Kapan Kita Punya ‘Pine Gap’?

Di film seri Netflix, Pine Gap, dijelaskan bahwa Amerika Serikat memiliki tiga situs pengumpulan data dan informasi (intelligence gathering), di Amerika, Inggris dan Pine Gap di tengah gurun Australia. Ketiga situs tersebut bertugas mengumpulkan informasi dari seluruh dunia (untuk detailnya bisa cari di Wikipedia tentang tugas-tugas situs ini). Siapa pun, di mana pun, bisa mereka temukan lewat situs-situs ini. Artinya, pengawasan 24 jam kepada hampir semua orang di dunia bisa dilakukan oleh Amerika dan sekutunya. Pertanyaannya, lalu Indonesia bisa apa?

Negara kuat karena intelijennya hebat. Lalu, dengan kecanggihan Amerika dan NATO seperti dijelaskan di atas, kapan Indonesia bisa sampai ke sana? Jika dilihat dari kelahiran badan intelijan AS, CIA, baru lahir pada tahun 1947. Baru sekitar 72 tahun. Badan-badan intelijen lainnya baru hadir setelahnya. Sementara badan intelijen di Indonesia yang awalnya bernama Badan Istimewa sudah ada pada tahun 1945. Lebih dulu dua tahun dibanding CIA tapi rasanya masih terlalu jauh perangkat dan infrastruktur intelijen antara dua negara jika dibandingkan sekarang.

Pine_Gap_by_Skyring.jpg
Pine Gap (wikipedia)

Kembali ke pertanyaan Indonesia bisa apa, terutama komunitas intelijennya? Jawabannya sederhana dan mendasar sebenarnya. Temukan terlebih dulu apa yang dimaksud dengan keamanan nasional (national security). Bagaimana, siapa dan apa saja yang disebut ancaman bagi bangsa dan negara. Dari situ, baru kita bisa membangun intelijen dan perangkat pertahanan keamanan lainnya lebih jelas dan terencana.

Advertisements

Relevansi Dua Generasi

Ada yang menarik di Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 lalu. Di lantai 3 gedung A, tepatnya di sebuah lapangan futsal yang disulap menjadi lokasi pentas, tampil beberapa penampil. Di antaranya adalah Orkes Pancaran Sinar Petromaks (PSP) dan Jason Ranti. PSP adalah orkes lawas yang besar di era 70-80-an pada saat para anggotanya masih kuliah di UI. Sekarang mereka sudah ‘kepala enam’. Seperti apa musik mereka, silakan cari di YouTube. Sementara Jason Ranti adalah anak agak muda (yang jelas jauh lebih muda dari om-om PSP), singer-songwriter style, ala Iwan Fals, dengan lirik-lirik masa kini. Musiknya pun bisa dicari YouTube.

Lalu apa menarik yang dari keduanya? Pada saat PSP main, penonton kebanyakan adalah audience yang hidup pada masa mudanya dengan mendengarkan PSP. Mereka yang besar dan kuliah di era 80 dan 90-an, baik di UI atau kampus lain. Masa yang masih relevan dengan musik dan lirik PSP Kehidupan mahasiswa saat itu yang pernah dirasakan langsung oleh penonton PSP.

Dtyt5f2U0AA83qO

PSP selesai main. Ganti Jeje. Audiencenya beda banget. Yang tadi anak muda 80-an, sekarang anak muda 2018. Anak muda 80-an mundur teratur dari pinggir panggung diganti oleh anak muda masa kini. Bergantinya generasi penikmat di pinggir panggung berlangsung tanpa rusuh. Damai, teratur dan saling tahu diri.

46078428_278687316338074_2154147335114116420_n.jpg

Keduanya mewakili generasi berbeda. Generasi yang terpaut 30 tahun, kurang lebih. Musiknya pun berbeda. Yang sama adalah relevansi di zamannya masing-masing. Relevansi dari musik secara seni suara maupun lirik yang bercerita tentang sesuatu di masanya. Ya, begitulah seharusnya sebuah karya. Karya harus relevan, bukan sekadar masturbasi ekspresi.

Iklan, Revisited

‘Iklan’ dulu, dan mungkin sampai sekarang, didefinisikan sebagai: cara berpromosi dengan membeli slot waktu atau kolom atau pixel di media dengan tujuan memersuasi khalayak sasaran untuk melakukan aksi tertentu. Jika itu adalah definisinya lalu, apa yang dilakukan brand dengan menyewa selebgram untuk memromosikan value brandnya bisa disebut iklan? Atau bukan iklan? Lalu yang dilakukan DB Beer di New Zealand ini apa?

Yang kita sebut iklan dulu sudah berubah sekarang. Istilah ‘iklan’ sudah mengalami perluasan. Iklan kini adalah, meminjam istilah mas Janoe Arijanto, creative business solutions. Istilah baru yang bisa menjadi awal untuk memahami perubahan dan keluasan arti ‘iklan’ itu sendiri. Bukan hanya sekadar cara berpromosi lewat media, tapi adalah suatu solusi bisnis. Tak sekadar solusi, tapi solusi yang kreatif.

Galaunya Akhir Semester

Setiap akhir semester, di pertemuan terakhir, saya pasti galau. Yang membuat galau adalah pertanyaan dalam diri sendiri: apakah para mahasiswa di kelas yang saya ampu ini mendapatkan sesuatu selama satu semester ini? Sesuatu di sini bukan nilai akhir. Sungguh tidak penting bagi saya apakah mereka dapat A atau di bawah itu. Bagi mereka, dan mungkin orang tua mereka, nilai adalah utama. Tidak bagi saya. Karena pengalaman mengajarkan bahwa sukses tidaknya seseorang bukan sekadar dari nilai tinggi. Meskipun itu membantu dan nilai urusannya bukan dengan saya tapi si mahasiswa itu mau belajar atau tidak. Kalau belajar dengan benar, nilai A sudah di tangan.

Harapan saya tentu saja mereka mendapatkan sesuatu, baik ilmu pengetahuan secara akademik, pengetahuan dari apa yang saya alami di industri, maupun inspirasi bagi mereka dalam kehidupan. Saya lebih bangga kalau mereka mendapatkan yang terakhir. Inspirasi. Terinspirasi dalam hal apa pun yang nantinya bisa membantu kehidupan mereka dan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik.

Amin. Insya Allah.

Skenario-kan Organisasi

Instagram_marketeers_46296166_757398227935528_1913820210781825934_n
IG Marketeers

Perencanaan skenario dapat dilakukan dalam bidang apa saja dan untuk tujuan apa pun. Woody Wade dalam bukunya Scenario Planning dan di salah satu workshopnya pun pernah mengatakan hal demikian. Bahkan di websitenya, ia spesifik menulis tentang skenario untuk sumber daya manusia.

Asumsi saya, quote di atas adalah penggunaan perencanaan skenario, terutama di Indonesia, lebih banyak digunakan dengan tujuan untuk pertumbuhan bisnis yang tidak menyentuh isu sumber daya manusianya. Padahal dengan pendekatan skenario, organisasi dapat melihat gambaran tentang masa depan dari sisi yang mungkin belum pernah terpikirkan. Sehingga memungkinkan organisasi untuk merencanakan masa depannya dengan lebih siap.

Kerja. Stop. Kerja.

Dari mana kita tahu pekerjaan yang sedang dijalani itu menyenangkan?

Jika bekerja 10-12 jam sehari sepertinya tidak cukup. Pada akhir minggu, rasanya masih ingin terus ngulik pekerjaan yang dirasa belum selesai.

Godaan ngulik kerjaan di akhir minggu memang besar. Kita harus bisa melawannya. Karena jika tetap memaksa kerja di akhir minggu, malah di hari kerja akan terasa letih dan bosan.

Kecuali lini pekerjaan kita mengharuskan kerja di akhir minggu. Lain ceritanya.

*kembali nonton Netflix*

Potret Mahasiswa

img_20180925_0751171-e1543457232145.jpg

Yang saya amati selama ini, aktivitas seorang mahasiswi atau mahasiswa selama ia kuliah adalah sebagai berikut. Urutan berdasarkan tingkat prioritas, paling atas, paling penting:

  1. Mengelola absensi. Karena ini penting. Harus bisa dikelola kapan bisa bolos, kapan masuk kelas. Kalau lewat batas absensi, tidak bisa ikut ujian. Kalau tidak terabsen karena dosen lupa atau terlewat, mereka biasanya akan panik dan mengejar dosen sampai ke ujung samudera.
  2. Nilai. Mereka akan berjuang mati-matian untuk mendapat nilai tinggi. Bahkan kadang-kadang minta tugas tambahan karena nilainya kurang. Sepertinya ini semangat bagus, tapi apa mereka paham dengan yang diajarkan? Ya belum tentu. Biasanya tidak paham. Yang penting nilai setinggi langit. Yang dikejar nilai, bukan pengetahuannya.
  3. Gaul di kampus. Biasanya dengan mengikuti banyak kegiatan di luar perkuliahan, baik resmi dari kampus maupun tidak. Bahkan rela mengorbankan kelas kuliah, selama absensi masih terkelola dengan baik (lihat point 1). Bergaoel adalah koentji.
  4. Belajar. Ya belajar. Masa’ mahasiswa gak belajar? Pasti belajar lah. Pas minggu ujian.
  5. Berusaha paham dengan apa yang dipelajari. Masa’ udah dibayarin kuliah gak ada yang paham? Meskipun sebenarnya lebih penting point 1 sampai 3.

Apakah ini salah mahasiswa? Tidak. Paling tidak, tidak sepenuhnya salah mahasiswa. Mari, para pemangku kepentingan pendidikan tinggi untuk berkaca bersama.