Melompat Jauh. Segera.

IMG_20171207_140508

Kreatif itu bukan sekadar departemen dalam sebuah biro iklan, bukan juga sebutan bagi orang yang bekerja dalam departemen Kreatif. Kreatif lebih dari itu. Lebih dari sebutan, departemen, value dari biro iklan, biro iklannya sendiri, bahkan lebih dari industri periklanan.

Saat datang ke seminar Citra Pariwara 2017, akhirnya, mungkin setelah sekian lama, industri periklanan sadar akan apa yang saya maksud dengan kreativitas di atas. Di acara tersebut, tidak lagi menampilkan pembicara-pembicara dari industri periklanan, baik dalam atau luar negeri. Dulu, di acara sejenisnya seperti ini, seakan kreativitas hanya dimiliki oleh orang iklan, semacam katak masturbasi dalam tempurung.

Andrew Essex dalam bukunya The End of Advertising: Why It Had to Die, and the Creative Resurrection to Come, menjelaskan bahwa paradigma berpikir tentang kreativitas dalam periklanan sudah harus berubah. Lanskap pemasaran dan konsumsi media yang sudah berubah memaksa industri untuk berubah dalam berpikir kreatif dilihat dari perspektif komunikasi pemasaran, khususnya iklan.

Memang industri iklan dipercaya belum akan mati, tapi memang harus berubah, terutama dari cara melihat audience mengonsumsi media, bagaimana pergeseran behaviour, termasuk value. Value tidak hanya ekonomi, tapi sosial dan bahkan spiritual.

Industri ini harus beradaptasi menyiasati yang tak terkira di depan, lebih dari sekadar evolusi. Lompatan evolusi memakan waktu yang lama, bahkan sangat lama. Dibutuhkan lompatan yang cepat. Berubah. Segera. Adapt or die.

Advertisements

Telemarketing, efektif?

ccAliens

Begitu sering ditelepon oleh lembaga keuangan menawarkan berbagai macam produk, sehingga muncul pertanyaan: memangnya seberapa efektif telemarketing sebagai taktik suatu pemasaran? Akan sangat membantu jika ada yang sudah melakukan riset tentang pertanyaan ini. Sehingga secara akademis bisa dipertanggungjawabkan.

Asumsi sementara saya adalah telemarketing (masih) efektif sebagai sebuah taktik dalam pemasaran produk keuangan. Buktinya adalah sedemikian sering para telemarketer menghubungi. Sering kali telemarketer itu berasal dari lembaga yang sama dan tentunya juga sudah saya tolak berkali-kali.

Jika memang terbukti efektif, maka tidak bisa disalahkan jika para lembaga keuangan itu masih menggunakan cara telemarketing yang sama berulang kali. Penolakan adalah risiko, tapi gain yang didapat pasti lebih besar dari risikonya. Begitu harusnya secara logika.

Jika telemarketing ternyata tidak efektif, pertanyaannya, kenapa cara demikian masih dilakukan? Bukannya ini malah dapat mengakibatkan risiko, misalnya trust menurun terhadap brand lembaga keuangan tersebut?

 

Copywriter, binatang apa itu?

writing_quotes__mark_twain-1

Copywriter terlibat dalam pembuatan berbagai bentuk iklan dan materi promosi. Berbagai macam materi promosi, bukan yang hanya sering kita lihat di media. Bahkan banyak iklan atau materi promosi yang tidak pernah kita lihat. Kita cenderung hanya memikirkan kampanye paling terkenal untuk brand-brand mapan: iklan yang kita lihat disiarkan di saluran televisi utama, disisipkan ke papan reklame besar atau tayang via YouTube.

Copywriter tidak bekerja sendirian dalam membuat iklan. Dalam sistem kerja traditional advertising agency, copywriter dipasangkan dengan seorang art director. Jika copywriter bertugas untuk menyampaikan pesan sebuah iklan atau materi promosi melalui kata-kata, art director yang akan mengolah visualnya.

Cara kerja mereka sangatlah dinamis dan luwes. Artinya, tidak selamanya copywriter hanya bertugas mencari kata-kata. Ia juga dapat membantu memikirkan visual. Begitu juga dengan seorang art director dapat membantu membuat headline. Pada praktiknya, banyak copywriter yang sangat visual driven dan banyak juga art director yang pintar bermain kata-kata.

Ada banyak sekali materi iklan atau promosi yang membutuhkan masukan kreatif dari copywriter. Bukan hanya di biro iklan saja kita dapat menemukan copywriter. Keterampilan copywriter juga terlibat dalam banyak tempat lain. Tugas mereka tetep membuat dan membuat teks untuk berbagai macam materi promosi dan pemasaran. Misalnya saja, biro PR, konsultan pemasaran, graphic house, digital marketing agency dan lain-lain. Bahkan, brand owner sendiri juga sering menggunakan jasa copywriter untuk membuat materi-materi promosi dalam berbagai media.

Iklan membawa banyak pesan ke sejumlah khalayak sasaran yang berbeda. Kita juga  sepakat bahwa iklan adalah suatu bentuk komunikasi. Iklan mengikuti alur komunikasi dan juga berkomunikasi secara semiotika. Ada pesan yang ingin disampaikan dalam iklan. Ini adalah bagian penting dari pekerjaan copywriter profesional untuk memastikan pesan tersebut berhasil disampaikan.

Menyampaikan pesan melalui kata-kata dan visual. Itu lah tugas utama tim kreatif dalam marcomm atau lebih spesifik, periklanan. Copywriter dan art director harus bekerjasama mencari cara kreatif dalam penyampaian pesan tersebut. Kata-kata dan visual bukan saling bersaing tapi harus saling melengkapi, sehingga pesan dari iklan atau materi promosi tersebut dapat tersampaikan dengan sejelas-jelasnya.

Copywriter iklan bertugas untuk menyampaikan pesan dan meyakinkan orang melakukan tindakan tertentu, apakah itu ajakan mencoba pisau cukur baru, untuk menyadari bahaya narkoba atau untuk menyumbangkan uang ke badan amal. Di situlah tantangan seorang copywriter. Pekerjaannya yang begitu dinamis karena mengerjakan berbagai macam jenis brand, produk, atau jasa. Lalu, ia juga bekerja untuk menyampaikan pesan ke berbagai khalayak sasaran, dengan berbagai macam media yang berbeda pula. Ditambah lagi, ia dituntut untuk hadir dengan ide-ide yang kreatif dan orisinil.

Dengan begitu dinamisnya pekerjaan seorang copywriter, maka mau tidak mau ia harus selalu siap untuk menuangkan ide-idenya, terutama melalu tulisan atau kata-kata. Tidak jarang seorang copywriter sedang merasa tidak mood pada saat pekerjaan datang dan deadline semakin dekat. Seorang copywriter bukanlah seorang seniman kata seperti misalnya penulis novel, penulis puisi atau penulis lagu. Ia bekerja dengan deadline yang ketat. Ia dituntut untuk segera menulis meski merasa tidak mood atau mentok dalam penulisan.

Salah satu cara dalam menghadapi hal seperti tidak mood atau mentok ini adalah paksakan menulis. Menulis apa saja. Tidak perlu dipikirkan apakah tulisan itu baik atau buruk. Yang penting adalah menulis dan menulis. Setelah mood kita mengalir kembali atau sudah mendapat ilham, baru kita lihat kembali tulisan tersebut. Bagian mana yang perlu diedit.

Selain menulis untuk memersuasi khalayak sasaran dengan menonjolkan benefit atau USP dari suatu produk atau jasa, copy dalam iklan biasanya diharapkan untuk menciptakan respons yang lebih kompleks di antara penonton kita. Respons tersebut dapat muncul lewat suatu tulisan menyentuh emosi khalayak sasaran.
Emosi khalayak sasaran adalah kekuatan dalam memainkan peran bagaimana mereka berperilaku sebagai konsumen produk dan layanan. Copy dalam iklan sangat membantu untuk melahirkan sebuah emosi yang diharapkan, apakah emosi gembira, sedih, marah, dan lainnya. Kata-kata dalam iklan dapat membuat sebuah iklan seakan berbicara langsung kepada sasaran. Apalagi jika si copywriter sangat paham akan insight dari konsumen yang dituju.

Hakimnya Papa

Al Hakim bisa diartikan Yang Maha Tepat. Maksudnya, tepat dalam melihat sesuatu, tepat berposisi, tepat memutuskan sesuatu. Tepat. Nggak mungkin meleset. 

Ya tapi itu sifat Allah. Manusia nggak akan mungkin bisa mendekati ke-maha tepat-an itu. Paling mungkin adalah manusia berusaha, ijtihad semampunya untuk ke arah itu. Atau paling jauh, kita manusia, hanya bisanya meminjam kata ‘hakim’ untuk melabeli suatu profesi.

Label. Sekadarnya.

Label jelas bukan sifat. Manusia ya bukan Allah. Jadi, jangan berharap lebih.

#12Album: Achtung Baby – U2

achtungbaby_albumphoto1_640
Pic: U2.com

Baru konsen dan fokus dengerin sebuah band bernama U2 dimulai di album ini. Sebelum album ini, paling cuma denger lagu-lagu hits mereka seperti With Or Without You yang diakhir 80-an menjadi lagu fenomenal. Di tengah kepungan hair metal band,  U2 tampil gila dengan musik yang beda, baik aransemen dan produksinya, di album Joshua Tree.

Sempat tertarik untuk tahu lebih dalam tentang U2 di era album Joshua Tree dan Rattle And Hum, tapi ternyata belum cukup niat untuk ngulik. Baru pas album Achtung Baby,  berhasil tergerak. Asumsi gue, karena itu adalah pas SMA di sekolah yang benar-benar mendukung kemerdekaan berkespresi dan toleransi, termasuk dalam hal selera musik. Gak ada selera dominan di dalam komunitas sekolah tersebut. Rock mungkin bisa dibilang dominan, tapi semua cabang dan ranting dari musik rock bisa diterima. Ditambah, kami berada di usia yang sedang mencari, mengeksplorasi, dan bereksperimen tentang banyak hal termasuk selera musik.

Ada teman berkomentar pas gue denger album ini, kok selera musik gue berubah jadi aneh? Komentar itu memicu gue untuk terus mencari musik ‘aneh’ dan belajar mengapresiasi musik dan keanehan apa pun.

(Achtung Baby dan U2 dibilang aneh? Aneh!) :))

Elang di Bataclan

Melihat langsung di depan mata bagaimana orang ngebunuh orang dengan amunisi, granat dan bom. Traumatis. 

Peristiwa yang menyayat moral bagi yang melihat langsung. Apalagi kalau korbannya adalah teman sendiri atau yang sudah dianggap teman. Saya pribadi nggak berani membiarkan bayangan kejadian  itu melintas di kepala. Insiden terjadi di depan mata sendiri. 

Dibutuhkan keberanian dan tekad kuat untuk keluar dari trauma itu. Nggak cuma itu, kehadiran teman juga penting. Malah sangat penting. 

Beruntung bagi kita yang selalu punya teman..

http://imdb.com/rg/an_share/title/title/tt6212934/

Coutinho dan Angsa Hitam

Rumor FC Barcelona akan segera menggaet Philippe Coutinho dari Liverpool FC terus muncul di bulan Agustus 2017. Rumor ini sudah muncul sekitar dua musim lalu, 2015/16. Jadi bukan hal baru sebenarnya. Sejauh ini LFC tidak menjualnya di harga berapa pun. Meski kabarnya agen Cou sudah sepakat dengan tawaran dari Barca. Coutinho sendiri sampai tulisan ini diposting, kabarnya masih setia dengan LFC.

Pertanyaannya adalah, jika Coutinho jadi pergi ke Barca, apakah kasus ini adalah ‘angsa hitam’ bagi LFC sebagai klub? Angsa hitam atau black swan adalah istilah yang sering digunakan di kajian manajemen, future studies dan juga kajian intelijen. Ia menggambarkan situasi yang awalnya hampir tidak terlihat tapi pada saat ia tiba-tiba muncul akan membuat akibat atau impact yang masif. Contohnya, tsunami Aceh dan teknologi musik digital.

Tsunami Aceh jelas impactnya baik materi maupun sosial, bahkan spiritual. Begitu pula dengan musik digital. Musik yang diproduksi secara digital dan dikonsumsi secara digital, impactnya membuat tatanan bisnis musik berubah dari hulu hingga hilir.

Bagaimana mencegah itu terjadi? Singkatnya, para pemangku kepentingan perlu selalu awas dan waspada melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat merugikan ini. Bahkan kemungkinan yang pada masa ini dirasa tidak tampak.

Kembali ke pertanyaannya di atas. Coutinho bukan black swan. Kalau pun pergi ke FCB, impactnya tidak sedahsyat contoh di atas. Tidak membuat LFC misalnya pasti terdegradasi ke Championship, liga dua Inggris. Tidak juga membuat LFC pasti bangkrut dan gulung tikar. Bahkan, tidak membuat LFC pasti kehilangan peluang menjuarai satu atau lebih kompetisi yang diikuti di musim 2017/18. No one is bigger than the club.

Yang lebih jadi pertanyaan besar adalah apa yang sudah dilakukan oleh John Henry dan FSG sebagai pemilik LFC beserta manajemennya? Mengingat kasus Cou ke Barca bukan black swan karena rumor ini sudah tercium dari dua musim lalu.