VAR Play, Fair Enough?

Pic: the telegraph

Music changes, and I’m gonna change right along with it. – Aretha Franklin

Tiga minggu Liga Inggris dimulai sudah ada beberapa insiden, terutama di kotak penalti. Misalnya, gol Sadio Mane melawan West Ham United yang sangat jelas offside, kemudian terakhir adalah gol Costa ke gawang Man City yang jelas kena tangannya dan berbau offside juga.

Video assistant referee atau VAR sudah dikenalkan ke dunia terutama pada saat Piala Dunia 2018 di Rusia. Meskipun di beberapa liga seperti Bundesliga, Serie A, La Liga, A League sudah mengunakannya.

Liga Inggris pada musim 2018 ini belum memberlakukannya. Konon banyak klub yang voting untuk tidak memakai VAR di liga. Cukup di FA Cup saja. Sementara di liga Inggris, sudah ada beberapa kasus yang membutuhkan VAR agar memberikan hasil pertandingan lebih fair di musim ini.

Teknologi tugasnya membantu manusia. Manusia seharusnya memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya demi kebaikan bersama. VAR akan banyak membantu wasit untuk menjadikan hasil pertandingan lebih fair. Saya belum ketemu argumen yang bisa meyakinkan saya untuk menolak VAR. Dari pada cuma teriak dan kampanye “fair play”, ada teknologi yang saya yakin bisa membantu mewujudkan fair play.

VAR pasti akan ‘mengganggu’ kita yang tidak terbiasa. Begitulah perubahan. Embrace it and let’s enjoy the ride.

Advertisements

Navicula Live At NoName Bar

no name bar

“Warna warni, kita menjadi satu” – Busur Hujan

Saya pernah bilang atau menulis, lupa bilang ke siapa atau tulis di mana, bahwa selama hidup kita, paling tidak tontonlah konser atau live Navicula sekali saja. Kenapa? Magis. Tidak bisa ditulis dengan kata-kata, harus langsung meresapi berada di bibir panggung saat mereka tampil. Saya beruntung sudah berkali-kali nonton mereka langsung, dari depan, samping dan bahkan sepanggung dengan Navicula. Kemagisan itu selalu ada.

Navicula di No Name Bar, Jakarta Selatan, 27 Juli 2018.

Setlist:

  1. Refuse To Forget
  2. Kali Mati
  3. Aku Bukan Mesin
  4. Love Bomb
  5. Everyone Goes To Heaven
  6. Harimau Harimau
  7. Spoonman (Soundgarden)
  8. Orangutan
  9. Ibu
  10. Mawar dan Melati
  11. Di Rimba
  12. Busur Hujan
  13. Mafia Hukum
  14. Metropolutan

 

’22 Menit’: Sebuah Aktivitas Promosi

5b4c681fcce8d-ario-bayu-dalam-film-22-menit_665_374
foto: viva.co.id

Film menjadi salah satu alat promosi. Sangat mungkin. Malah film dapat menjadi alat promosi tanpa harus terlalu terasa sebagai media yang sedang memromosikan atau meyampaikan suatu pesan. Beda dengan suatu iklan yang jelas-jelas tugasnya adalah memromosikan suatu produk atau jasa. Meski ada juga film yang sangat nyata memromosikan sesuatu. Misalnya seperti film 22 Menit.

Di dalam film yang dibesut oleh Eugene Panji ini sangat terasa pesan promonya, yaitu Polri yang sebagai pelindung masyarakat terutama dalam kejadian aksi teror. Dengan mengangkat kejadian pemboman di Jalan Thamrin pada Januari 2016, film ini begitu kuat pesan untuk menyiarkan kehebatan Polri dalam insiden tersebut. Pesan yang  dalam film ini sepertinya cuma satu, yaitu: dalam waktu 22 menit, Polri dapat menumpas para pelaku pemboman di jalan Thamrin, Jakarta. Tidak ada pesan lain. Cerita dalam film ini terkesan kurang kuat selain dari narasi kehebatan Polri tadi.

Apakah salah jika film ini menjadi alat promosi kekuatan Polri? Sama sekali tidak. Seperti yang disampaikan di atas, bahwa memang sudah seharusnya dalam melakukan promosi, sosialisasi, atau advokasi di zaman now ini salah satu caranya adalah dengan menggunakan media film. Tentu pertanyaan yang tersisa adalah apakah memang film ini bertujuan untuk bercerita tentang Polri atau hanya kebetulan saja? Perlu ditanya langsung ke filmmaker-nya.

Temukan Potensi Seperti Kroasia

ivan-perisic-france-croatia-world-cup-final-15072018jpg_vklkbeeit9aa1lu0afbg2stdb
goal.com

Viva Hrvatska!

Kroasia berpenduduk total 4.154.200 juta jiwa menurut Wikipedia. Mengapa Kroasia bisa masuk final Piala Dunia tapi Indonesia yang berpenduduk sekitar 60 kali lipatnya tidak bisa lolos, bahkan dari grup Asia Tenggara?

Jelas persoalannya bukan pada jumlah penduduk, tapi potensi penduduk di masing-masing negara. Mungkin Kroasia dengan jumlah penduduk yang kecil tapi mereka memiliki masyarakat dengan bakat, mengutip Howard Gardner, intelijensia kinestetik yang tinggi. Lebih spesifik lagi, intelijensia kinestetik dalam bermain sepak bola. Sementara Indonesia tidak. Jangan pesimis dulu, mungkin intelijensia masyarakat Indonesia ada di bidang lain. Silakan dicek teori multiple intelligence-nya Howard Gardner, ada apa saja intelijensia dalam diri manusia dan tiap manusia masing-masing memiliki intelijensia yang dominan.

Kemampuan masing-masing manusia berbeda, dan bisa jadi kemampuan suatu bangsa, yang merupakan kumpulan manusia, pun berbeda. Cina, negara yang sekarang menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia dan juga prestasi atlet di banyak cabang olahraga begitu membuat iri, baru sekali main di Piala Dunia, tahun 2002 di Jepang-Korsel. Itu pun tidak pernah menang di grup. Setelah itu belum pernah lagi masuk Piala Dunia. Padahal mereka sudah mencoba membangun liganya dengan uang yang tidak sedikit. Mungkin satu saat nanti mereka bisa masuk Piala Dunia lagi, tapi masuk final seperti Kroasia? Saya kok gak yakin. Di nomor olahraga lain, mereka boleh berjaya, tapi di sepak bola sepertinya tidak. Bagaimana dengan Indonesia? Mari dicari potensi bangsa ini.

Sila Yatim Piatu

pancasila

1 Juni. Hari lahir Pancasila. Semua ingat. Tentunya ingat juga sila-sila dalam Pancasila.

Dari kelima sila Pancasila, sila kelima adalah tujuan. Meraih keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah cita-cita bangsa ini. Sayangnya, keadilan masih jauh dari harapan.

Sila kelima, menurut Buya Syafii Maarif adalah sila yatim piatu. Ya, seorang yatim piatu artinya tidak ada orang tuanya. Tidak ada sosok untuk menjaga, menemani, dan melindunginya. Ia hidup sendiri. Syukur kalau ada yang mau mengasuhnya sementara, tapi kalau tidak ada artinya dia harus hidup sendirian. Rawan untuk disakiti, diserang dan dimanipulasi. Terbukti saat ini si yatim piatu sering kali dicederai oleh mereka yang bahkan mengaku Pancasilais. Memang dalam kenyataannya keadilan masih jauh dari keinginan Pancasila.

Sekarang di era pascakebenaran, orang yang berpikir, atau paling tidak mencoba berpikir adil, sering kali dituduh macam-macam. Bisa dituduh radikal, dituduh pro itu atau anti anu. Bahkan dituduh tidak dalam golongan #SayaPancasila. Ironis.

Memang sulit menjadi sila yatim piatu tanpa orang tua sebagai pelindung. Siapa kira-kira yang ingin menjadi ‘orang tua’ si yatim piatu ini?

Selamat hari lahir Pancasila.

Don’t Judge

True-friends-dont-judge-each-other

Mahasiswa ini badannya tinggi besar, gerak geriknya seperti orang grogi, cara bicaranya canggung, suaranya pun lucu, agak melengking.

Tiba gilirannya untuk presentasi.

Meski dengan gaya bicara dan suaranya yang lucu, ia dapat menjelaskan dengan jelas. Jauh lebih jelas dibanding dengan siswa lain yang tampaknya percaya diri dan ‘normal’.

Ia terdengar fasih dalam bahasa Inggris. Terutama pada saat ia menjelaskan kutipan-kutipan yang diambilnya dari majalah Forbes versi bahasa Inggris.

Pesan Ramadan: Jaga mata dan hati. Don’t judge.

Ingat Sejarah: Iklan Adalah Media

Pada zaman VOC dulu, iklan adalah media itu sendiri. Saat itu terdapat suatu lembaran seperti surat kabar, namun kontennya bukan berita, melainkan pengumuman dan iklan. Misalnya, iklan tentang toko roti yang baru buka, pengumuman kapan kapal dari Belanda akan merapat, dan lainnya. Baru beberapa puluh tahun kemudian, media surat kabar lahir. Media dengan konten-konten berita. Iklan masih ada di media surat kabar tersebut dan menjadi salah satu  sumber revenue dari media cetak, selain subscription, tapi bukan lagi menjadi konten utama.

batavie

Kira-kira seratus tahun lebih kemudian, industri iklan perlahan tapi pasti mulai padam. Biro iklan lokal banyak yang tutup. Kalau tidak tutup, sudah sangat miskin  klien atau proyek. Tentu biro iklan multinasional masih berjaya, meskipun ada beberapa catatan tentang penurunan revenue di beberapa konglomerasi grup perusahaan komunikasi pemasaran. Lalu, apakah iklan sudah mati?

Tentu tidak. Selama masih ada pihak yang berdagang menjual produk, jasa, personal, bahkan ideologi, iklan tak akan mati. Iklan akan digunakan untuk memromosikan hal-hal itu semua dengan berbagai cara yang sangat mungkin tidak lagi menggunakan cara tradisional. Meski secara bisnis, iklan sedang tiarap, terutama pelaku bisnis lokalnya.

Lalu, bagaimana membangunkannya lagi? Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sekilas sejarah di paragraf pertama, saya tulis bukan tanpa maksud. Bagaimana kalau kita kembali seperti yang dicatat sejarah.

Iklan. Adalah. Media.

Konsep ini sangat tidak baru. Bahkan sekarang sudah banyak brand yang memanfaatkan strategi ini. Strategi yang sering disebut content marketing atau ada juga yang menyebut brand journalism. Brand menggunakan content marketing karena hari gini siapa yang mau nonton atau baca iklan? Sehingga brand membuat konten-konten yang diinginkan oleh target market-nya untuk ‘memancing’ konsumen keluar dari tempat persembunyiannya yang anti-iklan. Konten-konten berbayar tersebut tentunya bisa di-branding, bisa juga tidak terlalu heavy dalam branding.

Contohnya Red Bull. Silakan datang ke website Red Bull di sini. Ekspektasi kita pada saat membuka situs tersebut kemungkinan besar adalah melihat berbagai jenis produk minuman energi. Atau juga membaca keterangan tentang produk-produknya. Ternyata di luar ekspektasi.

Red Bull membuat konten-konten yang menarik bagi marketnya. Anak muda penggila olah raga, terutama extreme sports. Mereka tidak ‘jualan’ produk di webnya. Mereka memamerkan konten seperti layaknya sebuah media olah raga ekstrem. Ya, brand berakting seperti media. Ada berita, artikel, baik dalam bentuk tulisan maupun video.

Biro iklan dapat mengambil peran dalam perancangan konten dari brand. Dari perencanaan, riset, kreatif, hingga produksi. Job desc yang tidak terlalu baru tapi memang berbeda dengan perancangan iklan. Peluang ini yang rasanya dapat dimanfaatkan oleh industri iklan lokal untuk kembali bernafas.

Sekali lagi mengingatkan, iklan adalah media. Sejarah sudah pernah mencatatnya.