Are You OK, Mr. Ries?

quote-a-branding-program-should-be-designed-to-differentiate-your-cow-from-all-the-other-cattle-al-ries-66-93-83.jpg

Membaca satu artikel di majalah Mix, bikin saya tersenyum. Senyum sambil membayangkan wajah Al Ries yang pernah bilang bahwa periklanan sudah mati dalam buku terkenalnya The Fall of Advertising & The Rise of PR.

Buku yang terbit sekitar tahun 2002, sesuai judulnya meramalkan bahwa industri periklanan akan ‘mati’. Argumennya adalah karena iklan dinilai tidak efektif, mahal biayanya, dan lain-lain. Lalu, sebagai gantinya, PR (public relations) akan bangkit. Mengapa? Karena PR, dirasa lebih murah biaya kampanyenya dan efektif. Konsumen atau khalayak sasaran konon lebih percaya dengan kampanye PR dibanding iklan. Tesis Ries ini juga sempat, bahkan masih, membuat praktisi iklan atau PR berdebat. Praktisi iklan merasa iklan tidak akan mati, praktisi PR bersikeras bahwa iklan sudah mati atau akan mati.

16 tahun kemudian setelah buku itu terbit. Muncul artikel ini (artikel pertama yang saya baca adalah yang versi majalahnya). Artikel yang memaparkan tentang betapa belanja iklan di Indonesia pada Q3 tahun 2018, sebesar Rp39 triliun. Tumbuh 4% dibanding kuartal yang sama di tahun 2017.

Tiga puluh sembilan triliun rupiah. Jumlah yang banyak tentunya. Apakah jumlah tersebut menunjukkan akan kematian industri iklan? Tiga puluh sembilan triliun rupiah di satu kuartal. Mati? Are you okay, Mr. Ries? Bagaimana dengan fanboy-nya Mr. Ries? Ada komentar?

Advertisements

Korupsi Berjamaah

Kasus sekitar 40-an anggota dewan di suatu daerah tertangkap karena korupsi berjamaah sempat membuat heboh. Banyak yang bertanya, termasuk saya, kenapa itu bisa terjadi? Apakah tidak adanya pengawasan? Apakah sudah begitu rendahnya moral dari para anggota dewan? Apa yang salah sebenarnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sepertinya terjawab jika kita memperhatikan tingkah polah pengemudi di jalanan, khususnya di Jakarta. Melawan arah, seperti yang sering dan banyak dilakukan oleh banyak pengemudi motor, atau melanggar peraturan lalu lintas dilakukan juga dengan beramai-ramai. Segerombolan pengemudi yang melanggar peraturan di jalan adalah hal yang biasa kita lihat.

Memang sepertinya banyak masyarakat yang sudah terbiasa dengan korupsi, seperti merampas hak pengguna jalan lain dengan melawan arah atau menerobos lampu merah beramai-ramai. Entah apa alasannya. Jadi, ya tidak perlu heran jika terjadi korupsi anggota dewan berjamaah seperti yang tersebut di atas.

VAR Play, Fair Enough?

Pic: the telegraph

Music changes, and I’m gonna change right along with it. – Aretha Franklin

Tiga minggu Liga Inggris dimulai sudah ada beberapa insiden, terutama di kotak penalti. Misalnya, gol Sadio Mane melawan West Ham United yang sangat jelas offside, kemudian terakhir adalah gol Costa ke gawang Man City yang jelas kena tangannya dan berbau offside juga.

Video assistant referee atau VAR sudah dikenalkan ke dunia terutama pada saat Piala Dunia 2018 di Rusia. Meskipun di beberapa liga seperti Bundesliga, Serie A, La Liga, A League sudah mengunakannya.

Liga Inggris pada musim 2018 ini belum memberlakukannya. Konon banyak klub yang voting untuk tidak memakai VAR di liga. Cukup di FA Cup saja. Sementara di liga Inggris, sudah ada beberapa kasus yang membutuhkan VAR agar memberikan hasil pertandingan lebih fair di musim ini.

Teknologi tugasnya membantu manusia. Manusia seharusnya memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya demi kebaikan bersama. VAR akan banyak membantu wasit untuk menjadikan hasil pertandingan lebih fair. Saya belum ketemu argumen yang bisa meyakinkan saya untuk menolak VAR. Dari pada cuma teriak dan kampanye “fair play”, ada teknologi yang saya yakin bisa membantu mewujudkan fair play.

VAR pasti akan ‘mengganggu’ kita yang tidak terbiasa. Begitulah perubahan. Embrace it and let’s enjoy the ride.

Navicula Live At NoName Bar

no name bar

“Warna warni, kita menjadi satu” – Busur Hujan

Saya pernah bilang atau menulis, lupa bilang ke siapa atau tulis di mana, bahwa selama hidup kita, paling tidak tontonlah konser atau live Navicula sekali saja. Kenapa? Magis. Tidak bisa ditulis dengan kata-kata, harus langsung meresapi berada di bibir panggung saat mereka tampil. Saya beruntung sudah berkali-kali nonton mereka langsung, dari depan, samping dan bahkan sepanggung dengan Navicula. Kemagisan itu selalu ada.

Navicula di No Name Bar, Jakarta Selatan, 27 Juli 2018.

Setlist:

  1. Refuse To Forget
  2. Kali Mati
  3. Aku Bukan Mesin
  4. Love Bomb
  5. Everyone Goes To Heaven
  6. Harimau Harimau
  7. Spoonman (Soundgarden)
  8. Orangutan
  9. Ibu
  10. Mawar dan Melati
  11. Di Rimba
  12. Busur Hujan
  13. Mafia Hukum
  14. Metropolutan

 

’22 Menit’: Sebuah Aktivitas Promosi

5b4c681fcce8d-ario-bayu-dalam-film-22-menit_665_374
foto: viva.co.id

Film menjadi salah satu alat promosi. Sangat mungkin. Malah film dapat menjadi alat promosi tanpa harus terlalu terasa sebagai media yang sedang memromosikan atau meyampaikan suatu pesan. Beda dengan suatu iklan yang jelas-jelas tugasnya adalah memromosikan suatu produk atau jasa. Meski ada juga film yang sangat nyata memromosikan sesuatu. Misalnya seperti film 22 Menit.

Di dalam film yang dibesut oleh Eugene Panji ini sangat terasa pesan promonya, yaitu Polri yang sebagai pelindung masyarakat terutama dalam kejadian aksi teror. Dengan mengangkat kejadian pemboman di Jalan Thamrin pada Januari 2016, film ini begitu kuat pesan untuk menyiarkan kehebatan Polri dalam insiden tersebut. Pesan yang  dalam film ini sepertinya cuma satu, yaitu: dalam waktu 22 menit, Polri dapat menumpas para pelaku pemboman di jalan Thamrin, Jakarta. Tidak ada pesan lain. Cerita dalam film ini terkesan kurang kuat selain dari narasi kehebatan Polri tadi.

Apakah salah jika film ini menjadi alat promosi kekuatan Polri? Sama sekali tidak. Seperti yang disampaikan di atas, bahwa memang sudah seharusnya dalam melakukan promosi, sosialisasi, atau advokasi di zaman now ini salah satu caranya adalah dengan menggunakan media film. Tentu pertanyaan yang tersisa adalah apakah memang film ini bertujuan untuk bercerita tentang Polri atau hanya kebetulan saja? Perlu ditanya langsung ke filmmaker-nya.

Temukan Potensi Seperti Kroasia

ivan-perisic-france-croatia-world-cup-final-15072018jpg_vklkbeeit9aa1lu0afbg2stdb
goal.com

Viva Hrvatska!

Kroasia berpenduduk total 4.154.200 juta jiwa menurut Wikipedia. Mengapa Kroasia bisa masuk final Piala Dunia tapi Indonesia yang berpenduduk sekitar 60 kali lipatnya tidak bisa lolos, bahkan dari grup Asia Tenggara?

Jelas persoalannya bukan pada jumlah penduduk, tapi potensi penduduk di masing-masing negara. Mungkin Kroasia dengan jumlah penduduk yang kecil tapi mereka memiliki masyarakat dengan bakat, mengutip Howard Gardner, intelijensia kinestetik yang tinggi. Lebih spesifik lagi, intelijensia kinestetik dalam bermain sepak bola. Sementara Indonesia tidak. Jangan pesimis dulu, mungkin intelijensia masyarakat Indonesia ada di bidang lain. Silakan dicek teori multiple intelligence-nya Howard Gardner, ada apa saja intelijensia dalam diri manusia dan tiap manusia masing-masing memiliki intelijensia yang dominan.

Kemampuan masing-masing manusia berbeda, dan bisa jadi kemampuan suatu bangsa, yang merupakan kumpulan manusia, pun berbeda. Cina, negara yang sekarang menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia dan juga prestasi atlet di banyak cabang olahraga begitu membuat iri, baru sekali main di Piala Dunia, tahun 2002 di Jepang-Korsel. Itu pun tidak pernah menang di grup. Setelah itu belum pernah lagi masuk Piala Dunia. Padahal mereka sudah mencoba membangun liganya dengan uang yang tidak sedikit. Mungkin satu saat nanti mereka bisa masuk Piala Dunia lagi, tapi masuk final seperti Kroasia? Saya kok gak yakin. Di nomor olahraga lain, mereka boleh berjaya, tapi di sepak bola sepertinya tidak. Bagaimana dengan Indonesia? Mari dicari potensi bangsa ini.

Sila Yatim Piatu

pancasila

1 Juni. Hari lahir Pancasila. Semua ingat. Tentunya ingat juga sila-sila dalam Pancasila.

Dari kelima sila Pancasila, sila kelima adalah tujuan. Meraih keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah cita-cita bangsa ini. Sayangnya, keadilan masih jauh dari harapan.

Sila kelima, menurut Buya Syafii Maarif adalah sila yatim piatu. Ya, seorang yatim piatu artinya tidak ada orang tuanya. Tidak ada sosok untuk menjaga, menemani, dan melindunginya. Ia hidup sendiri. Syukur kalau ada yang mau mengasuhnya sementara, tapi kalau tidak ada artinya dia harus hidup sendirian. Rawan untuk disakiti, diserang dan dimanipulasi. Terbukti saat ini si yatim piatu sering kali dicederai oleh mereka yang bahkan mengaku Pancasilais. Memang dalam kenyataannya keadilan masih jauh dari keinginan Pancasila.

Sekarang di era pascakebenaran, orang yang berpikir, atau paling tidak mencoba berpikir adil, sering kali dituduh macam-macam. Bisa dituduh radikal, dituduh pro itu atau anti anu. Bahkan dituduh tidak dalam golongan #SayaPancasila. Ironis.

Memang sulit menjadi sila yatim piatu tanpa orang tua sebagai pelindung. Siapa kira-kira yang ingin menjadi ‘orang tua’ si yatim piatu ini?

Selamat hari lahir Pancasila.