Nggak Cuma Menang-Menangan!

Pas masih SD, saya cukup sering main bola di sekitar kompleks. Di sana ada lapangan rumput (bukan lapangan bola) yang cukup untuk bisa main bola. Karena bukan lapangan bola, jadi ya nggak ada gawangnya dan garis-garis batas lapangan. Kami harus tentukan sendiri batas mana lapangan yang akan dipakai. Luasnya gawang, kami batasi dengan sandal-sandal. Tanpa tiang dan mistar. Batas-batas yang kami tentukan itu sesuai kesepakatan. Kira-kira saja, seberapa panjang dan lebarnya.

Setelah selesai ngedesain lapangan, baru lah kita bermain bola. Bolanya pun biasanya bola plastik. Bola yang biasanya sudah nggak bulat sempurna setelah kami selesai main. Main bola masa itu fun banget! Ketawa-tawa, teriak-teriak bahagia. Nggak ada curang-curangan, sengaja nendang kaki lawan dan sebagainya. Kejujuran pun dijunjung tinggi. Padahal batas lapangan nggak jelas mana garisnya. Kalau bola menuju gawang agak tinggi, karena nggak ada tiang dan mistar, kita nggak tahu kira-kira gol atau tidak. Yang ada adalah kejujuran dan keikhlasan kita saja, apakah itu gol atau tidak karena bola melayang ketinggian. Kalo bola mengenai sandal, artinya bola itu sama saja dengan kena tiang gawang.

idgen

Itu yang saya rasakan pas nonton tim ID Gen Uni Papua tanding lawan PS TNI beberapa waktu lalu. Memang ini hanya pertandingan persahabatan, tapi para pemain sangat nunjukkin sportivitas yang tinggi. Tim ID Gen Uni Papua memang dibentuk untuk menjunjung tinggi sportivitas. Prinsip yang diajarkan di sana, tanding bola bukan cuma menang kalah tapi lebih dari itu. Ada respek dan menghargai lawan. Bukan sekadar menang-menangan, jago-jagoan atau hebat-hebatan. Mirip dengan suasana main bola pas kita masih kecil. Fun dan respek nggak cuma ke tim sendiri tapi juga tim lawan. Keren ya seandainya karakter-karakter pemain di Indonesia seperti hasil didikan tim Uni Papua FC.

Coba deh simak testimoni dari anggota tim ID Gen Uni Papua FC: https://youtu.be/Gp20-i-lQDc

Advertisements

Para Ahli Gambar

Setiap orang dilahirkan dengan bakat. Saya percaya itu. Saya juga percaya bahwa gak semua bakat bisa dimiliki oleh satu orang.

Saya misalnya. Saya gak cukup berbakat dalam menggambar. Berbakat di sini maksudnya adalah bikin gambar dari nol sampai jadi suatu karya yang secara estetis dapat dinikmati. Kalau cuma gambar untuk sekadar menjelaskan sesuatu, masih bisa. Misalnya, gambar gelas, kursi atau barang-barang yang standar.

Dari sejak sekolah dulu, saya memang gak terlalu tertarik dengan pelajaran kesenian, khususnya menggambar. Sekadar mengikuti kelas tanpa bikin saya tertarik. Saya lebih tertarik baca komik silat Kho Ping Hoo pada saat pelajaran tersebut. Makanya saya suka kagum sama orang yang bisa gambar dengan keren.

Di IMPRO, ada dua orang yang jago gambar. Namanya mas Bondan dan mas Adam. Mereka ini tandeman. Berduaan melulu. Ruangannya aja sama. Untung istrinya beda.

sample
Beberapa karya mas Bondan dan Adam. Keren ya!

Senang kalau melihat mereka menggambar. Kayaknya gampang. Gak ada susah-susahnya! Effortless.  Meskipun mereka memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, tapi hasil gambarnya sama kerennya. Passion mereka jelas di situ. Bukan sekadar bakat dan hobi.

Setiap IMPRO bikin acara offline dan mereka berdua tunjuk kebolehan, pasti stand kami jadi salah satu yang paling ramai. Penonton pasti kagum sama mereka bisa menggambar seperti itu. Saya yang hampir setiap hari ketemu aja terus kagum, apalagi yang baru pertama kali lihat karya mereka.

Mereka juga beberapa kali mengadakan workshop. Tunggu saja, siapa tau nanti akan ada lagi workshop dan biasanya GRATIS!

 

Ngide? Gampang!

ide

Ide. Kita sering dengar kata itu, ya gak? Dalam proses bikin content, kita jelas perlu ide, ide perlu dicari.

James Webb Young bilang bahwa an idea is nothing more nor less than a new combination of old elements. Sebuah ide adalah kombinasi dari elemen-elemen atau ide lama. Definisi ini cukup menjelaskan. Jadi, ide terbentuk dari kumpulan ide-ide lama yang dikombinasikan sehingga menjadi suatu ide baru. Ide lama bisa muncul dari mana saja, biasanya dari apa yang kita alami, kita lihat, dengar, dan rasakan.

Lalu, gimana caranya supaya kita bisa mudah menemukan ide-ide tersebut. Foster (2007) menyebutkan sepuluh kondisi agar ide dapat mudah ditemukan, yaitu:

  1. Have Fun (Bergembiralah)
    Nikmati proses pencarian tersebut tanpa beban. Nikmatilah hidup.
  2. Be More Like a Child (Jadilah Seperti Seorang Anak Kecil)
    Kita ingat bagaimana waktu kita masih anak-anak? Atau coba perhatikan anak-anak di sekitar kita. Mereka lepas bermain, hidup di saat itu tanpa berpikir terlalu jauh.
  3. Become Idea-Prone (Menjadi Sumber Ide yang Mudah Didapat)
    Semakin sering kita beride, semakin mudah ide-ide lain muncul. Artinya, jangan berhenti mencari ide. Teruslah mencari.
  4. Visualize Success (Arahkan Pikiran pada Tujuan)
    Bayangkan nikmatnya kalau ide itu didapat dan berhasil dieksekusi. Kita ngetop, digila-gilai, banyak yang ngefans. Tapi hati-hati disangka gila kalau ngebayang-bayang sampai senyum-senyum sendiri. 🙂
  5. Rejoice in Failure (Bersukacitalah dalam Kegagalan)
    Tidak ada ide yang salah. Kalau ide tersebut ternyata kurang pas, cari lagi. Santai.
  6. Get More Inputs (Dapatkan Masukan Sebanyak Mungkin)
    Sumber ide ada di mana saja. Di sekitar kita. Baca buku, tonton film, ngobrol, browsing. Buka pikiran seluas-luasnya.
  7. Screw Up Your Courage (Beranikan Diri)
    Beranikan diri meraih ide tanpa harus takut salah. Karena tidak ada ide yang salah.
  8. Team Up with Energy (Jadikan Teman sebagai Energi)
    Ajak teman atau berpartner lah. Semakin banyak kepala yang berpikir, semakin tajam idenya.
  9. Rethink Your Thinking (Pikir Ulang Cara Berpikir)
    Ubah cara berpikir. Tidak perlu ikut aturan atau logika. Berpikir secara visual. Gambarkan ide dalam sebuah visual.
  10. Learn How to Combine (Belajarlah Bagaimana Cara Mengombinasikan)
    Kombinasikan dengan menggunakan analogi. Gunakan pula skenario dengan “Seandainya begitu…”

Silakan dipraktikan. Semoga ide-ide cemerlang dan out of the box lancar ya. Berikut contoh dari seseorang yang berani berpikir out of the box. Klik di sini.

BUMDES di Desa Cibadak

desa

Dua minggu yang lalu, setelah capek kerja (azek!) selama lima hari, saya pergi refreshing. Rencana ini sebenernya salah satu resolusi tahun baru yaitu untuk lebih banyak liburan sekalian olah raga. Saya pilih hiking atau trekking. Nggak mimpi untuk mendaki gunung Everest tapi cukup trekking di medan yang ‘gampang’. Gampang dan juga dekat dengan Jakarta.

Untuk rute pertama tahun ini, saya pilih berkunjung ke tempat yang paling dekat dengan Jakarta, yaitu Curug Hejo di sekitar Sentul, Bogor. Perjalanan ke sana bisa ditempuh dari dua rute (menurut google Maps). Yang pertama, Citeureup. Yang kedua, dari Sentul. Saya pilih lewat Citeureup karena lebih cepat (lagi-lagi menurut google Maps).

Pas mau masuk lokasi, saya melewati sebuah pos tiket dan bayar tanda masuk sebesar Rp25ribu/orang dan Rp15ribu/mobil. Yang menarik, petugas penjaga tiket adalah anggota dari BUMDES. Terlihat dari seragam biru yang dipakai dengan label “BUMDES” di dadanya. Iya, mereka berseragam. Keren.

img_20180121_091727.jpg

BUMDES adalah salah satu perangkat yang dimiliki oleh desa. Desa, sejak disahkannya Undang Undang Desa, memiliki hak untuk membesarkan daerahnya, secara sosial, budaya, termasuk secara ekonomi. Salah satu caranya adalah dengan membentuk BUMDES. BUMDES adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung. Artinya, berasal dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar- besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.

Curug Hejo ini ada di kawasan Desa Cibadak. Artinya, BUMDES Desa Cibadak yang mengelola kawasan pariwisata ini. Hasil yang didapat dari kawasan curug nantinya digunakan untuk pembangunan desa Cibadak sendiri. Dengan demikian desanya makin dapat mandiri. Karena pembangunan Indonesia sudah seharusnya dibangun dari pinggiran.

Mau tau lebih jauh tentang transformasi desa? Klik link berikut.

Pahami Generasi Phi

“Everybody else is doing it, so why can’t we?” –  The Cranberries (RIP Dolores)

Di dalam buku ini, salah satu yang penting dan menarik adalah fakta bahwa generasi phi (milenial) cenderung menganggap kesalehan adalah sebuah fenomena anti mainstream. Mengapa? Karena bagi mereka, kenakalan, vandalisme, dan apa pun bentuk tindak negatif dari anak muda adalah aktivitas arusutama atau mainstream.

Sementara, generasi phi ini menyukai sesuatu yang di luar mainstream. Jadi, kesalehan atau mendekat ke ibadah adalah sesuatu yang anti mainstream. Sehingga banyak generasi phi ini yang dekat dengan agama. Rajin ibadah dan juga menunjukkan kesalehan itu dalam kehidupan sosialnya. Sengaja atau tidak sengaja. Generasi sebelumnya mau setuju atau tidak, tidak penting. Mau nyinyir ya silakan. Karena demikian fakta atau temuannya.

Ini temuan yang menarik. Dan, saya kira karya ini salah satu yang penting untuk paling tidak mulai memahami tentang teori generasi  khas Indonesia. Tidak terkontaminasi dari teori para orientalis.

Keajaiban Itu Dekat

Menghadapi ketidaksempurnaan biasanya manusia menjalankan dua hal. Pertama, kita akan berusaha sekuat mungkin, sebisa mungkin, untuk menutupi ketidaksempurnaan itu. Kedua, ketidaksempurnaan itu membuat kita merasa butuh dikasihani, merendahkan diri sendiri. 

Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jika kita bertindak seperti yang pertama, kita sering lupa bahwa, memang kita terlahir tidak sempurna. Kita bisa bertindak terlalu kelewat batas untuk membuktikan kita sempurna sehingga malah membuat kekacauan dan ketidaknyamanan. Padahal tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jika kita bertindak seperti yang kedua, rasa rendah diri berlebihan malah akan menjauhkan diri dari semangat memperbaiki diri. Bukannya bangkit, malah bisa makin terpuruk.

Apapun keadaan dan cara kita menghadapi ketidaksempurnaan itu, di situ selalu ada teman dan keluarga yang menemani. Mereka adalah penyempurna dari ketidaksempurnaan kita. Mereka seringkali adalah sebuah keajaiban yang sempurna. Keajaiban untuk menjadi manusia nyaris sempurna itu jangan-jangan ada dekat kita. Coba kita lihat lagi sekitar kita dengan lebih sensitif dan seksama.

Melompat Jauh. Segera.

IMG_20171207_140508

Kreatif itu bukan sekadar departemen dalam sebuah biro iklan, bukan juga sebutan bagi orang yang bekerja dalam departemen Kreatif. Kreatif lebih dari itu. Lebih dari sebutan, departemen, value dari biro iklan, biro iklannya sendiri, bahkan lebih dari industri periklanan.

Saat datang ke seminar Citra Pariwara 2017, akhirnya, mungkin setelah sekian lama, industri periklanan sadar akan apa yang saya maksud dengan kreativitas di atas. Di acara tersebut, tidak lagi menampilkan pembicara-pembicara dari industri periklanan, baik dalam atau luar negeri. Dulu, di acara sejenisnya seperti ini, seakan kreativitas hanya dimiliki oleh orang iklan, semacam katak masturbasi dalam tempurung.

Andrew Essex dalam bukunya The End of Advertising: Why It Had to Die, and the Creative Resurrection to Come, menjelaskan bahwa paradigma berpikir tentang kreativitas dalam periklanan sudah harus berubah. Lanskap pemasaran dan konsumsi media yang sudah berubah memaksa industri untuk berubah dalam berpikir kreatif dilihat dari perspektif komunikasi pemasaran, khususnya iklan.

Memang industri iklan dipercaya belum akan mati, tapi memang harus berubah, terutama dari cara melihat audience mengonsumsi media, bagaimana pergeseran behaviour, termasuk value. Value tidak hanya ekonomi, tapi sosial dan bahkan spiritual.

Industri ini harus beradaptasi menyiasati yang tak terkira di depan, lebih dari sekadar evolusi. Lompatan evolusi memakan waktu yang lama, bahkan sangat lama. Dibutuhkan lompatan yang cepat. Berubah. Segera. Adapt or die.