Hakimnya Papa

Al Hakim bisa diartikan Yang Maha Tepat. Maksudnya, tepat dalam melihat sesuatu, tepat berposisi, tepat memutuskan sesuatu. Tepat. Nggak mungkin meleset. 

Ya tapi itu sifat Allah. Manusia nggak akan mungkin bisa mendekati ke-maha tepat-an itu. Paling mungkin adalah manusia berusaha, ijtihad semampunya untuk ke arah itu. Atau paling jauh, kita manusia, hanya bisanya meminjam kata ‘hakim’ untuk melabeli suatu profesi.

Label. Sekadarnya.

Label jelas bukan sifat. Manusia ya bukan Allah. Jadi, jangan berharap lebih.

Advertisements

#12Album: Achtung Baby – U2

achtungbaby_albumphoto1_640
Pic: U2.com

Baru konsen dan fokus dengerin sebuah band bernama U2 dimulai di album ini. Sebelum album ini, paling cuma denger lagu-lagu hits mereka seperti With Or Without You yang diakhir 80-an menjadi lagu fenomenal. Di tengah kepungan hair metal band,  U2 tampil gila dengan musik yang beda, baik aransemen dan produksinya, di album Joshua Tree.

Sempat tertarik untuk tahu lebih dalam tentang U2 di era album Joshua Tree dan Rattle And Hum, tapi ternyata belum cukup niat untuk ngulik. Baru pas album Achtung Baby,  berhasil tergerak. Asumsi gue, karena itu adalah pas SMA di sekolah yang benar-benar mendukung kemerdekaan berkespresi dan toleransi, termasuk dalam hal selera musik. Gak ada selera dominan di dalam komunitas sekolah tersebut. Rock mungkin bisa dibilang dominan, tapi semua cabang dan ranting dari musik rock bisa diterima. Ditambah, kami berada di usia yang sedang mencari, mengeksplorasi, dan bereksperimen tentang banyak hal termasuk selera musik.

Ada teman berkomentar pas gue denger album ini, kok selera musik gue berubah jadi aneh? Komentar itu memicu gue untuk terus mencari musik ‘aneh’ dan belajar mengapresiasi musik dan keanehan apa pun.

(Achtung Baby dan U2 dibilang aneh? Aneh!) :))

Elang di Bataclan

Melihat langsung di depan mata bagaimana orang ngebunuh orang dengan amunisi, granat dan bom. Traumatis. 

Peristiwa yang menyayat moral bagi yang melihat langsung. Apalagi kalau korbannya adalah teman sendiri atau yang sudah dianggap teman. Saya pribadi nggak berani membiarkan bayangan kejadian  itu melintas di kepala. Insiden terjadi di depan mata sendiri. 

Dibutuhkan keberanian dan tekad kuat untuk keluar dari trauma itu. Nggak cuma itu, kehadiran teman juga penting. Malah sangat penting. 

Beruntung bagi kita yang selalu punya teman..

http://imdb.com/rg/an_share/title/title/tt6212934/

Coutinho dan Angsa Hitam

Rumor FC Barcelona akan segera menggaet Philippe Coutinho dari Liverpool FC terus muncul di bulan Agustus 2017. Rumor ini sudah muncul sekitar dua musim lalu, 2015/16. Jadi bukan hal baru sebenarnya. Sejauh ini LFC tidak menjualnya di harga berapa pun. Meski kabarnya agen Cou sudah sepakat dengan tawaran dari Barca. Coutinho sendiri sampai tulisan ini diposting, kabarnya masih setia dengan LFC.

Pertanyaannya adalah, jika Coutinho jadi pergi ke Barca, apakah kasus ini adalah ‘angsa hitam’ bagi LFC sebagai klub? Angsa hitam atau black swan adalah istilah yang sering digunakan di kajian manajemen, future studies dan juga kajian intelijen. Ia menggambarkan situasi yang awalnya hampir tidak terlihat tapi pada saat ia tiba-tiba muncul akan membuat akibat atau impact yang masif. Contohnya, tsunami Aceh dan teknologi musik digital.

Tsunami Aceh jelas impactnya baik materi maupun sosial, bahkan spiritual. Begitu pula dengan musik digital. Musik yang diproduksi secara digital dan dikonsumsi secara digital, impactnya membuat tatanan bisnis musik berubah dari hulu hingga hilir.

Bagaimana mencegah itu terjadi? Singkatnya, para pemangku kepentingan perlu selalu awas dan waspada melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat merugikan ini. Bahkan kemungkinan yang pada masa ini dirasa tidak tampak.

Kembali ke pertanyaannya di atas. Coutinho bukan black swan. Kalau pun pergi ke FCB, impactnya tidak sedahsyat contoh di atas. Tidak membuat LFC misalnya pasti terdegradasi ke Championship, liga dua Inggris. Tidak juga membuat LFC pasti bangkrut dan gulung tikar. Bahkan, tidak membuat LFC pasti kehilangan peluang menjuarai satu atau lebih kompetisi yang diikuti di musim 2017/18. No one is bigger than the club.

Yang lebih jadi pertanyaan besar adalah apa yang sudah dilakukan oleh John Henry dan FSG sebagai pemilik LFC beserta manajemennya? Mengingat kasus Cou ke Barca bukan black swan karena rumor ini sudah tercium dari dua musim lalu.

 

 

#12Album – Resesi

Chrisye_-_resesiAlbum Resesi dari Chrisye ini adalah album rock asal Indonesia. Itu menurut gue. Album rock pertama yang gue denger. Mungkin ada yang nggak setuju kalau album ini adalah album rock, nggak masalah.

Kenapa buat gue ini adalah album rock? Dari lirik, lagu-lagu di dalam album ini banyak yang bertemakan ‘pemberontakan’, rebellious. Bukankah suatu lagu yang digenrekan dalam genre rock harus berisi lirik berontak? Nggak sekadar lengkingan suara vokal ataupun raungan distorsi gitar listrik?

Berontak nggak melulu melawan status quo atau beda pandangan dengan penguasa, baik penguasa secara politik, ekonomi maupun sosial. Menarasikan suatu kenyataan yang mengganggu kehidupan masyarakat atau kelompok itu sudah bisa dikatakan berontak. Menurut gue, itu dapat dikategorikan sebagai karakter berontak. Karakter sebuah komposisi rock. Bob Dylan sering atau hampir selalu mengambil pendekatan seperti ini. ‘Berteriak’ untuk berontak dengan liriknya tanpa harus berteriak.

Dari judulnya saja, album ini sudah sangat rock, sangat berontak. Berontak akan suatu kondisi yang dirasakan masyarakat saat itu. Belum lagi lirik dalam lagu seperti Lenny, Resesi, Money, Anak Manusia, Polusi Udara. Album ini sangat rock. Paling nggak buat gue yang denger album ini pas umur sekitar 10 tahun. Rasanya, ini album Chrisye satu-satunya yang paling dekat dengan karakter suatu album rock.

Dobrak Barrier-nya!

Screen Shot 2017-08-01 at 4.26.00 PM.pngDi era informasi yang begitu overload ini membuat manusia, lebih hati-hati dalam memilih informasi. Dalam konteks komunikasi pemasaran, dengan semakin banyaknya produk di pasar, juga aktifnya konsumen dalam mencari berbagai macam informasi via search engine, media sosial, aplikasi chat, dan lain sebagainya, membuat konsumen membuat sebuah halangan.

The-Dentsu-Way-pg59-The-Breaking-In-and-Drawing-Out-Approaches-for-Reacing-the-Consumer-Who-Has-Put-Up-the-Information-Barrier

Halangan ini disebut information barrier (Sugiyama & Andree, 2011). Barrier ini diciptakan oleh konsumen, secara sadar atau tidak sadar, dalam memilih informasi, termasuk iklan dan jenis komunikasi pemasaran lainnya. Sehingga tugas dari komunikasi pemasaran menjadi lebih berat. Untuk menarik perhatian konsumen membutuhkan taktik yang tidak mudah. Konsumen kini memiliki ‘kuasa’ dalam memilih informasi mana yang mau ia terima, mana yang tidak. Jika informasinya sesuai dengan apa yang ia cari, atau informasi itu menarik, unik, tidak biasa, maka ia akan keluar dari barrier. Atau paling tidak. ‘mengintip’ dari dalam barrier itu.

Dibutuhkan pancingan agar konsumen mau keluar dari barrier tersebut sehingga komunikasi yang ingin disampaikan dapat terkirim dengan baik. Cara untuk menarik mereka keluar misalnya dengan pendekatan storytelling yang melibatkan berbagai jenis media yang saling silang dalam mengomunikasikan pesan tersebut. Atau cara lain yang lebih sederhana, namun idenya tidak mudah ditemukan, adalah membuat suatu materi komunikasi yang tidak biasa, absurd, nyeleneh, tapi tetap berkelas dan tidak membunuh brandnya. Cara kedua ini yang dilakukan oleh es krim Indoeskrim.

Dengan pendekatan film drama silat jadul, membuat siapa pun, tidak hanya target market es krim Indoeskrim, akan tertarik dan bahkan terhibur menonton iklan ini. Iklan yang berdurasi sekitar 3 menit ini menjadi tidak seperti iklan, tapi lebih mirip seperti konten hiburan. Apa pun tujuan komunikasi pemasaran iklan ini, jika meminjam framework AISAS, feedback yang diharapkan secara attention, interest, search, action dan share-nya sudah tercapai.