20 Tahun 12 Mei

20 tahun lalu ke kampus A Trisakti. Ada kuliah pagi jam 8. Mata kuliah perbaikan nilai sebelum lulus, meski nggak baik juga nilai akhirnya. Ternyata, nggak ada dosen.

Kampus tenang dan sepi. Calm before the storm. Pulang, karena itu tadi, sepi masih pagi.

Sampai rumah, memantau via IRC. Iya, internet relay chat. Anak digital lama. Banget. Memantau situasi yang beberapa hari terakhir makin ‘panas’. Di ruang2 IRC pun ‘panas’. Jauh lebih panas dibanding media2 masa itu. Netizen emang udah berangasan dan liar dari zaman dulu untuk melawan rezim.

Siang, lalu sore, terjadilah.

Sempet posting di salah satu ruang IRC: aparat keparat. Mungkin terinspirasi Arian 13 (Seringai) bikin aparatmati? Atau sebaliknya? Entahlah. Lupa.

Tapi saya nggak akan pernah lupa #20TahunTragediTrisakti.

Advertisements

Distribusi Produk Intelijen dalam #SiklusIntelijen

627717aaf24cf0763bf7b1b3494255ba
pic: quotemaster.org

Setelah melalui beberapa tahap, sampai kita di tahap akhir. Tahapan akhir dalam siklus intelijen adalah Dissemination (Penyebaran).

Proses diskusi antara produsen intelijen dan konsumen intelijen di saat penyebaran atau pendistribusian produk intelijen terjadi real time karena user kini sudah sangat terpapar dengan informasi begitu cepat. Informasi dari internet yang bisa dapat langsung diakses melalui telepon atau perangkat genggam atau pun dari bentuk media lain. Komunikasi antara user dan intelijen pun sekarang juga semakin terbuka dan cepat. Proses diseminasi menjadi lebih praktis karena dapat dilakukan secara remote, tanpa harus melakukan pertemuan khusus.

Dengan demikian tantangan intelijen untuk memberikan layanan kepada user menjadi semakin berat. Analis intelijen harus dapat menghasilkan suatu produk intelijen yang tidak hanya tepat, cepat tetapi juga mempunya nilai lebih untuk dapat meyakinkan para pembuat kebijakan. Nilai lebih sebagai pembeda antara produk intelijen dengan kebisingan informasi lainnya yang mungkin sudah diketahui oleh pengguna intelijen. Dituntut kreativitas dan kecermatan analis dalam mengolah serta mengkomunikasikan sumber informasi agar produk yang dihasilkannya dapat bersaing dengan informasi-informasi di luar sana, terutama dari media-media internet, terutama informasi yang menyesatkan.

Mengenal pribadi dan gaya kepemimpinan dari user juga penting. Apakah ia suka membaca panjang atau tulisan pendek? Apakah ia seorang yang peduli dengan detail? Apakah ia punya banyak waktu untuk diskusi? Jika kita cukup kenal dengan karakternya, akan lebih memudahkan mempresentasikan produk intelijen sekalipun di era information overload ini. Sehingga akan muncul semangat untuk berkolaborasi antara user dan intelijen, seperti yang disampaikan Wirtz. Bekerjasama untuk tujuan yang sama.

Analisis adalah Koentji dalam #SiklusIntelijen

Analysis-b

pic: skyway media

Analisis adalah langkah ketiga. Langkah sebelumnya dapat dibaca di sini. Analisis dalam intelijen adalah pokok dari suatu produk intelijen. Tanpanya, produk intelijen hanya akan merupakan sebuah catatan mengenai data-data tentang suatu tempat. Analisis yang membuat produk intelijen memiliki nilai lebih dibanding dengan informasi lain, seperti informasi dari media-media misalnya.

Esensi dari analisis intelijen adalah harus memiliki kedalaman informasi dan pengetahuan akan suatu subjek masalah. Sedangkan tujuan dari analisis, adalah mendapatkan informasi sejelas-jelasnya dengan cara meneliti informasi yang didapat sehingga dapat bermanfaat bagi user dalam mengambil keputusan. Analisis yang baik mampu memberi pengaruh positif dalam output dari keputusan. Baik itu untuk kepentingan dalam atau luar negeri. Produk dari analisis intelijen terdiri dari berbagai bentuk:

  • Current Intelligence
  • Estimative Intelligence
  • Basic Intelligence
  • Warning Intelligence:
  • Intelligence for Operational Support
  • Scientific and Technical Intelligence

Peran analis adalah menganalisis informasi yang sudah dikumpulkan dan diproses untuk melahirkan produk intelijen. Dengan tersedianya data yang sudah diproses, seharusnya akan memudahkan analis dalam memroduksi produk intelijen. Kata kuncinya adalah ‘tersedianya data’. Data yang ia terima dalam era informasi seperti sekarang ini bisa sangat banyak. Selain mendapatkan data yang sudah terproses, ia juga mungkin akan terpapar dengan info dari luar yang belum terproses. Ia bisa terpapar dari mana saja. Saat menonton TV, dengar radio atau sesederhana, sedang buka e-mail atau internet.

Hal ini dapat membuat hilangnya fokus analis dari data-data yang sudah terproses tadi. Fokus hilang, dan akan membuang waktu jika harus mengulang proses.

Kecepatan informasi ini di lain sisi juga menuntut analis untuk bekerja cepat. Dengan bekerja cepat berarti mengorbankan analisis detail. Dengan kata lain, mengorbankan keakuratan dari suatu produk intelijen. Padahal, para petinggi negara membutuhkan suatu analisis intelijen yang strategis maupun laporan intelijen tentang isu terkini.

Intelijen strategis memerlukan waktu lebih lama untuk dihasilkan, sementara karena intelijen merupakan bagian dari suatu pemerintahan, maka pembuat kebijakan menginginkan produk intelijen yang dapat mendukung kebijakan-kebijakan politiknya.

Informasi di era ini tapi juga membawa sisi positif. Antara lain, komunikasi akan jauh lebih cepat dan real time antara user dan intelijen. Sehingga seharusnya tidak ada lagi tembok birokrasi yang menghalangi untuk bekerja lebih efisien.

The Manics Love LFC

manicslfcLagu ‘cinta’ untuk Liverpool, terutama Liverpool FC dari Manic Street Preachers. Single baru dari The Manics yang bertemakan perjuangan gerakan Justice For The 96. Gerakan yang memperjuangkan nama baik dan martabat 96 orang fans sepak bola yang tewas di peristiwa Hillsborough.

Rezim penguasa lokal saat itu menuduh fans berbuat ulah sehingga terjadi bencana yaitu runtuhnya salah satu tribun di stadion Hillsborough ketika pertandingan FA Cup antara LFC dan Nottingham Forest tahun 1989. Intinya, penguasa, termasuk polisi, tidak mau disalahkan atas kejadian itu, malah menuduh fans, termasuk 96 nyawa sebagai yang bertanggung jawab.

Perjuangan memulihkan nama baik itu berlangsung sampai tahun 2016 yang setelah melalui proses hukum, juri memutuskan bahwa 96 korban adalah unlawfully killed. Artinya, bukan fans yang bertanggung jawab atas tragedi itu, tapi pihak stadion, polisi, dan lainnya.

#JFT96

Tahap Processing dalam #SiklusIntelijen

brain
Pic: shutterstock

Melanjutkan sharing minggu lalu tentang siklus intelijen, minggu ini lanjut ke tahap berikutnya, yaitu: Processing.

Sebelum data dan info yang didapat dari sumber-sumber intelijen sampai kepada analis untuk dianalisis, data-data mentah tersebut diproses terlebih dulu. Misalnya, menerjemahkan data atau informasi berupa hasil sadapan atau menerjemahkan gambar yang didapat dari satelit.

Tantangan di era informasi seperti sekarang ini, terutama pada tahap processing adalah informasi yang overload.  Membuat teknisi data harus dapat memilah data atau info mana yang layak diproses. Sehingga nantinya tidak membebani analis intelijen dalam menganalisis. Proses ini akan cenderung bergelut dengan masalah teknis.

Dengan jutaan data dan infromasi yang didapat dari berbagai sumber, bisa dipastikan informasi-informasi itu belum tentu memiliki kualitas baik. Tantangan lainnya adalah memroses data atau informasi yang setengah rusak atau materinya sudah terdistorsi dengan masalah teknis lainnya. Misalnya serperti data gambar yang tidak jelas, data audio tidak jernih, dan lain-lain.

(Katanya) Musik Telah Mati

IMG_20180328_202341

Semalam datang ke sebuah acara musik. Setelah sekian lama tidak pernah datang ke acara atau festival musik lokal.

Ekspektasi rendah. Tidak berharap apa pun. Tidak berharap menyaksikan band sehebat Pink Floyd. Tidak ada ekspektasi sama sekali. Nol. Zero. Perasaan datar memasuki gerbang venue.

Setelah di dalam venue, hall di bilangan SCBD, sudah hampir penuh. Tidak padat sekali, tapi hampir penuh. Bagian tepat depan panggung, sudah full. Tinggal tersisa bagian yang jauh dari panggung. Di sana lah berkumpul orang-orang tua, orang brand sebagai yang ‘punya’ acara, SPG dan orang EO, serta media pastinya. Ya, tua, karena sebagian yang datang adalah anak muda. 35 ke bawah. Mungkin malah 30 tahun ke bawah. Di atas usia itu, ya kalian tua. Termasuk saya.

Acara malam itu diisi oleh penampilan dari Tatlo, Danilla, Fourtwnty, Stars & Rabbits, dan SRXBS. Saya pernah dengar karya mereka tapi penampilannya di panggung belum. Baru sekarang ini, kecuali Tatlo.

Acara dibuka oleh Tatlo. Bermain selama 35 menit. Dengan musiknya yang American folk terutama karena teknik banjo yang dimainkan, tampil pol. Maksimal.

Berikutnya, Danilla. Saya menduga, sebelum Danilla main, suasana akan hening, cenderung romantis. Saatnya slow dance. Genggam dan peluk pasangan. Kepala pasangan bersender di pundak. Menikmati lagu-lagu Danilla sambil saling bertatapan mesra.

Dugaan saya salah.

Dengan menyaksikan musik Danilla di panggung, yang tenang, kadang suram, kadang romantis, penonton tidak serta merta menjadi tenang. Penonton tertawa bahagia, ceria, bernyanyi bersama Danilla. Sesaat saya pikir ini konser Taylor Swift yang biasanya nan ceria. Lagu Danilla dinyanyikan bareng penonton? Aneh. Lagu-lagu yang menurut saya bukan sing-a-long song. Aneh tapi nyata dan keren sekali.

Tampil selama sekitar 45 menit, Danilla turun panggung. Naik Fourtwnty. “Oh, ini band Fana Merah Jambu,” bisik saya dalam hati.

Ekspektasi pun masih rendah. Meski saya akui sedikit berharap melihat lagi kejadian seperti saat Danilla tampil.

Fourtwnty naik panggung. Perkusi elektrik mulai dimainkan. Penonton mulai bereaksi. Satu lagu. Dua lagu. Zona Nyaman. Pecah. Fana Merah Jambu, Diam Diam Ku Bawa. Gegar.

Harapan saya terwujud. Bahkan mendapat lebih.

“Saya ada di mana? Saya ke mana selama ini? Ini apa?” Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala. Ekspektasi? Ini namanya di luar ekspektasi. Mencerahkan. Lebih dari menyenangkan. Memunculkan harapan.

Katanya, industri musik Indonesia ,bahkan dunia, mau mati. Katanya, teknologi digital mendisrupsi semua industri termasuk industri musik. Katanya, musisi siap-siap cari profesi lain. Katanya, penjualan album fisik turun, padahal menurut seorang eksekutif sebuah label lokal, penjualan fisik baik-baik saja. Katanya. Tidak perlu percaya.

Mereka yang hadir semalam jelas tidak mati. Musisi maupun penontonnya hidup. Sehat sentosa, bahagia, tertawa, gembira. Tidak ada tanda-tanda kematian di sana. Tidak ada kesedihan apalagi bendera kuning. Mereka tidak mati. Fakta.

Para mantan entitas penguasa industri musik mungkin memang hampir mati. Mereka percaya itu. Biarkan saja. Silakan gali kubur sendiri. Kalau perlu, kita siapkan sekopnya.

Musisi, band, apresiator karya musik dan mereka yang dulu dimarjinalkan tak akan pernah mati. Terus berkarya. Yakin. Insya Allah.

(Tulisan ini tayang juga GooGoo FM)

Wiro Sableng di Kampus

IMG_20180328_114628(1)

Promosi wajib dilakukan siapapun. Produk, jasa bahkan sebuah karya. Film, misalnya. Cara promosi pun bisa bermacam-macam.

Jika mengikuti model klasik 4P dalam marketing, salah satu P adalah ‘promotion‘. Promotion tersebut memiliki bauran sendiri: promotion mix. Promotion mix klasik adalah aktivitas iklan, public relations, direct marketing, personal selling dan sales promotion. Meskipun sekarang ada beberapa aktivitas yang bisa ditambahkan dalam bauran itu, misalnya: event marketing, sponsorship, social media marketing, dan lainnya.

Kembali ke film. Sebagai karya kreatif layak ditunggu sebuah promosi film yang juga kreatif. Wiro Sableng, sebuah film yang akan rilis pada tahun 2018 melakukan aktivitas promosinya di kampus. Di lobi gedung A, kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tiba-tiba muncul banyak poster Wiro Sableng. Pameran poster tepatnya. Terdapat 25 karya poster yang dipamerkan.

Aktivitas ini tentu menarik mahasiswa terutama jurusan Desain atau pun mahasiswa keseluruhan. Pameran ini membuat Wiro Sableng mendapat tempat di mahasiswa. Cerita Wiro Sableng lebih dikenal oleh angkatan yang lebih tua dari mahasiswa sekarang. Angkatan para dosen mereka, mungkin lebih tua lagi.

Dengan pameran poster yang karya-karyanya keren itu makin mendekatkan Wiro Sableng dengan sasaran usia muda. Pendekatan promosi yang sesuai konteks dan paham sasaran seperti ini hasilnya akan positif. Nggak percaya? Mari kita tunggu sampai saat film ini rilis.