama. Perdebatan ini tentu tidak jelas ujung pangkalnya. Disengaja atau tidak, agama digunakan sebagai perangkat oleh pendukung ketiganya untuk menjadi brand yang jagoan dan menangan serta sebagai pedang dalam pertarungan politik, untuk unggul dari lawan-lawannya.

Dalam politik, jelas ketiganya adalah peserta dalam suatu kontestasi politik besar di Indonesia. Suatu negara demokrasi yang besar di dunia. Ketiganya mau tidak mau akan dibicarakan secara politik oleh masyarakat Jakarta dan Indonesia.

Sekarang kita bicara hubungannya dengan brand. 3A ini bisa kita masukkan sebagai brand dengan masing-masing unique selling propositionnya. Ahok yang mengklaim bahwa ia sudah bekerja dan membuktikan pada rakyat kemampunnya. Ia membangun citra bersih dan transparan. Kemudian, Agus dengan mengangkat citra anak muda yang penuh semangat. Semangat seorang pemuda bekerja dan memimpin yang akan dirasakan masyarakat Jakarta jika ia terpilih. Lalu, Anies dan pasangannya Sandiaga Uno. Mereka menawarkan keadilan rakyat yang dirasa hilang di Jakarta ini.

Agama adalah perangkat. Politik sebagai kendaraan. Keduanya digunakan untuk memasarkan brand. Agar brand unggul atau laku di mata khalayak sasaran, apapun strategi awal dari pemasarnya.

Pilkada DKI 2017 ini cocok untuk dijadikan studi kasus dari tesisnya Steve Henry, pendiri biro iklan Howell Henry Chaldecott Lury yang mengatakan bahwa merk merupakan hal terbesar di dalam dunia ini, lebih besar dari pada kegiatan agama dan politik yang terorganisasi. Atau, malah melahirkan tesis lain bahwa ketiganya saling mendukung satu sama lain demi pencapaian suatu tujuan.